Sabtu, 12 Mei 2012

MANAGEMENT TREADMILL


Perusahaan tempatku bekerja memiliki peraturan bahwa seluruh pegawai dengan pangkat serta usia tertentu diberi kesempatan untuk melakukan GMCU (general medical cheek up), ramai-ramailah pada hari yang ditentukan kami mendatangi Rumah Sakit yang ditunjuk dan telah bekerjasama dengan perusahaan. Beberapa hari kemudian kami mendapatkan "rapport" kesehatan masing-masing dalam bentuk buku warna hijau disertai map coklat besar berisi gambar dada bagian dalam.

Ternyata aku mendapatkan banyak nilai merah, dan mau tidak mau, serta suka tidak suka harus memperhatikan serta menjalankan apa yang direkomemdasikan dalam buku hijau diantaranya adalah harus menurunkan berat badan dan harus melakukan olah raga sekitar 150 sampai 200 menit seminggu. Inilah balasan bagi orang yang malas berolah raga, malas memelihara diri sendiri, malas menjaga organ-organ badan yang begitu berharga yang telah diberikan secara cuma-cuma dari pencipta.

Aku mulai putar otak mengutak-ngatik waktu yang mungkin luang untuk melakukan olah raga secara rutin. Kalau pagi-pagi rasanya enggak mungkin karena habis subuh sekitar jam 5.15 atau paling lambat jam 5.30 harus sudah berangkat keluar rumah. Terlambat sedikit perjalanan ke kantor bisa memakan waktu 1,5 jam bahkan bisa 2 jam, dan hampir bisa dipastikan sepanjang ruas jalan tol 25 kilometer tersebut seluruh badan jalan selebar 15 meter plus bahu jalan padat dengan mobil-mobil merayap dan berebut salip menyalip, membuat pagi yang cerah menjadi sumpek.

Karena waktu pagi tidak mungkin maka aku coba lihat hari libur, sepertinya memungkinkan, hari Sabtu sembilan puluh menit dan hari Minggu sembilan puluh menit sisanya. Namun ada dua kendala, pertama seharusnya olah raga tersebut dibagi dalam minimal empat kali seminggu serta kendala yang kedua apa mungkin setiap hari libur tersebut tidak ada kegiatan keluarga lain ?

Akhirnya waktu yang paling memungkinkan adalah malam hari, rasanya itu lebih masuk akal. Apabila ternyata banyak pekerjaan sehingga target waktu olah raga kurang, masih bisa ditambah dengan hari Sabtu atau Minggu. Tapi olah raga apa yang dapat dilakukan malam-malam sendirian ? Kalau olah raga lari malam-malam, jangan-jangan bukannya sehat malahan babak belur ditangkap orang sekampung disangka maling.

Berdasarkan referensi kiri-kanan, aku membeli sebuah alat olah raga yang dapat digunakan dirumah untuk berjalan atau berlari-lari kecil, aku menyebutnya "Treadmill" karena mirip alat yang ada di Rumah Sakit untuk melihat kesehatan jantung sewaktu GMCU kemarin.  Treadmill yang aku beli memiliki kecepatan yang bisa diatur sampai dengan maksimal 12 km per jam serta kemiringannya bisa sampai 15 derajat, serta ada program-program otomatis untuk kesehatan jantung, membakar lemak, dll. Alhamdlillah dengan kedisiplinan yang tinggi, dengan bantuan alat tersebut disertai pengurangan jumlah asupan makanan, lemak dan air yang berlebihan di badan dapat diturunkan sekitar 10 kg setelah berjalan 3 bulan.

Ada hal rutin yang selalu aku rasakan waktu melakukan treadmill, rasanya diawal-awal dengan kecepatan rendah saja misalnya dimulai dari kecepatan 3 terus dinaikkan ke 5 terasa sudah berjalan sangat cepat dan mulai ngos-ngosan. Rasanya kecepatan 5 tersebut sudah merupakan kecepatan maksimal dan menyiksa badan. Namun minggu-minggu berikutnya kecepatan mulai berani dinaikkan sampai 6 bahkan sampai 7 dan sekali-kali dicoba dengan kecepatan 8 atau 9 km perjam walaupun dengan waktu yang sangat terbatas tidak lebih dari lima menit. Selebihnya berada stabil di kecepatan antara 5 sampai 7 dengan melakukan variasi bersama derajat kemiringan.

Setiap kali melakukan treadmill rasa berat ketika kecepatan dinaikkan dari 3 sampai 7 selalu terasa, namun ketika kecepatan diturunkan dari 9 ke 7 maka rasanya dengan kecepatan yang sama yaitu 7 km perjam menjadi ringan dan tanpa beban. Apalagi ketika kecepatan diturunkan menjadi 5 km per jam terasa seperti sedang berdiam diri, karena badan kita telah tebiasa dengan kecepatan lebih tinggi dan kaki kita juga sudah otomatis bergerak, semuanya terasa ringan. Kalau tidak melakukan pendinginan dengan menurunkan kecepatan secara berangsur-angsur, langsung menstop alat treadmill pada kecepatan 5 ataupun 3, maka badan akan limbung karena kaki tidak mau berhenti harus terus melangkah, sedangkan tempat pijakan treadmill sudah berhenti.

Tubuh manusia diciptakan Tuhan untuk selalu dilatih bergerak, baik untuk berolah-raga maupun untuk bekerja. Maka aku coba berteori bahwa dalam bekerja di kantor atau di pabrik sekalipun "manajemen treadmill" dapat diterapkan. Karyawan harus dibiasakan untuk selalu berada dalam kecepatan yang ditentukan sehingga menghasilkan produktifitas yang optimal. Misalnya untuk tenaga pemasar harus dibuat target bahwa setiap hari setiap karyawan harus dapat menghubungi atau menelpon 15 calon customer dan harus bertatap muka atau presentasi minimal dengan 5 customer. Kalau target  minimal tersebut belum dicapai maka karyawan tersebut tidak boleh pulang atau boleh pulang tetapi sisanya menjadi tambahan target di hari berikutnya.

Pada awal-awal melakukan tentu target tersebut akan dirasakan berat oleh karyawan, tetapi harus dipaksakan dan dibimbing serta diyakinkan kalau mereka bisa, dan akan lebih baik lagi kalau diberi contoh bagaimana cara melakukannya. Kalau sudah terbiasa, maka cara kerja seperti itu akan dirasakan ringan oleh karyawan. Bahkan mungkin sekali-sekali dengan program-program tertentu target bisa dinaikkan, sehingga ketika program sudah selesai kembali ke "kecepatan" standar karyawan kita akan bekerja dengan ringan namun tetap menghasilkan produktifitas yang optimal. Manajemen treadmill ini dapat juga kita terapkan pada diri sendiri misalnya kebiasaan sholat malam, kebiasaan jam berapa bangun dan jam berapa mandi pagi, kebiasaan berolah raga, kebiasaan waktu berangkat kerja, dan lain-lain. Sepatutnya diri kita juga harus dipacu untuk membuat target dengan berapa orang kita harus bertemu untuk menambah jaringan, berapa buku yang harus dibaca dalam seminggu untuk menambah wawasan, berapa tulisan harus dibuat, dll.
Manajemen treadmill ini walaupun sampai saat ini sepengetahuanku belum ada orang yang menyebutnya, telah diterapkan oleh orang-orang besar seperti Donald Trump ataupun oleh gadis muda Indonesia yang menjadi inspirasi banyak orang Merry Riana.

Dalam bukunya Merry bercerita bagaimana perjuangan dia saat menjadi tenaga pemasar produk keuangan di Singapura. Gadis manis korban peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta tersebut, akhirnya harus memilih sekolah di NTU Singapura dengan modal pinjaman dan harus bisa bertahan hidup di Asrama dengan uang SGD 10 per bulan. Uang tersebut merupakan selisih uang yang diterima dari pinjaman dibandingkan dengan biaya kuliah dan biaya Asrama tanpa diberi makanan. Mungkin besar uang tersebut ada hanya karena faktor pembulatan saat bank menghitung besar pinjaman, namun uang tersebut sangat berarti bagi Merry karena berarti perutnya akan terisi satu slice roti pagi hari dan terisi satu bungkus mie instan malam hari.

Dengan tempaan yang berbeda dari teman-temannya membuat cara berfikir dan cara pandang dia agak berbeda. Disaat yang lain lulus kuliah segera masuk untuk bekerja di pabrik elektronik yang memang dengan sangat mudah menerima lulusan NTU, Merry melihat bahwa pekerjaan tersebut tidak dapat menghasilkan uang yang banyak. Besar pendapatannya sudah bisa ditebak mulai dari belasan juta pertama kali masuk, kemudian dengan grafik lambat akan meningkat seiring jabatan, tetapi tetap saja ada batasnya dan akan terus begitu sampai tua. Merry mencari tantangan lain dengan menjadi pemasar jasa keuangan mulai dari bawah dengan menyebarkan brosur dijalanan, dengan perhitungan walaupun pada awalnya penghasilan dia akan jauh lebih kecil dibanding bekerja jadi Staf pabrik, tetapi dia yakin pada akhirnya dengan kerja keras akan bisa mempunyai penghasilan yang tidak terbatas.

Merry menetapkan target harus melakukan presentasi minimal 20 kali dalam sehari, dia menghitung berarti harus menyebarkan atau memberikan brosur kepada 400 orang setiap hari, karena berdasarkan pengalaman dan pengamatannya hanya satu orang dari 20 orang yang dibagi brosur mau mendengarkan presentasi, serta hanya satu orang dari 20 orang yang diberi presentasi akhirnya mau membeli produk keuangan yang ditawarkan. Dia menceritakan bahwa pada suatu hari sampai jam 12 malam masih kurang 2 presentasi lagi, dengan kekuatan hati dan menahan lapar tetap dilanjutkan sampai jam 2 pagi, padahal keesokan harinya dia harus sudah "ngantor" lagi di halte tersebut.

Hasil akhirnya, dalam usia 26 tahun sudah memiliki penghasilan diatas satu milyar perbulan, tanpa harus bekerja lagi penghasilan tersebut akan tetap mengalir lewat organisasinya. Suatu penghasilan yang jauh lebih besar dibanding teman-temannya yang masih berkutat dan berdesak-desakan mengambil hati atasan agar dapat diangkat menjadi Supervisor.

Kita tidak boleh melihat hanya dari ujungnya, tetapi harus dilihat dari bagaimana dia ditempa alam sehingga seluruh otot, otak, maupun nalurinya terbiasa bergerak lebih dari rata-rata. Diawal-awal Merry juga menyampaikan bahwa hal tersebut terasa berat, tetapi lama-lama tubuh, otak, dan nalurinya menjadi terbiasa. Persis seperti anggota badan kita waktu  treadmill.

Mau kah Anda melakukan manajemen treadmill ???


NAD - Jakarta, 09 Mei 201
(salam hangat dari kang sepyan)

EHA


Diluar terdengar ada orang menghampiri istriku yang sedang menyapu halaman,

"Bu bagi beras dong, sedikit aja, nih bocah pada belum makan".

Lalu istriku masuk kedapur dan mengisikan beberapa gelas beras kedalam kantong plastik hitam. Walaupun aku sudah dapat menduga, aku bertanya "buat siapa Mah ?",

"biasa buat si Eha, kasihan dia masih kecil sudah punya anak empat, suaminya gak jelas penghasilannya. Malahan kayanya gak jelas keberadaannya juga, karena kadang-kadang balik, kadang berbulan-bulan gak balik. Sekalinya balik hanya untuk membuahi dan tanpa memikirkan risiko membesarkan anak yang harus diberi makan setiap hari, disekolahkan, diberi baju, dibawa ke Puskesmas kalau sakit, dan lain-lain". Istriku panjang lebar menerangkan kekesalannya, mungkin karena sesama wanita ikut merasakan penderitaannya.
Pikiranku melayang pada kejadian 12-13 tahun yang lalu sekitar tahun 1997-an, kami sekeluarga baru pindah rumah, menempati rumah pertama kami hasil utang sana-sini. Kami membangun rumah disebuah tanah kapling, letaknya dekat dengan jalan raya, kira-kira cuma masuk 100 meter dengan ukuran jalan masuk 6 meter. Dengan pertimbangan bisa masuk mobil dan apabila mau menggunakan kendaraan umum mudah, tidak terlalu jauh jalan kakinya, tidak perlu menggunakan ojek atau becak yang tentunya akan menambah biaya transportasi.

Kavling itu merupakan kavlingan pegawai-pegawai Agraria serta pegawai Pusat Otoritas Jatiluhur (POJ), sehingga dikenal dengan sebutan kavling POJ Agraria. Waktu pertama kali bangun rumah tersebut, jalan kami keraskan secara swadaya bareng-bareng sama tetangga, dengan membeli puing-puing, dan pak RT membuat peraturan agar semua orang yang akan membangun rumah harus menyumbang 10 truk puing. Di wilayah RT kami baru ada sekitar 8 rumah permanen, sedangkan rumah-rumah lainnya berisi gubuk-gubuk darurat yang didirikan oleh para pendatang, dengan memanfaatkan lahan kosong yang untuk sementara waktu belum dimanfaatkan oleh pemiliknya.  Biasanya kita namakan mereka itu sebagai orang gang tembok, karena lokasi tempat gubuk-gubuk tersebut berada dekat dengan pagar pembatas kavling yang telah dibuat tembok sebelumnya. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena memudahkan  pembangunan gubuk yang telah mempunyai satu sisi permanen.

Waktu itu si Eha merupakan salah satu anak gang tembok dengan usia 8 tahunan, dengan muka kusam dan rambut tipis serta kucai, sering lewat di depan rumah. Dan kadang-kadang istriku suka memberi dia makanan-makanan yang ada di rumah, misalya kalau kelebihan membeli martabak tadi malam, ya dikasih martabak. Kalau adanya pisang atau jeruk, ya dikasih pisang atau jeruk. Dia sudah tidak sekolah, karena untuk orang gang tembok sama saja, sekolah tidak sekolah ujung-ujungnya hanya jadi pengemis atau tukang cuci gosok. Sekolah cukup sampai kelas 2 saja, yang penting sudah bisa berhitung.

Tahun berikutnya keluarga kami pindah mengikuti tugasku dari kantor dan baru dua tahun kemudian, kami kembali menempati lagi rumah tersebut. Waktu itu si Eha sudah mulai besar, dan pernah beberapa bulan kerja cuci gosok dirumahku. Tapi tidak lama karena dia bilang, mendingan "ngangon" neneknya diperempatan jalan jadi pengemis. Kerjanya lebih mudah dan hasilnya lebih banyak.
Lima tahun kemudian kami sekeluarga kembali harus pindah keluar kota mengikuti tugas kantor ke Denpasar dan ke Pekanbaru sekitar 4 tahun, kembali lagi ke rumah kavling POJ Agraria, Eha sudah menikah dan sudah memiliki 3 anak, Anak pertamanya sudah mau masuk SD bareng dengan anak kami yang ketiga.

Informasi-informasi itu biasanya kudengar dari istriku, karena pernah suatu kali kami membeli seragam SD di pasar, istriku sekalian beli tambahan katanya buat anaknya si Eha. Ya....kira-kira seperti itulah interaksi keluarga kami dengan Eha, termasuk minta beras. Pernah aku menyarankan pada istriku agar suruh dia kembali kerja cuci gosok, namun istriku bilang tidak mungkin dia jadi buruh cuci gosok, sedangkan untuk melihara ketiga anaknya termasuk sedang hamil anak keempat saja, sudah sulit.

Dalam beberapa bulan terakhir, aku kok rasanya jarang melihat istriku komunikasi sama Eha, ketika aku konfirmasikan istriku bilang, kayanya dia malu ketemu kita karena pernah dia pinjam uang 100 ribu, tapi belum dikembalikan. Serta anaknya sudah tidak sekolah lagi, tetapi baju seragam tetap diterima, dan dia malu karena rupanya baju seragam itu malahan dijual. Istriku menambahkan, bahkan sekarang dia kalau pergi kewarung enggak berani lewat depan rumah, tetapi dia menggunakan jalan lain yang memutar.
Eha.....Eha.....kasihan banget nasibmu.

Dalam 15 tahun telah ada dua generasi.......generasi Eha dan generasi anaknya Eha, tanpa ada perbaikan generasi. Sama-sama miskin, tertindas, tidak bependidikan. Rasanya tidak ada orang yang menyadari dan peduli akan hal ini.  Semua dianggap biasa sebagai hukum alam, salahnya sendiri tidak mau mengubah nasib, bukankah para ustadz sudah menyampaikan bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila dia sendiri tidak mearubahnya. Salah sendiri dia tidak mau belajar dari pengalaman, salah sendiri dia tidak mau berusaha, dan lain-lain. Apakah benar semua kesalahan tersebut ada di pihak si Eha ?

Bukankah para pendiri bangsa ini rela berkorban jiwa raga agar dapat merdeka, dapat melindungi "segenap" bangsa Indonesia termasuk si Eha ? Bukankah kita telah diberi tauladan oleh gadis Jepara yang dalam kondisi tertekanpun tetap memperjuangkan pendidikan bagi teman sesama dan sebangsanya ? Bukankah Ki Hajar Dewantoro berjuang mendidik semua elemen bangsa agar mengikuti pendidikan agar cara berfikir, bercita-cita, dan cara bertindaknya berubah menjadi lebih maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain ? Bukankah sudah ada program pendidikan wajib belajar 9 tahun ? Bukankah para politisi berjuang untuk rakyat, terutama wong cilik ? Bukankah si Eha itu temasuk secilik-ciliknya wong yang patut diperjuangkan dalam prioritas pertama ?

Generasi Eha hanyalah sebuah contoh, dan disekeliling dia masih ada Wa Pendek yang merupakan neneknya Eha dimana dia meninggal karena korban tabrak lari kendaraan ketika sedang memgemis diperempatan MM depan pintu tol Bekasi barat.  Ada juga si A'ing keponakannya Eha yang sedikit teganggu jiwanya dan setiap hari selalu ada jalanan komplek Kavling. Ada juga tetangga-tetangga Eha, ibu-ibu yang berjumlah belasan yang setiap malam minggu kumpul dirumah kami belajar Iqro jilid 1......benar-benar hampir sebagian masih jilid satu, masih menghapal abatasa.

Bukannya kemajuan yang didapat, ini malahan kemunduran generasi bangsa kita. Ketika aku di kampung rasanya tidak ada satu orangpun yang tidak bisa mengaji, karena di mesjid atau dilanggar selalu ada guru ngaji yang mengajar mengaji kepada semua anak-anak dari Magrib sampai Isya. Tanpa dibayar, tetapi hanya sebagai kesadaran untuk membuat sesama teman sekampung bisa ngaji sehingga bisa sama-sama masuk sorga.

Mari kita bertanya apa yang sduah kita perbuat untuk bangsa kita, apa yang sudah kita perbuat untuk sesama kita, apakah hidup kita telah bermakna ?

Jakarta-Banda Aceh, 07 Mei 2012(salam hangat dari kang sepyan)

BLUE OCEAN STRATEGY


Entah benar atau tidak cara menulis strategy ini, tapa kata tersebut didapat tadi siang saat diajak jalan-jalan pak Haliman yang ramah dalam perjalanan jalan kaki dari ruang rapat menuju salah satu outlet  Indomaret yang berada di kawasan kantor pusat PT. Indomarco Prismatama di kawasan ancol Jakarta.

Setelah pertemuan yang hangat dan banyak menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang mudah-mudahan cukup membumi untuk dapat ditindak lanjuti, jam masih menunjukkan pukul 11.15 sehingga merupakan jam yang sangat tanggung.....nasi kotak yang dipesan untuk konsumsi meeting belum hadir, sementara deal sudah tercapai. Maka diputuskan dilaksanakan pertemuan informal, masing-masing anggota dapat ngobrol masing-masing. Kebetulan aku diajak sama pak Haliman (direktur kebijakan) dan pak Wiwiek (managing direktur) untuk meninjau salah satu outletnya. Sepanjang perjalanan sekitar 400 meter inilah, aku menjejeri pak Haliman ngobrol tentang bagaimana hubungan antara Indomaret dengan Alfa.

Jawaban yang keluar dari beliau sungguh diluar dugaan, alih-alih aku berfikir dia akan bilang bahwa Alfa itu merupakan pesaing dan pengganggu karena mereka dibesarkan oleh alumni Indomaret, ternyata sambil tersenyum simpatik beliau bilang "kami adalah keluarga" seperti kakak adik. Konsumen dapat dilayani oleh Indomaret atau oleh Alfa. Kalau tidak ada Indomaret, maka ditempat tersebut akan didirikan Alfa, demikian juga kalau tidak ada Alfa maka ditempat tersebut akan didirikan Indomaret. Ketika aku coba chalenge dengan menanyakan kenyatannya dilapangan bahwa banyak Indomaret yang letaknya bersebelahan dengan Alfa ? Pak Haliman menyatakan bahwa kami ini seperti kakak adik, jadi kadang perlu kumpul juga. 240 juta konsumen itu bukan angka yang mudah untuk dapat dilayani oleh hanya satu perusahaan peritel.

Salah satu misi Indomaret adalah mencetak sumber daya manusia yang tangguh dibidang ritel, dan itu cukup berhasil dengan banyaknya alumni Indomaret yang berkarya di Alfa. Disamping itu dengan adanya perusahaan sejenis asli pribumi, menjadi sparing partner yang baik untuk terus menerus meningkatkan pelayanan, yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan bagi konsumen serta sebagai modal awal persiapan masuknya peritel asing seperi seven eleven ataupun circle K. Bagaimana coba, seandainya tidak ada Alfa ? Maka hal-hal tersebut tidak akan tercapai ujar pak Haliman dengan serius.

Pikiran saya langsung melayang kepada cerita Bapak petani jagung di Amerika yang setiap tahun mendapat penghargaan sebagai petani yng dapat mengasilkan jagung terbaik. Ketika ditanyakan resepnya, sederana saja bahwa beliau membagi-bagikan benih jagungnya kepada petani lain disekitarnya. Beliau menyebutkan, bukankah perkawinan antara serbuk sari dengan putik itu dilakukan dengan perantaraan angin ? Coba seandainya tetangga kami menanam varietas yang tidak baik ? Bukannya tidak mungkin pada akhirnya, benih kami juga menjadi tidak baik, sehingga pada musim berikutnya produktifitas jagung kami akan menurun.

Betapa indah andai persaingan-persaingan bisnis disikapi oleh orang-orang seperti pak Haliman dan petani jagung tersebut. Itulah yang dinamakan blue ocean strategy, kata bosku berbisik, mungkin karena aku kelihatan masih menatap kosong seakan tidak percaya ? Oooooooo blue ocean strategy ? Ternyata indah ya ? Seperti cerita di dongeng-dongeng. Andai partai politik, cabup, cagub, atau pengurus pssi tahu akan hal ini.........hehehehehe, tidak ada kejadian 10 - 0 yang bukan hanya memalukan tetapi juga memilukan.

Aku teringat pada pelajaran agama yang diajarkan oleh guru-guruku, bahwa yang akan dibawa ke akhirat nanti hanya 3 hal yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do'a anak soleh. ternyata ketiga hal tersebut semuanya adalah manfaat kita selama hidup terhadap orang lain. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat pada orang lain. Jadi, mengapa seluruh fokus dan pikiran kita, energi kita, hampir seluruhnya selalu ditujukan pada diri sendiri ?


(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 17 Maret 2011

TSUNAMI JEPANG

Ternyata perjalanan dari Makasar ke Bekasi memerlukan waktu yang sangat panjang. Selesai makan siang jam dua siang waktu sana atau jam satu siang wib, langsung dianterin sama Bos Sungguminasa (temen lama) ke Bandara dan baru sampe di terminal Damri Bekasi dijemput istriku jam 8 lebih. Jadi total perjalanan yang diperkirakan cukup 4 jam meningkat hampir dua kali lipat. Biasa model penerbangan negeri kita tercinta, apalagi dengan tambahan 'mantr' low cost, pelayanan semakin fokus pada cost, aspek lainnya menjadi tidak dilihat.

Setelah chek in di Hasanudin seluruh penumpang sepesawat disuruh menunggu di ruang tunggu 5, dan sebelum masuk ruang tunggu seperti biasa tas diperiksa, tiket tanda bukti sewa bandara yang kita bayar 40.000 juga diperiksa. Namun pas jam seharusnya berangkat tiba-tiba diumumkan bahwa ruang tunggu dipindah ke Ruang 1.....berduyun-duyunlah kita berdesak-desakan pindah ruangan, antri, periksa barang lagi, periksa karcis lagi...padahal kenapa tidak pesawatnya saja yang dipindah ? Kalau itu terlali sulit, kenapa tidak pake bis saja ? Aku membayangkan bagaimana kalau ada anak kecil atau orang tua yang berangkat sendirian ? Bagaimana kalau ada wisatawan yang tidak begitu jelas mendengar pengumuman dengan inggris aksen Makasar....iya toh...please deh mi !!!

Sampe Jakarta ternyata masih terjadi kekacauan yang dimulai dengan diturunkannya pesawat berwarna merah di Terminal 2, jadi diangkutlah kita dengan bis ke Terminal 1...dan akibatnya bagasi gak sampe-sampe...:arus menunggu hampir satu jam. Kejadian yang aneh adalah ketika aku tanya ke petugas dimana bagasi dari Makasar,m petugas bilang nanti akan diumumkan...dan memang diumumkan bahwa bagasi akan datang terlambat. Ketika itu dengan sabar aku lihat ke layar monitor untuk memastikan kiriman bagasi dari mana yang keluar. Dalam monitor dicantumkan bagasi dari Mataram dan bagasi dari Solo...tapi lama-lama aku curiga kok orang-orang yang kumpul menunggu bagasi semakin berkurang. Lalu aku mencari-cari petugas dan bertanya...yaaaaeelllaaahhh ternyata bagasiku sudah sampai ditempat turunnya bagasi yang dari Solo...emang aneh..disangkanya bagasi bisa tereak kali kalo udah nyampe, sehingga dilabelin apapun orang ngerti.
Sorry nih agak ngelantur, cerita kesana-sini gak nyambing dengan judul...jadi mari kembali ke laptop.
Setelah melakukan perjalanan jauh, badan terasa lelah sehingga jam 9 sudah mulai mau tidur. Menjelang tidur pikiran melayang-layang dan teringat akan berita di koran tentang musibah tsunami yang menghantam Jepang. Dimulai dari gempa berskala 9 yang menyebabkan tsunami dahsyat...4ambil nonton TV terus terang aki kagum akan kedisiplinan warga Jepang. Tidak terlihat kecemasan saat terjadi gempa dahsyat, masih sempat mengobrol masih sempat mengabadikan walaupun sambil terguncang-guncang. Suatu bentuk ketabahan atau bentuk kedisiplinan karena hasil latihan yang dilakukan secara berkesinambungan. Setelah gempa lalu disusul tsunami, aku sebagai pemirsa laksana menonton film....begitu rapih urutan-urutan kejadian ditampilkan, seakan-alan cameraman telah diatur oleh sutradara sebelumnya. Film dalam berita layaknya film dokumenter bahkan lebih hidup dibanding film Kiamat 2012. Dengan kejadian musibah sedahsuat itu, Jepang dapat meminimalisir korban jiwa. Sangat jauh berbeda dibandingkan korban jiwa waktu terjadi tsunami di Aceh. Aku berfikiran tikejadian tersebut tidak akan mempengaruhi perekonomian Jepang sebagai pemegang peran ekonomo dunia.
Namun digaanku sepertinya agak meleset...karena beberapa hari kemudian muncul berita meledaknya satu reaktor nuklir, disusul dua, dan disusul lagi reaktor nuklir ketiga. Berita berlanjut ke pemadaman bergilir, terus radiasi dari zat radio aktif yanmg akibatnya sangat mengerikan.
Bagaimana nasib Jepang kedepan ? Apakah pemerintah mampu melokalisir, menahan eksodus ? Ataukan Jepang akan menjadi sejarah seperti kaum Ad dan kaum Tsamud yang dibinasakan terdahulu. Mereka memiliki kesamaan sebagai negara maju dan displin tapi............ (salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 24 Februari 2011

KERETA EKONOMI

Abis rapat untuk persiapan lokakarya KUR TKI di kantor kementrian koordinator perekonomian, karena sampai statsiun Dukuh Atas masih jam 16.30 aku beli Bekasi Ekspress untuk pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba ada pengumuman bahwa Bekasi Ekspress belum keluar dari Mangarai (padahal jadwal 16.38) mestinya udah ada di Tanah Abang. Terus diumumkan juga bahwa kereta Ekonomi ke Bekasi sudah mau berangkat dari Tanah Abang. Kayanya lebih cepet naek kereta ekonomi nih, apalagi belum ashar, kalau harus menunggu Bekasi Ekspress entah kapan nyampe rumah, tapi kalau menggunakan kereta Ekonomi bisa udah sampe rumah paling telat 17.15....mmh...masih bisa ashar di rumah.

Lalu aku buru-buru ke loket untuk menukarkan tiket bisnis dengan tiket kereta ekonomi, lumayan dapat kembalian Rp. 7.500,-. Lalu dengan bergegas aku berlari ke peron dua menunggu kereta ekonomi.

Begitu kereta berhenti...oww...baunya, bau 7 rupa, macem-macem. Bau keringat asem, bau parfum, bau makanan, bau buah-buahan, bau kentut, bau borok, dan bau-bau lainnya menyatu menyesakan hidung, mual sedikit tapi aku tahan.

Sebenarnya penumpangnya tidak terlalu penuh, yang membuat kelihatan sesak adalah banyaknya "rakyat kecil" yang mencari nafkah. Mulai dari pengamen datang silih berganti, ada yang berambut gondrong dengan lagu rock, ada anak muda dengan lagu pop terbaru, ada yang menggunalkan karaoke, dll. Suara pengang melebihi suara kereta...ditambah lagi dengan suara anak jalanan merangkap pengemis dan tukang jualan asongan, buah-buahan, jepit, sisir, tahu, permen, atau yang sekedar nganter temennya. Aku enggak tahu bagaimana caranya pak Konektur menagih karcis mereka ya ? Pengemispun ada dari berbagai usia dan berbagai gaya, anak kecil dengan gaya memelas sambil menyapu, ada yang kakinya kurang sempurna dengan accesories besi yang mengerikan, mengemis sambil bernyanyi, dan lain-lain.
Ya Allah, mereka adalah pemilik negeri ini, mereka adalah generasi masa depan bangsa, mereka bukan tidak mungkin juga merupakan tulang punggung keluarga....kira-kira prospek apa ya yang mereka pikirkan untuk kehidupan dimasa mendatang ? Apakah mereka sekolah ? Apakah mereka mempunyai rumah ? Apakah mereka sempet sholat ? Apakah mereka......tiba-tiba bletak, bletok bunyi batu menimpa kaca dan badan kereta...spontan seluruh penjual dan penumpang harap-harap cemas...ada yang ngajak tiarap, ada yang mojok, semua yang berdiri duduk takut kena batu....rupanya kadang-kadang ada orang iseng yang nimpukin kereta atau karena ada orang tawuran...kubu yang satu udah diluar kereta nimpukin dan kubui satu lagi di dalam kereta....entah akan ada kejadian apalagi didepan. Yamg jelas, tiba2 ibu disebelah bilang bahwa kereta udah sampe Kranji. Saatnya aku turun. Dan...gak pernah ketemu Bapak kondektur.

(salam hangat dari kang sepyan)

Minggu, 20 Februari 2011

I Love TKI

Entah mau dari mana dulu aku harus memulai cerita ini, mengingat saking lamanya blog ini terbengkalai sedang dilain pihak topik ini rasanya sayang banget kalau sampai hanya aku simpan sendiri.


(salam hangat dari kang sepyan)

Selasa, 03 November 2009

PESTA PERAK BIGHORN'84

Bulan Juli tahun 1984 bersama 90 orang lainnya aku mulai mengenal Kampus. Status Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran sungguh membanggakan. Rasanya ingin semua orang tahu bahwa kami merupakan orang-orang terbaik yang mampu menjebol ketatnya SIPENMARU pada waktu itu. 25 tahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 31 Oktober sd. 01 Nopember 2009, 40 orang diantaranya kembali berkumpul di Lembang sebagian bersama keluarga dan ada juga yang datang bujangan.....kembali pikiran menerawang ke masa-masa silam sambil membandingkan tampilan-tampilan yang sudah sangat banyak berubah.

1984 merupakan saat ada kebijakan penghapusan NKK/BKK, sehingga kegiatan OSPEK berada di persimpangan. Akibatnya kami menjadi korban seperti dikucilkan dari angkatan-angkatan sebelumnya, karena panitia Ospek yang telah dibentuk Senat tidak dapat berjalan sebagai mana mestinya. Posisi dikucilkan ini membuat kami sama-sama mencari jati diri, hingga keluarlah ide untuk membuat nama angkatan yaitu BIGHORN'84. Tapi biarlah, itu urusan politik.....toh pada akhirnya, dalam tahun berikutnya kami telah kembali menjadi bagian dari civitas akademika Fapet UNPAD.

Ada yang dahulu berambut gondrong sekarang menjadi botak, ada yang dahulu pendiam sekarang berani menyanyi, ada yang dahulu kurus sekarang menjadi super gemuk, ada yang dahulu jerawatan sekarang menjadi klimis, ada yang dahulu biasa-biasa saja sekarang berubah menjadi cantik dan energik, ada yang dahulu kecil sekarang menjadi besar. Kebanyakan secara tampilan fisik banyak perubahan. Namun demikian untuk urusan pertemanan 'kelihatannya' tidak ada perubahan, tetap akrab, hangat, dan menyenangkan. Bahkan kelihatan tingkat kedewasaan semakin matang sehingga lebih saling menghormati dan menghargai.

Lirik-lirikan antara orang yang dahulu 'pernah' pacaran.....menjadi bumbu penyedap yang lebih meningkatkan keakraban.
Tapi ada satu hal yang menyenangkan, bahwa BIGHORN sepakat untuk menyatukan niat dan tekad berbagi membantu adik angkatan baik dalam hal financial ataupun pengalaman. Insya Allah dalam waktu dekat akan diadakan pemberian beasiswa serta melakukan pertemuan dengan Mahasiswa untuk memberikan wawasan tentang kondisi dunia luar yang sebenarnya. Sehingga mereka bisa mempersiapkan diri sejak dini....mudah-mudahan.
(salam hangat dari kang sepyan)