Sabtu, 20 April 2013

PILIH-PILIH TRAVEL UMRAH (episode 3)

Lanjutan dari Episode kedua

PERTIMBANGAN KEENAM

Adalah pilihan paket wisata yang ditawarkan.  Umumnya selain melakukan ibadah umrah, sholat berjamaah di masjidil haram serta  tawaf dan berdoa di tempat-tempat mustajab di dalam masjidil haram sebagai tujuan utama datang ke Mekah, penyelenggara umrah akan menawarkan paket wisata di sekitar kota Mekah.  Demikian juga selain  sholat berjamaah di mesjid nabawi dan berdoa di raudah sebagai tujuan utama datang ke Madinah, penyelenggara umrah akan menawarkan paket wisata di sekitar kota Madinah.  Biasanya paket wisata tersebut telah menjadi satu paket, atau satu kesatuan yang masuk dalam komponen biaya umrah.

Lalu apa dong yang harus diperhatikan ? Paket wisata atau jalan-jalan di Madinah biasanya minimal menawarkan perjalanan ke mesjid kuba,  mesjid kiblatain, ke bukit uhud, ke percetakan al-quran, lalu ke kebun kurma sekalian membeli kurma untuk oleh-oleh.  Yang harus diperhatikan adalah pastikan bahwa travel memang benar-benar berjanji akan melakukan paket wisata ke seluruh tempat tersebut.  Pastikan bahwa jadwal wisata di Madinah yang umumnya dilakukan pada hari kedua, tidak bentrok dengan hari libur percetakan al-quran.  Pastikan bahwa di bukit uhud kita diberi kesempatan untuk turun dan berdoa, tidak hanya melintas dan melihat dari atas bis.  Pastikan juga bahwa si perusahaan travel cukup terampil mengatur waktu dan mengatur anggota rombongan sehingga semua tempat dapat dikunjungi, namun tidak ketinggalan sholat dzuhur di Nabawi.  Karena kalau travel kurang pandai mengatur rombongan, bisa saja kita hanya mengunjungi satu tempat karena ada jamaah yang hilang.  Ini aku pernah alami, ketika di mesjid kuba ada seorang bapak-bapak yang sudah cukup berumur tersesat cukup lama tidak menemukan bis rombongan, sehingga jadwal wisata berikutnya menjadi kacau.

Selain tempat wisata di atas, ada salah satu tempat wisata yang cukup menarik di Madinah yang merupakan sebuah keajaiban alam.  Yaitu tempat dimana gaya tarik bumi sangat tinggi, sehingga bis dapat melaju dijalan mendaki dengan kecepatan di atas 100 km/jam, tanpa menggunakan mesin.......hehehe.....mungkin bisa juga melaju lebih dari 100 km/jam, tapi penumpangnya yang akan ngeri kalo melaju lebih cepat.  Serta mungkin juga bisa melaju tanpa menggunakan mesin, tapi nanti fungsi rem tidak bekerja sehingga membahayakan penumpang. Jadi umumnya sang sopir memperagakan kakinya dilipat ke atas kursi, mesin dijalankan tetapi gigi dalam posisi normal.

Ada travel umrah yang memberikan paket wisata ini dalam agendanya, namun ada juga yang menjadikan paket wisata ini sebagai tambahan pendapatan sopir.  Jadi nanti sang sopir, yang umumnya orang Indonesia, akan menawarkan kepada penumpang dengan imbalan per penumpang bayar 10 riyal.  Jadi, kalau Anda menginginkang mengetahui tempat tersebut, pastikan masuk dalam agenda resmi wisata.  Karena kalau tidak masuk agenda, terus penumpang lain ogah bayar, alamat harus nombok......kalau ada 40 penumpang khan bisa 400 riyal....sejutaan rupiah lebih bo !!!!

Paket wisata atau jalan-jalan di Mekah juga umumnya dilakukan pada hari kedua, yaitu ke bukit nur, bukit tsur, pemakaman ma'la, ke tempat melaksanakan ibadah haji arafah, mina, tempat jumrah, dan jabal rahmah, serta berkahir ke Ji'ronah sekalian mengambil miqat dan melaksanakan umrah yang kedua.  Pastikan bahwa tempat-tempat wisata tersebut benar-benar dilalui dan ada petugas yang menjelaskan, sekalian melakukan manasik bagi yang belum berhaji.

Ada satu tempat wisata yang menurutku sangat bagus untuk dikunjungi, namun umumnya travel umrah jarang mau nemenin kesana.  Yaitu ke tempat dimana pertamakali diturunkannya al-quran, yaitu goa hira yang terletak di puncak jabal nur.  Dalam paket wisata ke jabal Nur, jamaah biasanya hanya ada di dalam bis menatap gunung batu, tidak ada kesan apa-apa terhadap tempat sangat bersejarah itu.  Untuk urusan goa yang amat istimewa ini, nanti Insya Allah akan aku bikin judul khusus, biar agak panjang ngebahasnya.

Selain wisata di Mekah dan Madinah ada wisata satu lagi yaitu wisata di Jedah, yang dilakukan pada hari terakhir menjelang kepulangan.  Pesawat seperti Garuda dan Lion terbang sore hari menjelang malam, sedangkan kita telah "diusir" dari hotel pagi-pagi, jadi sambil nunggu pesawat jamaah dibawa jalan-jalan di kota Jedah.  Umumnya semua tempat wisata ditunjukin, bedanya ada yang intensif yaitu kita turun dan merasakan aromanya, atau ada juga yang hanya dilewatin dan dilihat dari balik kaca bus yang hitam.  Misalnya mesjid qisos, rasanya berbeda antara melihat dari bis dengan turun ke pelatarannya.  Terakhir travel akan mengulur waktu di tempat belanja di Jedah, sampai makan siang dan katering siap.  Kalau makanan sudah siap lalu akan dibawa ke mesjid diatas laut merah untuk makan siang.  Sebenarnya, menurutku wisata d Jedah itu bukan paket wisata tetapi lebih mirip ngepas-ngepasin waktu saja.

PERTIMBANGAN KETUJUH 

Adalah jenis makanan yang disajikan maupun cara menyajikan makanannya.  Loh bagaimana cara mempertimbangkannya, bukannya kita baru tahu kalau nanti sudah disana ?  Jadi untuk mempertimbangkan hal in, kita harus bertanya sama travel penyelenggara.  Tanyakan bagaimana menu makanan di perjalanan, menu makanan di Madinah, dan menu makanan di Mekah.  Menu dan waktu makan diperjalanan penting di tanyakan karena aku pernah mengalami kelaparan saat perjalanan dari Madinah menuju Mekah.  Berangkat dari Madinah jam dua jam tiga-an setelah sholat dzuhur dan makan siang di hotel, lalu kita ambil miqat di bir ali.  Ternyata sampai ke Mekah yaitu kira-kira perjalanan 7-8 jam atau kira-kira sampai jam satu malam, kita tidak diberi makan dari travel.  Untung aku sudah antisipasi dengan makan nasi biryani di restoran rest area saat istirahat shola magrib dan isya.  Enggak tahu tuh jamaah lain, pasti deh perutnya keroncongan, karena travel hanya mengandalkan makan malam yang sudah disiapkan ketika tiba di Mekah.

Demikian juga ketersediaan minuman dan snack selama perjalanan.  Aku pernah ketemu dengan penyelenggara umrah yang hobi makan sampai-sampai dia memiliki rumah makan cukup keren di Madinah.  Selama diperjalanan makanan dan minuman selalu berlimpah, baik waktu jalan dari Jedah ke Madinah, Madinah ke Mekah, perjalanan wisata, maupun perjalanan pulang.  Bahkan berkali-kali aku diajak makan setiap di rest area ataupun ketika ada waktu jeda di Mekah dan Madinah.  Namun ada juga travel yang agak pelit dengan makanan, sehingga kami dibiarkan kelaparan.  Minumanpun dijatah satu orang satu botol dan sepotong roti.  Jadi kalo nanya-nanya dulu boleh aja, untuk antisipasi.

Adapun untuk makanan di hotel selama di Mekah dan di Madinah ada hubungannya dengan kualitas hotel yang digunakan serta kualitas jamaah yang dibawa.  Kalau kita menggunakan hotel yang bagus bukan hanya sekedar dekat, dan teman-teman jamaahnya kebanyakan orang "kota", maka kita akan sarapan dan makan siang seperti di hotel pada umumnya, yang menyediakan pilihan makanan erofa, arab, dan oriental.  Namun apabila teman-teman rombongan banyak orang kampung, ada travel yang mengambil kebijakan membuat catering sendiri dengan membuka kamar khusus.  Makanannya makanan Indonesia lengkap dengan sambel dan kerupuk.

Sedangkan apabila kita ditempatkan di hotel yang sekedar dekat dengan mesjid, siap-siap untuk antriiiiiii.  Karena umumnya catering disiapkan disalah satu lantai, yaitu ada dua sampai tiga catering yang melayani jamaah puluhan travel yang menginap di hotel tersebut, jadi kalau awal datang kadang-kadang bisa salah catering. Semua penghuni hotel makan disana dengan waktu yang hampir bersamaan, misalnya abis sholat subuh, abis sholat dzuhur, dan abis sholat Isya.  Kalau hotel 12 lantai dengan 20 kamar perlantai diisi 4 orang, berarti ada 960 orang makan bareng-bareng. Kalau disana terdapat catering untuk jamaah Malaysia, kadang aku suka ngiri, karena antriannya lebih pendek.

Wah udah panjang juga ya, kayanya harus kita lanjutkan lagi deh di episode keempat.

(salam hangat dari kang sepyan)

Rabu, 17 April 2013

PILIH-PILIH TRAVEL UMRAH (episode 2)

Kita teruskan lagi ya ........

PERTIMBANGAN KETIGA

Adalah waktu umrah.  Lebih lama pasti lebih mahal, karena nginap lebih banyak dan tentunya makan juga lebih banyak.  Tapi awas jangan sampai ketipu waktunya lebih panjang, tetapi lama dijalan seperti temen kakakku yang diceritakan di atas.  Kalau kita menggunakan waktu standar yaitu 9 hari dengan alokasi 2 hari perjalanan bulak-balik, 3 hari di Madinah dan 4 hari di Mekah, maka perhatikan pada hari apa kita berada di Mekah.  Carilah waktu yang berada di Mekahnya melewati hari Jumat, sehngga kita bisa beribadah sholat jum'at di Mesjidil Haram.  Supaya kita memiliki pengalaman spiritual bagaimana muslim disana mengagungkan ibadah sholat Jum'at.  Kalau kita datang ke mesjid mau sholat Jumat seperti disini yaitu datang lima menit menjelang adzan, dijamin kita tidak kebagian tempat.  Paling tidak kita harus datang 1 jam sebelum waktu dzuhur, bahkan untuk mendapat tempat yang nyaman yaitu sholat sambil menatap ka'bah, maka kita harus datang 2 sampai 3 jam sebelum waktu dzuhur.

Umumnya travel umrah menghindari berada di Mekah hari Jumat.  Loh ? bukannya seharusnya mereka berlomba memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen atau jamaahnya agar mendapatkan pengalaman luar biasa itu ???  Lagi-lagi pertimbangan bisnislah yang mengemuka.  Konon pada hari Jum'at itu orang-orang di sekitar kota Mekah banyak yang berlibur ke Mekah untuk dapat menunaikan sholat Jumat di Haram.  Jadinya hotelpun meningkatkan tarifnya berlipat-lipat.  Sebagai contoh, aku dapat cerita dari kang Bunbun temen adikku yang kerja di hotel Movenpick, waktu dia berkunjung ke hotel kami di Mekah dia cerita bahwa tarif kamar di Movenpick yang pada hari biasa dengan kamar isi 5 orang tarifnya 1.000 riyal, maka pada hari Kamis malam Jumat, tarifnya akan naik sampai 2.000 - 3.000 riyal. 

Hindari waktu keberangkatan dari Indonesia pada hari Selasa dengan jadwal mengunjungi Madinah terlebih dahulu.  Kalau berangkat hari Selasa ke Mekah terlebih dahulu justru menguntungkan, karena kita akan berada di Mekah hari Rabu, Kamis, Jum'at, dan berangkat ke Madinah hari Sabtu.  Tapi khan udah aku bilang, umumnya travel umrah menghindari hari Kamis dan Jumat di Mekah.

Kalau berangkat hari Selasa dari Jakarta dan ke Madinah terlebih dahulu maka kita akan ada di Madinah hari Rabu dan Kamis, lalu berangkat ke Mekah hari Jum'at.  Kondisi ini menyebabkan waktu ziarah atau jalan-jalan di Madinah jatuh pada hari Kamis.  Padahal hari Kamis, pabrik al-quran sebagai salah satu objek wisata, sedang tutup.  Sehingga kita bisa kehilangan kesempatan melihat bagaimana proses al-quran di cetak.  Dan kita menjadi kehilangan kesempatan mendapatkan pembagian al-quran gratis, yang biasanya dibagikan pada seluruh pengunjung.  Kadang-kadang travel umrah mensiasatinya dengan merubah jadwal wisata menjadi hari Rabu.  Tapi ini akan sangat menguras energi.  Baru jam dua malam masuk, terus jam empat pagi ke mesjid sampai subuh (sekitar jam 6 pagi), jam tujuh harus siap-siap berangkat lagi.

PERTIMBANGAN KEEMPAT

Adalah dari mana kita masuk ke kota Mekah.  Hanya orang muslim atau muslimah yang bisa masuk ke tanah haram yaitu kota Mekah dan Madinah.  Menurut cerita salah satu pembimbing haji, kalaupun ada orang yang coba-coba datang ke Mekah atau Madinah, padahal dia bukan beragama islam maka ybs akan mengalami salah satu konsekwensi dari dua macam konsekwensi yang akan terjadi.  Yaitu konsekwensi pertama orang tersebut akan masuk islam menjadi muslim atau muslimah, dan konsekwensi kedua kalau ybs tidak masuk islam, maka dalam waktu yang tidak lama ybs akan meninggal.

Khusus untuk masuk ke kota Mekah dan melaksanakan ibadah umrah, maka umat muslim harus mengambil miqat dari tempat-tempat yang telah ditentukan.  Kalau dari Indonesia, tempat miqatnya bisa dari Jedah atau dari Yulamlam.  Apabila kita berniat mengambil miqat di Jedah, maka setiba di bandara King Abdul Aziz jamaah harus berganti kain ihram, sholat sunnah ihram dan berniat melakukan umrah disana..  Sedangkan apabila kita berniat melakukan miqat di Yulamlam, yaitu daerah yang kita lewati ketika di atas pesawat kira-kira 30 menit menjelang mendarat, maka jamaah akan berganti kain ihram menjelang Yulamlam dan berniat umrah di atas pesawat ketika diperkirakan berada di atas Yulamlam.

Umumnya dengan alasan fiqih, banyak orang yang meghindari untuk datang ke Mekah terlebih dahulu.  Antara lain karena dua alasan ;

Alasan pertama, adalah melakukan umrah sama persis seperti yang dilakukan Rasullullah yaitu berangkat dari Madinah dan melakukan miqat dari bir Ali.  Yaitu sebuah mesjid dekat Madinah kira-kira perjalanan 20 menit dari Nabawi, yang berada di jalan menuju ke Mekah.  Karena beliau melakukan umrah ketika telah berhijrah ke Madinah, jadi tentu saja tempat miqat itu yang diambil.  Umumnya dengan alasan melakukan ibadah dengan cara yang persis seperti yang dilakukan Rasulullah, rasanya lebih afdol.  Maka pemilihan berangkat ke Madinah terlebih dahulu lebih banyak dipilih.

Alasan kedua, adalah penentuan miqat kita dari Indonesia antara Yulamlam dibanding Jedah, "dirasakan" dua-duanya rasanya kurang pas.  Pemilihan Yulamlam terasa kurang pas karena dengan kecepatan pesawat 800-900 kilometer perjam, maka agak mustahil kita bisa pas menentukan sebuah garis batas miqat.  Pemilihan Jedahpun sebagai tempat miqat terasa kurang pas juga, karena hanya berdasarkan kesepakatan ulama.  Walaupun pada dasarnya ijma ulama adalah hukum yang dapat kita jadikan pegangan dalam beribadah.

Jadi pertimbangan keempat ini memang murni alasan fiqih, yang menurutku kedua-duanya, baik langsung ke Mekah dari Indonesia atau menuju ke Madinah dulu baru ke Mekah, sama-sama memiliki dasar hukum sebagai cara yang dibenarkan oleh syariah.  Tapi urusan hati, kepuasan, dan rasa keafdolan, kembali kepada perasaan masing-masing.

PERTIMBANGAN KELIMA

Adalah hotel yang digunakan.  Ada dua macam cara travel umrah menyebutkan hotel yang digunakan, yaitu ada yang hanya menyebutkan di hotel bintang empat atau lima dan ada yang langsung menyebutkan nama hotel.  Yang lebih bonafide dan bisa dipercaya adalah travel umrah yang mampu menyebutkan nama hotelnya, baik untuk hotel di Mekah maupun hotel di Madinah.  Hal tersebut berarti travel umrah telah melakukan pemesanan hotel, atau berarti travel umrah telah memiliki kerjasama dengan pihak ketiga di Arab yang cukup bonafide, yang telah mampu membooking hotel di Mekah ataupun di Madinah.  Karena untuk hotel-hotel yang bagus dan dekat ke mesjid, harus telah dibooking jauh-jauh hari.

Kalau kita sudah mengetahui hotel yang akan digunakan, cobalah untuk browsing dan tanya-tanya sama mbah google.  Umumnya kondisi tentang fasilitas hotel serta posisi kedekatan dari lokasi hotel ke mesjid, akan dicantumkan dalam website mereka.  Sedangkan bila hanya mencantumkan bahwa nanti di arab akan tinggal di hotel bintang empat atau bintang lima, maka kita patut waspada.  Hehehe......jangan-jangan belum memiliki kerjasama nih travel ?  jangan-jangan nanti kita ditelantarkan di sana ?  Setelan nanti kita masuk hotel, dan kebetulan mendapat hotel yang kurang baik, maka travel akan beralasan bahwa yang namanya penamaan bintang tiga, empat, atau lima di arab bukan berdasarkan faslitas hotel, tetapi berdasarkan kedekatan hotel dengan mesjid.  Emang dasar tuh travel, aku juga pernah di cipoah-in kaya gitu.  Kirain bener......ternyata itu bisa-bisanya dia aja.

Kita juga perlu hati-hati pada travel yang mencantumkan nama hotel di Jedah atau mencantumkan akan ada penginapan di Jedah.  Karena umumnya tarif hotel di Jedah jauh lebih murah dibandingkan tarif hotel di Mekah, maka ada travel yang mensiasatinya dengan mengurangi bermalam di Mekah semalam dan menggantinya dengan bermalam di Jedah.  Tujuan kita kan datang ke tanah haram.  Kalau nginap di Jedah sama saja dengan nginap di Jakarta.

(bersambung)
(salam hangat dari kang sepyan)

Rabu, 10 April 2013

PILIH-PILIH TRAVEL UMRAH (episode 1)

Setelah berhaji tahun 2002/2003, Alhamdulillah sampai saat ini aku pernah 3 kali berangkat umrah. Yaitu bersama anak-anak dan istri tahun 2006, bersama teman-teman kuliah tahun 2010, dan bersama kakak-kakak dan adik-adik tahun 2013 ini. Aku tidak pernah memilih travel umrah, mencari informasi umrah di internet, ataupun membanding-bandingkan berdasarkan brosur-brosur. Tetapi hanya berdasarkan informasi teman. Saya serahkan semuanya pada teman yang mencari dan menentukan travel umrah. Yang penting harga terjangkau.

Jadi seperti ceramah pak Kiai kemaren (dalam ngawadul umrah mardud versi kiai), aku menerima apapun yang terjadi selama perjalanan sebagai suatu balasan atas hasil amal perbuatan. Dihatiku telah ditumbuh-kembangkan sesubur-suburnya buah sabar, sehingga apapun yang terjadi aku maklum, aku mafhum, dan aku ikhlas. Tetapi apakah benar demikian sikap yang benar ? Bukankah penyelenggara paket umrah menghitung biaya sesuai perhitungan bisnis. Bukankah tinggal di hotel baik dan dekat mesjid atau hotel jelek dan jauh dari mesjid adalah sebuah pilihan yang pemicu utamanya adalah harga. Bukankah menu makanan pagi, siang, dan malam dengan makanan erofa, makanan asia, atau makanan jawa dapat kita pesan sesuai selera, dan ujung-ujungnya tergantung besarnya harga. Dan hal-hal lainnya pada dasarnya ditentukan oleh harga.

Oleh karena itu, agar kita mampu menjadi pembeli yang pinter atau calon jamaah yang pinter, maka kita harus mengetahui sebenarnya faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga. Sehingga kita bisa tahu apakah travel umrah itu termasuk yang melakukan bisnis secara fair atau unfair dengan memanfaatkan kesenjangan informasi. Karena pada kenyataannya, bukan tidak mungkin dengan bahasa "kami hanya membantu jamaah tamu-tamu Allah", sebenarnya memanfaatkan keluguan jamaah.

Apa sih yang diperlukan jamaah sehingga kalau mau umrah harus menggunakan jasa perusahaan travel ? Pada dasanya motif yang paling utama adalah didorong oleh motif bisnis yaitu pergi ke luar negeri yang jauh maka perlu ada yang mengurus keperluan perjalanan seperti mengurus visa, pesen tiket, pesen hotel, dan akomodasi selama di arab. Sedangkan motif yang kedua adalah motif spiritual. Karena akan melakukan ibadah yang jarang dilaksanakan, maka perlu bimbingan dan arahan dari orang yang ngerti. Yang ideal adalah menemukan travel umrah yang dikelola oleh seorang ulama yang ahli bisnis. Cuma sayangnya menemukan yang ideal itu sulit, jadi ketemunya kadang-kadang dengan pebisnis yang kurang fair dengan berlindung dibalik alasan agama.

Kalau dihadapkan pada dua pilihan motif bisnis atau motif spiritual, maka menurutku yang harus pertama kali ditanamkan dalam hati kita adalah pertimbangan bisnis, artinya pilih dan bandingkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan dengan harga yang ditetapkan. Tentang siapa yang membimbingpun tetap pilih dengan pertimbangan bisnis, karena pada dasarnya travel umrah mengajak ustad terkenal menggunakan perhitungan bisnis. Atau kalaupun ulama terkenal memiliki travel, kadang dia tidak ikut berangkat tetapi diwakilkan ke pegawainya, ujung-ujungnya didampingi pegawai juga. Kalaupun misalnya ulama terkenal tersebut berangkat, paling ketemunya sekali-sekali karena pada dasarnya ibadah umrah adalah ibadah individual.

Jadi pertimbangan bisnis apa yang harus kita perhitungkan ?

PERTIMBANGAN PERTAMA

Adalah biaya yang harus dikeluarkan travel saat di Indonesia, misalnya pembuatan paspor, ngurus visa, suntik meningitis, baju seragam, kain ihram, travel bag termasuk tas tentengan, biaya perjalanan dari rumah sampai bandara, dan biaya asesoris lainnya misalnya tanda pengenal, syal untuk ciri khas rombongan, dll. Harusnya bisa dinegosiasikan bila kita berangkat ke bandara sendiri, buat paspor sendiri atau sudah punya paspor, khan tidak perlu bayar biaya paspor dan tansport lokal. Demikian juga dengan suntik meningitis, atau bahkan dengan kain ihram maupun travel bag, masih bisa dinegosiasikan untuk bawa punya sendiri. Kualitasnya bisa lebih bagus dan setelah pulang nanti menjadi tidak mubadzir.

Bayangkan kalau kita sekeluarga dengan dua anak berangkat umrah setahun sekali atau dua tahun sekali. Maka akan bertumpuk-tumpuk travel bag di rumah.  Umumnya travel bag tersebut telah ditulisi besar-besar nama travel penyelenggara umrah, sehingga agak "risih" kalau dipake untuk perjalanan bisnis biasa. Apabila transport lokal (antar jemput dari rumah ke bandara saat berangkat serta dari bandara ke rumah saat pulang) kita tanggung sendiri. Terus pembuatan pasport dan suntik meningitis kita lakukan sendiri. Terus cukup menggunakan travel bag serta kain ihram yang sudah kita miliki. Maka paling tidak, kita bisa mendapatkan harga discount satu juta rupiah. Lumayan khan untuk beli oleh-oleh.

PERTIMBANGAN KEDUA

Adalah pesawat yang digunakan, dengan garuda, lion, pesawat saudi atau pesawat timur tengah lainnya. Tanya saja ke situs resmi mereka tentang tarif pesawat jakarta - jedah pulang pergi. Kalau pesawat diluar Garuda dan Lion, pastikan menggunakan pesawat yang langsung Jakarta - Jedah, syukur-syukur langsung penerbangan ke Madinah. Lumayan ngirit perjalanan 9 jam, yaitu perjalanan Jedah - Madinah sekitar 5 jam ditambah waktu nunggu-nunggu yang gak jelas sekitar 4 jam. Pengalamanku kemaren sampai Jeddah sekitar jam 5 sore, baru bisa masuk kamar di Madinah jam 2 pagi, sampai-sampai aku suudzon berfikir bahwa mungkin sengaja nih travel ngelama-lamain supaya bayar hotel di Madinah kalau lewat tengah malam bisa dapat diskonan.

Pengalaman pemilihan penggunaan pesawat yang lebih mengharukan dialami temen kakakku, katanya dia perjalanannya hampir 2 hari satu malam atau hampir 36 jam dari Jakarta sampai Madinah. Karena dari Jakarta ke Singapura, terus city tour dulu di Singapura sambil menunggu pesawat. Selanjutnya terbang dengan pesawat lain dan turun di India. Terbang lagi lalu turun di Dubai, barulah setelah itu pesawat turun di Jeddah. Bayangkan saja, betapa cape nya harus menunggu waktu transit dan ganti pesawat. Seharusnya dengan pemilihan pesawat seperti ini, biayanya lebih murah. Tetapi dengan adanya asimetric informasi, bisa saja menjadi lebih mahal dengan dalih bisa turun di empat negara.....hahahaha......ku tipu kau.

Tips dalam pemilihan pesawat adalah pilihlah Garuda atau Saudi Arabia yang langsung ke Madinah. Ada hari-hari tertentu pesawat tersebut bisa turun di Madinah, bahkan Lion pun bisa, cuma dalam hal pelayanannya aku pikir kita t.s.t saja. Kalau pesawat langsung Madinah misalnya Garuda berangkat dari Jakarta jam 12 siang, maka sudah bisa mendarat di Madinah jam 6 sore waktu arab. Kalaulah Magrib gak keburu di Nabawi, minimal Isya bisa berjamaah disana. Dan tentunya malam itu juga kita sudah bisa istirahat di hotel sehingga jam dua pagi bisa memburu tahajud di Raudah, ngaji 3-4 juz disana, sekaligus sholat subuh berjamaah di Raudah. Ooooohhh...........nikmatnya.

Ini ngawadulnya bisa panjaaaaang........biar gak ganggu kerja......aku potong dulumya ceritanya, Insya Allah secepatnya aku ngawadul lagi di pilih-pilih travel umrah episode kedua.

(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 04 April 2013

UMRAH MARDUD VERSI KIAI

Harus di akui bahwa kita, maksudnya masyarakat Indonesia makin sejahtera.  Kalau dilihat dari fenomena naik haji, jaman aku masih kecil rasanya hanya ada beberapa orang saja pak haji atau bu hajjah.  Biayanya mahal dan memerlukan waktu yang lama, karena harus pakai kapal laut.  Aku masih inget sekitar tahun 74-an, kami 140 anak SD Ciranca, jam sepuluhan pagi telah diminta berbaris berderet-deret sepanjang jalan depan sekolah.  Berbaris berderet bersama penduduk sekitar sekolah, tua muda, bahkan bayi merahpun ikut berjejer digendong ibunya, mencari berkah.  Menunggu akan lewat bapak calon haji dari desa sebelah yang akan berangkat ke arab, berangkat haji. 

Lalu tidak lama kemudian, munculah rombongan sekitar 100 orang  dengan melantunkan shalawat, kadang-kadang diirigi musik "tagoni" sejenis genjring untuk kosidahan.  Paling depan didampingi oleh beberapa orang laki-laki, berjalan Bapak calon haji  menggunakan jas, bersarung, berpeci hitam, dan menggunakan sarung tangan menyalami kami satu persatu.  Kalau yang berderet anak kecil, maka dia akan mengusap kepala anak anak tersebut.  Kebiasaan seperti itulah atau kearifan lokal itulah rupanya yang menjadi pelajaran pertama bagi aku tentang berhaji.  Dihatiku terbersit, bahwa suatu saat nanti, aku harus bisa menjadi orang langka seperti calon pak haji tadi.  Tangannya lembut banget......hehehe...maklum, khan pake sarung tangan.

Tahun 1982 ketika Bapak dan Ibuku pergi haji, kebiasaan itu masih berlangsung, dan posisiku sudah berubah menjadi anggota rombongan yang melantunkan shalawat.  Walaupun waktu itu mobil sejenis truk sudah bisa masuk ke desaku, namun rombongan kami tidak naik kendaraan.  Tetapi berjalan sampai ke ujung desa tetangga sekitar 4 kilometer.  Bapak dan ibuku dengan seragam khas ber sarung tangan, menyalami seluruh penduduk yang berderet-deret sepanjang jalan desa.  Rombongan kami baru naik truk ketika sudah melewati perbatasan desa tetangga.

Sekarang tetangga-tetanggaku mayoritas sudah berhaji, teman-teman kantorku mayoritas sudah berhaji, artinya khan lebih sejahtera.  Walaupun biaya atau ongkos naik haji mahal, telah lebih banyak orang yang mampu membayar biaya tersebut. 

Aku dan istriku menunaikan ibadah haji tahun 2002 akhir dan pulang tahun 2003 awal.  Daftar tahun 2002 dan berangkat tahun itu juga.  Namun sekarang, untuk naik haji memerlukan waktu yang lama dari mulai daftar di bank sampai bisa berangkat haji.  Karena ternyata jumlah masyarakat yang mendaftar haji, jauh lebih banyak dibandingkan dengan jatah kuota haji yang tersedia.  Akibatnya terjadi antrian daftar tunggu yang terus bertambah lama, mulai satu tahun, dua tahun, bahkan konon sekarang bisa mencapai 10 tahun waktu tunggu yang diperlukan.

Bukankah itu salah satu bukti, bahwa kita tambah sejahtera ???

Ada aksi selalu menimbulkan reaksi.  Ada hambatan selalu menimbulkan peluang.  Kalau pintu yang satu tertutup, maka Allah akan membukakan pintu yang lain.  Dengan daftar antrian yang sangat panjang, maka ibadah umrah yang dahulu hanya dilakukan waktu berhaji, menjadi alternatif yang dipilih.  Tumbuhlah bisnis travel-travel untuk ibadah umrah.  Bahkan sekarang sudah sampai ke level seperti MLM, member get member, dan aliansi. Bermacam-macam fasiltas yang ditawarkan, yang biasa, VIP, Eksekutif, dll.  Pada akhirnya membuat kita bingung.  Pokoknya kita serahkan saja deh pada yang di atas ???

Berbicara tentang serahkan saja pada yang di atas, ini sangat dipengaruhi oleh cerita haji jaman dahulu.  Umumnya telah ditanamkan di keyakinan calon jamaah, bahwa kejadian yang menimpa jamaah selama di tanah haram, yaitu di kota Mekah dan Madinah merupakan balasan dari Allah swt atas apa yang dilakukan sehari-hari.   Tanah haram merupakan miniatur akhirat, sehingga seluruh hal yang terjadi merupakan takdir Illahi sebagai balasan yang setimpal.  Jamaah tidak diberi kesempatan berfikir bahwa bisa saja hal tersebut terjadi akibat ulah manusia disana.  Toh disana juga ada kehidupan sehari-hari ?

Cara berpikir seperti itu, rupanya masih terus dikembangkan oleh travel-travel umrah.  Bekerja sama dengan ustad-ustad pembimbing ataupun kiai-kiai yang menjadi anggota MLM travel.  Temen saya yang baru pulang umrah ceritera, bahwa dalam sebuah kesempatan ceramah di Mekah, dia mendengar Bapak Kiai yang juga sebagai ustad pembimbing serta merangkap sebagai "channel" travel umrah di wilayah pesantrennya, menyampaikan bahwa hasil orang berumrah itu ada tiga, yaitu pertama mabrur, makbul, dan mardud.  Salah satu kriteria mardud adalah apabila nanti setelah pulang umrah, lalu kita menceritakan kejelekan-kejelekan travel penyelenggara.  Misalnya makanannya gak enak lah, kamarnya sempit dan jauh lah, toiletnya kotorlah, bisnya jelek lah, ziarahnya tidak sesua janji lah, dan lain-lain.  Kita harus ikhlas menerima apa yang kita terima selama ibadah ini, karena memang hanya sebesar itulah rezeki kita.  Demikian pak Kiai menutup ceramahnya.

Jadi janganlah kita melakukan evaluasi jelek terhadap travel penyelenggara umrah, kalau ingin ibadah umrahnya mabrur.  Hehehe...........siap pak Kiai.

Sedia payung sebelum hujan. Pilih-pilih travel sebelum berangkat umrah, agar kita ikhlas menerima, sesuai yang kita bayar.  Insya Allah minggu depan kita "ngawadul" lagi dengan tema yang sama dalam judul pilih-pilih travel umrah.


(salam hangat dari kang sepyan)

Sabtu, 23 Maret 2013

PESTA vs SELAMATAN

Waktu aku jalan ke Bandung, teman-teman disana banyak yang nyalamin, katanya ada teman kuliahku dulu yang sekarang ditempatkan di Bandung, nyampaikan salam untukku.  Dia minta aku mampir ke tempatnya.  Jadi ketika sedang "break" ada waktu sebentar, aku sempetin mampir ke kantornya.  Setelah berbasa-basi nanya kabar, keluarga, berat badan (hehehe), kesehatan, dan lain sebagainya, tibalah pada "curhatan".  Rupanya beliau ditempatkan di Bandung bukan dalam rangka mutasi atau promosi, tetapi karena sedang menghadapi masalah.

Ketika masuk lagi ke pertanyaan apa penyebab beliau terlibat masalah dengan perusahaannya itu ? salah satunya disebabkan ada dana yang tidak bisa diperanggung-jawabkan.  Dia bercerita bahwa saat ybs menjadi pemimpin salah satu kantor yang ada di ibu kota propinsi, kebetulan ada pejabat yang akan menikahkan anaknya.  Lalu seluruh pejabat perusahaan yang ada di wilayah tersebut dibagi pekerjaan untuk mensukseskan.   Misalnya mengamankan tempat parkir, membuat baju seragam, memastikan kehadiran undangan, dan lain-lain.  Dan sebagai pemimpin kantor, "rasanya" kata temenku itu, tidak mungkin untuk meminta ganti atas biaya yang dikeluarkan.   Jadinya, berusahalah dia mencari dana, yang juga tidak mungkin juga berasal dari gajinya.  Tetapi dicari dari pos biaya lain.  Dan ketika audit mengetahui ada pembukuan biaya yang tidak "semestinya", maka jadilah ybs. kena masalah dan dipindahkan ke Bandung.

Pesta......kalau dalam bahasa Sunda disebut "kariaan" atau mungkin juga berasal dari kata ka-riya-an, atau sesuatu yang "riya".  Dengan penggunaan gedung mewah, acara mewah, makanan mewah, baju mewah dalam pesta pernikahan atau pesta sunatan, dll., cenderung lebih banyak "riya" nya.  Semakin pejabat, semakin mewah.  Padahal inti utama dari acara pesta tersebut adalah selamatan atau sebagai bukti terima kasih kita atas anugerah sang pencipta, bukti syukur kita atas segala karunia-Nya, dan meminta diselamatkan dari mara bahaya.

Semakin tinggi jabatan akan semakin meriah dan mewah pesta.  Para bawahan berusaha dengan berbagai cara "mengabdi" pada atasannya.  Pesta berjalan dengan mulus, tamu senang dan pejabat yang punya pesta tidak boleh pusing, termasuk tentang biaya.  Yang ketiban pulung adalah orang yang diperintah.  Bukan hanya harus pinter menjadi pemimpin itu, tetapi harus "pinter-pinter" itulah katanya kunci tangga menuju sukses (ini salah satu bisikan Bos-ku).

Rupanya bukan hanya dalam pesta pernkahan saja hal ini terjadi.  Termasuk dalam pesta demokrasi.  Bagamana gunjang-ganjingnya negeri ini dengan buntut dari pesta pemilihan ketua umum partai Demokrat.  Mantan bendaharanya teriak dari balik terali, siapa memang yang membayar hotel ? dari mana itu uangnya ?  Siapa yang bayar iklan di TV ? dari mana uangnya ? Ketika pesta telah usai, dan alam keterbukaan tidak mampu menutupi lagi.  Betapa pesta atau keriaan tersebut telah menyeret banyak nama besar.  Mentri, ketua parpol terbesar, semuanya sudah menjadi tersangka..........katakan "tidak".......hehehe.

Sebenarnya apa sih manfaat keriaan ? manfaat pesta ? kalau kita dalami maknanya, benar-benar lebih banyak di tonjolkan riya-nya.  Komunikasi dan silatrahminya sangat minimal, namun biaya baik dari yang punya pesta maupun pengorbanan yang datang ke pesta cukup besar.  Mungkin ke depan kita harus mulai memformat ulang konsep pesta menjadi lebih menonjolkan aspek selamatan dan syukurannya.  Tasyakuran, pengajian......aku pikir akan lebih bermanfaat. Biayanyapun akan lebih murah, dan sisanya dapat dimanfaatkan untuk memulai kehidupan baru.  Rumah baru, usaha baru, mobil baru, dll.

Jadi......siapkah Anda menjadi pioneer memformat ulang rencana pesta Anda ?

(salam hangat dari kang sepyan)

Sabtu, 16 Maret 2013

TUKANG PARKIR

Gubernur Jokowi memang fenomenal. Dengan kesederhanaannya, dengan gaya atau tampang kampungnya, dengan keseriusannya bekerja, membuat beliau berbeda.  Menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya.  Bahkan bukan hanya rakyat Jakarta, rakyat Jawa Barat dan rakyat Sumatera Utara pun ikut mengidolakan Jokowi.  Buktinya sambutan sangat antusias dari masyarakat Jabar dan Sumut ketika Jokowi ikut membantu kolega nya berkampanye Gubernur di kedua wilayah tersebut.

Salah satu kiat menghadapi kemacetan Jakarta yang diprogramkan Jokowi adalah dengan segera akan direalisasikan proyek monorel, proyek pembatasan kendaraan dengan mengatur ganjil genap, termasuk proyek meningkatkan biaya parkir menjadi Rp. 4.000 per jam.  Maksudnya agar orang yang punya mobil mikir dengan mahalnya biaya parkir kalau harus bekerja membawa mobil ke Jakarta.  Maklum proyek mengatasi macet harus banyak kitanya karena merupakan proyek prioritas yang ditunggu keberhasilannya oleh semua orang.

Kenaikan tarif parkir tersebut ternyata tidak hanya terbatas pada kenaikan parkir di gedung-gedung.  Tapi berlaku juga untuk tarif parkir di pinggir jalan.  Sehingga kalau dahulu parkir di pinggir jalan cukup seribu, sekarang harganya terus meningkat.....tidak berbeda jauh dengan tarif parkir di gedung.

Mengamati fenomena parkir, marilah kita coba sedikit bahasa tentang  profesi tukang parkir.  Umumnya untuk parkir di tempat-tempat umum seperti lapangan, pelataran mal, dikuasai oleh salah satu ormas kepemudaan.  Atau kadang-kadang di kelola oleh anak pejabat di wilayah tersebut.  Dengan slogan terima uang tetapi risiko tanggung sendiri, usaha mengelola parkir merupakan salah satu usaha yang cukup menggiurkan.  Dengan modal sedikit, bisa menghasilkan keuntungan yang banyak, nyaris tanpa risiko.  Kalau mobil baret, risiko yang punya mobil.  Kalo barang di mobil hilang, risiko yang punya mobil.  Bahkan kalau mobilnya pun hilang, risiko sepenuhnya sebagai risiko yang punya mobil.  Pengelola parkir hanya seperti orang yang menyewakan lahan parkir.

Demikian juga untuk parkir di pinggir jalan.  Sangat jelas, setiap meter jalan apalagi di keramaian telah ada yang menguasai.  Petugas parkir tersebut ada yang berseragam serta dilengkapi karcis parkir yang dikeluarkan Pemda, namun banyak pula tukang parkir yang tidak jelas.  Bahkan sering ketika kita susah payah memarkir mobil, rasanya sendirian gak ada tukang parkir di daerah tersebut.  Tetapi begitu kita mau keluar dari jalan, langsung muncul orang bermodalkan peluit, meminta jasa parkir.  Menurut aku ini lebih mirip pemalakan dari pada menjual jasa. Tapi sayangnya kok hal ini terjadi dimana-mana.  Seolah-olah semua orang menjadi maklum, dan dianggap itu merupakan cara mendapat mata pencaharian yang benar.

Terus terang, walaupun hanya bayar Rp. 2.000,- kadang aku suka gusar kalo melihat tukang parkir jenis pemalak ini.  Bukankah kita sama-sama masyarakat yang berhak untuk menggunakan jalan atau pinggir jalan ?  Aku amat sangat tidak yakin kalau mereka itu menyetorkan hasil parkirnya ke Pemda. Mungkin dia cuma nyetor ke preman atau ke "oknum".  Kalaulah jasa parkir jalanan tersebut dapat dikelola dengan baik.  Berapa banyak penghasilan yang akan didapat Pemda.

Rasanya tidak ada ruas jalan semeterpun di daerah Jabidetabek yang bebas dari tukang parkir.  Aku pernah parkir di tempat sepi yang rasanya mustahil ada tukang parkir.  Ketika aku mau pergi, tiba-tiba ada orang yang aku pikir sedang jualan rokok, minta parkir juga......ckckckckck.....pemalakan berjamaah.  Mungkin orang sungkan membicarakan ini, nanti dikira pelit.  Masa Rp. 2.000,- aja diributin.

Premanisme jalanan memang sudah terjadi di segala bidang.  Kemaren sore waktu mau nganter anakku ke terminal Bekasi, tidak biasanya pas di pintu masuk terminal ada oknum petugas yang memberhentikanku.  Dia meminta aku membayar Rp. 2.000,-.  Ketika aku minta bukti atas pungutan uang tersebut, dia jawab sudah habis, enggak apa-apa, enggak perlu ? Aku jadi bingung.....khan yang perlu aku sebagai orang yang bayar, minta bukti.  Dia seolah-olah menjawab bahwa dia tidak memerlukan bukti tersebut.......jadi enggak nyambung.  Ini dia yang keliru atau aku yang aneh, kok minta bukti.

Kalau untuk pengemis, sudah banyak lembaga yang ingin mengatur.  Misalnya MUI mengeluarkan fatwa haram memberi pada pengemis di jalanan.  Tantrib juga kadang-kadang melakukan penertiban terhadap keberadaan pengemis di jalanan.  Namun untuk masalah parkir liar, rasaya belum ada yang peduli.  Kalau kita hitung penghasilannya, hampir sama bahkan bisa lebih besar di banding pengemis dan pak ogah.  Tapi......sampai sekarang.....tukang parkir masih leluasa berkuasa.  Mungkin dinas  perparkiran belum mampu berpikir sampai ke arah itu........kita tunggu.

Atau silahkan pejabat Dinas Perparkiran studi banding ke Pulau Bali khususnya Denpasar.  Disana, rasanya tukang parkir liar kalaupun ada, tidak sebanyak di Jakarta.......jadi, selamat jalan-jalan ke Bali.

(salam hangat dari kang sepyan)

Rabu, 13 Maret 2013

ACEH GAYO

Akhirnya aku pilih pesawat yang brangkat subuh dari Jakarta menuju Banda Aceh.  Kebetulan sejak ditutupnya Batavia air, pesawat Lion yang biasanya berangkat agak siangan dari Jakarta langsung ke Aceh, dalam bulan Februari 2013 tidak terbang. Jadi agar bisa sampai di Aceh tengah hari, harus naik Garuda yang transit di Medan.  Perjalanan Jakarta ke Aceh yang biasanya di tempuh dalam waktu 3 jam kurang, menjadi lebih panjang sekitar 4 jam 30 menit.  Dan yang bikin malas sebetulnya karena harus turun naik pesawatnya.  Maklum sampai sekarang, setiap proses pesawat turun ataupun naik, hati ini masih belum bisa kompromi.  Denyut jantung terasa lebih cepat, dan perasaan was-was tidak bisa dihilangkan.

Hari itu aku akan melakukan perjalanan ke Takengon, kira-kira  7 jam perjalanan dari  Banda Aceh. Menurut kang Omang, saudaraku satu daerah yang kebetulan menjadi Bos besar disana, perjalanannya akan melewati Sigli kira-kira 2 jam, dari Sigli ke Bieureun kira-kira 2 jam, lalu masuk ke jalur tengah dari Biereun arah Takengon kira-kira 3 jam.  Sehingga diusahakan pake pesawat pagi agar tidak kemalaman di jalan.  Perjalanan dari Banda Aceh sampai Bieureun menyusuri pantai timur Aceh. Jalannya lumayan lurus dan besar, hanya sekitar 25 kilometer sebelum masuk kota Sigli jalanan lumayan berbelok naik turun menembus pegunungan Seulawah.  Seulawah pernah ngetop karena jaman perjuangan dahulu pernah dijadikan nama pesawat terbang perintis di Indonesia.


Perjalanan yang dirasa cukup berbeda adalah ketika telah belok dari jalan pantai timur, menuju ke Aceh Tengah.  Jalan mulai mengecil dan sebagian besar jalan sedang diperlebar.  Tampak tebing-tebing curam disebelah kanan kendaraan dan di sebelah kiri terdapat jurang yang sangat tinggi. Konon pada tahun 2012 jalan ini baru diperlebar, dan sampai sekarang belum selesai.  Namun proses pengerjaannya tidak lagi buka tutup seperti dahulu (jalan ditutup mulai jam 8 pagi sampai jam 12, kemudian dibuka 2 jam, lalu ditutup lagi sampai sore).  Dahulu harus buka tutup karena untuk mengoperasikan mobil pengeruk, diperlukan seluruh badan jalan.  Dengan selesai pelebaran, tinggal tahap pengerasan tidak memerlukan buka tutup lagi.

Kalau hujan deras, cukup ngeri melewati jalan ini.  Takutnya tebing yang baru dipapas dengan tinggi sekitar 50 meter dan kemiringan hampir 88 derajat, tentunya bila longsor akan tanpa ampun menutupi badan jalan seperti di Tol Cipularang kemaren.  Belum lagi dengan bumbu cerita dari pak sopir yang dengan sangat bersemangat menuturkan bahwa baru 5 hari yang lalu, ada Avanza yang mengangkut lima orang terjun bebas ke jurang.  Katanya 3 meninggal di tempat, selanjutnya 3 hari dan seminggu kemudian yang dua lagi menyusul.  Bikin tambah ngeri aja.

Aceh tengah, terbagi dalam 3 Kabupaten, yaitu Bandar Meriah kabupaten baru pecahan dari Aceh Tengah, dan Takengon.  Serta satu kabupaten lagi pecahan dari Kotacane yaitu Kabupaten Blang Kejeren.  Kalau digambarkan dalam peta perjalanan, dari Bieureun akan melewati Bandar Meriah, lalu masuk Takengon, diteruskan lagi ke Blang Kejeren dan terus menembus sampai ke Kutacanae yang sudah masuk wilayah pantai barat Aceh.  Tiga kabupaten yaitu Bandar Meriah, Takengon, dan Blang Kejeren tidak mau di sebut sebagai orang Aceh, mereka menyebutnya orang Gayo.  Demikian juga Kutacane, disebutnya bukan orang Aceh dan juga bukan orang Gayo, tetapi disebut orang Alas. Mungkin seperti orang Sunda, kalau kata orang luar pulau Jawa disebutnya orang Jawa, tetapi biasanya orang Jawa Barat tidak mau disebut orang Jawa, mereka menyebutnya orang Sunda.  Dan untuk orang Alas, padanannya mungkin seperti orang Cirebon.  Mohon maaf bila padanan ini kurang pas.

Takengon terkenal sebagai daerah dingin di propinsi NAD, jalannya menanjak dan berkelak-kelok. Sangat terkenal sebagai daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia.  Ada dua jenis kopi yang diproduksi, yaitu kopi Robusta dan kopi Arabika.  Kopi Robusta pohonnya tinggi-tinggi, namun bijinya lebih kecil, dan harga jualnya kurang baik.  Oleh karena itu di Takengon sekarang banyak dikembangkan kopi Arabika.  Umumnya pohonnya di"buat" tidak terlalu tinggi, bijinya lebih besar, dan menghasilkan kopi kualitas ekspor.

Proses pengolahan kopi umumnya dilakukan dengan skala rumah tangga.  Dimulai dari panen bibit yang berwarna merah.  Lalu kulit merahnya dikupas atau dipisahkan dari bijinya dengan cara digiling, hasil penggilingan tersebut disebut sebagai gabah kopi.  Gabah kopi kemudian dijemur dan kemudian digiling kembali sehingga menjadi biji kopi.  Biji kopi di jemur kembali sampai kadar airnya kira-kira 12%.  Kemudian di gongseng atau dipanaskan, baru menjadi kopi yang siap diminum.  Kualitas biji, ketepatan waktu panen, kecepatan proses penjemuran, hal-hal itulah yang sangat mempengaruhi kulitas kopi dan keasaman kopi.  Sepanjang perjalanan, tampak penduduk banyak yang menjemur di pinggir jalan, baik gabah kopi maupun biji kopi.

Terus apa yang disebut kopi luwak ?  ternyata kopi luwak proses produksinya hampir sama dengan kopi biasa.  Yang berbeda adalah, saat biji kopi telah dipetik, kopi di"suguh"kan kepada Luwak untuk dikonsumsi.  Luwak tersebut tidak akan mampu mencerna gabah kopi.  Sehingga setelah dimakan, maka kulitnya di cerna sedangkan gabah kopinya akan utuh keluar bersama kotoran Luwak.  Jadi Luwak berfungsi sebagai pengganti mesin giling untuk mengupas kulit kopi.  Ternyata selama biji kopi berada dalam pencernaan Luwak, mungkin ada proses fermentasi, sehingga mampu memberikan kontribusi pada keasaman kopi yang "pas" menurut penggemar kopi.

Selain kopi dan udara dingin, di Takengon terdapat lapangan pacuan kuda "Blang Bebangka".  Sayang sekali waktu aku kesana sedang tidak ada lomba pacuan kuda.  Menurut teman-teman disana, bila tiba musim pacuan kuda, biasanya rame. Namun jangan membayangkan joki seperti di tivi-tivi. Biasanya joki tersebut memacu kuda, tanpa pelana......jadi asli....alami....seperti kpbpy jimen.

Tempat wisata lainnya di Takengon adalah Danau Laut Tawar, yang sekelilingnya terdapat jalan kecil serta dapat dilalui kendaraan.  Sayang waktu aku di Takengon agak sempit karena perjalanan sambil bekerja, jadi tidak sempat berkeliling danau.  Kalau mengelilingi danau kira-kira memerlukan waktu satu jam perjalanan.  Namun walaupun tidak sempat berkeliling, aku sempatkan mampir ke salah satu pantainya, yaitu wilayah one-one.  Tersedia menu ikan bakar biasanya ikan Nila yang fresh, manis, dan akan membuat Anda lupa diet.  Jangan lupa coba juga ikan khas danau laut tawar, yaitu ikan depik.  Kalau rasa dan bentuknya mirip ikan balita di Jawa, ikan Saluang di Padang, atau ikan Wader di Makasar.

Dua puluh empat jam di Takengon, rasanya terlalu cepat.  Menjelang magrib aku kembali ke Bieureun dengan diiringi hujan yang sangat lebat.  Sampai-sampai jalan seperti berubah menjadi sungai besar.  Tidak di Jakarta, tidak juga di Aceh Tengah......kadang-kadang pembuat jalan suka lupa membuat solokan.  Seperti halnya pembuat rumah lupa membuat tempat sampah........Beberapa bungkus kopi, aku lihat sudah berada di jok belakang, untuk dibagikan ke teman-teman di Jakarta.........ayo.......siapa mau ngupi ???

(salam hangat dari kang sepyan)