Minggu, 15 Juli 2012

CALON PEMIMPIN MASA DEPAN

Selamat datang, Calon Pemimpin Masa Depan di MAN IC Serpong. Tulisan besar-besar tersebut terpampang di layar besar yang dipajang di depan aula pertemuan, tempat aku, istriku, serta Viki anakku bersama 120 siswa baru Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia Serpong dan keluarganya yang mengantar berkumpul dalam rangka serah terima calon siswa kepada pihak sekolah. Mulai hari ini ke-120  anak tersebut akan menjadi penghuni asrama bersama 240 siswa lainnya yang telah lebih dahulu masuk dan sekarang telah menjadi siswa kelas X I dan XII.

Kata-kata do'a, harapan, dan penyemangat "CALON PEMIMPIN MASA DEPAN" tersebut terus disampaikan berulang-ulang disamoaikan oleh pembawa acara maupun pembicara lainnya, membahana di ruangan aula yang menampung 300-an kursi. Ruangan berbentuk segi empat ukuran 20 x 20 meter dengan atap kerucut tanpa langit-langit, kecuali dibagian tengah terdapat langit-langit ukuran 5 x 5 meter. Membuat ruangan aula terasa lega, karena walaupun tanpa pendingin udara, hanya mengandalkan beberapa kipas angin, dengan ketinggian atap tersebut membuat sirkulasi bebas bergerak mengangkut awan panas dari napas tiga ratus manusia dibawah berganti dengan udara lainnya yang turun dari atas.

Dipanggung depan berjejer pengurus MAN yaitu pak Suwardi kepala MAN mengenakan baju abu-abu dengan dasi senada dan jas yang juga berwarna abu-abu, rupanya beliau penyuka warna itu.  Yang paling menonjol dari pak Suwardi adalah kumisnya yang tebal dan panjang hampir 5 centi. Bapaknya Hanif salah satu orang tua murid asal Semarang, kebetulan saat pendaftaran dua minggu sebelumnya pernah ketemu dan bertukar nomor HP, sempat SMS memberitahukan posisi dia di aula katanya dibaris keenam dari depan tepat depan pak Kumis. Didampingi lima wakil kepala yaitu pak Agung yang ganteng wakil bidang Humas dan SDM, bu Persahini Sidik satu-satunya perempuan wakil bidang kurikulum, pak Imam yang paling muda karena merupakan wakil bidang kesiswaan serta pembina OSIS, ustadz Fakhruroji menggunakan batik dan bersongkok sama dengan pak Suwardi, beliau adalah yang memimpin bidang keagamaan siswa, dan paling pinggir pak Krisjuli wakil kepala bidang sarana dan prasarana.

Dengan suara lantang, tegas, namun kebapa-an, Pak Suwardi bertekad menjadikan seluruh siswa MAN IC seperti pendirinya yaitu pak Habibie kalau bisa melampaui prestasinya. Berotak Jerman namun berhati Mekkah.  Namun demikian dalam menyiapkan calon pemimpin bangsa masa mendatang, tidak bisa hanya diserahkan pada sekolah, do'a dari orang tua adalah hal paling penting. Untuk menyemangati anak-anak yang baru akan mulai masuk pondok pak Suwardi menyampaikan bahwa madrasahku adalah sorgaku, disini tempat paling nyaman di dunia ini. Mengalir sungai, banyak bidadari artinya banyak hal-hal yang menyenangkan seperti guru-gurunya, fasilitasnya, kegiatan-kegiatannya , dll.  Ditempat ini mulai akan dibiasakan sholat fardu berjamaah, sholat sunah tahajud, puasa sunah senin dan kamis, sebagaimana yang juga dilakukan oleh tokoh-tokoh dunia, kesuksesannya bukan hanya karena otak tapi karena ketaqwaannya, dan selalu patuh sama orang tua.

Data statistik lulusan MAN IC mayoritas ada di tiga Universitas yaitu di ITB sekitar 33%, UGM sekitar 19% dan UI sekitar 15%. Yang lainnya tersebar di perguruan tinggi negeri lain, karena sekitar 90% lulus SNMPTN.  Sekitar 5% lulusannya meneruskan ke Luar Negeri yaitu ke Jepang, Malayasia, Jerman, dll. Prestasi tersebut didapat bukan hanya dengan berpangku tangan, tetapi berkat kerja keras semuanya mempersiapkan diri agar lulus SNMPTN mulai menginjakan kaki di kelas XII.

Pak Suwardi menekankan bahwa Asrama itu bukan tempat kos, karena asrama berfungsi juga sebagai tempat belajar. Proses  belajar di MAN IC dilakukan di tiga tempat yaitu di kelas, di mesjid, dan di asrama. Pada Malam hari belajar di asrama didampingi oleh guru, sebagai pengganti orang tua.
Penguatan dua bahasa asing dilakukan yaitu penguatan bahasa inggris untuk bekal menaklukan ilmu umum, dan penguatan bahasa arab untuk bekal mempelajari ilmu agama.  Diberikan guru asuh untuk mendampingi, satu guru asuh untuk 8 siswa.  Untuk murid lelaki diasuh oleh guru asuh lelaki, sedangkan murid perempuan dengan guru asuh perempuan.

Kegiatan olah raga akan diperdalam sesuai olah raga Nabi Muhamad SaW yaitu berkuda, berenang, dan memanah.  Disamping itu ada kegiatan magang di perusahaan selama dua minggu untuk belajar mengenal dunia usaha.

Liburan untuk siswa diberikan dua minggu sekali secara bergiliran untuk siswa putra dan siswa putri.  Kunjungan orang tua dialokasikan setiap sabtu siang sampai dengan jam 9 malam, dan hari minggu mulai pagi sampai sore. Untuk keperluan komunikasi, para siswa dilarang membawa HP jadi disediakan tempat telepon umum, dan disetiap blok asrama disediakan HP.  Laptop boleh dibawa tapi disimpan atau dititipkan ditempat khusus dan tidak boleh dibawa ke asrama.  Fasilitas internet terkoneksi disemua tempat.

Pada dasarnya biaya pendidikan MAN IC ditanggung negara yaitu untuk buku pegangan siswa sebagai pinjaman, makan serta minum dan fasilitas tinggal diasrama, kegiatan pendidikan di asrama, konsumsi, kesehatan kecuali sakit berat, pendidikan di sekolah termasuk laboratorium IPA, Bahasa, fasilitas internet, perpustakaan on line, termasuk bahan seragam. Yang tidak  ditanggung negara adalah buku tulis, sepatu, obat-obatan yang tidak ada di poliklinik, ongkos jahit seragam, studi kolaburatif setahun sekali, bimbingan persiapan UN, SNMPTN, dan  seleksi perguruan tinggi di luar negeri, serta kegiatan OSIS.

Jam 11-an acara selesai dan para calon siswa disuruh berkumpul ditempat yang ditentukan membawa barang perbekalan yaitu tas berisi baju-baju dengan jumlah dan jenis yang telah diumumkan dalam WEB, bantal dan guling, peralatan pembersih antara lainsapu ijuk, sapu lidi, lap pel, ember dan gayung serta membawa satu bibit pohon buah-buahan. Jadilah aku berdua Viki beserta ratusan orang tua dan anak lainnya bulak-balik membawa barang bawaan tersebut dari tempat parkir yang jaraknya cukup jauh ke tempat dikumpulkan di salah satu ruangan kelas. Tetapi sampai di tempatnya berkumpul, kakak-kakak kelasnya membantu dan kami para orang tua dengan halus dilarang masuk, katanya biarkan mereka belajar mandiri mulai sekarang. Aku lihat dari kejauhan anakku disuruh menulis sesuatu dalam selembar kertas dengan spidol, lalu seorang demi seorang di foto dan disuruh masuk.

Walaupun sebenarnya para orang tua masih memilki kegiatan yaitu pertemuan orang tua di Aula yang tadi, namun sebagian besar diantaranya masih tetap merubung diluar memperhatikan apa yang dilakukan mereka terhadap anak-anaknya. Seakan-akan kami para orang tua masih belum percaya dan masih berat melepas mereka.

Untuk menuntaskan rasa kepenasaran para orang tua, tampilah dua orag siswa bernama Retas Aqobah dan Iqbal Maulana menjelaskan dengan piawai bahwa anak-anak siswa baru di dalam ruangan kelas itu sedang mengantri diukur baju dan diperiksa barang-barang bawaannya. karena tidak semua barang bisa dibawa masuk asrama. Selanjutnya Retas menjelaskan bahwa setelah pemeriksaan selesai, nanti akan sholat duhur berjamaah dan dilanjutkan makan siang. seteah it seluruh siswa dikumpulkan dilapangan, dan diberikan kesempatan untuk pamitan dengan keluarganya. Dan meminta agar para orang tua murid dapat berkumpul di Aula untuk mendiskusikan kegiatan Komite Sekolah.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, kami kembali ke Aula dan rupanya sedang berlangsung kegiatan tanya jawab antara orang tua murid dengan Pengurus Komite Sekolah dan Ibu Wakil Kepala. Banyak pertanyaan mulai dari pertanyaan serius seperti bagaimana kegiatan untuk menghafal al-quran di asrama, bagaimana agar mutu sekolah tidak merosot, apakah dengan dibiayai negara tidak menurunkan mutu pendidikan, apakah ada korupsi mengingat MAN IC ada di bawah naungan Departenen Agama yang bahkan kegiatan pencetakan al-Quran saja dikorupsi. Serta pertanyaan-pertanyaan lain seperti ungkapan betapa sulitnya mencari alamat IC karena tidak ada tukang ojeg yang mengerti, tidak ada petunjuk arah, sampai ke pertanyaan bagaimana kalau sakit, bagaimana mengirimkan uang, bagaimana mengirim makanan, dll.

Acara diakhiri sebelum sholat Duhur dan Komite meminta kesediaan beberapa wakil orang tua murid untuk duduk di Komite. Dengan niat untuk mengabdi untuk kebaikan, aku mengangkat tangan dan ketika diberi mic aku katakan bahwa andaikata diperlukan walaupun lokasiku agak jauh yaitu di Bekasi dengan jarak sekitar 60 kilometer aku bersedia jadi pengurus Komite Sekolah. Ada dua orang lainnya yang menyatakan kesediaan yaitu serang ibu-ibu yang sama juga tinggal di Bekasi dan seorang Bapak berbaju merah menyatakan hal yang sama. Ibu Persahini meminta nomor HP kami bertiga dan dikatakan bahwa menjelang bulan Ramadhan ini tekah banyak agenda kegiatan yang harus dikerjakan......hehehe....mudah-mudahan kesempatannya ada.

Aku berbisik sama istriku, kalau aku ternyata sibuk, maka nanti dia saja yang aktif jadi pengurus Komite. Dengan sedikit terpaksa istriku mengiyakan juga, tapi syaratnya aku harus mencba dulu.....ya....deal.

Ketika siang hari anaku diberi kesempatan pamitan, istriku nanya sama Viki tentang kegiatan tadi dijawab bahwa persediaan atau bekal makanan termasuk susu katanya dititipkan dulu sama panitia, demikian juga uang tunai yang kami beri untuk pegangan sebesar Rp. 500 ribu diminta dititipkan sebagian, setiap siswa hanya boleh memegang uang Rp. 100 ribu.  Tadi makan siang sama ayam goreng, dan dengan sedikit protes Viki bilang potongan ayamnya kecil-kecil. Setiap anak diber piring yang banyak ruangannya, lalu disuruh mengambil nasi sesukanya sedangkan untuk lauk dan sayurannya diambilkan oleh petugas dapur.

Viki ditempakan di kamar 2301 yaitu di lantai tiga kamar kedua bersma tiga teman lainnya yaitu Muhamad Aunal, Muhamad Ridwan, dan Hafidz Rizaldi.  Dibawah asuhan Fathur kakak kelasnya....."Fathur........titip anakku ya, namanya Zulfika Muhamad nama panggilannya Viki",  "Siap om" kata Fathur.  Melihat gerak-geriknya, aku percaya sama dia.......Viki....dan anak-anakku semua.........Selamat Menempuh Hidup Baru.......jadilah Pemmpin Masa Depan.

Jakarta - Gorontalo,  12 Juli 2012

(salam hangat dari kang sepyan)
 

Jumat, 06 Juli 2012

JOGGING

"Mohon masukan, besok maen di Kujang mau tee off jam sabaraha ?" aku kirimkan SMS tersebut ke kedua temenku, Arfan dan Andilta. Sengaja bahasa SMS-ku aku buat sedikit seperti resmi, tapi ujungnya di sundakan.  Mereka berdua adalah temen sekolah waktu ngambil S1 di Unpad 28 tahun lalu. Alhamdulillah sampai sekarang pertemanan tersebut masih terjalin, terutama karena kita masing-masing punya hobby olah raga yang sama. Serta biasa sama-sama mencari lapangan yang harganya miring untuk maen week end. Maklum green fee golf untuk lapangan-lapangan yang deket Jakarta atau daerah puncak kalau week end mahalnya minta ampun. Makanya dicarilah lapangan pinggiran seperti di Cikampek milik Pupuk Kujang. Walaupun lapangan kurang bagus, gak pakai car, dan kedi-kedinya gak pake BH, maksudnya kedi laki-laki, jadilah. Yang penting tujuan olah raga tercapai.

Biasa kalau hari Sabtu atau hari Minggu aku gak ada acara, iseng nyari temen untuk berolah-raga, sekalian ngobrol ngalor-ngidul. Kebetulan juga sudah lama gak maen sama Andilta dan Arfan, karena minggu lalu rencana  kami bertiga akan maen, tidak kesampaian karena Andilta harus jadi panitia perkawinan di salah satu pejabat tempat dia banyak dapat proyek, jadi rencananya di undur Minggu depan. Artinya ya minggu ini dong.

Beberapa saat kemudian Andilta membalas " ok kita jalan jam 6-an aja ya" aku balas "Lu dari rumah jam berapa ?" "Aku  jam 5.30 dari rumah, ketemu di rumah Arfan kah ?" Andilta segera merespon, maksudnya untuk membantu pemerintah menghemat BBM biasanya kita berangkat hanya pakai satu mobil saja, mobil lainnya disimpan di tempat Arfan yang jalanannya depan rumahnya lumayan lebar.

Namun sampai menjelang tidur, Arfan gak memberikan respon apa-apa. Aku juga sengaja tidak menghubungi langsung, cuma kirim bbm dengan pesan memberitahukan bahwa aku dan Andilta udah setuju besok maen bareng dan akan nyamperin dia jam 6. Arfan cuma respon "ok ok". Kalau sudah begini, biasanya ada kemungkinan tidak jadi. Jadi akupun sudah buat alternatif olah raga lain, seandainya memang benar-benar rencana tersebut gagal.

Dan akhirnya pagi-pagi habis sholat subuh aku terima BBM Arfan dengan kalimat yang polite banget "Ass. Sepyan maaf bener saya lupa ngabarin, saya mau ke Bandung pagi ini ada nganterin nyonya, Andilta belum berangkat khan ?" Karena aku sudah menduga hal ini terjadi, aku respon "Wah harus bilangin dia. Mudah-mudahan belum berangkat".  Beberapa saat Arfan kembali kirim kabar "Sudah saya SMS Andilta, dan dia bilang ok nggak apa-apa. Kebetulan dia pun lagi kurang tidur. Kalau  besok pagi Insya Allah saya bisa. Maaf sekali lagi ya Kang"  Dengan percakapan tersebut, maka jelaslah sudah hari Sabtu ini tidak jadi main, diundur hari Minggu. Maka akupun langsung mempersiapkan pelaksanaan plan "B"

Aku ganti baju dengan celana pendek, kaos, dan menggunakan sepatu kets. Lalu kuambil beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan dua ribuan untuk sekedar jaga-jaga kalau mau nyari jajanan dan untuk uang parkir. Lalu aku panasin motor. Sejenak suaranya ngeberebet, maklum motor ini sangat jarang digunakan dan jarang dipanasi juga. Jadi kalau mau dipakai suka ngeberebet begitu. Setelah di gas kenceng-kenceng dan suara ngeberebetnya hilang,  aku jalan ke stadion, lewat gang-gang nembus ke belakang stadion.  Kebetulan rumahku lokasinya ada di belakang stadion, jaraknya paling sekitar 500-600 meter saja. Sesuai dengan plan"B" aku mau lari dengan jarak 18 hole, jadi targetku bisa lari minimal 6 kilometer.

Stadion Bekasi saat ini sedang di pugar, sehingga tempat lari putaran besar mengelilingi stadion maupun lapangan jogging dalam stadion yang mengelilingi lapangan sepak bola tidak bisa dipergunakan. Karena entah mau dibikin apa, hampir tujuh puluh persen komplek stadion di tutup dengan pagar seng, dan tampak dari luar banyak tiang-tiang pancang. Namun dalam beberapa bulan terakhir ini, tidak kelihatan ada orang bekerja.  Kang Pepen, Walikota Bekasi tampaknya kurang peduli sama aku, warganya yang membutuhkan stadion yang lapang, sekedar untuk mencari udara segar dihari libur berolah raga, yang memerlukan juga informasi mau diapakan, atau mau dijadikan apa stadion Bekasi. Aku sudah sering nyari informasi di stadion melihat-lihat barangkali dipasang pengumuman ke warga, atau ada gambar rencana bangunan, yang umumnya suka diperlihatkan kepada warga yang juga sama-sama steak holder kota ini. Tapi sampai saat ini, aku belum menemukan informasi itu.

Sisa tiga puluh persen lapangan yang dapat digunakan adalah aula, lapangan untuk sepatu roda, serta lapangan yang ada di sekitar bumi perkemahan. Yang bisa digunakan tempat warga jogging sekarang adalah di dua tempat terakhir itu, yaitu di lapangan bumi perkemahan terdapat jalan didalamnya dengan keliling sekitar 400 meter, dan lapangan untuk maen sepatu roda kalau pagi hari digunakan untuk jogging dengan keliling sekitar 200 meter. Karena hari masih pagi, aku berlari di lapangan yang ada di komplek perkemahan. Tempatnya rimbun karena disekelilingnya masih banyak terdapat pohon-pohon tinggi, demikian juga ditengah-tengah jogging trek yg tidak dijadikan lapangan ditumbuhi bunga-bunga yang karena kurang terawat tumbuh menjadi pohon yang cukup tinggi pula.

Tiga putaran awal aku mulai dengan berjalanan santai kemudian semakin lama semakin cepat. Kira-kira memerlukan waktu 10-12 menit untuk menyelesaikan 3 putaran awal tersebut. Lalu kemudian disusul dengan berlari jogging dengan kecepatan 6-8 kilometer per jam. Dengan perhitungan tersebut, aku perkirakan waktu jogging mulai pemanasan sampai dengan pendinginan kembali akan memerlukan waktu 1 jam. Waktu yang ideal untuk berolah raga, berangkat tadi sekitar jam setengah tujuh sudah bisa sampai rumah kembali paling lambat jam delapan. Sehingga masih sempet nganter istriku ke pasar.

Target awalku setelah pemanasan adalah lari tanpa berhenti 10 putaran, baru disusul pendinginan 2 putaran, sehingga total seluruhnya menjadi 15 putaran, setiap putaran 400 meter jadilah 6 kilometer. Tetapi baru berlari dua putaran atau total lima putaran, rasanya kok sudah mulai capek ya ? Maklum sudah jarang jogging, biasanya cukup diganti dengan treadmill 20-30 menit saja. Dipake lari beneran di lapangan kok jadi terasa. Hati kecilku mulai membisik "Sepyan, yang penting khan targetmu 10 putaran lari, biar lebih cepet kamu ambil jalur dalam saja. Toh hitungannya sama juga satu putaran, tapi kamu tidak akan terlalu cape karena jaraknya lebih pendek" Aku pikir bener juga ya bisikan hatiku ! Ya sudah aku mepet sebelah lingkar dalam, toh tidak ada yang tahu......hehehehe.....atau toh tidak ada yang tahu pasti jarak 400 meter satu putaran itu apakah diambil di lingkaran dalam, di tengah-tengah jalan, atau dilingkaran luar. Jadi anggap saja ini untuk balancing, khan tadi 5 putaran awal sudah berjalan dan berlari di lingkaran luar.

Namun walaupun sudah berlari dilingkaran dalam, putaran keenam tetep rasanya cape, tapi aku paksakan terus berlari dengan agak melambat. Di pertengahan putaran ketujuh, aku teringat cerita temen SMA ku, Letkol Yogi. Dia cerita bahwa dalam hidup itu jangan terlalu memaksakan diri, apalagi untuk kita-kita yang sudah berusia 45 ke atas. Ada katanya senior dia yang walaupun tekanan darahnya agak tinggi namun karena merasa sehat dia tetap ikutan test fisik dengan berlari, menurut Yogi, kalau di TNI suka ada test fisik untuk para perwiranya. Tidak tahunya, akhirnya beliau "lewat" saat berlari dalam rangkaian test kebugaran tersebut. Mengingat cerita tersebut rasanya kok dadaku juga jadi sakit. Aku coba paksakan berlari sampai putaran ketujuh terrsebut selesai dengan sedikit-sedikit memegang dada. Putaran kedelapan dan kesembilan aku lakukan dengan jalan cepat, dan rasanya tidak ada masalah dengan dadaku, toh bukan berlari khan cuma berjalan. Kalau seniornya Yogi khan berlari. Toh aku juga tidak menderita tekanan darah tinggi.

Putaran kesepuluh aku melihat ada dua orang anak muda yang berlari, agak lambat paling kecepatan 6 km per jam. Aku coba mengikuti ritme mereka dengan ikut berlari dibelakangnya. Terus mengikuti dan tiba-tiba satu putaran atau putaran kesepuluh tanpa terasa dapat diselesaikan, putaran sebelas, duabelas, tigabelas, dan empat belas dapat diselesaiakan tanpa terasa. Ketakutan tiba-tiba jatuh aku lawan dengan membisiki hati bahwa aku tidak punya indikasi tekanan darah tinggi, lariku juga tidak terlalu cepat. Jalur lariku karena mengikuti ritme orang lain, jadi berada di tengah-tengah badan jalan bahkan cenderung ke arah luar, tidak nyuri-nyuri lagi berlari di lingkaran dalam.

Putaran kelima belas aku selesaikan dengan berjalan melambat untuk mendinginkan, dan dilanjutkan dengan berjalan dilapangan sepatu roda dua putaran dimaksudkan selain untuk mencari sinar matahari pagi yang sungguh jarang sekali aku dapatkan karena hampir setiap hari berada di ruang tertutup, juga untuk menebus kekurangan jarak karena telah mengambil lingkaran terdalam. Lokasi lapangan sepatu roda tidak terlindungi pohon-pohon sehingga sinar matahari pagi dapat langsung dinikmati oleh seluruh inchi bagian tubuh orang-orang yang berolah raga disana. Rasanya setelah melakukan ritual 15 putaran tersebut, seluruh sel yang ada di tulang sum-sumku bergerak-gerak gembira karena mendapatkan pupuk oranik yang dia perlukan.

Ternyata selain kebugaran fisik yang didapatkan, pikirankupun berputar ikut jogging sehingga mudah-mudahan bertambah sehat........pikiranku berputar yaitu menganalisa bahwa mungkin seperti itulah bibit-bibit korupsi itu muncul dihati. Dimulai dengan adanya bisikan hati yang memberikan janji mendapatkan sesuatu dengan cara lebih mudah, dengan berlari dilingkaran dalam. Dibumbui dengan alasan bahwa tidak ada yang tahu, dan secara ilmiah pun sulit membuktikan lintasan lari tersebut berukuran 400 meter pada posisi berlari dimana. Dijalur pinggir luar, jalur tengah, atau jalur dalam. Akhirnya diputuskan untu berlari dilingkaran dalam, karena jaraknya lebih pendek sehingga lebih cepat menyelesaikan putaran. Artinya
lebih cepat mencapai target lima belas putaran yang telah ditentukan.

Padahal sebenarnya siapa sih yang membuat target 15 putaran ? Kenapa sih harus membuat target tersebut. Target dibuat sendiri dan tidak ada orang yang tahu, demikian pula manfaat dari pencapaian target itu hanya untuk diri sendiri. Kok harus curang dengan mencari jarak yang pendek ? Toh kalau misalnya target joggingnya dikurangipun hanya 14 atau bahkan hanya 10 putaran, tidak bakalan ada orang lain yang tahu.

Demikian pula dengan perasaan sakit dada dan perasaan tidak kuat terus berlari, ditambah dengan mengingat cerita teman ada yang meninggal ketika sedang jogging. Pada akhirnya mendorong tubuhku untuk mempercayai pikiran tersebut, sehingga yang semula berlari dirubah menjadi cukup berjalan. Padahal ketika berlari kembali dan tidak mengingat-ngingat hal tersebut, ternyata tubuh ini mampu untuk mencapai target yang ditentukan.

Seperti itulah kekuatan pikiran, sehingga banyak orang bijak yang mengatakan bahwa apapun yang Anda pikirkan maka dapat diwujudkan. Oleh karena itu hati-hatilah dengan pengendalian pikiran. Buat pikiran tetap optimis, positif, dan sehat sehingga wujud gerak kita dan arah jalan kita menuju arah yang lebih baik. Apabila timbul niat yang tidak baik sekecil apapun, harus segera di lawan, karena kalau dibiarkan otak kita akan lebih aktif untuk dapat mewujudkannya dengan menambahkan argumen-argumen yang menguatkan. Bahkan dengan sadisnya diri sendiri saja mau dicurangi.

Jadi selamat berfikir positif dan selalu bersihkan hati dari niat yang tidak baik.......mensana in confore sano.

Pontianak, 05 Juli 2012

(salam hangat dari kang sepyan)

Jumat, 29 Juni 2012

MESJIDKUUUUUU


Kavling yang dalam peta komplek telah diperuntukkan untuk Fasum dan Fasos tersebut berukuran 8 x 50 meter berada di pojokan kavling berbentuk kotak panjang dikelilingi jalan. Salah satu sisi  memanjang dan menyampingnya adalah jalan utama komplek 12 meter, sedangkan sisi lainnya jalan kecil 4 meter. Berada persis diperbatasan antara Rw. 17 dan Rw. 26, yang sempat memicu "konflik" bahkan sampai saat ini, terutama untuk memuaskan ego kemanusiaan untuk bisa menguasai dan menunjukkan dominasi.

Waktu pertama kali aku membangun rumah disana tahun 1997, dikavling tersebut telah berdiri Mushola alakadarnya dan dinamakan Mushola Al-Ikhlas berukuran 6 x 6 meter dalam bentuk tertutup ditambah bagian belakang 4 x 6 meter setengah terbuka. Dan telah menjadi tempat sholat berjamaah warga yang memang belum seberapa banyak penghuninya. Bagian belakangnya dijadikan sebagai tempat belajar mengaji anak-anak kavling. Bahkan menjadi tempat favorit ibuku dan ibu mertuaku untuk melakukan shalat Duhur kala sedang mengatur makanan bagi Bapak-Bapak tukang yang sedang membangun rumah.

Pak haji Aris tetanggaku yang termasuk pioneer menempati atau membangun rumah di kavling bercerita bahwa waktu dahulu dia membangun mushola tersebut banyak orang yang menertawakan karena seperti membangun mushola di tengah rawa. Maklum banyak komplek di daerah Bekasi adalah bekas rawa sehingga banyak nama daerah di Bekasi dengan awalan rawa, seperti rawalumbu, rawabebek, rawabuaya, rawatembaga, dll. Dan kavling agraria pun sebelumnya berupa rawa. Jadi kalau mau membangun rumah ataupun mesjid harus nyari tanah atau batu untuk urugan.

Setelah beberapa tahun tinggal di kavling tersebut, rupanya makin banyak orang membangun rumah, sehingga makin banyak penduduk. Aku merasakan waktu hari Jum'at libur tidak masuk kantor, suka bingung sholat Jum'at dimana ? Ternyata setelah ngobrol kiri-kanan, tetanggaku juga merasakan hal yang sama. Kalau soal berjamaah sholat untuk urusan sholat wajib, sepertinya tidak ada masalah, karena walaupun penduduknya tambah banyak tetapi orang yang sering sholat berjamaah ke Mesjid tidak banyak bertambah. Tapi kalau sholat Jum'at, semua orang membutuhkan mesjid.

Dari hasil obrolan dengan Pak Haji Pursidi dan Pak Haji Sudarno serta Bapak-Bapak lain saat bareng-bareng bakar kambing sambil memperingati 17 Agustusan, disepakati bahwa kita perlu menggalang kekuatan untuk bisa mengembangkan mushola tersebut menjadi mesjid yang bisa digunakan untuk Sholat Jum'at. Lalu disusunlah sedikit strategi yaitu bulan depan kita adakan pengajian di rumah pak Haji Sudarno yang akan mengundang seluruh warga Rw 17 dan Rw 26. Dalam pengajian tersebut terbentuklah kepengurusan panitia pembangunan mesjid Al Ikhlas dimana sebagai ketua pak haji Pursidi, Sekretaris pak haji Sudarno, dan aku ditunjuk sebagai Bendahara.

Perdebatan pertama yang seru adalah waktu menentukan bentuk mesjid, apakah mau kotak atau persegi sebagaimana mesjid lain, atau hanya akan mengikuti bentuk tanah yaitu memanjang seperti kereta api. Akhirnya diputuskan berbentuk segi empat ukuran 18 x 18  dan dibuat 2 lantai. Jadi panitia harus berusaha menyediakan tanah atau mencari pemilik tanah yang berada di seberang jalan  kecil kavling untuk dapat dibeli oleh Mesjid. Jadi nanti mesjid tersebut akan memakai sebagaian tanah fasum, lalu menggunakan jalan kavling kecil dan menggunakan tanah seberang jalan kavling yang dibeli.

Loh kalau beli tanah, nanti atas nama siapa tanahnya ? Disamping harus mencari dana untuk membeli tanah, maka bertambah lagi pekerjaan yaitu harus memikirkan status kepemilikan tanah. Akhirnya kami panitia pembangunan mesjid sepakat membuat sebuah Yayasan, dan kami sengaja menunjuk salah seorang ketua RT yang berada di wilayah Rw 26 untuk menjadi ketua Yayasan. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan prasangka kurang baik antar wilayah RW mengingat kami bertiga sebagai panitia pembangunan mesjid semuanya berada atau berdomisili di RT 05 Rw 17. Padahal khan fasosnya milik bersama dua Rw.

Ketika sedang berjuang mencari dana serta membujuk pemilik tanah agar mau menjual tanahnya dengan harga minimal untuk mesjid. Berjuang juga untuk mendirikan Yayasan, tiba-tiba aku dipindah tugaskan ke Denpasar. Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku jadi tidak bisa aktif berjuang, hanya bisa membantu dengan do'a, dan aku serahkan kembali tanggung-jawab sebagai bendahara tersebut kepada panitia yang lain.

Kira-kira 2 tahun kemudian yaitu sekitar tahun 2007 aku pernah mampir ke kavling agraria pas hari Jumat, dan pada hari Jum'at itullah pertama kalinya aku bisa sholat Jum'at disana. Bangunan mesjid baru saja tertutup bata, dan lantainya hanya disemen belum menggunakan kramik. Baru satu lantai, tetapi telah disiapkan menjadi dua lantai, sebagaimana dahulu ditetapkan. Terima kasih panitia, akhirnya harapan kami bisa sedikit terwujud, walaupun masih jauh dari titik akhir. Walaupun belum dapat dikatakan sebagai bangunan mesjid, tapi aku benar-benar telah shalat berjamaah disana, dan jamaahnya cukup banyak.

Dua tahun kemudian yaitu pertengahan 2009 aku kembali menetap di kavling agraria, mesjidku lumayan khusus untuk lantai satunya sudah siap pakai. Kramik putih telah menutupi seluruh lantai. Mihrab depan menggunakan marmer warna kuning gading cukup elegan, katanya sumbangan dari salah satu warga. Bagian dinding telah ditutup kramik. Namun bagian luarnya belum diapa-apakan, dan masih satu lantai.

Pertengahan tahun 2012 ini kami semua warga masih terus berjuang. Alhamdulillah lantai dua sudah ada dan telah berkramik termasuk tangganya. Kamar mandi dan tempat berwudlu sudah selesai. Dan sekarang sedang mengerjakan pagar depan. Jadi yang kurang adalah atap kubah, menara, tiang-tiang beton yang rencananya ditutup marmer atau kramik juga masih telanjang, dinding luar juga sama nasibnya dengan tiang-tiang. Kok masih banyak yang kurangnya ?  Tenang saja kawan......kami seluruh warga tetap optimis, pada saatnya nanti mesjid kami akan terwujud.

Karena........ mesjid kami telah berganti kepengurusan panitia pembangunannya mungkin sekitar 3 sampai 4 kali. Telah dikunjungi oleh tiga Walikota, mulai Bapak Ahmad Zurfaih alm. Bapak Mochtar Muhamad, dan terakhir dalam isra mi'raj kemarin Bapak Rahmat Efendi......kami memang tidak tergantung pada manusia atau politik, kami hanya tergantung pada yang Maha segalanya. Allah al-Malik. Mohon do'a.

Cirebon Ekspress, 28 Juni 2012

(salam hangat dari kang sepyan)