Tahun 80-an, aku dibuat tercengang-cengang oleh tayangan pertelevisian swasta yang sangat menghibur, sangat variatif, dan kelihatan elegan serta gaul. Tidak seperti tayangan TVRI sebagai satu-satunya siaran televisi yang ada pada waktu itu. RCTI dan SCTV membawaku ke alam lain, musiknya hebat, jauh lebih hebat dan sering dibandingkan dengan aneka ria safari besutan Eddy Sud yang biasanya hadir di TVRI. Iklannya pun bagus-bagus, ada tayangan dari luar negeri, ada film yang relatif baru, sinetron berseri baik buatan dalam negeri maupun produksi luar negeri yang telah di ganti audionya. Si Doel anak sekolahan, Tersanjung, dan banyak judul-judul sinetron lainnya, yang selalu aku tunggu-tunggu jam tayangnya. Menggantikan dongeng dari radio yang sebelumnya biasa aku tunggu.
Akhir 90-an, aku kembali dibuat tercengang dengan hadirnya televisi swasta yang siaran utamanya adalah berita. Betapa kami terkaget-kaget melihat siaran langsung baik perang ataupun bencana. Kami merasakan desingan peluru pak polisi waktu mahasiswa-mahasiswa dilibas di Semanggi, dan kami serasa menjadi aktifis ketika melihat tayangan mahasiswa menduduki gedung MPR DPR senayan. Kami dirumah ikut memberikan semangat kepada pak Amien Rais, bu Megawati, dan Gus Dur, mendengarkan langsung pidatonya. Kami merasakan kemasygulan pak Harto ketika sedang menyerahkan kekuasaan kepada pak Habibie. Kami merasakan besarnya air bah akibat tsunami yang terjadi di Banda Aceh, bahkan rasanya bau bangkai ribuan korban jiwa-pun hadir ke beranda rumah.
Rupanya manusia itu makhluk yang disatu sisi sangat senang status quo, tidak mau berubah. Tetapi di sisi lain merupakan makhluk yang cepat bosan, senang mengkiritk keadaan saat ini, dan tidak ada puasnya. Tapi rupanya, kedua sisi itulah yang membuat peradaban manusia semakin maju.
Akhir-akhir ini, mulai banyak gugatan pada siaran televisi yang katanya tidak mendidik, membodohi, menyuguhkan kekerasan, ngawur, cuma cari untung, memihak, alat propaganda, dan lain-lain stigma buruk. Siaran televisi sudah menjadi "teror" kehidupan. Ada gerakan yang meminta seluruh warga tidak boleh nonton TV mulai magrib sampai isya. Walaupun aku gak yakin apakah gerakan ini ada pengikutnya ? apakah gerakan ini keberlangusungannya terus menerus ? atau hanya sesaat ? Namun ada juga beberapa temen yang sudah sangat muak dengan siaran TV saat ini, memutuskan untuk memasukan TV pada kotaknya, dan memilih hidup tanpa memiliki TV. Namun entah sampai kapan mereka bisa bertahan.
Aku termasuk di golongan orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu ekstrim. Memang kadang-kadang aku juga sepakat dengan orang yang memberi 'stigma' negatif. Tetapi menurutku tidak negatif-negatif amat, diantaranya masih ada yang positif. Bahkan masih ada acara yang aku tunggu-tunggu yaitu Nez-Academy yang diasuh oleh Agnes Mo, tayangan Net TV. Sebuah statsiun TV baru, yang menurutku formatnya agak berbeda dengan statsiun TV lainnya. Mungkin karena baru jadi masih segar, belum membosankan seperti yang lainnya.
Nez-Academy adalah sebuah ajang pencarian bakat, hampir sama seperti Indonesia Idol, X factor, Akademi Fantasi, dan lain-lain. Cuma beda sedikit-sedikit, di poles-poles. Misalnya tidak seluruhnya hanya bakat nyanyi, tetapi juga ada yang bakat tari bahkan ada yang bakatnya menirukan suara-suara musik. Ada tokoh sentral juri atau Kepala Sekolah yaitu Agnes Mo, yang sekaligus menjadi nama acara (Nez), sehingga dia lah yang berhak men 'drop out' peserta. Memang karena namanya Academy, maka dibuat seperti sekolahan, ada guru-guru, ada pelajaran, dan akhirnya membuat pertunjukan yang ditayangkan (yang biasanya aku tunggu-tungu) dianggap sebagai ujian ('exam').
Pemberian nilai dari penonton atau pemiarsa dilakukan bukan dengan cara 'kuno' seperti sms dan telepon, tetapi menggunakan twitter dan google plus. Dan yang paling banyak mendapatkan komentar di twitter, maka dia dapat previllage. Misalnya jaminan tidak di drop out untuk minggu depan, atau mendapat previllage memilihkan lagu buat temannya.
Barsena adalah salah satu kandidat dari Bandung dengan talenta luar biasa, suaranya bagus, musikalitasnya hebat, serta pandai maen piano. Dua minggu lalu dia mendapat previllage untuk memilihkan lagu buat temannya. Dan dia memilih salah satu temannya yaitu Keke kandidat dari Bali sebagai saingan terberatnya yang dipilihkan lagu. Lagunya dicari lagu yang cukup sulit, baik lirik maupun nadanya. Aku pikir, memang sangat wajar. Dalam sebuah persaingan, ketika kita diberikan kesempatan untuk 'membunuh' saingan, maka kesempatan itu harus digunakan sebaik-baiknya. Agar jalan kedepan bisa lebih leluasa.
Namun sayang Barsena......ternyata Keke mampu menjawab tantangan itu. Penampilan Keke dengan memgusung tema teaterical, bergerak dan bernyanyi seperti boneka, mampu memukau seluruh juri dan penonton, termasuk aku. Bahkan setelah lagu berakhir, Agnes Mo sang kepala sekolah memberikan 'standing applaus' yang menunjukkan dia puas dengan penampilan anak didiknya. Sebuah ancaman, dihadapi dengan serius oleh Keke, sehingga bisa berubah menjadi sebuah kesempatan. Begitulah memang dunia. Apalagi ini adalah arena perlombaan.
*******
Entah dalam acara apa, keesokan harinya ada sebuah berita, tapi berita ringan saja membahas tentang tayangan Nez-Academy malam sebelumnya. Diberitakan ada dua orang yang di drop out dan ada wawancara dengan Keke membahas persiapan penampilannya. Dalam kesempatan tersebut Keke mengucapkan terima kasih pada Bersena. Setelah Bersena memberikan tantangan, dia selalu memeberikan support pada Keke, melakukan diskusi dan memberikan masukan agar menghasilkan penampilan yang baik. Bahkan setelah malam-malam menjelang pagi selesai latihan, Bersena masih mau menambah melatih Keke di rumah dengan bermain piano menemani Keke latihan. Betapa indah persaingan yang mereka pertontonkan. Terus terang, berita itu membuatku terperangah.
Kembali aku teringat tulisan tahun lalu (bulan Mei tahun 2012) tentang 'blue ocean strategy'......tidak semua orang bersaing dengan menghalalkan segala cara......jadi, marilah kita belajar dari mereka.....termasuk belajar dari anak-anak muda seperti Bersena dan Keke.
Terminal 3 Soeta, 4 Desember 2013
(salam hangat dari kang sepyan)
Senin, 09 Desember 2013
Senin, 25 November 2013
NASIB DAGING QURBAN
Qurban adalah sebuah moment yang
ditunggu-tunggu, oleh tetangga kami terutama yang tinggal di daerah gang
tembok. Yaitu sekitar seratusan kepala
keluarga yang mendirikan bangunan liar di atas tanah kavling yang belum
dibangun oleh pemilik kavlingnya. Benar
sekali apa yang disampaikan para ustadz, bahwa tidak semua orang memiliki rezeki
yang cukup bahkan melimpah sehingga dapat memilih makan daging kapan saja. Tetapi bagi Surni, Umi, Keri, Eha, dan
lain-lain, qurban artinya mereka bisa mencicipi makan enak, bisa masak dan
menghidangkan daging hangat ke tengah-tengah keluarganya.
Menjelang datangnya hari raya Idul Adha, mereka melakukan investigasi di tempat mana
saja dilakukan pemotongan hewan qurban, berapa jumlah hewan qurban yang telah
terkumpul, jam berapa motongnya, bagaimana sistim pembagian dagingnya, kemana
mencari kupon, bagaimana agar bisa melakukan trik bolak-balik ngantri. Mereka analisa dan diskusikan dengan
membandingkan cara-cara yang telah ditempuh panitia qurban sebelumnya untuk
mencari celah agar bisa mendapatkan daging qurban sebanyak-banyaknya. Strategi dipasang, anak-anak dan suami
disebar sehingga bisa antri di beberapa
tempat sekaligus.........makanya kami sebagai panitia qurban selalu kewalahan,
karena rupanya ada perlombaan trik antara panitia qurban dan pihak penerima
qurban.
Sore setelah selesai hari raya,
masing-masing anggota keluarga membawa satu, dua, bahkan lima plastik bagian
qurban yang umumnya berkisar antara 200 gram sampai satu kilogram. Bercampur ada daging, tulang, lemak, jeroan,
kaki, dll. Jeroan dan tulang segera
dimasak, sedangkan dagingnya dikumpulkan agar bisa dikonsumsi di hari-hari
mendatang. Jaman ibuku dulu diawetkan
dengan cara dijemur yaitu dibuat dendeng, tetapi sekarang lebih banyak yang
mengawetkan dengan cara yang praktis yaitu disimpan di freezer dibuat daging
beku. Masalahnya adalah, mereka tidak
memiliki kulkas ???
Aku tahu hal tersebut karena mendadak dalam
kulkasku pada bagian atas untuk membuat es batu, kok jadi ada plastik
daging. Istriku bilang itu adalah
titipan daging tetangga yang suka bantu-bantu ngebersihin rumah dan
mencuci. Rupanya mereka memanfaatkan
freezer tetangga kenalan atau majikannya untuk mengawetkan daging qurban. Bukan ditempat aku saja, tetapi di sebar di
beberapa tempat lainnya.
Umumnya tetanggaku yang tinggal di gang tembok merangkap menjadi buruh cuci di dua atau tiga majikan
sekaligus.
Kejadian menggelikan sekaligus mengharukan
adalah ketika ada diantara daging mereka yang hilang. Kebetulan dititipkan di salah satu majikan
yang memiliki isteri dua. Rupanya
suaminya tidak tahu bahwa daging yang di kulkas rumahnya bukan miliknya, tetapi
hanya daging titipan tukang cucinya Malam-malam dia
ambil daging tersebut untuk dimasak di rumahnya yang lain.......ini hanya
dugaan, karena kejadian sebenarnya tidak pernah terungkap. Yang jelas, ketika
pagi harinya si empunya daging memeriksa kulkas, betapa terkejutnya dia karena
dagingnya hilang. Ditanya sama ibu yang
punya rumah dia jawab enggak tahu......mau nanya sama suaminya, takut bertambah
ribut.........jadi akhirnya terpaksalah dia terima nasib. Nasib untuk tahun ini cukup menikmati sop
tulang dan jeroan.
Dengan nada masygul dia ceritera kejadian
tersebut ke istriku "untung aja bu, si bocah kemaren maksa pingin makan
sate. jadi sebelum daging dititipkan
kami ambil sedikit untuk dibuat sate.......jadi kami bisa mencicipi dagingnya,
bukan hanya makan 'balung' tok".........."namanya belum rezeki"
kata istriku sambil menyelipkan lembaran kertas warna biru untuk dibelikan daging
ke warung sekedar penghibur untuk mengganti sebagian daging yang hilang untuk
anaknya.
Jadi jangan anggap daging qurban kita
sia-sia. Jangan anggap tidak ada orang
yang menantikan sedekah qurban kita.
Jangan karena merasa tahun lalu sudah qurban jadi tahun ini tidak perlu
qurban, karena ada kepentingan lain yang menurut sudut pandang kita
mendesak. Tapi ingatlah di setiap rezeki
yang kita dapatkan ada haknya orang miskin.
Telah diperintahkan kepada orang yang mampu untuk melakukan qurban, maka
laksanakanlah.......jangan ditunda-tunda.
Jangan sampai menyesal ketika akhirnya kita tidak diberikan keluasan
rezeki karena tidak amanah.........hehehehe.......koq jadi menasehati......jadi
gak enak........maaf.....maaf......maaf.
(salam hangat dari kang sepyan)
Senin, 18 November 2013
PELAJARAN DAMRI BANDARA
Sudah
beberapa hari ini rasanya ngantuuuk terus, mungkin kurang tidur pikirku. Sehingga dalam rencana perjalanan ke Banda
Aceh kali ini, sudah dijadwalkan untuk nambah waktu tidur di bus Damri dari
Bekasi ke Soekarno Hatta. Kebayang khan macet, kayanya lumayan
bisa dapat waktu tidur bersih sekitar 90 menit.
Setelah beli karcis di counter, segera aku cari tempat dipertengahan bus
sekitar jajaran ke 6 dari depan pinggir jendela, dengan pertimbangan lebih
sedikit orang lewat yang dapat mengganggu rencanaku. Lalu mataku aku merem-meremkan.
Aku
terbangun ketika kondektur bus memeriksa karcis di daerah pintu tol bekasi
barat. "Hoaaaaaaaaaamm"
terpaksa deh aku break tidurku yang baru berjalan sekitar 15 menit. Disebelah telah terisi penumpang Bapak-Bapak
yang kutaksir usianya sekitar 60-an, tinggi diatas 170 cm, dan penampilannya
tampak rapi dengan celana jeans serta kaos berkerah. Dari logatnya serta tujuannya ketika dia
menjawab pertanyaan kondektur, aku dapat memastikan bahwa Bapak tersebut
berasal dari Tapanuli Utara. Ketika
giliranku di tanya sang kondektur, aku jawab mau ke Sumatera jadi turun di
1B......hehehe ketahuan deh cari maskapai penerbangan yang murah......., aku dahuluin
tugas kondektur yang setelah penumpang menjawab tujuan biasanya dia akan menyebutkan terminal tempat kita
berhenti.
Mungkin si Bapak sebelah agak
aneh dengan caraku menjawab, kok enggak bilang mau ke kota mana ? Setelah
kondektur berlalu dan aku bersiap merem, dia bertanya "ke Sumateranya mau
kemana pak ?"
"Mau
ke Banda Aceh pak" jawabku pendek, maksudnya sih mau neruskan jadwal tidur
jadi menghindari keterusan ngobrol.
Eeeeeh.....rupanya
si Bapak melihat bahwa ada kemungkinan satu pesawat, jadi dia terus tanya lagi
"berarti transit di Kualanamu ya ?"
Aku
jawab pendek juga "enggak pak, pesawatnya langsung tidak transit".
"Waktu
dulu saya masih bertugas, tidak ada pesawat yang langsung ke
Aceh.......bla....bla....bla...." si Bapak rupanya belum tahu daftar
"Jadwalku" jadi terus saja
asyk ngajak ngobrol. Sampai akhirnya aku tahu rupanya kita pernah tetanggaan,
rupanya belaiu lah orangnya yang terkenal menjadi tuan tanah di komplek
perumahanku, sampai punya 12 kavling. Ya
sudah, kepalang tanggung aku 'cancel' deh jadwal tidurnya.
Dia
ceritera bahwa ketika dahulu keluar SMA, Bapaknya bilang "karena kau anak
pertama, jadi harus segera bekerja agar ketujuh adikmu bisa terurus"
maksudnya tidak ada biaya untuk meneruskan kuliah. Dititipkannyalah pada om-nya yang menjadi
Kasatserse di daerah Langsa untuk dicarikan pekerjaan yaitu bekerja di
pertambangan minyak di hutan pedalaman Aceh.
Selama dua tahun si Bapak bekerja mencari bekal hidup. "Karena saya tidak merokok dan juga
karena tidak ada yang bisa di beli, maka lumayan irit saya hidup disana,
sehingga hampir seluruh gajinya di tabung" demikian dia ceritera masa
mudanya. Dari hasil tabungan itulah dia
bisa meneruskan kuliah dan akhirnya pergi ke Jakarta dan menjadi pejabat pemda
DKI.
Memiliki
empat anak dua laki-laki dan dua perempuan, dan semuanya cukup sukses. "Walaupun keadaan saya lebih baik di
banding orang tua saya dulu, tapi saya tetap mengajarkan pada anak-anak saya,
agar bisa mandiri sebagaimana saya waktu muda" demikin dia menyampaikan
prinsip dalam mendidik anak. Sehingga
rata-rata anak saya sekolahnya mendapatkan beasiswa. Dua anak perempuannya sekolah ke luar negeri
dengan beasiswa penuh, dan mendapatkan suami bule. Yang satu tinggal di Amerika bersuami orang Amerika dan yang satu
lagi tinggal di Kanada bersuamikan imigran asal Prancis. Sedangkan kedua anak laki-lakinya ada yang
alumni STAN dan sekarang berkarir di Departemen Keuangan, dan satu lagi alumni
UI yang kerjanya pindah-pindah, sudah delapan perusahaan, terakhir di Axa
Mandiri.
Termasuk
orang tua yang sangat berhasil pikirku, apalagi ketika dia juga ceritera
tentang bisnis tanahnya yang selalu untung berlipat-lipat, baik di daerah
Bekasi dari beli harga Rp.15.000 per meter sekarang sudah mencapai Rp. 3
juta. Demikian pula dengan investasi di
tempat lain seperti daerah Cikarang - Cibarusah maupun dekat bandara Kualanamu.
Bikin ngiler saja.
Namun,
ketika berbicara tentang anaknya yang hidup di luar negeri, ada nada kepedihan
yang kutangkap. "Menantu saya itu
tidak percaya agama ?" katanya.
Demikian pula dalam hal menghormati orang tua, ketika sudah jauh-jauh kami yang tua ini datang dari Indonesia ke Amerika, menantunya cuma jabat tangan mengucapkan
selamat datang, lalu balik masuk kamar lagi meneruskan maen game. Mungkin karena perbedaan budaya, sepertinya
tidak ada kemesraan hubungan antara orang tua dan anak.
Pernah suatu saat di ajak ke tempat orang tuanya (besan), harus membuat jadwal dulu. Setelah jauh-jauh datang, mereka langsung ngajak makan di restorant, lalu setelah makan salaman dan pulang. Seperti hubungan bisnis saja. "Saya pikir, karena waktu berkunjungnya harus janjian dulu, mereka akan masak menyiapkan makanan untuk kami....hehehe" kata si Bapak terkekeh.
Lebih jauh si Bapak berceritera bahwa berdasarkan pengamatannya, rasa individual menantunya termasuk juga anaknya sekarang menjadi semakin menonjol. Dalam hal pengelolaan keuanganpun, walau mereka suami isteri, mereka melakukan pengelolaan keuangan yang terpisah. Ketika pergi ke mal dan membeli suatu barang, maka mereka masing-masing akan membayar masing-masing sesuai yang mereka ambil. Makanan di rumahpun masing-masing telah memiliki jatah. "Jadi kalau di kulkas ada makanan jatah menantu saya misalnya roti, maka saya tidak boleh mengambilnya" demikian si Bapak memberikan tambahan ilustrasi.
Pernah suatu saat di ajak ke tempat orang tuanya (besan), harus membuat jadwal dulu. Setelah jauh-jauh datang, mereka langsung ngajak makan di restorant, lalu setelah makan salaman dan pulang. Seperti hubungan bisnis saja. "Saya pikir, karena waktu berkunjungnya harus janjian dulu, mereka akan masak menyiapkan makanan untuk kami....hehehe" kata si Bapak terkekeh.
Lebih jauh si Bapak berceritera bahwa berdasarkan pengamatannya, rasa individual menantunya termasuk juga anaknya sekarang menjadi semakin menonjol. Dalam hal pengelolaan keuanganpun, walau mereka suami isteri, mereka melakukan pengelolaan keuangan yang terpisah. Ketika pergi ke mal dan membeli suatu barang, maka mereka masing-masing akan membayar masing-masing sesuai yang mereka ambil. Makanan di rumahpun masing-masing telah memiliki jatah. "Jadi kalau di kulkas ada makanan jatah menantu saya misalnya roti, maka saya tidak boleh mengambilnya" demikian si Bapak memberikan tambahan ilustrasi.
Diakhir perjalanan menjelang sampai Bandara, dengan
mata seorang kakek yang rindu akan cucunya, dia berceritera dan menirukan bahwa
cucunya sekarang sedang belajar nyanyi......."chi cha chi cha
dididing......habbbp lalu ditangkap" lagu anak-anak Indonesia.......sebelum turun si Bapak sempat berpesan "kalau bisa....usahakan dapat menantu orang
Indonesia saja".......sebuah pesan yang sangat dalam, yang disampaikan dari
sebuah pengalaman yang sangat muahhhaaalllll.
(salam hangat dari kang sepyan)
Jumat, 08 November 2013
BUBUR AYAM LANDMARK
Hari ini adalah untuk ketiga kalinya aku ngantri
bubur ayam yang mangkal di depan gedung kantor, setelah 10 bulan lalu kantorku
pindah ke daerah Dukuh Atas yaitu di gedung Landmark tower B. Entah sekarang berapa menit waktu tunggu yang
dibutuhkan untuk dapat menikmati semangkuk bubur ayam panas. Kali pertama aku ngantri bubur ayam, waktu
tunggu sekitar 10 menit. Begitu aku
kelihatan bengong-bengong melihat orang berjubel, tiba-tiba ada seorang asisten
tukang bubur yang bertanya mau pesan apa dan mempersilahkan aku duduk di salah
satu bangku plastik hijau yang kebetulan kosong. 10 menit kemudian sang asisten
tadi menyodorkan semangkuk penuh bubur.......yum...yum..yummy.
Kali kedua dengan 'pede' aku mencari bangku yang
kosong, dan setelah dapat tempat duduk aku panggil sang asisten tukang bubur
yang sekali-sekali lewat untuk mengambil mangkuk-mangkuk kosong. Namun kali ini sang asisten berbeda orangnya
dengan asisten yang terdahulu. Aku
tunggu-tungu sampai lebih 15 menit bahkan 20 menit, bubur tak kunjung datang
dan sang asisten gak muncul-muncul.
Karena tidak sabar dan tidak jelas, terpaksa aku ikut merangsek ke
kerumunan orang-orang yang mengelilingi tukang bubur. Ketika tukang bubur sedikit melirik, segera
kumanfaatkan situasi itu dengan memesan menggunakan intonasi nada protes karena
sudah lama menunggu dan belum dilayani.
Total waktu tungguku meningkat menjadi 30 menit lebih. Untung aku datang
pagi, jadi waktunya masih longgar walaupun harus terpotong sekitar 45 menit
untuk ngantri dan makan bubur.
Untuk kunjungan ketiga ini, aku gak mau kejadian
lalu terulang. Datang ke lokasi, segera
aku menyelinap ke bagian belakang roda atau ke belakang punggungnya tukang
bubur. Rupanya daerah ini yang agak
longgar sehingga memudahkan akses untuk pesan langsung ke tukang bubur. Setelah
pesan diterima sang tukang bubur, baru aku mencari tempat duduk yang
kosong. Waktu tunggu yang dibutuhkan
kira-kira 15 menit. Cukup kenyang, Alhamdulillah.
"Bubur Ayam Landmark" kang Dadan Pramadi
karib kuliahku dulu men'share' photo semangkuk bubur dalam group BBM. Aku lihat
gambar mangkuk yang di alasi kertas coklat, didalamnya terlihat penuh berisi
accesories bubur seperti kerupuk warna oranye, emping, taburan suir ayam,
potongan cakue, taburan goreng bawang kering, semprotan kecap, dan sedikit
sambal kacang. Bubur ayam khas Cirebon,
memang tidak kelihatan warna buburnya, tetapi lebih dominan accesoriesnya.
Rupanya bubur ayam yang di depan Landmark tersebut merupakan salah satu tempat
pavorit untuk sarapan pagi di Jakarta dengan harga murah meriah. Satu mangkok Rp. 9.000 sedangkan bila
setengah mangkok Rp. 7.000, hehehe agak susah memang kalau dimasukan dalam
rumus matematika.
Dibawah jembatan menuju halteu busway Dukuh Atas,
atau bersebelahan dengan awal Jalan Jendral Sudirman ada jalan putaran menurun
untuk berbalik menuju arah pejompongan ataupun menuju kuningan. Kelihatannya putaran jalan tersebut salah
design, karena walaupun daerah tersebut cukup padat dengan antrian bus way,
tetapi tepat di sisi tebing bersisian dengan jalan Sudirman (bersebelahan
tetapi berbeda ketinggian sekitar 3 sampai empat meter, sehingga membentuk
tebing), terdapat jalan aspal yang jarang terjamah kendaraan. Dan, enterpreneur mikro, dengan jeli
memanfaatkan lokasi tersebut untuk mencari nafkah, apalagi pasar di depan
mereka terdapat dua tower gedung Landmark dengan masing-masing 30 lantai.
Berjejer roda-roda penjual makanan, berturut-turut
mulai tukang gorengan seperti cireng, bakwan, tempe, tahu, dan molen, terus
roda tukang mie ayam, lalu roda tukang ketoprak, disebelahnya lagi soto
lamongan, lalu ada roda yang menjual nasi uduk, lontong sayur, dan ketupat,
setelah itu baru roda tukang bubur Cirebon.
Disamping tukang bubur ayam tersebut masih ada roda tukang bubur kacang
ijo, dan sebuah kios semi permanen yang berjualan rokok dan sejenisnya. Terakhir ditutup dengan deretan tukang
ojeg. Di depan roda-roda mereka masih
tersisa lahan untuk parkir sekitar 5 buah mobil, dan sekitar 20 buah bangku
plastik warna hijau, tanpa sandaran.
"DEKENE WONK CIREBON" terpampang tulisan
warna kuning terbuat dari kertas yang bisa ditempel, yaitu ditempel per huruf
tepat diatas kayu bingkai jendela roda.
Sedangkan pada kacanya sendiri ditulis BUBUR AYAM dengan huruf warna
putih dengan pinggiran merah. Dua orang
berbadan cukup besar berdiri dengan tangan lincah tiada henti membuat bubur
pesanan. Roda bubur yang berukuran sekitar
satu sampai satu setengah meter, tampak
sesak tertutup kedua orang tersebut.
Didepan roda berjubel orang ngantri, dan satu orang pengantri rata-rata
beli lebih dari 3 porsi bubur untuk di bawa ke kantor. Bahkan ada yang beli sampai 10
porsi......nambah antrian aja.
Di antara deretan pedagang yang ada, tukang
buburlah yang paling rame.
Bila bukan orang yang berkantor di landmark banyak yang datang bawa mobil, ternyata bisa berkolburasi dengan tukang parkir. Tukang parkirlah yang membantu memesan dan membawakan mangkok bubur, sehingga bisa menikmati bubur di mobil sambil dengerin berita macet jalanan. Tentunya dengan tips tambahan ke tukang parkir. Namanya itu simbiosis mutualisma........jadi........silahkan mencoba.........yam.......yam.....yummy.
Bila bukan orang yang berkantor di landmark banyak yang datang bawa mobil, ternyata bisa berkolburasi dengan tukang parkir. Tukang parkirlah yang membantu memesan dan membawakan mangkok bubur, sehingga bisa menikmati bubur di mobil sambil dengerin berita macet jalanan. Tentunya dengan tips tambahan ke tukang parkir. Namanya itu simbiosis mutualisma........jadi........silahkan mencoba.........yam.......yam.....yummy.
Selasa, 29 Oktober 2013
PULAU AYER
Rasa dingin yang menggigit permukaan kulit
membuatku terbangun, kucoba memicingkan mata mengintip
sekeliling. Nampak bilah-bilah papan
kayu bercat coklat tua selebar 20 centi tersusun rapi, disangga dengan balok
kayu berukuran 15 x 15 dengan warna cat yang sama. Diluar terdengar bunyi air
bergemuruh.....otakku langsung mengolah kedua informasi tersebut yaitu udara
dingin dan bunyi air, pasti diluar hujan besar.
Perlahan kusingkirkan selimut dan aku bangun
untuk memastikan keadaan di luar, mengintip lewat jendela kaca yang berada
disebelah kanan tempat tidur.
Kusingkapkan gordeng warna kuning, diluar sudah gelap dan ketika aku
lihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 18.57.
Aku baru teringat bahwa seharusnya jam 19.00 malam kami kumpul untuk
makan malam, berarti aku tinggal punya waktu 3 menit untuk sampai ke
restoran. Padahal letak restoran cukup
jauh dari kamarku, mungkin sekitar 400 meter.
"sebentar lagi masuk waktu isya" pikirku. Udah tanggung kemalaman deh, mendingan nunggu
isya dulu di jama' sama magrib, biar nanti tenang. "tapi......, gak enak kalau telat
terlalu lama" pikiran lain mencoba mempengaruhi. Sejenak aku terombang-ambing, tapi akhirnya
aku putuskan untuk segera bergabung dengan teman-teman, sholatnya nanti saja
malam kalau sudah selesai acara. Tanpa
mandi, aku pake jaket dan syal untuk menahan udara dingin. Aku ambil juga payung yang telah disiapkan
hotel, lalu membuka kunci pintu keluar.
Begitu pintu dibuka, udara hangat cenderung
panas langsung menghampiri tubuhku.
Rupanya diluar tidak hujan, udara dingin mungkin dikarenakan dua buah ac
yang terpasang di bungalauku belum sempat aku stel tingkat kedinginannya, masih
dipasang dengan kedinginan maksimal.
Sedangkan suara air bergemuruh adalah suara ombak bercampur dengan deru
compressor ac dan cipratan ombak yang mengenai tiang-tiang kayu penyangga
bungalau,
Pulau Ayer adalah salah satu pulau yang
terletak di derah kepulauan seribu, memerlukan waktu 30 menit perjalanan dari
pantai Marina Ancol. Tidak ada penduduk asli di pulau, sehingga orang yang
berada di pulau tersebut kalau bukan wisatawan berarti pegawai hotel. Di kepulauan seribu memang ada beberapa macam
pulau, yaitu ada pulau yang berisi penduduk saja, ada pulau yang berisi
penduduk dan ada hotelnya, ada pulau yang tidak berpenghuni, dan ada pulau yang
sebelumnya tidak berpenghuni namun dibangun cottage-cottage sehingga akhirnya
berpenghuni namun hanya khusus wisatawan dan karyawan hotel, seperti halnya pulau
Ayer ini.
Cottage atau bungalau yang dibangun di pulau
Ayer secara garis besar terdiri dari dua macam, yaitu bungalau yang dibangun di
atas laut, dan bungalau yang dibangun di daratan. Ada 30 lebih floating cottage
atau bungalau yang didirikan di atas laut, dan ada lebih dari 20 bunglau
termasuk kamar hotel yang terletak di daratan atau disebut land cottage. Fasilitas lain yang ada seperti jogging track
sekitar 1,2 kilometer mengelilingi pulau, lapangan basket, lapangan volley
pantai, beberapa tempat outbond, kolam renang, restaurant, penyewaan sepeda,
ruangan karaoke, serta beberala fasilitas olah raga air seperti jet sky, banana
boat, dll.
Kalau mau datang ke Ayer sebaiknya bersama
keluarga, sehingga dapat menikmati suasana lain untuk penyegaran. Jangan seperti aku, walaupun berangkat sama
rombongan, namun karena cottagenya masing-masing dan saling berjauhan, rasanya
cuma pindah tidur doang.......hehehe bahkan cederung sereeeem. Pemandangan malam hari dari teras cottage memandang ke laut, belum habis tatapan mata
telah terlihat lampu-lampu di pantai Jakarta.
Tidak ada pemandangan lautan lepas.
Mungkin karena cottageku yang berhadapan dengan Jakarta, serta jarak pulau yang tidak begitu jauh dari pantai Marina Ancol.
Yang sangat merasa kehilangan adalah ketiga
pagi-pagi terbangun, tidak terdengar suara merbot memanggil saat tahrim atau
beberapa menit sebelum waktu sholat subuh tiba. Biasanya marbot di mesjid deket rumahku sudah mulai
membangunkan warga jam 04.00 pagi. Demikian pula ketika
datang waktu subuh, tidak terdengar suara adzan...dari mesjid Nurul Iman, yaitu
mesjid berukuran 6 x 10 meter yang berkarpet hijau, cukup terawat, terletak
dekat pintu mess karyawan. Kata pegawai
disana, memang adzan di pulau Ayer tidak pakai speaker......takut mengganggu ????? Astagfirullah.
Menemani kami lari pagi di jogging track,
sekitar 25 sampai 30 pegawai, baik laki-laki maupun perempuan kompak
menyapu seluruh daratan pulau dengan sapu lidi panjang. Sebagian ada yang membawa roda mengangkut
sampah-sampah yang dominan adalah berupa guguran daun tua. Tampaknya hampir
seluruh karyawan, diharuskan mulai kerja pagi-pagi sambil berolah raga dengan
menyapu mulai jam 5.30 sampai jam 6.30.
Pembersihan pulau bukan hanya harus dilakukan di daratan, rupanya juga
harus dilakukan di lautan yaitu di pantai yang menghadap ke Jakarta. Pantai yang kemaren sore aku amati cukup
bersih sehingga dasar pantai berwarna kuning terkena cahaya matahari jelas
terlihat, pagi ini berubah menjadi penuh sampah plastik berbagai jenis dan
berbagai warna. Bukti penduduk Jakarta masih suka buang sampah sembarangan......huh.
(salam hangat dari kang sepyan)
Sabtu, 12 Oktober 2013
BERKHIDMAT
Rasanya tinggi badanku lebih tinggi di banding dia. Rasanya besar tubuhku lebih besar dibanding dia. Dan rasanya usiaku juga lebih tua dibanding dia. Namun ketika siang itu setelah selesai sholat dhuhur berjamaah kami bertemu di salah satu ruangan yang diberi nama ruangan Khodijah, rasanya aku menjadi jauh lebih kecil dibanding dia. Itulah kira-kira gambaran yang aku rasakan ketika bertemu dengan Kiai Syukur, yang kesehariannya mengabdikan diri menjadi pengurus mesjid ad-dzikra (dahulu namanya mesjid Khadafi) di daerah Sentul Bogor.
Ruangan Khodijah cukup besar, merupakan ruangan terbesar diantara ruangan lainnya yang berada di lantai dasar mesjid. Cukup longgar menampung rombongan kami yang berjumlah 80 orang. Kala itu kami berkunjung kesana dalam rangka membawa wisata atau semacam studi banding 71 merbot binaan, setelah pada hari dan malam sebelumnya diberikan pembinaan di Pondok Wira Tapos, Bogor. Sekaligus melakukan penutupan acara silaturahmi kami dengan para merbot tersebut.
Dalam sambutannya Kiai Syukur berpesan kepada para merbot, agar jangan berkecil hati. Walaupun posisi merbot tidak tercantum dalam struktur organisasi DKM yang setiap hari masjidnya dia urus. Walaupun secara duniawi gaji merbot jarang ada yang memperhatikan, jarang ada yang memikirkan apakah keluarganya bisa makan ? apakah anak-anaknya bisa sekolah ? Tetapi percayalah bahwa gaji total merbot jauh lebih besar, tetapi sebagian besarnya akan dibayarkan di akhirat. Bayangkan kalau mengabdi menjadi merbot 40 tahun, ada berapa banyak tabungan yang telah tersimpan untuk bekal di akhirat.
Selanjutnya Kiai Syukur menekankan bahwa orang yang bekerja menjadi merbot pada dasarnya adalah mengabdi kepada Allah, berkhidmat kepada-Nya. Berkhidmatlah untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Rezeki tidak perlu besar yang penting berkah. Coba kalau dilihat dari jumlah gaji, apa mungkin merbot bisa naik haji ? Tetapi kenyataannya banyak merbot yang berkali-kali naik haji........Aku tatap muka-muka merbot yang ada dihadapanku, tampak muka tulus dan jiwa besar yang terpancar dari mata mereka dibalik kesederhanaan penampilannya. Dan......rasanya aku menjadi semakin kecil.
Orang-orang yang ada disekelilingku, selalu melakukan sholat berjamaah setiap waktu. Kalau mereka telah menjadi merbot 10 tahun tanpa terputus, berarti mereka telah sholat berjamaah terus-terusan tanpa terputus sebanyak 18.250 waktu sholat. Sedangkan aku, dengan dalih sibuk, perjalanan, nanggung, menunggu bos, kelewat, dan lain-lain, pernah berniat ingin sholat berjamaah di mesjid 40 waktu berturut-turut saja belum pernah kesampaian, kecuali waktu arba'in di Masjid Nabawi sekalian melakukan ibadah haji. Tetapi ketika berada di Indonesia, tempat dimana aku lebih lama menjalani kehidupan. Tempat aku menyimpan harta-harta dunia seperti mobil, rumah, tanah, pekerjaan.dll. Tempat orang tua, istri, anak, kerabat, dan tetangga berada. Aku menjadi tersibukkan. Dunia telah banyak merampas seluruh kehidupanku. Kata-kata "berkhidmatlah" menjadi sebuah tamparan yang telak.
Para merbot datang ke mesjid beberapa saat sebelum waktu sholat tiba. Dia menyiapkan tempat, memasang pengeras suara, bersih-bersih, dan setelah waktu sholat tiba mengumandangkan adzan. Sedangkan aku, kalaupun sekali-sekali pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah, datangnya selalu pas-pasan. Kalau terdengar adzan, baru aku siap-siap berwudlu, berpakaian, lalu berangkat ke mesjid. Hanya memburu sholat fardunya, itupun kadang-kadang masbuk. Seakan lupa perintah untuk melakukan sholat rawatib sebagai penghias sholat fardhu. Kondisi tersebut bukannya aku tidak tahu jadwal sholat, karena di Ipadku selalu terbuka laman jadwal waktu sholat. Bahkan HP-ku juga setiap waktu sholat selalu setia memberikan alarm. Bukan juga karena aku tidak memiliki jam, bahkan hampir diseluruh ruangan rumahku terpasang jam dinding. Jam tangan juga selalu melilit di tangan.
Hal tersebut terjadi karena hatiku yang kotor. Terlanjur mendahulukan dunia. Semua keberhasilan dan kesuksesan diukur dengan ukuran dunia. Seakan dengan setahun sekali aku memberi zakat pada mereka, yang sebenarnya adalah "kewajibanku" dan "hak mereka" rasanya sudah mampu mengimbangi amalan mereka. Biarkan mereka berkhidmat....lalu kita mencari duit.......lalu kita beli amalan mereka dengan memberikan hak mereka dan sedikit bersedekah.....selesai !!! Apakah memang seperti itu logikanya ?
Aku yakin jawabannya........Tidak !!!
Tidak perlu semua orang menjadi merbot, tetapi mari kita mencoba temanin merbot dengan datang ke mesjid sebelum waktu sholat. Mari kita mencoba melakukan arba'in yaitu minimal 40 waktu sholat berturut-turut sholat berjamaah di mesjid. Sekarang....ditengah kesibukan pekerjaan sehari-hari, jangan nunggu nanti setelah pensiun. Ada yang mau coba ?
(salam hangat dari kang sepyan)
Jumat, 04 Oktober 2013
MARBOTKU, HAFIDZ
Suasana di dalam aula gedung sangat meriah namun khidmat. Nampak deretan 50 kursi hitam yang diduduki oleh Marbot dari lima puluh masjid yang ada di sekitar Depok menjadi titik sentral. Tatapan optimis, muka sumringah, dan senyuman menghiasi hampir seluruh wajah para Merbot yang menggunakan seragam jas hitam dengan kerah sanghai, berpadu dengan celana serupa. Mengenakan peci warna putih model Arifin Ilham, dan dipundak kanan digantungkan sorban warna putih yang telah dilipat rapi. Dibagian depan sebelah kanan berderet kursi yang diisi oleh pejabat seperti Mentri Agama, Gubernur, Dirjen, Ustad- Ustad yang suka nongol di Televisi, serta pejabat-pejabat lainnya, didampingi oleh ketua dan beberapa wakil ketua YBM BRI.
Dijajaran belakang beratus-ratus kursi terisi penuh oleh pengurus DKM se-Jabodetabek, termasuk pengurus DKM tempat marbot tersebut bertugas. Juga dikerahkan santri-santri dari berbagai pesantren, mengisi seluruh ruangan dengan daya tampung seribu kursi. Dibagian sudut depan dibawah panggung sebelah kiri berseberangan dengan deretan kursi pejabat, rombongan wartawan dan kameramen dari seluruh statsiun Televisi, tengah siap dengan segala peralatannya guna mengabadikan acara. Tampak pula panitia acara yang sibuk hilir mudik disetiap sudut ruangan dengan seragam baju koko putih berpadu ornamen biru dan kuning.
Dibagian depan terdapat panggung yang lebar dengan lampu tepat menyorot pada sebuah podium yang diletakan di tengah-tengah panggung. Dibelakang panggung dihiasi backdrop bertuliskan "MARBOTKU, HAFIDZ" dibawahnya ditulis dengan huruf lebih kecil "Wisuda 50 Marbot binaan YBM BRI persembahan dari Kader Surau". Tidak terasa air mataku berlinang, rasanya aku masih ingat dengan detail kejadian dua tahun lalu ketika aku bersama teman-teman kader surau sedang melahirkan program ini. Ditengah malam yang dingin disalah satu ruangan Pondok Wira Tapos, Bogor.
Rapat pemaparan program yang akan diajukan yang seharusnya dapat dilaksanakan setelah Isya, harus mundur. "Ketika setelah ashar saya mencoba memeriksa, draftnya masih sangat mentah. Umumnya program-program yang diajukan tidak jelas, tidak nginjek bumi, dan tidak bisa diimplementasikan. Terpaksa saya melakukan bimbingan lagi dan memberikan tambahan waktu sampai jam 10 malam, untuk direvisi". Demikian mas Iqbal GM YBM BRI melapor saat kami ketemu makan malam. Ini adalah malam terakhir, karena itu kami bertekad harus menghasilkan program yang dapat dilaksanakan.
Hari Jum'at sampai dengan Minggu ini, kami melakukan pertemuan antara pengurus YBM dengan kader surau di Tapos. Merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang telah dilakukan tiga bulan lalu di Rancamaya, yaitu pencanangan Kader Surau sebagai relawan YBM BRI. Ini adalah sebagai salah satu upaya YBM yang tidak hanya terbatas memberikan uang beasiswa, tetapi juga memberikan bimbingan langsung, memotivasi sekaligus mengasah leadership mahasiswa binaannya, sehingga kelak dapat menjadi calon pemimpin bangsa yang dapat diandalkan. Kader surau adalah sebutan bagi 77 mahasiswa yang mendapat beasiswa penuh dari YBM BRI, bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi islam seperti Ibnu Khaldun, SEBI, Nurul Fikri, dan UIN.
Jam 10 malam aku dan mas Iqbal mulai menyimak usulan program yang disampaikan oleh empat kelompok, yaitu kelompok usaha, kelompok syiar, kelompok pendidikan, dan kelompok kesehatan. Benar apa yang dikatakan mas Iqbal, ketika kelompok usaha menyampaikan paparannya, yaitu akan membuat kelompok binaan bertani jamur, banyak sekali logika yang tidak nyambung baik dari segi implementasi maupun dari sisi anggaran dan ukuran keberhasilan. Jadi tepaksa mereka disuruh melakukan revisi kembali di ruangan lain. Dan kami minta kelompok kedua yaitu dari kelompok syiar untuk mempresentasikan programnya.
Merbotku, Hafidz. Demikia. judul program yang diajukan kelompok ini. "Keberadaan merbot di sebuah mesjid, tidak ubahnya seperti OB (office boy) di kantor. Kerjaannya hanya bersihin WC, ngepel, nyapu, menggulung karpet, mengunci pintu, serta adzan dan iqomah. Kecuali kalau tidak ada jamaah satupun, baru dia menjadi imam sekaligus menjadi makmum" demikian salah satu perwakilan kelompok memulai presentasinya. Anak yang melakukan presentasi berperawakan kurus tinggi dengan rambut kriting dipotong cepak, matanya besar tapi agak kedalam. Mengenakan kaos hitam yang kerahnya lebar dan dapat dinaikan ke atas menutupi kepala. Andai aku tidak tahu, bisa saja aku menyangka potongan seperti itu adalah potongan orang kena narkoba.
Kondisi merbot seperti itu dikarenakan penguasaan merbot akan hapalan al qur'an sangat minim. Oleh karena itu, kelompok ini membuat program akan mencari 50 merbot yang berada disekitar lokasi tempat mereka tinggal. Lalu dilakukan bimbingan hapalan al quran, dimana satu orang pembimbing akan menangani 5 orang merebot dengan lokasi yang tidak berjauhan. Pertemuan dilakukan 3 minggu sekali sehabis sholat ashar dengan durasi waktu 1,5 jam per pertemuan. Ketika aku tanya apakah mungkin mereka bisa hapal al qur'an padahal usia merbot rata-rata di atas 40 tahun bahkan ada yang sampai 70 tahun ? Dengan mantap dia menjawab "Al qur'an itu terdiri dari 604 halaman, dan umumnya setiap orang dapat menghapalkan satu halaman setiap hari. Sehingga waktu dua tahun yaitu sekitar 730 hari, sudah lebih dari cukup untuk memghapalkan al qur'an". Bahkan dia memberikan ilustrasi kalau anak kecil usia SD sampai SMP bisa menghapal al qur'an per hari antara 1 sampai 1,5 juz. Dia pernah membimbing seorang anak dengan durasi menghapal al qur'an hanya 25 hari.
Antara percaya dan tidak percaya. Tapi semua anggota kelompok yang presentasi, dimana mereka semuanya hafidz 30 juz, menyampaikan sikap optimisme mereka. Mereka bilang, menghapal al qur'an itu tidak sesulit yang dibayangkan. Aku hanya bisa bertatapan dengan mas Iqbal yang sama-sama coba mengkritisi usulan tersebut. Akhirnya kami minta sasaran antara, berapa juz minimal yan harus dihafal marbot agar mereka layak jadi imam ? dijawab minimal hapal 5 juz, dan untuk itu hanya diperlukan waktu sekitar 6 bulan. Mereka sendiri ditengah kesibukan kuliah yang akan langsung jadi pembimbingnya. Jam 00.30 hari Minggu dini hari, seluruh kelompok termasuk yang melakukan revisi telah selesai presentasi, dan semua peserta kembali ke kamar untuk istirahat.
**********
Ruangan aula yang khidmat dan megah, tiba-tiba menjadi ribut dengan suara speaker bertuit-tuit dan suara peluit. Ruangan mendadak terasa sempit dan gelap. Pikiranku berpindah-pindah antara berada di ruangan wisuda dan ditempat lain. Lalu aku mencoba konsentrasi pada suara ribut diluar. "Bangun......bangun.....bangun......saatnya qiyamul lail" demikian suara yang terdengar agak kurang jelas bercampur dengan bunyi tuit-tuit. Oppssss.......aku tersadar, bahwa aku saat ini berada di salah satu kamar pondok Wira. Rupanya semangat membuat merbot hafidz terbawa mimpi.
Setelah gosok gigi dan mengambil air wudhu, aku bergabung diatas karpet merah yang dipasang di tengah lapangan. Untuk bersama-sama qiyamul lail berjamaah. Dengan imam hafidz, salah satu mahasiswa kader surau. Ya Robb, Engkau yang menggerakan hati dan pikiran manusia. Mudahkanlah jalan kami, wujudkan mimpi kami. Amiiinnn.....kepadaMu kami bersujud.
Kualanamu, 30 September 2013
(salam hangat dari kang sepyan)
Dijajaran belakang beratus-ratus kursi terisi penuh oleh pengurus DKM se-Jabodetabek, termasuk pengurus DKM tempat marbot tersebut bertugas. Juga dikerahkan santri-santri dari berbagai pesantren, mengisi seluruh ruangan dengan daya tampung seribu kursi. Dibagian sudut depan dibawah panggung sebelah kiri berseberangan dengan deretan kursi pejabat, rombongan wartawan dan kameramen dari seluruh statsiun Televisi, tengah siap dengan segala peralatannya guna mengabadikan acara. Tampak pula panitia acara yang sibuk hilir mudik disetiap sudut ruangan dengan seragam baju koko putih berpadu ornamen biru dan kuning.
Dibagian depan terdapat panggung yang lebar dengan lampu tepat menyorot pada sebuah podium yang diletakan di tengah-tengah panggung. Dibelakang panggung dihiasi backdrop bertuliskan "MARBOTKU, HAFIDZ" dibawahnya ditulis dengan huruf lebih kecil "Wisuda 50 Marbot binaan YBM BRI persembahan dari Kader Surau". Tidak terasa air mataku berlinang, rasanya aku masih ingat dengan detail kejadian dua tahun lalu ketika aku bersama teman-teman kader surau sedang melahirkan program ini. Ditengah malam yang dingin disalah satu ruangan Pondok Wira Tapos, Bogor.
Rapat pemaparan program yang akan diajukan yang seharusnya dapat dilaksanakan setelah Isya, harus mundur. "Ketika setelah ashar saya mencoba memeriksa, draftnya masih sangat mentah. Umumnya program-program yang diajukan tidak jelas, tidak nginjek bumi, dan tidak bisa diimplementasikan. Terpaksa saya melakukan bimbingan lagi dan memberikan tambahan waktu sampai jam 10 malam, untuk direvisi". Demikian mas Iqbal GM YBM BRI melapor saat kami ketemu makan malam. Ini adalah malam terakhir, karena itu kami bertekad harus menghasilkan program yang dapat dilaksanakan.
Hari Jum'at sampai dengan Minggu ini, kami melakukan pertemuan antara pengurus YBM dengan kader surau di Tapos. Merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang telah dilakukan tiga bulan lalu di Rancamaya, yaitu pencanangan Kader Surau sebagai relawan YBM BRI. Ini adalah sebagai salah satu upaya YBM yang tidak hanya terbatas memberikan uang beasiswa, tetapi juga memberikan bimbingan langsung, memotivasi sekaligus mengasah leadership mahasiswa binaannya, sehingga kelak dapat menjadi calon pemimpin bangsa yang dapat diandalkan. Kader surau adalah sebutan bagi 77 mahasiswa yang mendapat beasiswa penuh dari YBM BRI, bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi islam seperti Ibnu Khaldun, SEBI, Nurul Fikri, dan UIN.
Jam 10 malam aku dan mas Iqbal mulai menyimak usulan program yang disampaikan oleh empat kelompok, yaitu kelompok usaha, kelompok syiar, kelompok pendidikan, dan kelompok kesehatan. Benar apa yang dikatakan mas Iqbal, ketika kelompok usaha menyampaikan paparannya, yaitu akan membuat kelompok binaan bertani jamur, banyak sekali logika yang tidak nyambung baik dari segi implementasi maupun dari sisi anggaran dan ukuran keberhasilan. Jadi tepaksa mereka disuruh melakukan revisi kembali di ruangan lain. Dan kami minta kelompok kedua yaitu dari kelompok syiar untuk mempresentasikan programnya.
Merbotku, Hafidz. Demikia. judul program yang diajukan kelompok ini. "Keberadaan merbot di sebuah mesjid, tidak ubahnya seperti OB (office boy) di kantor. Kerjaannya hanya bersihin WC, ngepel, nyapu, menggulung karpet, mengunci pintu, serta adzan dan iqomah. Kecuali kalau tidak ada jamaah satupun, baru dia menjadi imam sekaligus menjadi makmum" demikian salah satu perwakilan kelompok memulai presentasinya. Anak yang melakukan presentasi berperawakan kurus tinggi dengan rambut kriting dipotong cepak, matanya besar tapi agak kedalam. Mengenakan kaos hitam yang kerahnya lebar dan dapat dinaikan ke atas menutupi kepala. Andai aku tidak tahu, bisa saja aku menyangka potongan seperti itu adalah potongan orang kena narkoba.
Kondisi merbot seperti itu dikarenakan penguasaan merbot akan hapalan al qur'an sangat minim. Oleh karena itu, kelompok ini membuat program akan mencari 50 merbot yang berada disekitar lokasi tempat mereka tinggal. Lalu dilakukan bimbingan hapalan al quran, dimana satu orang pembimbing akan menangani 5 orang merebot dengan lokasi yang tidak berjauhan. Pertemuan dilakukan 3 minggu sekali sehabis sholat ashar dengan durasi waktu 1,5 jam per pertemuan. Ketika aku tanya apakah mungkin mereka bisa hapal al qur'an padahal usia merbot rata-rata di atas 40 tahun bahkan ada yang sampai 70 tahun ? Dengan mantap dia menjawab "Al qur'an itu terdiri dari 604 halaman, dan umumnya setiap orang dapat menghapalkan satu halaman setiap hari. Sehingga waktu dua tahun yaitu sekitar 730 hari, sudah lebih dari cukup untuk memghapalkan al qur'an". Bahkan dia memberikan ilustrasi kalau anak kecil usia SD sampai SMP bisa menghapal al qur'an per hari antara 1 sampai 1,5 juz. Dia pernah membimbing seorang anak dengan durasi menghapal al qur'an hanya 25 hari.
Antara percaya dan tidak percaya. Tapi semua anggota kelompok yang presentasi, dimana mereka semuanya hafidz 30 juz, menyampaikan sikap optimisme mereka. Mereka bilang, menghapal al qur'an itu tidak sesulit yang dibayangkan. Aku hanya bisa bertatapan dengan mas Iqbal yang sama-sama coba mengkritisi usulan tersebut. Akhirnya kami minta sasaran antara, berapa juz minimal yan harus dihafal marbot agar mereka layak jadi imam ? dijawab minimal hapal 5 juz, dan untuk itu hanya diperlukan waktu sekitar 6 bulan. Mereka sendiri ditengah kesibukan kuliah yang akan langsung jadi pembimbingnya. Jam 00.30 hari Minggu dini hari, seluruh kelompok termasuk yang melakukan revisi telah selesai presentasi, dan semua peserta kembali ke kamar untuk istirahat.
**********
Ruangan aula yang khidmat dan megah, tiba-tiba menjadi ribut dengan suara speaker bertuit-tuit dan suara peluit. Ruangan mendadak terasa sempit dan gelap. Pikiranku berpindah-pindah antara berada di ruangan wisuda dan ditempat lain. Lalu aku mencoba konsentrasi pada suara ribut diluar. "Bangun......bangun.....bangun......saatnya qiyamul lail" demikian suara yang terdengar agak kurang jelas bercampur dengan bunyi tuit-tuit. Oppssss.......aku tersadar, bahwa aku saat ini berada di salah satu kamar pondok Wira. Rupanya semangat membuat merbot hafidz terbawa mimpi.
Setelah gosok gigi dan mengambil air wudhu, aku bergabung diatas karpet merah yang dipasang di tengah lapangan. Untuk bersama-sama qiyamul lail berjamaah. Dengan imam hafidz, salah satu mahasiswa kader surau. Ya Robb, Engkau yang menggerakan hati dan pikiran manusia. Mudahkanlah jalan kami, wujudkan mimpi kami. Amiiinnn.....kepadaMu kami bersujud.
Kualanamu, 30 September 2013
(salam hangat dari kang sepyan)
Langganan:
Postingan (Atom)