Kamis, 22 Agustus 2013

GONJING

Jarak dari rumahku ke SMP tidak terlalu jauh, namun waktu itu belum ada jalan yang bisa dilalui kendaraan, jadi harus ditempuh dengan jalan kaki.  Memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan, melewati gunung Genter dan gunung Picung.  Kedua gunung itulah yang menghalangi akses untuk menuju Desaku, karena di kedua gunung itu jalan yang tersedia hanya berupa jalan setapak yang kadang berundak-undak melewati batu-batu besar.  Menyebabkan desaku tampak seperti daerah terisolir.  Tahun tujuhpuluhan, lebih dari setengah penduduk desa belum pernah melakukan perjalanan ke "kota" yang jaraknya hanya 7,5 km.  Sehingga beberapa di antara mereka sampai akhir hayatnya belum pernah melihat pasar, sekolah menengah, jalan aspal, mobil, motor, dan tentunya pak Camat.    

Alhamdulillah, aku dilahirkan dari orang tua yang memiliki pola pikir diluar orang kebanyakan penduduk desa.  Walaupun didesaku hanya ada sekolah sampai tingkat sekolah dasar, namun kami anak-anaknya harus sekolah tinggi.  Kalau perlu sekolah sampai ke Bandung, seperti lagu "nelengnengkung" yang selalu dinyanyikan ibuku waktu aku masih kecil.  

Nelengnengkung-nelengnengkung
Geura gede, geura jangkung
Geura sakola ka Bandung
Sing bisa nyenangkeun indung

Ketika usiaku 10 tahun 8 bulan, aku pergi ke "kota" untuk meneruskan sekolah ke SMP.  Aku harus berpisah dari orang tua, mencoba mandiri.  Walaupun sebenernya gak mandiri-mandiri banget karena aku tinggal bersama keluarga kakaku yang paling besar yang sudah menjadi guru di "kota".  Pelajaran mandiri yang harus aku lakukan adalah cuci baju dan mengelola uang jajan bulanan.  Untuk cuci baju tidak susah-susah amat, karena kadang-kadang di rumah juga aku sudah pernah belajar, dan kadang-kadang aku titipin juga sama si bibi.  Tapi untuk urusan mengelola uang jajan, ini adalah pelajaran yang sangat baru.

Jaman sekarang mungkin aneh kedengarannya, ada anak usia hampir 11 tahun gak bisa jajan. Tetapi di desaku memang tidak ada tukang jualan di sekolah, kalaupun ada tukang jajanan hanya terjadi saat ada pesta dimana yang punya pesta menyediakan hiburan seperti wayang golek, kuda renggong, atau lais (sejenis debus dimana ada orang yang bisa beraktifitas di sebuah tambang yang direntangkan diatas dua bambu setinggi 15-20 meter).  Biasanya bila ada acara seperti itu aku jajan rujak kucur dan goreng tempe gembus bareng kakakku.  Pengalaman belanja sendiri yang aku pernah lakukan hanyalah kalau disuruh beli "lotek" di bi Nunu dan "kerecek daging" di warung wa Rum'ah, bila ibuku tidak masak.  Dan itu sangat jarang terjadi.

Dengan pengalaman seminim itulah, saat aku diberi uang jajan Seribu rupiah, aku kebingungan.  Bapakku tidak menyebutkan itu untuk jatah seminggu, sebulan atau setahun, tapi silahkan dipakai untuk keperluan.  Kalau sudah habis boleh minta lagi, tapi harus dicatat dalam buku dan dilaporkan kalau meminta tambahan dana.  Mungkin Bapak mendidik agar aku terbiasa membuat laporan pertanggung-jawaban.  

Saat bel istirahat sekolah semua anak meninggalkan kelas, menuju ke kantin belakang.  Ibu penjaga kantin sibuk melayani pembelian yang hanya berlangsung sekitar 15 menit.  Hampir semua jajanan ada disana, ada bala-bala, comro, buras, kerupuk, tahu, dll.  Seluruh sisi warung yaitu kiri, kanan, dan depan penuh dengan anak-anak yang akan jajan. Aku bingung bagaimana cara masuk ke celah-celah orang yang mengerumuni menutup sisi warung.  Sedangkan mereka  tampak santai menyuap jajanan, sambil bercanda.  Padahal kalaupun aku bisa masuk ke sisi warung, aku masih bingung bagaimana cara merangkai kata ijab kabul jual beli jajanan, sebagaimana yang selalu diajarkan guru ngajiku.

Akhirnya aku putuskan untuk ke luar pagar sekolah, disana juga banyak tukang jajanan seperti cilok, baso tahu, es goyobod, es mambo, gorengan aci, dll.  Hampir seluruhnya penuh dikerubuti anak-anak.  Aku lihat rata-rata orang yang berjejal jajan adalah orang-orang kota, sedangkan kami orang-orang desa cuma bisa bersender di pinggir pagar yang agak jauh dari tukang jajanan sambil menikmati matahari. Maklum sinar matahari khan gratis, serta tidak harus pake ijab kabul. Mereka menjauh dari tukang jualan entah karena pada enggak punya duit, atau mungkin seperti aku yang kebingungan cara bertransaksi di tengah kerumunan.

Minggu kedua hari ketiga, baru aku berani melakukan transaksi pertama.  Diantara tukang jajanan yang jualan di luar pagar sekolah, ada pedagang yang peminatnya hanya sedikit.  Bahkan cenderung sepi pembeli.  Yaitu tukang Gonjing.  Gonjing terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan kelapa parut, air, dan sedikit garam.  Lalu dimasukan ke dalam cetakan berbentuk setengah lingkaran dengan tebal sekitar 2 cm dan diameter 12 cm.  Cetakan setengah lingkaran tersebut berjejer 6 lobang, dan tukang gonjing memiliki 4 cetakan, sehingga satu kali nyetak bisa menghasilkan 24 gonjing atau 12 pasang gonjing.  Cetakan terbuat dari aluminium, dan dibakar diatas kompor.  Hasilnya adalah sebuah penganan yang gurih, berkulit renyah, panas, namun dalamnya lembek.  Menurutku enak, mungkin menurut orang kota jajanan seperti itu kurang bonafid, sehingga sepi peminat.  Harganya untuk tiap sepasang gonjing lima rupiah saja.  

Setelah aku melihat kota-kota lainnya, tenyata ada juga penganan yang hampir sama dengan gonjing namun disebutnya adalah banros.  Banros biasanya disajikan dengan ditaburi gula pasir dipermukaannya.  Penganan lainnya yang serupa gonjing adalah kue pukis, perbedaannya adalah bahan adonannya terbuat dari terigu dan gula serta telur seperti bahan bolu.

Sebelum jajan gonjing aku sudah tanya dulu kiri-kanan berapa harganya, dan berapa minimum pembelian.  Sehingga aku juga sudah siapkan uang pas untuk membelinya.  Dan pada siang hari pulang sekolah, mulailah aku mencatat pengeluaran pertamaku dan merupakan pengeluaran pertama dan terakhir yang aku tulis dalam buku tulis letjes warna biru isi 18 lembar.  Karena setelah itu, aku lancar jajan waktu istirahat sekolah, tapi jadi males menulis.  Apalagi Bapaku juga tetep memberikan tambahan uang jajan, tanpa harus memberikan laporan pertanggung-jawaban.

Tiga puluh lima tahun kemudian, saat liburan kemarin kami seluruh keluarga besar nginep di Ciater.  Pagi-pagi telah mangkal tukang gonjing didepan bungalow.  Harganya sudah naik 400 kali lipat, yaitu sepasang yang semula Rp. 5,- menjadi Rp. 2.000,-.  Entah harga sebenarnya atau karena harga lebaran.  Tapi penampilan tukang gonjing masih tetap, berbadan kurus, bertopi lusuh, membawa dagangan dengan cara di pikul, yaitu pikulan yang satu bersisi adonan dan bangku kayu kecil, adapun pikulan satu lagi tempat cetakan dan kompor.  Bila sedang membuat gonjing dia duduk dibangku kecil tersebut, menunggu sekitar 15 menit sampai adonan matang.  

Aku dan kakak-kakaku membeli beberapa loyang gonjing untuk dimakan bersama.  Aku amati, bahwa kami para orang tua menikmati kerenyahan, kegurihan, dan kehangatan gonjing di pagi hari, mungkin sambil pikiran menerawang ke masa lalu.  Sedangkan ketika anak-anak ditawari, mereka cuma melihat dan mencoba sedikit, tanpa minat.  Perbedaan generasi......generasi gonjing dan generasi sosis...hehehe.

(salam hangat dari kang sepyan)

Jumat, 16 Agustus 2013

TEBOY

Kebiasaanku selama bulan puasa ini adalah sahur menjelang akhir.  Kira-kira jam 3.45 bangun, lalu menyiapkan makanan dan jam 4.10 menit kami mulai makan sahur sampai jam 4.30.  Kata pak ustadz kita disunahkan mengakhirkan makan sahur.  Sunnah yang menurut aku sangat bermanfaat karena jangka waktu dari makan sahur ke buka puasa menjadi semakin pendek, jadi akan mengurangi rasa lapar.  Terus jangka waktu ke sholat subuh tinggal 10 menit pas banget untuk persiapan bersuci dan pergi ke mesjid.  Waktu tidur malam juga bisa cukup panjang, cukup untuk istirahat untuk mengerjakan tugas rutin esok hari.

Tapi malam kemaren aku dibangunkan oleh suara hp istriku yang terus berbunyi sekitar jam 2 malam.  Lagi enak-enaknya kami terlelap, rupanya ada teman istriku tetangga RT yang mebangunkan kami.  Katanya ketika mau persiapan makan sahur, dia keluar sebentar dan melihat didepan rumahnya ada kucing angora warna putih.  Dia mengabarkan mungkin kucing itu adalah kucing kami yang hilang.  Sambil merem-merem terpaksa deh aku ngeluarin motor jalan ke rumahnya .  Dan sampai disana, kucingnya sudah tidak ada di tempat yang tadi.

Sudah dua minggu ini si Teboy, begitu kami memanggil kucing kami, hilang.  Awalnya adalah ketika sedang mempersiapkan makan sahur, orang yang bantu-bantu di rumah membuka pintu keluar, mungkin ingin cari angin atau mau buang sampah.  Setelah itu pintu dibiarkan terbuka, dan si Teboy memanfaatkan kesempatan tersebut untuk jalan-jalan keluar.  Entah tersesat, entah ada orang yang ngambil, atau entah karena apa karena sejak saat itu dia gak pernah pulang ke rumah.

Istriku cenderung menganggap si Teboy tersesat, sehingga setiap pagi dia keliling perumahan yang hampir meliputi dua RW.  Memperhatikan selokan, halaman rumah orang, tempat-tempat sampah, yang diperkirakan bisa dijadikan persembunyian si Teboy.  Sehingga hampir seluruh tetangga tahu akan kehilangan si Teboy, ciri-cirinya adalah kucing angora besar, hidungnya pesek, berbulu putih dengan sedikit abu-abu di kepala dan buntutnya.  Akibatnya, begitu mereka melihat ada kucing warna putih, sering telepon ke rumah.  Walaupun sampai sekarang yang mereka lihat ternyata kucing kampung biasa, bukan Teboy kami.

Sedangkan kalau aku lebih cenderung menduga si Teboy ada yang ngambil.  Karena akhir-akhir ini, kalau setiap pagi aku mau berangkat subuh ke mesjid, kok banyak sekali tukang "pulung" dengan ciri khas membawa besi panjang yang ujungnya dibengkokan dan membawa karung plastik besar.  Demikian pula kalau sore-sore jalan-jalan ke sekitar mesjid Al-Ahar komplek Jaka Permai, di sepanjang jalan berderet orang-orang duduk di trotoar.  Ibu-ibu muda membawa anak kecil, dan di depannya ada gerobak sampah.  Kesannya adalah mereka para pemulung.

Aku kadang berpikir, apakah mereka benar-benar pemulung atau sekedar menyamar menjadi pemulung ?  Memanfaatkan moment bulan puasa, bulan penuh barokah, dimana Allah melipat-gandakan pahala.  Sehingga banyak sekali orang ingin berbuat baik, membantu sesama untuk bersyukur atas karuna yang diberikan, diantaranya dengan cara bersedekah. 

Entah ini pikiran aku saja atau mungkin sama dengan pikiran yang lain, kalau misalnya mau bersedekah maka aku lebih senang memberikan pada pemulung dibandingkan kepada peminta-minta, dengan catatan kedua-duanya sama-sama secara fisik sehat.  Apalagi pemulung perempuan yang bawa anak kecil.  Kesannya mereka adalah pejuang tangguh, yang mau berusaha keras namun masih miskin.  Rasanya sangat layak diberi sedekah, rasana tidak sia-sia memberi sedekah pada mereka.  Syukur-syukur bisa dijadikan tambahan modal sehingga kehidupannya yang semula jadi tukang pulung berubah menjadi pengepul, selanjutnya menjadi pengusaha.  amin.

Tapi apakah benar-benar mereka pemulung ??? Nah itulah yang sekarang meragukan, dengan semakin bertambahnya komunitas mereka.  Jangan-jangan, modus seperti ini pun telah diorganisir sebagaimana pengemis ?? Jangan-jangan, mereka memiliki Bos yang telah mempelajari psikologi orang sedekah ?  Ini megapolitan....semua bisa terjadi.


Seperti tayangan hitam putih di Trans TV, ternyata menjadi peminta-minta walaupun bukan sebagai cita-cita tetapi telah menjadi mata pencaharian, bahkan menjadi profesi.  Dengan penghasilan setara penghasilan sarjana baru lulus yang kerja di sektor keuangan, bahkan mungkin lebih besar.  Serta ada koordinatornya atau mungkin semacam "mucikari" atau semacam "manajer" yang akan membantu dalam hal mencarikan tempat mangkal dan berurusan dengan pihak berwajib.  mmmmmmmhhhhhhh.......

 (salam hangat dari kang sepyan)

Selasa, 13 Agustus 2013

BAJU LEBARAN

Malam ini setelah sholat isya kami tidak taraweh lagi, tapi kami ganti dengan takbiran.  Orang-orang tua kami jaman dulu tidak perlu menunggu sidang istbat selesai untuk menetapkan hari lebaran.  Bukan karena tidak mengikuti ketentuan pemerintah, tetapi karena waktu itu belum ada siaran TV ke kampungku.  Jadi cukup dengan melihat warna merah di kalender ditambah dengan rembugan orang-orang sedesa, yang telah diputuskan seminggu sebelum lebaran.  Nampak Bapaku, kakekku dan bapak-bapak lainnya yang biasanya duduk di shaf paling depan menghadap ke kiblat, sekarang berbalik jadi menghadap ruangan langgar, bersender pada kayu-kayu berwarna coklat kelabu yang menjadi tiang penyangga dinding langgar.  Dindingnya sendiri terbuat dari bilah anyaman bambu.  Kayu-kayu tersebut tampak berwarna coklat ke abu-abuan, bukan karena di pernis, tetapi warna asli kayu yang telah terkombinasi dengan udara, debu, panas, dan gosokan punggung-punggung baju waktu orang bersender.

Waktu tadi berangkat isya, ayahku sengaja membawa lampu petromak yang ada di rumah.  Sehingga langgarku malam ini terasa lebih semarak dengan sinar lampu petromak menerangi ruangan langgar ukuran 6 x 10 meter.  Kalo lagi tarawih malam-malam sebelumnya, mushola kami cukup diterangi dengan dua lampu templok.  Satu lampu templok digantungkan di paku yang di pasang di tiang kayu penyangga mimbar.  Dan satu lagi dipasang disalah satu kayu tiang penyangga tengah mushola.  Kalau kita melakukan tadarusan sehabis sholat taraweh, maka salah satu lampu diturunkan, dan orang-orang yang tadarusan akan duduk mengelilingi lampu.  Memicingkan mata menyesuikan besarnya iris mata dengan keremangan sinar yang tersedia, untuk memastikan tidak ada titik ataupun tasjid yang kelewat.

Aku bersama Kodir anaknya mang Asbul imam mushola dan Sahlan anaknya mang Alasan, berkumpul bertiga di tengah ruang mushola.  Kadang-kadang ikut takbir yang dipimpin mang Asbul, tapi kadang-kadang enggak karena sibuk ngobrol sambil ketawa-ketiwi.  Bila kami lupa diri saking asyknya ngobrol, Embah panggilan untuk kakekku akan melotot dan mengangkat tangan dengan ibu jari dan telunjuk dibuat bentuk O, maksudnya isyarat mengancam, kalau ribut terus mau di sentil.  Biasanya kami segera pura-pura khusuk ikut takbir.  Tapi lima menit kemudian, kembali kami ribut.  Topik obrolan yang membuat kami lupa diri adalah tentang baju lebaran.  Kami saling menceritakan pengalaman masing-masing sampai mendapat baju lebaran, misalnya bagaimana proses meminta, pilihan baju, bagimana proses membeli di pasar, dll.  Selalu menarik kalau sudah membicarakan topik tersebut, kalau istilah sekarang di dunia maya mungkin trending topik.  Ada yang cerita bahwa waktu meminta baju lebaran sampai harus pura-pura kabur dulu, untuk meluluhkan hati orang tuanya agar mau menjual beberapa ekor ayam.  Ada yang membeli baju lebaran berupa baju pramuka yaitu celananya coklat tua dan bajunya coklat muda, agar bisa sekalian dipakai untuk seragam pramuka sekolah.  Dan mata kami pun, menerawang membayangkan bagaimana rupa kami besok waktu mengenakan baju lebaran.

Moment lebaran memang merupakan salah satu, bahkan untuk kebanyakan kami warga kampung merupakan satu-satunya moment yang memperbolehkan kami, anak-anak, meminta baju baru.  Sehingga kalau lebaran tahun ini tidak membeli baju baru, artinya baru lebaran tahun depan ada kemungkinan dibelikan baju baru lagi. 

Zaman telah berubah, dan generasi pun telah berubah.  Generasi lampu templok mushola telah berubah menjadi generasi listrik dan gadget.  Terjadi perubahan yang sangat drastis antara generasi aku sebagai anak-anak dibandingkan generasi sekarang, yaitu generasi aku sebagai orang tua.  Sampai menjelang lebaran, tidak ada satupun anaku yang meminta baju lebaran.  Bahkan kamilah orang tuanya yang memaksa-maksa mereka ke mal untuk membelikan baju lebaran.  Setelah datang ke mal pun, disuruh memilih bahkan tanpa dibatasi budget, tetap saja mereka kelihaan ogah-ogahan.  Dunia rasanya menjadi kebalik-balik.  Aku merasa memiliki kewajiban untuk membelikan semua anak-anak baju lebaran, mungkin sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi atau sekedar sebagai upaya untuk balas dendam.  Sedangkan anak-anak merasa bahwa lebaran tidak perlu baju baru.  Toh beli baju baru bisa kapan saja.

Aku jadi teringat sama ibuku, ketika aku sudah mulai bekerja dan ibuku melihat lemari pakaian, beliau bilang "jangan terlalu banyak membeli sampah, mendingan dipakai menabung atau dibelikan saja uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna".  Tumpukan bajuku di lemari dianggap ibuku sebagai tumpukan sampah.  Padahal jaman sekarang khan harus ada pakaian olah raga, pakaian tidur, pakaian kerja sehari-hari, pakaian resmi, pakaian santai, belum lagi semuanya harus matching dengan sepatu, ikat pinggang, jam tangan, dan lain-lain.  Kalau berbeda-beda warna bisa diketawain teman-teman, nanti dibilangnya kampungan tidak mengikuti mode, tidak pantes jadi eksekutif muda.  Bahkan untuk pakaian olah raga saja harus banyak karena berbeda jebis olah raga perlu berbeda juga bentuk baju maupun sepatunya, untuk lari, senam, tenis, golf, renang, dll.  Jadi memang pakaian harus banyak.  Setidaknya menurut versi-ku.

Kalau ada mode yang baru harus beli lagi, walaupun telah bertumpuk pakaian di rumah.  Baju lama juga tida bisa langsung dibuang atau diberikan sama orang lain, karena disamping masih bagus, juga untuk jaga-jaga siapa tahu suatu saat baju tersebut masih diperlukan untuk di matching-matchingkan sesuai tema pertemuan.  Padahal pada kenyataannya banyak diantara baju-baju tersebut yang sudah sangat lama tidak pernah dipakai.  Karena toh walaupun bajunya banyak, tetap saja yang dipakai baju setiap kali hanya satu stel.  Banyak diantara baju-baju tersebut yang hanya diakai sekali atau dua kali saja, setelah itu tidak pernah disentuh sama sekali karena telah kehilangan moment.

Padahal kawan......kata guru ngajiku dulu, baju-baju tersebut kelak akan menghisab kita.  Mengapa rezeki yang telah Allah berikan tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.  Kenapa baju tersebut dibeli tetapi tidak dipakai.  Kenapa baju-baju yang sudah jarang dipakai tidak segera diberikan pada orang lain yang membutuhkan.  Dan kenapa-kenapa lainnya.

Jadi......masih mau beli baju baru ???


(salam hangat dari kang sepyan)

Selasa, 23 Juli 2013

GEMPA GAYO

Tiba-tiba aku terbangun, karena terasa laju mobil seperti melayang di udara. Otomatis kumenengok kebelakang, dan terlihat jalan yang baru saja kami lalui seperti ada gunungan kecil, yang membuat mobil dengan kecepatan tinggi akan seperti melayang.  Lalu pandangan kualihkan kedepan, terlihat jalan walaupun aspalnya mulus, tetapi permukaannya seperti bergelombang.  Rupanya bukan aku saja yang terbangun karena kondisi jalan seperti itu, tetapi Rudi dan Rahmat yang duduk jok tengahpun ikut terbangun.  Aku melirik ke pak Yamin, sopir yang duduk di sebelahku sambil berguman "jalannya gak rata ya, pelan-pelan aja".  "Iya pak !" jawab pak Yamin sigap.

Hari itu kami berempat sedang mengadakan perjalanan dari Banda Aceh menuju Sigli.  Aku berangkat naik pesawat pagi dari Jakarta, lalu mampir sebentar untuk makan Ayam Peragawati.  Kami menyebutnya ayam peragawati, karena kaki ayamnya panjang-panjang, dan warnanya kuning mulus.  Dijual di rumah makan dekat bandara kira-kira jaraknya 500 meter dari pintu keluar bandara Sultan Iskandar Muda.  Menu khasnya yaitu gulai kambing serta goreng ayam.

Jam satu siang setelah selesai makan, kami berangkat ke Sigli untuk mengikuti acara yang dijadwalkan jam tiga sore.  Perjalanan dari Banda Aceh ke Sigli sekitar 110 km memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan.  Waktu terbangun tadi, kiranya kami sudah melewati setengah perjalanan, bahkan sudah hampir masuk wilayah Sigli.  Jalan di kiri kanan masih seperti hutan, di kaki perbukitan Seulawah.  Sejurus kemudian, Rudi berteriak "pak ada gempa !".  "kata siapa ?" tanyaku.  "ini pak, status teman yang di Aceh, dirubah menjadi GEMPA", jawab Rudi.  Rupanya yang aku lihat tadi seperti jalan bergelombang adalah karena ada gerakan gempa.  Sehingga mobil juga terasa melayang.


Aku langsung teringat kejadian bulan Januari lalu nginap di hote Hermes, kebetulan dapat kamar di lantai 5.  Setelah sholat malam, aku lihat sudah hampir tiba waktu subuh, paling seperempat jam lagi.  Jadi aku tidak tidur dulu, hanya leyeh-leyeh sambil mempermainkan remote TV.  Tiba-tiba ranjangku terasa bergerak.  Otomatis aku bangun, sambil lihat sekeliling.  Selanjutnya timbul bunyi berderak-derak, bersumber dari atap bangunan. Ada gempa pikirku.  Tanpa pikir panjang, segera aku keluar kamar masih mengenakan kain sarung, berlari dilorong hotel mencari tangga darurat.  


Bentuk lantai 5 Hotel Hermes seperti huruf L, dengan jumlah sekitar 40 kamar berderet berhadap-hadapan sepanjang lorong yang membentuk huruf L tersebut.  Aku menempati kamar yang letaknya di sebelah kiri lift, berjarak satu kamar dari lift tersebut.  Disebelah kiri kamarku masih ada 5 kamar lagi sampai ke ujung bangunan.  jarak dari lift ke ujung sebelah kiri hampir sama dengan ke ujung sebelah kanan.  Namun kalau di ujung sebelah kanan tidak mentok tembok, tetapi ada lorong lain sehingga membentuk huruf L.
Aku berlari mencari tangga darurat, biasanya ada di ujung bangunan gedung.  Aku berlari ke arah ujung terdekat yaitu ke sebelah kiri.  


Tetapi rupanya di ujung tersebut tidak ada tangga darurat, maka bergegas aku balik arah.  Ada dua tamu lain yang juga aku lihat keluar kamar, yang satu masih mengenakan celana kolor pendek berkaos singlet dan membawa bantal di atas kepalanya, sedangkan satu lagi mengenakan piyama.  Kami bertiga jadinya berlarian mencari tangga darurat ke ujung yang satu lagi.  Mungkin karena panik, jadi kami tidak menemukan tangga darurat tersebut.  Bunyi alarm dan derakan gedung yag kadang-kadang bercericit semakin menambah kepanikan.  Mau belok ke gang yang membentuk huruf L aku lihat jauh sekali ujungnya.  Takutnya di ujung yang satu lagi juga tidak ada tangga darurat.  Kenapa tadi malam enggak lihat-lihat dulu denah kamar, yang biasanya dicantumkan didinding pintu sebelah dalam ?  Kenapa tadi malam tidak orientasi dulu keadaan melihat dimana terletak tangga darurat ? Nyesel deh.  Mau masuk kamar lagi gak bisa, karena pintu sudah terkunci otomatis.

Selagi kami bertiga kebungungan, tiba-tiba ada bule perempuan berkaos merah tanpa kerah dan celana panjang batik keluar dari salah satu kamar.  Usianya kira-kira 60-an, dengan rambut pirang di atas bahu.  Tidak seperti bule pada umumnya yang badannya tinggi, dia paling sekitar 165 cm, sepantaran sama aku.  Dia berjalan dan langsung membuka pintu yang ada di sebelah kanan lift.  Rupanya itu adalah tangga darurat yang kami cari-cari dari tadi.  Bule itu berjalan menuruni tangga dengan santai.  Entah santai atau mungkin juga dia tidak bisa jalan cepat.  Kami bertiga ikut mengekor dibelakangnya yaitu aku, orang berbantal yang terus setia menyimpan bantal diatas kepalanya, dan orang ber piyama, jalan santai juga.  Maklum tangga daruratnya hanya sekitar 1 meter kurang, jadi enggak bisa mendahului.  Padahal hati ini rasanya ingin berlari secepat-cepatnya.


Gempa bulan Januari lalu menyebabkan beberapa kerusakan di Sigli, bahkan ada korban jiwa.  Gempa ini ternyata lebih dahsyat dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah didaerah Gayo, juga korban jiwa yang lebih banyak.  Dalam perjalanan pulang setelah selesai pertemuan di Sigli, aku coba tanyakan kondisinya ke pak Elmi yang menjadi bos di wilayah Gayo, beliau melaporkan bahwa ada beberapa kantor yang rusak dan tidak bisa operasi, terus ada beberapa korban jiwa salah satunya di daerah blang mancung karena ada mesjid yang roboh dan di dalam mesjid itu terdapat anak-anak yang sedang belajar ngaji.  Innalillahi-wainna illaihi rojiun. Semoga mereka syahid.


Carilah dunia seolah-olah engkau akan hidup selamanya.  Dan carilah akhirat seolah-olah engkau akan mati besok.



(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 15 Juli 2013

SENGGOLAN ENUR

Karena perjalanan dinas, maka aku tidak bisa memilih dengan leluasa hotel.  Panitia dari Bandung memilihkan hotel Panghegar yang ada di ujung jalan Merdeka.  Sepengetahuanku letak hotel tersebut agak jauh dari mesjid.  Mesjid terdekat yang aku tahu adalah mesjid Agung Bandung daerah alun-alun, mesjid Persis dekat "viaduct" dan mesjid Pemda di seberang Balaikota.  Kesemuanya menurutku cukup jauh untuk ditempuh perjalanan jalan kaki.  Aku coba orientasi mushola di dalam hotel, disediakan di lantai 3 bersebelahan dengan lapangan tenis dan kolam renang.  Tapi tempatnya kecil, aku gak yakin ada jamaah sholat subuh di mushola tersebut.

Dengan berbekal tekad harus mendapatkan indeks pahala pagi yang tinggi  (ngawadul ; indeks pahala), sepuluh menit sebelum waktu shubuh aku sudah keluar hotel.  Tujuanku ke mesjid Agung, atau ke mesjid lain yang mungkin ada di perjalanan, karena aku lihat padat rumah penduduk disekitar itu.  Setelah melewati kantor Telkom yang letaknya bersebelahan dengan berada hotel Panghegar, aku nyebrang menyusuri depan musium.  Di ujung musium ada jalan kecil yaitu jalan Markoni, aku masuk kesana karena kelihatannya jalan tersebut merupakan jalan memotong menuju Jalan Asia Afrika.  Adzan sudah berkumandang, namun tampaknya masjid agung masih agak jauh.

Di depan sebuah rumah ada Bapak-bapak baru keluar rumah, "mungkin dia mau ke mesjid" pikirku. Lalu aku tunggu sebentar, sampai si Bapak tersebut membuka pintu pagar.  "Assalamu'alaikum pak, maaf mau tanya, kemanakah letak mesjid yang paling dekat ?" aku mendahului bertanya.  "ke mesjid agung ? tapi jauh de" jawab si Bapak.  "yang paling dekat, coba balik arah saja, nanti nyebrang jalan, disana ada jalan kecil yang di ujungnya ada mesjid".  Aku lalu mengikuti petunjuk arah dari Bapak tersebut, berjalan sendirian.  Rupanya si Bapak keluar untuk keperluan lain, sehingga mengambil arah yang berbeda.

Ternyata jalan yang dimaksud berada di ujung kantor Telkom namanya jalan Enur, tapi ditutup dengan pintu pagar dan disana digantungkan triplek bertuliskan cat warna hitam "dibuka jam 6 sampai 22, kalo mau masuk lewat jalan Tera".  Dipinggir pintu paga ada pos penjagaan, namun tidak ada penghuinya.  Jarak antara tiang pintu agar dengan pos kira-kira satu meter, namun ditengahnya dipasang tiang beton dengan lebar sekitar 15 cm.  Aku masuk melalu celah tersebut, dengan badan dimiringkan.  Masuk jalanan yang gelap dan becek, di kiri kanan jalan banyak kios yang tutup.  Dari bentuk kios, meja, dan kursiya kelihatannya ini adalah kios penjual makanan untuk karyawan Telkom.  Istilah kami di Jakarta adalah Amigos atau Kentaki (agak minggir got sedikit atau kentara kaki hehehe).

Kira-kira jakan 100 meter kelihatan ada menara kecil.  "Nah, itu pasti mesjid yang dimaksud si Bapak" pikirku.  Tapi kok tidak ada tanda-tanda kehidupan ?  Masih gelap dan tidak ada orang, padahal sudah memasuki waktu shubuh 5 sampai 10 menit lalu.  Jalan Enur rupanya jaan buntu, karena ujungnya tertutup.  Setengah badan jalan tertutup oleh pintu gerbang masuk kantor Telkom bagian belakang, dan setengah badan jalan sebelah kiri tertutup oleh bangunan mesjid.  Hanya menyisakan jalan kecil sekitar 60 cm untuk akses orang masuk ke perumahan yang ada di balik mesjid.  Sedangkan untuk akses orang ke sebelah kanan jalan, harus melalui lorong pekarangan mesjid dengan lebar sekitar satu meter.

Aku berdiri termangu di lorong tersebut, keadaan gelap gulita, hanya mengandalkan sedikit cahaya dari bola lampu 20 watt yang diletakan dalam puncak menara mesjid yang tingginya kira-kira sepuluh meter.  Hingga akhirnya ada ibu-ibu dan Bapak-Bapak yang datang membawa kunci dan menyalakan lampu. "Maaf pak, kami kesiangan.  Silahkan kalau mau adzan" kata si Bapak sambil agak mengucek-ngucek matanya.  Mesjid itu bernama Al-Barokah, Bangunannya dua tingkat dengan luas 5 kali 10 meter termasuk kamar mandi dan tempat wudlu.  Cukup asri dan bersih dengan karpet seragam berwarna hijau bergambar masjidil haram dilihat dari atas.

Selesai shalat shubuh, aku hitung ada sepuluh jamaah laki-laki termasuk imam dan ada lima jamaah perempuan.  Alhamdulillah.  Memang biasanya hanya sejumlah itulah orang-orang yang mau datang  ke mesjid.  Mesjid kecil itupun rasanya mash longgar.  Sembilan orang berdiri sholat, pas untuk ukuran lebar mesjid lima meter.  Hanya satu shaf.  "Andai mereka tahu betapa besarnya pahala sholat shubuh berjamaah di mesjid ? yaitu lebih besar dari dunia dan seluruh isinya ?, maka andai dia hanya bisa datang dengan merangkak, mereka akan merangkak untuk mendapatkan keistimewaan tersebut". Demikian para kiai menyeru di atas mimbar.  

Anjing menggonggong, khafilah berlalu.......bagaimana dengan Anda ?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan-kebaikan (amal saleh), mereka itulah sebaik-baik mahluk" (QS Al-Bayyinah ; 7).


(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 11 Juli 2013

WAROQAH

Setelah membaca buku "pagar hati" karya kang Yatna, pendiri SMA Bina Putera.  Aku menjadi semakin penasaran untuk bisa mengunjungi sekolah tersebut.  Jadi ketika mas Iqbal mengundangku untuk ikut kegiatan jambore pelajar Indonesia yang dipusatkan di SMA Bina Putera, aku langsung mengatur dan menyisihkan jadwal agar bisa mengikutinya.  "Jum'at sore kita berangkat, dan insya Allah aku nginap semalam" kataku.

Sehabis sholat ashar berjamaah di mesjid Landmark, kami berangkat.  Alhamdulillah perjalanan di tol tangerang cukup lancar, karena kami sengaja ngambil waktu sebelum bubaran kantor.  Rupanya perjalanan dari pintu keluar tol ke lokasi cukup jauh, melewati pemukiman padat, perkampungan, melalui jembatan kecil, dan akhirnya belok ke hutan.  Dibalik pepohonan yang aku bilang "hutan" itulah SMA Bina Putera didirikan, sehingga memang cocok dijadikan tempat Jambore.  Dalam keremangan menjelang magrib, tampak peserta dan panitia sedang menggelar plastik untuk shalat berjamaah dilapangan. 

Peserta jambore sekitar 200 orang, yaitu pelajar-pelajar SLTA se Jabodetabek yang mendapat beasiswa dari yayasan Baitul Mal BRI (YBM BRI).  Panitianya sekitar 25 orang, sebagian penerima beasiswa kader surau YBM BRI dan sebagian lagi mahasiswa biasa.  "Saya sengaja campur panitia dari mahasiswa kader surau dan mahasiswa umum biasa, agar acara lebih hidup" mas Iqbal menjelaskan.  "Takutnya, kalau dari kader surau semua, acara pengajian terus" candanya.

Setelah masuk waktu Maghrib, semua peserta berdiri bershaf-shaf untuk menunaikan sholat Maghrib dan Isya berjamaah.  Salah satu panitia dari kader surau tampil sebagai imam.  

Malam hari, ketika peserta Jambore sedang mendapatkan materi dari Ustadz Fadhlan Garamatan atau yang dikenal ustadz sabun mandi, yang banyak mengislamkan saudara-saudara di papua dengan pendekatan budaya, aku minta agar seluruh panitia berkumpul.  Kami masing-masing berkenalan, dan mendiskusikan misi yang harus dicapai dari kegiatan Jambore. Panitia dari kader surau adalah semuanya utusan kader surau yang kuliah di SEBI, sedangkan mahasiswa lainnya adalah teman diskusi mas Iqbal yang kuliahnya macam-macam, ada yang di UI, UIN, UNJ, dll.  Rata-rata kuliah semester IV.  

Yang aku ingat tiga orang di antara mereka adalah Giri yang paling dominan kalau sedang memimpin acara di depan peserta.  Iqbal (namanya sama dengan mas Iqbal) yang menjadi arsitek keseluruhan acara.  Terus ada Waraqah yang tidak begitu kelihatan perannya, tetapi setiap dia ngomong orang-orang pada tertawa.  Seperti pelengkap penderita, bagian di "gojlog" oleh semua panitia.  Dan dia cuma menanggapi dengan cengengesan.

Jam 03.30 dini hari, kami semua kembali berdiri di atas karpet plastik di tengah lapangan, untuk melaksanakan qiyamul lail berjamaah.  Udara dingin dini hari terasa menusuk tulang, walaupun telah dilapisi jaket.  Karpet plastik yang dijadikan alas sholat, terasa dingin menembus telapak kaki, rasanya karpet plastik tersebut tidak mampu melapisi ujung runcing dan dingin rumput gajah.  Demikian juga kantuk serasa menggelayut di ujung mata, karena baru tidur beberapa jam, setelah semalaman banyak acara.  Tapi aku coba kuatkan untuk ikut berdiri bersama seluruh peserta.

Ketika imam membacakan surat Al-Fatihah dan ayat-ayat lainnya yang aku tidak hafal karena diluar juz amma.  (hehehe, maklum biasanya surat yang dibaca juz amma terus, itupun surat-surat terakhir dan terpendek), rasanya kantuk, udara dingin, dan tusukan rumput gajah dingin di bawah kaki menjadi hilang.  Imam membaca ayat-ayat tersebut dengan sepenuh hati, tartil, dan serasa mengisi seuruh sudut rongga jiwa yang kosong.  Delapan rakaat qiyamul lail, tiga rakaat witir, dan dua rakaat sholat subuh, serasa membawa jiwa ini bertamasya, mengelilingi tempat-tempat terbaik yang bahkan belum terbayangkan.

Aku intip, siapa yang menjadi imam pagi itu ? tidak begitu jelas.  Dilihat dari posturnya pasti salah satu panitia, dan tentu kader surau dari SEBI pikirku.  Yang aku lihat, dia mengenakan kaos lengan panjang, dan dibagian depannya dibagi miring dua warna.  Dibawahnya warna terang dan atasnya warna gelap.

Acara senam pagi cukup kacau balau, Waraqah memimpin di depan dengan gerakan-gerakan yang tidak jelas, sekali-sekali kalau lagi gerakan tangan ke atas celananya hampir merosot dan diketawain semua orang, dan bahkan pemanasan yang biasanya dilakukan di awal, baru dilakukan ditengah-tengah setelah gerakan inti.  Rupanya tidak ada satupun panitia yang biasa memimpin senam pagi, akhirnya Waraqah yang memiliki peran "pelengkap penderita" lah yang disuruh tampil memimpin.  Aku perhatikan kaos yang dia pakai, kok seperti kaos imam tadi pagi ya ?  "Tapi tidak mungkin, anak seperti Waraqah menjadi imam sebaik imam tadi pagi.  Dia khan bukan anak SEBI" hati kecilku berbisik.  Karena penasaran, aku coba tanya pada salah satu panitia.  Dan......benar.....ternyata Waraqah lah yang menjadi imam tadi pagi.

Rupanya dibalik keceriaan, kepolosan, kekacauan pakaian dan gaya rambut, serta ketidak-terbatasan canda, mereka adalah para penghapal al-quran.  Mas iqbal menunjukkan "tuh pak, yang sedang membagi-bagikan nasi itu sudah hapal 30 juz, itu juga yang bercelana pendek hapal 30 juz, yang itu yang badannya gemuk baru 25 juz".......Deg....hatiku terasa kena tonjokan.

Aku coba lihat diriku, jangankan hapal al-quran 30 juz.  Hapal juz 30 saja enggak (eh...belum kali).  Aku coba hitung-hitung, rasanya kok jumlah hapalan suratku paling sejumlah jari-jari tangan dan kakiku.  Padahal tadi malem aku "merasa" lebih hebat dari mereka.  Karena secara duniawi, aku khan yang menyelengarakan acara ? mereka hanya panitia.  Sepertinya aku lupa bahwa dimata Tuhan, yang dilihat hanya dari sisi ketaqwaan.  Orang yang paling mulia adalah orang yang paling taqwa.

Bagaimana dengan Anda ? Apakah seperti aku atau seperti Waraqah.  Kalau masih seperti aku, mari kita sama-sama niatkan untuk mulai menambah hapalan al-quran.  Kapan mulainya ? ya sekarang.  Khan udah tua ? Apalagi kalau mulai besok, pasti lebih tua.


(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 08 Juli 2013

ABDULAH DAN ATIKAH

Suara anaknya "Abdullah" dan menantu baru nya "Atikah" terdengar  oleh orang tua itu ketika sedang berjalan menuju mesjid melalui halaman rumah Abdullah.  Dipikirannya terbersit, kok Abdullah belum siap-siap sholat dhuhur ya, padahal sebentar lagi waktu adzan akan tiba.  Sebagai orang tua cukup mafhum, maklum pengantin baru.  Akhirnya orang tua itupun berjalan sendiri ke mesjid, dan sholat tahiatul mesjid.

Sehabis salam, dia melirik ke belakang, "kok Abdullah belum juga datang ?" hati kecilnya berkata, mungkin sekarang sedang bersiap-siap.  Lalu orang tua itupun berdzikir menunggu waktu sholat dhuhur.

Setelah waktunya tiba, Adzan dhuhur dikumandangkan muadzin sampai selesai.  Jemaah sholat dhuhur sudah mulai penuh.  Lalu mereka masing-masing mendirikan sholat kobliyah dhuhur.  Orang tua itupun bareng bersama jamaah lainnya menunaikan sholat kobliyah.  Sehabis salam, kembali melirik ke belakang, mengamati jamaah yang ada dalam mesjid, rupanya Abdulah tidak tampak di dalam rombongan orang yang shalat.  Hingga akhirnya dikumandankan iqomat, dan semua jamaah menunaikan sholat dhuhur berjamaah.

Selesai shalat fardu berjamaah, kembali orang tua itu mencari-cari anaknya di antara rombongan jamaah shalat fardu.  Abdullah tetap tidak kelihatan.  Hingga selesai sholat ba'diyah dan selesai berdo'a, Abdullah tidak datang ke mesjid untuk sholat dhuhur berjamaah.

Dengan langkah gontai dan menahan perasaan duka serta marah yang mendalam, orang tua itu mengetuk pintu rumah anaknya setelah pulang dari mesjid.  Abdullah membukakan pintu, tampaknya mereka berdua baru selesai menunaikan sholat dhuhur di rumah.  Melihat raut muka orang tua yang biasanya penyabar tiba-tiba berubah menjadi tegang menahan amarah, Abdullah dan Atikah bergetar, menunduk, dan mereka langsung menyadari kesalahannya.  Lalu orang tua itu berkata dengan tegas dan tidak terbantah "Abdullah, kalau Atikah ternyata menjadi penghalang kecintaanmu kepada sang pencipta Allah SWT, maka sekarang juga ceraikan Atikah".

Abdullah berada pada posisi yang sulit, bertahun-tahun dia merindukan untuk dapat meminang Atikah.  Beribu lembar puisi telah ditulis untuk melukiskan keindahan yang akan ditempuh seandainya dia bisa hidup bersama Atikah.  Dan ketika impian itu baru saja terwujud, orang tuanya meminta menceraikan istri yang sangat dicintanya.  Tapi perkataan orang tua itu benar, dan Abdullah harus tunduk pada orang tuanya.  Orang tua tersebut adalah Abu Bakar Ashidiq, sahabat tercinta Rosulullah Muhamad SAW, yang juga menjadi Raja atau Khalifah.  Dengan sangat berat hati, dia ceraikan Atikah.

Ceritera ini berakhir happy ending, karena setelah seminggu kemudian, Abu Bakar melihat bahwa Abdullah menyesali perbuatannya meninggalkan sholat dhuhur berjamaah di mesjid demi menemani istrinya, maka beliau menyuruh anaknya untuk rujuk dengan Atikah.  Betapa taatnya orang-orang jaman dahulu menjalankan perintah Allah yang disampaikan oleh nabi dan rosulnya.  Betapa tegasnya orang tua mendidik anaknya agar selalu melakukan sholat berjamaah di mesjid bagi laki-laki.  Betapa konsistennya khalifah sahabat nabi, meneruskan dan melestarikan ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh sahabatnya nabi Muhamad SAW.

Dalam ceritera lain, di masa Umar bin Khatab menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar.  Ketika akan melantik gubernur yang ada di wilayahnya, maka pertanyaan yang Khalifah Umar sampaikan kepada masyarakat yang mengenal calon gubernur tersebut, kalau jaman sekarang mungkin seperti "fit and proper test" adalah "apakah dia selalu sholat berjamaah di mesjid ?".  Beliau hanya mau melantik gubernur yang sholatnya benar sesuai ketentuan.  Sebab, apabila ketentuan sholat yang telah diperintahkan agar dilakukan di mesjid bagi laki-laki saja telah dia langgar, maka sudah bisa dipastikan dia akan mampu dengan mudah untuk melanggar ketentuan-ketentuan yang lain.

Aku duduk terpekur di shaf kelima berjejal diantara ratusan orang yang duduk di lantai parkir basement P-4 Plaza Indonesia.  Berada sekitar 20 meter dibawah permukaan jalan Thamrin, memanfaatkan celah antara akar-akar beton penahan gedung pencakar langit yang menjulang 100 meter lebih ke langit.  Mendengarkan khutbah jum'at yang disampaikan khotib tentang ceritera Abdullah di atas.

Mari kita merefleksikan diri.  Tidak perlu melihat orang lain.  Lihat diri kita sendiri, lalu lanjutkan ke anak-anak yang menjadi tanggung jawab kita.  Lalu teruskan ke anak buah yang juga menjadi tanggung jawab kita.  Berapa kalikah pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah setiap hari ?  Berapa luaskah ruangan mushola yang ada di kantor kita ? Berapa luaskah ruangan mesjid yang dibangun sebuah gedung perkantoran atau mal ?  Apakah adzan selalu berkumandang dari tempat tersebut setiap datangnya waktu sholat ? Apakah tempat sholat tersebut telah terisi penuh oleh jamaah ?  Apakah kita telah rela meninggalkan sejenak kesibukan memenuhi panggilan Allah ?

Jangan-jangan ritme kita masih mengikuti lagu qasidah yang didendangkan untuk menyindir "Subuh kesiangan, Dhuhur kesibukan, Ashar kecapean, Magrib perjalanan, Isya ketiduran".  Ya Allah, ampunilah hambamu ini.  Hamba bukan ahli ibadah yang layak dapat surga,  tapi hamba takut dan gak akan kuat di neraka.  Oleh karena itu hamba mohon pertolonganMu mohon keridhoanMu. Amin.


(salam hangat dari kang sepyan)