Tetanggaku yang bekerja dalam bidang perekrutan serta pemenuhan SDM di sebuah bank besar mengeluh karena walaupun sudah merasa bekerja siang malam bahkan hari Sabtu pun hampir setiap minggu masuk bekerja untuk melakukan test wawancara, namun tetep saja perusahaan kekurangan pegawai yang begitu banyak. Terutama kekurangan pegawai clerical. Memang agak aneh ketika aku mendengar keluhan tersebut, karena disisi lain Indonesia ini penganggurannya meningkat, tetapi ini perusahaan kok tetep kekurangan pegawai.
Waktu sore-sore sambil menunggu pembukaan piala Eropa, setelah ngobrol ngalor ngidul berbicara serta berargumentasi tentang negara jagoannya masing-masing, aku mencoba bertanya sama tetanggaku tersebut terutama tentang rasa penasaran aku bagaimana mungkin perusahaan selalu kekurangan pegawai disaat pengangguran makin banyak. Coba lihat disekeliling rumah kita saja banyak pengangguran, kalau kita berjalan keluar kota kondisi pengangguran sama saja. Dan disisi kualitas, pegangguran jaman sekarang rata-rata telah memiliki pendidikan yang cukup, baik tingkat slta, diploma, maupun sarjana. Bahkan sampai pendidikan master pun masih ada yang menganggur.
Kondisi sepuluh sampai dengan dua puluh tahun yang lalu, amat sangat jarang terjadi ada calon pegawai atau ada pegawai baru yang keluar. Sehingga kalau sekali merekrut orang maka orang tersebut akan terus bertahan menjadi pegawai selamanya. Sampai pensiun atau sampai yang bersangkutan dipecat karena melakukan kesalahan fatal. Tetapi sekarang ini, lebih dari setengahnya pegawai yang direkrut tersebut, setelah mendapat pendidikan dan sedikit pengalaman kerja, mereka keluar dan pindah ke perusahaan lain. Sepertinya dia bekerja hanya untuk menyiapkan SDM bagi perusahaan lain yang sejenis.
Dengan bertambah besarnya perusahaan, otomatis bertambah banyak juga kebutuhan pegawai. Namun pemenuhannya sekarang harus dua bahkan tiga kali lipat dari yang dibutuhkan, karena mengantisipasi banyaknya pegawai yang keluar. Walaupun sudah diancam dengan denda, tetap saja pegawai yang keluar masih lebih dari setengahnya.
Pertanyaannya adalah, kenapa hal ini bisa terjadi ? Kenapa calon pegawai ataupun pegawai sekarang kok berani keluar kerja, tidak seperti pegawai yang dulu-dulu yang lebih nerima semua ketentuan perusahaan ? Jawaban yang paling umum dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah, karena jaman sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Dahulu alternatif tempat bekerja hanya sedikit, dahulu etika bajak membajak pegawai masih berjalan, dan dahulu.......karena tingkat pendidikan masih rendah, maka perusahaan ataupun pemerintah menghargai lulusan sebuah sekolah lebih tinggi dari tingkat pendidikan pegawai.
Aku teringat cerita Bapakku (almarhum)......semoga beliau diampuni segala dosanya dan dibalas semua amalannya berlipat ganda, serta ditempatkan ditempat terbaik disisiNya.....bahwa jaman dahulu ketika telah menyelesaikan sekolah tingkat dasar (sekolah rakyat), maka dengan modal bisa baca tulis dan berhitung, hampir seluruh kantor menerima beliau bekerja. Termasuk pak Camat waktu aku mendapat cerita tersebut, dulu masuknya dengan ijazah SR. Demikian juga dengan guru-guru dan kepala sekolah banyak yang pada waktu mereka mulai bekerja berbekal ijazah SR. Hal tersebut masih terjadi sampai dengan pengangkatan guru tahun 1970-an.
Sekarang dengan semakin majunya kehidupan berbangsa dan bernegara, disatu sisi pelajaran sekolah yang diberikan semakin meningkat, sebagai contoh anak kelas 2 SD telah belajar perkalian dan pembagian yang komplek kalau waktu dulu cukup sampai dengan tambah serta kurang, bahkan pelajaran Bahasa Indonesia pun baru diberikan pada kelas 3. Namun disisi lain produk lulusan yang dihasilkan semakin kurang dihargai. Secara formal untuk jadi TKW saja harus lulusan SLTP, untuk jadi pegawai pabrik atau buruh pabrik atau pelayan toko harus lulusan SLTA, untuk jadi pegawai bank harus lulusan D3, Dan untuk jadi pegawai negeri kebanyakan mensyaratkan lulusan S1.
Kenyataannya dengan banyaknya pelamar yang masuk, ada beberapa perusahaan yang menerima pegawainya dengan tingkat pendidikan diatas syarat yang ditentukan. Termasuk di perusahaan teman saya yang mensyaratkan D3, namun karena lebih banyak pelamar S1 bahkan S2, maka tentu saja dengan sistem perekrutan yang mengandalkan kondisi saat ini, pelamar dengan lulusan lebih tinggi akan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dibanding pelamar lulusan D3. Jadi akhirnya yang diterima bekerja adalah lulusan S1 untuk pekerjaan sekedar menjadi Teller atau Customer Service di bank, yang sebenarnya jenis pekerjaan tersebut tidak mememerlukan kemampuan manajerial, cukup sedikit pelatihan sistem operasi bank yang dipakai serta sedikit kemampuan komunikasi.
Aku teringat kawanku waktu SMP dahulu, dalam hal cita-cita aku bisa me bagi kedalam tiga golongan. Golongan pertama adalah golongan yang sekolah sampai SMA saja sudah bagus, sudah jauh lebih baik dibanding orang tuanya yang hanya lulusan SR kelas 3 dan sekarang menjadi buruh tani atau tukang di kampung. Golongan kedua adalah golongan yang Akan meneruskan ke STM atau SPG maksudnya sekolah kejuruan. Dengan tujuan ingin merubah nasib keluarganya bisa menjadi pegawai negeri atau bisa bekerja di kantoran jadi guru atau jadi pegawai negeri atau swasta. Dengan menambah sekolah 3 tahun setelah SMP bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Golongan ketiga adalah golongan yang memiliki cita-cita tinggi dengan masuk ke SMA, walaupun diantara mereka ada yang nekad tanpa perhitungan pokoknya masalah biaya gimana nanti, Ada juga yang dengan perhitungan bahwa orang tuanya akan sanggup membiayai sampai S1.
Setelah SMA aku juga melihat kawan-kawanku terbagi 3 golongan. Golongan pertama adalah golongan bingung, karena dari sisi ekonomi, otak, maupun motivasi pas-pasan banget. Mungkin ini termasuk golongan yang waktu memutus an meneruskan ke SMA salah perhitungan. Golongan inilah yang pada akhirnya banyak menguasai terminal dan pasar.....meskipun ada juga yang menjadi politisi dengan mengambil sekolah kapan-kapan (gak jelas waktu sekolahnya tapi jadi sarjana juga) yang penting syarat wakil rakyat terpenuhi.
Golongan kedua adalah golongan yang mulai sadar bahwa kemampuan dia (ekonomi, dan otak) mengharuskan dia segera bekerja agar segera mampu meringankan beban orang tua. Dengan nasihat keluarga, lingkungan, serta membaca situasi, akan terprogram dalam otaknya suatu motivasi bahwa dia akan hidup sebagai pegawai biasa, yang akan memiliki tugas rutin tertentu, akan dikendalikan oleh atasan, dll. Cita-cita menjadi manajer dia coret, dan mulai pertengahan SMA dia sudah siapkan mental untuk hidup nerima menjadi clerical.
Golongan ketiga adalah golongan yang pede abis, walaupun sebagian besar sebenernya termasuk nekad. Pokoknya aku ingin menjadi manager bahkan menjadi Direktur Utama perusahaan besar. Kalau jadi pegawai negeri, inginnya menjadi minimal Kepala Dinas, syukur-syukur menjadi Kakanwil atau bahkan Dirjen dan Deputi di Kementrian. Setelah keluar S1..... Eng, ing, eng......baru dia tahu rasa, bagaimana kerasnya dunia.
Mengirim lamaran kemana-mana, mencari lowongan kerja kemana-mana......akhirnya.....apa saja pekerjaan gak apa-apa, yang penting bisa lepas dulu dari orang tua, bisa mandiri walaupun pas-pasan. Anggap saja magang dahulu mencari pengalaman dan sambil melihat-lihat lowongan pekerjaan baru. Dan umumnya pekerjaan yang dimasuki tersebut adalah bidang sales asuransi, detailer obat-obatan, atau jadi pegawai outsourcing bank. Jenis-jenis pekerjaan tersebut yang umumnya tidak mensyaratkan keahlian atau jurusan tertentu. dari teknik oke, dari hukum atau ekonomi monggo, bahkan dari sastra, antropologi, atau geografi juga gak masalah. Yang dicari oleh perusahaan cuma kemampuan berfikir terstruktur dan kepedean untuk melakukan komunikasi.
Jadi pantes saja temen saya kerjaannya banyak terus, karena dia melakukan rekrutmen SDM over specs. Seharusnya cukup dengan pendidikan D3, tetapi dia banyak meluluskan pelamar yang pendidikannya S1, yang sebenernya hanya berniat coba-coba, cari pengalaman, pingin mandiri lepas dari orang tua, dan dihatinya dia tidak terima kalau hanya dijadikan sebagai clerical. Akhirnya setelah 6 bulan atau setahun, maka akan mencari pekerjaan lain. Bisa pekerjaan yang sama dengan gaji lebih besar, atau pekerjaan yang berbeda yang menjanjikan carir path yang lebih baik.
Ternyata bukan kalau under specs saja yang salah.....over specs pun bisa jadi masalah.
(salam hangat dari kang sepyan)
Minggu, 24 Juni 2012
Kamis, 07 Juni 2012
KOTA KAMBING
Kebiasaan yang aku lakukan dalam dua tahun terakhir ini kalau sedang berada di luar kota adalah pagi-pagi menyusuri jalan sekitar hotel, sekalian olah raga pagi dan memanfaatkan moment untuk melihat denyut nadi kehidupan masyarakat kota yang disinggahi.
Setelah menggunakan sepatu, celana pendek, dan kaos tangan pendek, walaupun masih agak gelap dan jalanan agak basah karena semalaman diguyur hujan, aku lagkahkan kaki ke arah belakang hotel dan belok kanan mengarah alun-alun, terus menyusuri jalan Dalam Kaum, jalan Cibadak, dan selanjutnya belok kembali menyusuri jalan Jendral Sudirman serta jalan Asia Afrika, kira-kira memerlukan waktu 60 menit perjalanan.
Sepanjang jalan mulai depan pintu belakang hotel banyak sekali ditemukan panti pijat, pub dangdut, karaoke, dll. Pemandangan tersebut terus merata disepanjang perjalanan pagi, bahkan Paramount yang dahulu merupakan bisokop yang cukup terkenal di Bandung, sekarang telah berubah menjadi gedung tua yang hampir roboh, serta berubah fungsi menjadi tempat karaoke.
Gedung tua, kusam, dan banyak cat mengelupas mendominasi seluruh bangunan di kedua sisi jalan yang dilalui. Terkesan seperti kota tua yang sudah tidak terurus. Praktis yang kelihatan dari luarnya baru hanya bisnis-bisnis "lampu merah". Mungkin laporan pandangan mata pagi ini terlalu subjektif, maklum hati agak 'panas' melihat perkembangan yang tidak sesuai dengan harapan.
Sore hari setelah acara selesai sebelum diteruskan dengan acara malam, aku sempetkan jalan kembali walaupun hanya sebatas sampai mulut jalan Dalam Kaum. Pandangan siang hari lebih memprihatinkan lagi. Disebelah kiri jalan yang sebelumnya terdapat gedung megah Palaguna, ternyata sudah seperti gedung hantu. Mudah-mudahan seperti spanduk yang didepan gedung segera terwujud bahwa gedung tersebut akan segera direnovasi.
Bersebrangan sudut dengan Palaguna masih ada Dian Theatre, tetapi kelihatannya sudah berubah fungsi menjadi lapangan futsal. Penasaran sebenernya gimana cara menyulap gedung film jadi lapangan futsal. Sayang gak ada orang yang bisa ditanyai.
Renovasi dan pembangunan yang cukup besar tampak dilakukan untuk memperbaiki alun-alun dan mesjid Agung. Ada ruangan parkir serta WC umum di bawah alun-alun, terus dibuat pagar yang cukup kokoh mengelilingi seluruh alun-alun, dan tampak bagian mesjid agung Bandung yang semakin membesar, disertai dengan menara yang menjulang. Namun renovasi yang telah dilakukan tersebut, menjadi tidak ada hasilnya karena kondisi alun-alun bukannya meningkat menjadi nyaman tetapi justru berubah menjadi tambahan tidak nyaman.
Alun-alun Bandung yang dahulu biasa dijadikan tempat bermain warga setelah lelah berbelanja, sekarang disesaki dengan pedagang. Seluruh koridor tempat jalan-jalan serta taman bunga disesaki dengan pedagang makanan, pakaian, mainan anak-anak, elektronik, dll. Disisi pagar dikelilingi juga oleh orang yang berjualan, demikian juga di emper-emper mesjid semuanya penuh dengan pedagang. Jangankan mau melepaskan lelah di alun-alun, malahan pikiran tambah penat melihat kesemrawutan itu.......hehehehe.....tapi disalah satu sudut alun-alun terdapat baliho dari warga yang menyatakan dukungannya dan meminta Bapak Walikota menjadi Calon Gubernur Jawa Barat.......mudah-mudahan baliho tersebut dapat memacu Pak Wali dan jajarannya untuk terus memperbaiki keasrian Kota Bandung.
Jalan sedikit ke arah Dalam Kaum, sungguh sulit membedakan antara jalan dengan pasar, karena jangankan untuk kendaraan lewat, untuk orang lewat saja sudah sulit. Karena jalan digunakan menjadi lapak untuk berjualan.....bukan hanya trotoar atau pinggir jalan, tetapi ini dilakukan ditengah-tengah jalan. Betapa beraninya rakyat Bandung......tapi apakah betul mereka seberani itu kalau tidak ada udang dibalik bala-bala ?
Benar-benar Bandung sangat tidak layak disebut sebagai kota kembang, tetapi lebih pantas disebut kota kambing......kecuali, "peuyeum"nya kali, yang bertebaran seperti kembang. Aku sayang Bandung, mari benahi Bandung.
Ragunan, 07 Juni 2012
(salam hangat dari kang sepyan)
BBM BERSUBSIDI
Seorang ibu-ibu yang dipanggil sebagai ekonom oleh pewawancara radio dengan menggebu-gebu mencoba menguraikan dengan matematika bahwa pemerintah dengan mudahnya telah mensubsidi orang kaya sebesar satu juta rupiah per bulan. Dengan asumsi bahwa setiap orang kaya mengkonsumsi 200 liter premium per bulan dimana per liter premium disubsidi oleh pemerintah sebesar lima ribu rupiah (selisih antara 9.500 dengan 4.500), total per bulan menjadi satu juta rupiah.
Subsidi sebesar satu juta rupiah perbulan tersebut dilakukan dengan cara mengagalkan rencana pemberian bantuan langsung sebesar tiga ratus ribu rupiah perbulan untuk rakyat miskin. Oleh karena itu seharusnya pemiliknya kendaraan pribadi dikenakan pajak sebesar satu juta rupiah atau minimal lima ratus ribu rupiah perbulan, sehingga akan ada penambahan pendapatan pajak sebesar puluhan trilliun rupiah.
Pendapat seperti di atas bukan hanya disampaikan oleh ibu-ibu itu saja, tetapi banyak juga pengamat lain mengatakan hal yang sama. Seolah-olah kalau ada orang yang memiliki kendaraan pribadi terus membeli bbm bersubsidi adalah orang yang tidak punya malu, maling negara, penghisap darah si miskin, sungguh amat sangat tidak berguna dan hanya menjadi beban negara saja. Apa memang benar begitu ?
Aku termasuk salah satu orang yang membeli bbm bersubsidi, kira-kira untuk berangkat ke kantor akan memerlukan sekitar 150 liter premium per bulan. Jadi kira-kira dalam setahun aku mendapatkan subsidi sekitar sembilan juta rupiah. Tapi khan karena kerja, maka setiap tahun juga aku bayar pajak ke negara ? Bayar pajak penghasilan, pbb, kadang-kadang ppn kalau belanja, pajak kendaraan dan lain-lain yang kalau dihitung semuanya angkanya mencapai lebih seratus juta rupiah. Perbandingan antara pajak yang dibayar dengan subsidi bbm yang diterima cukup jauh, masih terdapat surplus yang cukup tinggi. Subsidi hanya berada dibawah 10% dibandingkan dengan pajak yang disetorkan.
Kondisi hitungan-hitungan pajak berbanding subsidi tersebut, aku yakin akan hampir mirip antara setiap orang yang menggunakan bbm. Karena dengan memakai bbm tersebut maka akan menambah penghasilan, yang pada akhirnya penghasilan tersebut akan dikenai pajak oleh pemerintah. Kalau mobil pribadinya lebih banyak dan cc nya lebih tinggi, tentu saja akan berbanding lurus dengan tingkat penghasilannya. Jadi....tidak merugikan negara.....haqul yaqin tidak merugikan negara.
Malahan akhirnya aku curiga.......jangan-jangan para pengamat tersebut tidak pernah membayar pajak ??? Jadi lupa tidak memperhitungkan pajak yang telah dibayar ke negara.
(salam hangat dari kang sepyan)
Rabu, 06 Juni 2012
SEMRAWUT !!!
Atas petunjuk bos baru yang memang memiliki spesialisasi dibidang bisnis transaksi keuangan luar negeri maka hari selasa kemaren telah dilakukan ghatering dengan sponsor TKI atau kerennya Petugas Lapangan PPTKIS (padahal lebih tepat adalah calo TKI) yang dilaksanakan disebuah Rumah Makan cukup bonafide di Cirebon. Biasanya kita melakukan gathering untuk "sosialisasi/edukasi/jualan" remitansi dan KUR TKI adalah langsung dengan TKI yang mau diberangkatkan, karena pada dasarnya yang perlu tahu tentang hal tersebut adalah TKI sehingga mereka bisa terlindungi untuk merencanakan financial mereka selama bekerja di luar negeri (biar gak habis dengan pengeluaran yang gak jelas) dan disisi lain tentunya kami mendapatkan penghasilan atau fee....hehehe..,namanya juga usaha.
Memang menjadi serba salah, karena disisi lain "sponsor TKI" adalah pihak yang tidak dikehendaki karena hanya akan menambah mata rantai tataniaga pengiriman TKI, tetapi kenyataannya peran mereka tidak bisa dihilangkan. Harusnya sih Pemerintah yang melindungi rakyatnya dari hal tersebut...tapi konon menurut informasi dari beberapa sumber, bahkan kalau PPTKIS minta bantuan kepala sekolah SMK atau minta bantuan lurah untuk mengumumkan adanya lowongan pekerjaan di luar negeri, maka sang kepala-kepala tersebut, yang telah dibayar untuk pekerjaannya tersebut, yang telah ditambah sertifikasi, akhirnya mereka berperan menjadi sponsor juga.
Dan akhirnya kamipun melakukan gathering dengan sponsor tersebut karena pihak yang paling dipercaya oleh TKI sebelum berangkat ke LN adalah sponsor, sehingga apabila kita dapat meyakinkan sponsor, maka aliran informasi tersebut akan mampu juga meyakinkan TKI. Nah disinilah mulai timbul satu kesemrawutan. Bayangkan saja acara tersebut juga dihadiri dan diresmikan oleh pejabat tertinggi dari Dinas Tenaga Kerja di Wilayah Cirebon. Dunia rupanya udah kebalik-balik....melakukan suatu yang salah dengan cara yang benar.
Balik dari Cirebon (naek Argojati) aku naik taksi dari Jatinegara ke Bekasi lewat jalan baru di pinggir rel. Mulanya jalan terbagi dua (dua arah), namun tiba-tiba jalan menjadi satu arah serta ada tulisan kecil dalam karton berbunyi "jalan ini belum dibayar" hehehe, ada-ada aja...jalan menjadi satu jalur tersebut kira-kira 100 meter saja, selanjutnya kembali menjadi dua jalur. Tapi perjalanan cukup lancar walaunpun waktu itu jam 5 sore yang merupakan jam pulang kantor. Namun demikian kira-kira 600 - 700 meter kemudian, walaupun jalan tersebut telah dibayar (sudah dua jalur) jalan mulai tersendat bahkan selanjutnya padat merayap. Tampak disebelah kiri jalan, setengah badan jalan dijadikan tempat berjualan. Mulai jualan makanan, pakaian, peralatan rumah tangga, bahkan peralatan elektronikpun dipajang di badan jalan seperti lemari es, TV flat di atas 30 inchi...lengkap dengan membawa mobil besar utk etalase dan dilengkapi pula dengan SPG yang membawa brosur serta ada juga perusahaan Leasing....ini namanya Mal jalanan.
Aku tidak habis pikir....mestinya perjuangan pemerintah untuk membangun jalan tersebut tidak mudah dan tidak murah. Terbukti dengan masih adanya tanah masyarakat yang belum terbayar. Namun mengapa setelah jalan itu jadi kok tidak ada seorangpun yang mau memeliharanya. Pembatas jalan dua arah (sekitar 10 meter dibiarkan tidak terurus dan jalan digunakan untuk jualan secara berjamaah juga dibiarkan. Padahal sebagian yang berjualan tampak sudah mendirikan tenda-tenda bahkan ada yang sudah semi permanen.Semrawut....bener-bener semrawut.
(salam hangat dari kang sepyan)
Minggu, 27 Mei 2012
MANG ADING
"Wal awalu idhar bisitatin atat fi YARMALUNA ingdahu qod sabatat" salah satu syair yang telah aku hafalkan sejak belum bisa baca al-qur'an atau kira-kira usia 4 tahunan. Aku ingat betul syair itu karena ketika bulan puasa, sehabis sholat subuh berjamaah biasanya semua santri dikumpulkan melingkar, dan baru boleh pulang bila bisa menjawab pertanyaan Mang Ading guru ngaji kami. Semua santri diberikan pertanyaan yang sama tanpa melihat kelas, baik santri yang masih mengeja seperti aku maupun santri yang telah menamatkan beberapa macam kitab. Waktu itu Mang Ading bertanya huruf apa saja yang termasuk kelompok huruf idhar. Banyak santri besar yang tunjuk tangan, dan aku satu-satunya santri kecil yang tunjuk tangan atas pertanyaan itu. Tentu saja Mang Ading penasaran apakah aku tunjuk tangan karena bisa menjawab atau asal tunjuk tangan saja, maka aku disuruh untuk menjawab. Dengan mantaf aku lavalkan keenam huruf idhar tersebut dengan sempurna, dan ketika disebutkan bahwa jawabanku benar dengan gagah aku keluar mesjid sebagai murid pertama yang berhasil memenangkan tantangan guru ngaji.
Itulah metode belajar ngaji yang aku tahu, dimana metode tersebut telah digunakan juga oleh orang tuaku maupun kakek dan nenek sehingga kita semua orang sekampung bisa mengaji. Setiap maghrib sampai isya, tanpa gembar gembor program wajib belajar, semua anak-anak dikampung yang belum menikah atau belum kerja di kota, selalu kumpul di mesjid untuk belajar mengaji, dan untuk bulan puasa ada tambahan waktu mengaji sehabis subuh. Selalu saja ada sukarelawan yang mau menjadi guru ngaji, dan pada generasi aku sukarelawan tersebut adalah Mang Ading. Usianya waktu itu masih muda, baru selesai mesantren selama 6 tahunan di pesantren kecamatan sebelah. Kalau jaman sekarang mungkin sepantaran orang tamat SMA, tapi dikampugku waktu itu jarang orang yang meneruskan ke SMP apalagi SMA, kebanyakan kalau setelah tamat SD meneruskan ke pesantren atau langsung ikut berdagang dengan orang tuanya ke kota.
Dengan metode seperti itu, seluruh masyarakat kampung bisa mengaji, rasanya aib besar apabila ada orang yang tidak bisa mengaji. Boleh tidak bisa baca tulis serta menghitung, tetapi tidak boleh tidak bisa mengaji. Di pundak orang-orang seperti Mang Ading lah tanggung-jawab tersebut dibebankan. Tanggung jawab yang sangat besar menyangkut dunia maupun akhirat. Namun dengan tanggung jawab sebesar itu, tidak ada gaji sedikitpun yang dia terima, paling-paling mendapatkan beras waktu zakat fitrah atau baju lungsuran kalau ada orang meninggal. Mang Ading dan sejawatnya tidak pernah protes pada pemerintah, tidak pernah mogok kerja, atau demo. Padahal menurutku sih perannya sejajar atau bahkan lebih tinggi dibanding peran hakim. Makanya tidak heran kalau sampai saat ini, mungkin usia beliau sudah diatas 60 tahun, belum ada generasi pengganti guru ngaji di kampungku.
Aku termasuk agak langka dikampungku, karena orang tuaku menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal bahkan terus sampai perguruan tinggi. Rohis di fakultasku bekerjasama dengan dosen mata kuliah Agama Islam mengadakan acara mentoring. Jadi seluruh mahasiwa tingkat 1 dibagi beberapa kelompok masing-masing kelompok sekitar 10 orang, dan dibimbing oleh mentor kakak kelas Rohis untuk melakukan diskusi agama islam seminggu sekali. Diskusi tersebut bisa apa saja mulai belajar ngaji, membahas hadis, bahkan sampai belajar dakwah. Sungguh aku merasa heran karena ternyata banyak diantara teman-temanku orang-orang kota, ternyata tidak bisa baca al-Quran. Ternyata tujuan utama melakukan program mentoring adalah untuk memberantas buta al-Quran, karena disinyalir bahwa di perkotaan budaya belajar ngaji sehabis maghrib telah hilang sehingga banyak anak-anak yang tidak bisa mengaji. Aku sangat bersyukur lahir di kampung, aku sangat bersyukur memiliki Mang Ading.
Kali kedua ditemui banyak orang gak bisa mengaji adalah di daerah perumahanku di Bekasi. Istriku ikut pengajian di majlis taklim mesjid komplek. Di awal-awal tahun terbentuk majlis taklim tersebut ternyata lebih dari setengah ibu-ibu yang pengajian belum bisa mengaji, bahkan ada di antaranya yang tidak tahun alif bingkeng (istilah bagi orang yang tidak tahu huruf sehingga tidak bisa membedakan mana huruf alif dan huruf lam). Alhamdulillah setelah lima tahun lebih majlis taklim berupaya memberikan materi belajar mengaji dalam salah satu pertemuan mingguannya, sekarang ibu-ibu di komplek sudah bisa mengaji tinggal memperbaiki tajwidnya. Setelah ibu-ibu komplek bisa mengaji, Istriku yang kebetulan sekarang menjadi ketua majlis taklim mencoba mengumpulkan ibu-ibu gang tembok (penghuni yang mendirikan rumah di atas tanah orang lain yang belum digunakan), tenyata hampir semuanya mereka belum bisa mengaji. Sekarang setiap malam minggu sekitar 20 ibu-ibu gang tembok ngumpul dirumah mempelajari Iqro jilid 1.
Adanya pergeseran sosial yang mana dahulu lebih mementingkan ilmu agama seperti di kampungku, dengan gencarnya program wajib belajar serta masuknya listrik ke pedesaan, menyebabkan waktu belajar ngaji menjadi tergeser bahkan tersisih. Sehabis magrib rasanya terlalu sayang kalau harus kehilangan serial sinetron yang menarik, toh belajar mengaji bisa dilakukan dalam pelajaran agama di Sekolah....apa benar begitu ? Untuk sekolah yang memiliki dua kurikulum yaitu sekolah biasa dan sekolah agama, memang benar pelajaran mengaji sudah mencukupi. Tetapi bagi sekolah yang hanya mengandalkan pelajaran agama, saya pikir amat sangat wajar bila anak-anak didiknya belum bisa mengaji. Lucunya tetap lulus.
Selalu ada dampak positif dan negatif dari setiap perubahan, termasuk perubahan karena kemajuan peradaban atau modernisasi. Santri mengaji di Mang Ading aku lihat semakin menyusut. Tidak ada lagi lomba mengaji untuk memperingati isro mi'raj, padahal dahulu moment tersebut menjadi ajang pembuktian kepada seluruh masyarakat atas tingkat kemajuan kepandaian kami. Kami semua mengaji satu persatu di depan speaker, dan pulang kerumah siap - siap menerima pujian dari kerabat. Kadang mendapat persenan alakadarnya.
Apakah pandai mengaji itu penting. ? Bukankah yang penting dalam beragama adalah melaksanakan rukun iman dan rukun islam ? Yang penting percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rosul, Hari Akhir, dan Taqdir baik serta buruk. Yang penting membaca dua kalimah Syahadat, menjalankan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa bulan Ramadhan, serta bila mampu naik haji. Tidak ada yang secara tegas menyebutkan harus bisa ngaji, toh percaya pada kitab Allah atau al-qur'an bisa dilakukan dengan mempelajari terjemahannya yang merupakan isi kitab tersebut. Toh percuma saja membaca al-Quran kalau tidak mengerti isinya ? Khan kita bukan orang Arab ? Toh kalau ada cerita bahwa membaca al-Quran akan mendapatkan cahaya saat di alam kubur tidak dijelaskan apakah membaca dalam bahasa Arab atau membaca terjemahannya. Itulah beberapa logika yang disampaikan oleh mereka yang belum bisa mengaji......hehehehe......padahal sederhananya saja, semua orang melakukan sholat dengan menggunakan bahasa Arab, apakah ada yang pake terjemahan membaca al-Fatihah ?
Terima kasih Mang Ading, insya Allah ilmu yang telah engkau ajarkan dahulu sangat bermanfaat buat kami, insya Allah ilmu tersebut Akan menjadi ladang amal yang akan terus menemanimu di alam kekal. Maafkan aku yang melupakanmu, maafkan aku yang bahkan sampai sekarang tidak pernah mengurusi duniamu kecuali beberapa bagian kecil yang merupakan hakmu. Sebagaimana engkau ajarkan, bahwa Allah yang akan membalasnya.
Jakarta - Surabaya 21 Mei 2012
(salam hangat dari kang sepyan)
Minggu, 20 Mei 2012
FOKUS KE PROSES
Pak Marzuki Ali, Ketua DPR RI periode 2009- 2014 mengatakan dihadapan wartawan bahwa banyak alumni dari perguruan-perguruan tinggi terbaik di Indonesia seperti UI, ITB, dan UGM melakukan korupsi. Pernyataan tersebut cukup ramai ditanggapi oleh berbagai kalangan mulai dari politikus, artis, kalangan perguruan tinggi, pedagang pasar, sampai ke pedagang sayur keliling. Termasuk ramai dibicarakan dalam milist alumni fakultas ku. Diawali dengan pernyataan salah satu teman yang merasa beruntung karena bukan alumni UI, ITB, atau UGM......hehehe padahal yang dimaksud pak Marzuki adalah perguruan tinggi terbaik yang dia sebut itu, artinya temanku sealmamater itu bangga karena dulu tidak masuk perguruan tinggi terbaik. Dikalangan orang terpelajar konsumsi politik bisa berubah makna, apalagi obrolan yang tejadi dikalangan lebih bawah lagi tingkat pendidikannya.
Namun bukan berarti pembahasan dalam milist alumniku tidak bermutu, justru dalam perkembangannya aku merasa ada suatu hal yang bersifat hakiki yang benar, yaitu komentar dari Kang Dicky salah satu alumni yang katanya beliau sekarang sedang belajar sekaligus menjadi asisten dosen di salah satu perguruan tinggi di United Kingdom (UK). Terus terang karena tulisan Kang Dicky lah maka aku coba sampaikan kembali dalam tulisan ini. Padahal aku sendiri tidak kenal sama Kang Dicky, apakah dia angkatan diatas atau dibawah aku.
Kang Dicky menyebutkan bahwa waktu dulu saat menjadi dosen di Indonesia hampir dalam setiap ujian melakukan pengkatrolan nilai, hanya mahasiswa dengan kriteria "khusus" yang menndapatkan nilai "D" atau "E", sedangkan untuk mahasiswa yang tidak "keterlaluan" maka nilainya akan dinaikkan dari "D" menjadi "C" dan otomatis yang "C" akan menjadi "B" dan yang tadinya "B" menjadi "A". Kalau tidak melakukan seperti itu maka akan di"cap" sebagai dosen killer yang menghambat mahasiswa berkembang, selanjutnya mata kuliah pilihannya menjadi tidak akan laku, lebih lanjut secara berjamaah pihak perguruan tinggi akan menilai dosen tersebut tidak bisa mengajar......ya begitulah kejadian saat ini di negara kita, sesuatu yang bagus kalau berbeda dari umum, maka akan menjadi salah.
Lain halnya ketika menjadi asisten dosen di UK, Kang Dicky menggambarkan bahwa mahasiswa disana tidak pernah protes dan menerima apa adanya hasil penilaian dosen. Seluruh dosen tidak ada yang melakukan pengkatrolan nilai. Mereka mengerti ungkapan "rajin pangkal pandai" bukan sekedar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau tidak rajin ya mendapat nilai jelek, kalau rajin belajar, rajin membaca journal yang ditugaskan, mempersiapkan diri waktu ujian, maka akan mendapatkan nilai yang bagus. Dengan kebiasaan pengkatrolan nilai menyebabkan mahasiswa menjadi tidak mengerti kenapa harus belajar ? Mengapa harus rajin baca journal ? Toh tanpa melakukan itu semua, dia dapat lulus dengan mudah.....belum lagi ditambah dengan budaya saling tolong menolong waktu ujian, membuat orang yang tidak mau memberitahu jawaban "seperti" atau dianggap orang yang sulit dan tidak bisa bekerjasama. Terus hilanganya budaya malu mencontek atau mencontek waktu ujian dianggap sebagai suatu usaha untuk mendapatkan nilai, kesemuanya itu menyebabkan kualitas lulusan pendidikan kita menjadi beberapa grade lebih rendah.
Kenapa katrol mengkatrol nilai, kerjasama waktu ujian, dan mencontek terjadi dikalangan pelajar ataupun perguruan tinggi ? Pangkal persoalannya adalah karena segala sistim pendidikan ataupun tata kehidupan kita terlalu berorientasi pada hasil. Semua fokus pandangan dan fokus penilaian hanya dilihat hasil akhirnya. Amat jarang sekali orang yang mempertanyakan prosesnya. Hal seperti ini sungguh sangat menyesatkan, dan terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Gurunya dan keluarganya bangga apabila seorang anak mendapatkan nilai "A" atau angka 9 bahkan 10. Adakah yang mempertanyakan apa benar anak tersebut telah memilki kemampuan "istimewa" ? Hasil akhir angka tersebut telah dapat membius semua orang tentang kualitas seorang anak, padahal sebenarnya mereka sadar bahwa bukan tidak mungkin angka nilai terrsebut bersifat semu mengingat sistim yang berjalan seperti itu
Dalam perjalanan pulang kantor aku mendengarkan acara "smart from home" bersama Ayah Edi, merupakan sebuah acara edukatif dari radio Smart FM. Dalam siaran tersebut dibahas bahwa ada seorang ayah yang bangga bahwa walaupun anaknya "begitu" tapi nilai agama di raportnya dapat angka 9 loh ? Maksudnya "begitu" itu, ya kurang sopan sama yang lebih tua, tidak pergi kemesjid untuk sholat berjamaah, dan masih sering meninggalkan sholat walaupun sudah aqil balig. Terus mengapa anak seperti itu mendapatkan nilai 9 untuk mata pelajaran agama ? Mengapa tidak ada korelasi antara nilai pelajaran agama yang didapat dengan pelaksanaan anak tersebut menjalankan agama ? Ada suatu kesenjangan yang cukup lebar antara teori dan kenyataan, ada kesalahan dalam sistim pendidikan kita yang lebih atau bahkan hanya mementingkan hasil akhir berupa hasil jawaban kertas ujian dibandingkan dengan kompetensi yang dimiliki anak tersebut yang seharusnya mencerminkan nilai yang didapat.
Fatalnya kesalahan tersebut khususnya lebih mementingkan hasil atau terlalu berorientasi pada hasil yang terjadi dalam pendidikan kita, menyebabkan otak terprogram bahwa yang penting dalam kehidupan ataupun dalam pekerjaan adalah hasil yang dapat ditunjukkan. Orang bekerja mencari uang, maka berlomba-lombalah mencari uang waktu bekerja tanpa mementingkan apakah uang tersebut didapat dengan proses yang benar atau tidak, misalnya dengan cara korupsi ? Yang penting dia bisa segera menunjukkan kepada orang tuanya ataupun kepada orang sekampungnya dan orang- orang sekitarnya bahwa dia mampu menghasilkan uang, mampu membeli rumah baru, mobil baru, dan lain- lain. Yang lebih fatal lagi, masyarakat kita juga sangat memaklumi dan tetap menghormati koruptor yang sekarang banyak disampaikan dalam berita TV, karena mereka kaya.....bahkan, salah satunya tetap dapat mempertahankan jabatan sebagai ketua umum PSSI.
Terlalu berorientasi pada hasil, itulah masalahnya. Padahal seharusnya berorientasi pada proses, karena dengan proses yang benar akan menghasilkan sesuatu yang benar, dan dengan melakukan proses sesuai ketentuan akhirnya hasil akan didapatkan. Dengan selalu berorientasi pada proses, maka korupsi, sogok menyogok, saling sikut, saling injak, akan hilang dengan sendirinya.
Hargailah orang yang melakukan proses yang benar walaupun belum berhasil, karena percayalah pada suatu saat orang tersebut akan berhasil karena dia telah melakukan yang benar. Jangan terlalu silau dengan keberhasilan orang, telitilah apakah keberhasilan yang dia dapatkan dengan proses yang benar atau tidak. Kalau ternyata prosesnya salah jangan ditiru, karena suatu saat akan terbongkar juga kesalahannya. Marilah mulai hari ini kita fokus pada proses.
Palembang, 13 Mei 2012
(salam hangat dari kang sepyan)
Sabtu, 12 Mei 2012
MANAGEMENT TREADMILL
Perusahaan tempatku bekerja memiliki peraturan bahwa seluruh pegawai dengan pangkat serta usia tertentu diberi kesempatan untuk melakukan GMCU (general medical cheek up), ramai-ramailah pada hari yang ditentukan kami mendatangi Rumah Sakit yang ditunjuk dan telah bekerjasama dengan perusahaan. Beberapa hari kemudian kami mendapatkan "rapport" kesehatan masing-masing dalam bentuk buku warna hijau disertai map coklat besar berisi gambar dada bagian dalam.
Ternyata aku mendapatkan banyak nilai merah, dan mau tidak mau, serta suka tidak suka harus memperhatikan serta menjalankan apa yang direkomemdasikan dalam buku hijau diantaranya adalah harus menurunkan berat badan dan harus melakukan olah raga sekitar 150 sampai 200 menit seminggu. Inilah balasan bagi orang yang malas berolah raga, malas memelihara diri sendiri, malas menjaga organ-organ badan yang begitu berharga yang telah diberikan secara cuma-cuma dari pencipta.
Aku mulai putar otak mengutak-ngatik waktu yang mungkin luang untuk melakukan olah raga secara rutin. Kalau pagi-pagi rasanya enggak mungkin karena habis subuh sekitar jam 5.15 atau paling lambat jam 5.30 harus sudah berangkat keluar rumah. Terlambat sedikit perjalanan ke kantor bisa memakan waktu 1,5 jam bahkan bisa 2 jam, dan hampir bisa dipastikan sepanjang ruas jalan tol 25 kilometer tersebut seluruh badan jalan selebar 15 meter plus bahu jalan padat dengan mobil-mobil merayap dan berebut salip menyalip, membuat pagi yang cerah menjadi sumpek.
Karena waktu pagi tidak mungkin maka aku coba lihat hari libur, sepertinya memungkinkan, hari Sabtu sembilan puluh menit dan hari Minggu sembilan puluh menit sisanya. Namun ada dua kendala, pertama seharusnya olah raga tersebut dibagi dalam minimal empat kali seminggu serta kendala yang kedua apa mungkin setiap hari libur tersebut tidak ada kegiatan keluarga lain ?
Akhirnya waktu yang paling memungkinkan adalah malam hari, rasanya itu lebih masuk akal. Apabila ternyata banyak pekerjaan sehingga target waktu olah raga kurang, masih bisa ditambah dengan hari Sabtu atau Minggu. Tapi olah raga apa yang dapat dilakukan malam-malam sendirian ? Kalau olah raga lari malam-malam, jangan-jangan bukannya sehat malahan babak belur ditangkap orang sekampung disangka maling.
Berdasarkan referensi kiri-kanan, aku membeli sebuah alat olah raga yang dapat digunakan dirumah untuk berjalan atau berlari-lari kecil, aku menyebutnya "Treadmill" karena mirip alat yang ada di Rumah Sakit untuk melihat kesehatan jantung sewaktu GMCU kemarin. Treadmill yang aku beli memiliki kecepatan yang bisa diatur sampai dengan maksimal 12 km per jam serta kemiringannya bisa sampai 15 derajat, serta ada program-program otomatis untuk kesehatan jantung, membakar lemak, dll. Alhamdlillah dengan kedisiplinan yang tinggi, dengan bantuan alat tersebut disertai pengurangan jumlah asupan makanan, lemak dan air yang berlebihan di badan dapat diturunkan sekitar 10 kg setelah berjalan 3 bulan.
Ada hal rutin yang selalu aku rasakan waktu melakukan treadmill, rasanya diawal-awal dengan kecepatan rendah saja misalnya dimulai dari kecepatan 3 terus dinaikkan ke 5 terasa sudah berjalan sangat cepat dan mulai ngos-ngosan. Rasanya kecepatan 5 tersebut sudah merupakan kecepatan maksimal dan menyiksa badan. Namun minggu-minggu berikutnya kecepatan mulai berani dinaikkan sampai 6 bahkan sampai 7 dan sekali-kali dicoba dengan kecepatan 8 atau 9 km perjam walaupun dengan waktu yang sangat terbatas tidak lebih dari lima menit. Selebihnya berada stabil di kecepatan antara 5 sampai 7 dengan melakukan variasi bersama derajat kemiringan.
Setiap kali melakukan treadmill rasa berat ketika kecepatan dinaikkan dari 3 sampai 7 selalu terasa, namun ketika kecepatan diturunkan dari 9 ke 7 maka rasanya dengan kecepatan yang sama yaitu 7 km perjam menjadi ringan dan tanpa beban. Apalagi ketika kecepatan diturunkan menjadi 5 km per jam terasa seperti sedang berdiam diri, karena badan kita telah tebiasa dengan kecepatan lebih tinggi dan kaki kita juga sudah otomatis bergerak, semuanya terasa ringan. Kalau tidak melakukan pendinginan dengan menurunkan kecepatan secara berangsur-angsur, langsung menstop alat treadmill pada kecepatan 5 ataupun 3, maka badan akan limbung karena kaki tidak mau berhenti harus terus melangkah, sedangkan tempat pijakan treadmill sudah berhenti.
Tubuh manusia diciptakan Tuhan untuk selalu dilatih bergerak, baik untuk berolah-raga maupun untuk bekerja. Maka aku coba berteori bahwa dalam bekerja di kantor atau di pabrik sekalipun "manajemen treadmill" dapat diterapkan. Karyawan harus dibiasakan untuk selalu berada dalam kecepatan yang ditentukan sehingga menghasilkan produktifitas yang optimal. Misalnya untuk tenaga pemasar harus dibuat target bahwa setiap hari setiap karyawan harus dapat menghubungi atau menelpon 15 calon customer dan harus bertatap muka atau presentasi minimal dengan 5 customer. Kalau target minimal tersebut belum dicapai maka karyawan tersebut tidak boleh pulang atau boleh pulang tetapi sisanya menjadi tambahan target di hari berikutnya.
Pada awal-awal melakukan tentu target tersebut akan dirasakan berat oleh karyawan, tetapi harus dipaksakan dan dibimbing serta diyakinkan kalau mereka bisa, dan akan lebih baik lagi kalau diberi contoh bagaimana cara melakukannya. Kalau sudah terbiasa, maka cara kerja seperti itu akan dirasakan ringan oleh karyawan. Bahkan mungkin sekali-sekali dengan program-program tertentu target bisa dinaikkan, sehingga ketika program sudah selesai kembali ke "kecepatan" standar karyawan kita akan bekerja dengan ringan namun tetap menghasilkan produktifitas yang optimal. Manajemen treadmill ini dapat juga kita terapkan pada diri sendiri misalnya kebiasaan sholat malam, kebiasaan jam berapa bangun dan jam berapa mandi pagi, kebiasaan berolah raga, kebiasaan waktu berangkat kerja, dan lain-lain. Sepatutnya diri kita juga harus dipacu untuk membuat target dengan berapa orang kita harus bertemu untuk menambah jaringan, berapa buku yang harus dibaca dalam seminggu untuk menambah wawasan, berapa tulisan harus dibuat, dll.
Manajemen treadmill ini walaupun sampai saat ini sepengetahuanku belum ada orang yang menyebutnya, telah diterapkan oleh orang-orang besar seperti Donald Trump ataupun oleh gadis muda Indonesia yang menjadi inspirasi banyak orang Merry Riana.
Dalam bukunya Merry bercerita bagaimana perjuangan dia saat menjadi tenaga pemasar produk keuangan di Singapura. Gadis manis korban peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta tersebut, akhirnya harus memilih sekolah di NTU Singapura dengan modal pinjaman dan harus bisa bertahan hidup di Asrama dengan uang SGD 10 per bulan. Uang tersebut merupakan selisih uang yang diterima dari pinjaman dibandingkan dengan biaya kuliah dan biaya Asrama tanpa diberi makanan. Mungkin besar uang tersebut ada hanya karena faktor pembulatan saat bank menghitung besar pinjaman, namun uang tersebut sangat berarti bagi Merry karena berarti perutnya akan terisi satu slice roti pagi hari dan terisi satu bungkus mie instan malam hari.
Dengan tempaan yang berbeda dari teman-temannya membuat cara berfikir dan cara pandang dia agak berbeda. Disaat yang lain lulus kuliah segera masuk untuk bekerja di pabrik elektronik yang memang dengan sangat mudah menerima lulusan NTU, Merry melihat bahwa pekerjaan tersebut tidak dapat menghasilkan uang yang banyak. Besar pendapatannya sudah bisa ditebak mulai dari belasan juta pertama kali masuk, kemudian dengan grafik lambat akan meningkat seiring jabatan, tetapi tetap saja ada batasnya dan akan terus begitu sampai tua. Merry mencari tantangan lain dengan menjadi pemasar jasa keuangan mulai dari bawah dengan menyebarkan brosur dijalanan, dengan perhitungan walaupun pada awalnya penghasilan dia akan jauh lebih kecil dibanding bekerja jadi Staf pabrik, tetapi dia yakin pada akhirnya dengan kerja keras akan bisa mempunyai penghasilan yang tidak terbatas.
Merry menetapkan target harus melakukan presentasi minimal 20 kali dalam sehari, dia menghitung berarti harus menyebarkan atau memberikan brosur kepada 400 orang setiap hari, karena berdasarkan pengalaman dan pengamatannya hanya satu orang dari 20 orang yang dibagi brosur mau mendengarkan presentasi, serta hanya satu orang dari 20 orang yang diberi presentasi akhirnya mau membeli produk keuangan yang ditawarkan. Dia menceritakan bahwa pada suatu hari sampai jam 12 malam masih kurang 2 presentasi lagi, dengan kekuatan hati dan menahan lapar tetap dilanjutkan sampai jam 2 pagi, padahal keesokan harinya dia harus sudah "ngantor" lagi di halte tersebut.
Hasil akhirnya, dalam usia 26 tahun sudah memiliki penghasilan diatas satu milyar perbulan, tanpa harus bekerja lagi penghasilan tersebut akan tetap mengalir lewat organisasinya. Suatu penghasilan yang jauh lebih besar dibanding teman-temannya yang masih berkutat dan berdesak-desakan mengambil hati atasan agar dapat diangkat menjadi Supervisor.
Kita tidak boleh melihat hanya dari ujungnya, tetapi harus dilihat dari bagaimana dia ditempa alam sehingga seluruh otot, otak, maupun nalurinya terbiasa bergerak lebih dari rata-rata. Diawal-awal Merry juga menyampaikan bahwa hal tersebut terasa berat, tetapi lama-lama tubuh, otak, dan nalurinya menjadi terbiasa. Persis seperti anggota badan kita waktu treadmill.
Mau kah Anda melakukan manajemen treadmill ???
NAD - Jakarta, 09 Mei 201
(salam hangat dari kang sepyan)
Langganan:
Postingan (Atom)