Ini adalah kali kelima aku jalan lagi ke Denpasar, setelah delapan
tahun lalu, yaitu jamannya bom Bali kedua, aku sempat bekerja di
Denpasar hampir 15 bulan. Rasanya telah habis seluruh tempat wisata di
Bali aku jelajahi. Setiap jengkal pasir pantai seperti kuta, legian,
jimbaran, nusa dua, dream land, peti tenget, tanah lot, sampai lovina
telah aku akrabi. Demikian pula wisata gunung dan wisata daerah keramat
seperti besakih, trunyam, bedugul, kintamani, ubud, tirta empul,
sangeh, sampai ke daerah Negara maupun Karang Asem, telah aku datangi.
Jadi setiap datang ke Bali, tidak pernah terpikir olehku untuk membuat
agenda wisata lagi. Berangkat, kerja, langsung balik.
Dalam kedatangan kali ini, ada hal yang sangat berbeda. Dari atas
pesawat terihat jembatan panjang berliku-liku di atas laut. Rupanya Bali tengah
berbenah membuat jalan Tol di atas laut yang menghubungkan Bandara
Ngurah Rai dengan Benoa, Nusa Dua, serta Denpasar. Bandara juga sedang
dirombak total, besar-besaran menjadi bandara modern. Sayang masih
dalam masa pembangunan, jadi kami terpaksa harus muter-muter melewati
gang-gang untuk dapat masuk atau keluar Bandara.
Keluar bandara Ngurah Rai, aku melihat beberapa perubahan selain
pembangunan jalan tol. Rupanya sekarang Denpasar telah memiliki under
pass di sekitar patung Dewa Rucci atau yang dahulu di sebut Simpang
Siur. Alamat simpang siur bisa hilang kalau begini, karena persimpangan
tersebut menjadi tidak siur lagi. Saking berubahnya kondisi di sana,
sampai aku kebingungan mencari jalan sunset road. Melewati jalan tol,
tadinya aku berharap akan melihat ombak dari atas jembatan. Ternyata
entah karena air laut sedang surut atau karena ada perubahan
lingkungan. Yang terlihat adalah lumpur warna hitam dibawah jalan tol.
Mudah-mudahan bukan karena dibangun jalan tol yang menyebabkan
perubahan ekosistem pantai Bali.
*****
Waktu masih menunjukkan pukul 04.45 pagi wib, tapi nampak di luar sudah
mulai terang. Karena perbedaan waktu satu jam antara Jakarta dan
Denpasar, berarti sudah hampir jam enam pagi di Bali. Aku memang
sengaja tidak mengubah jarum jam tangan. Segera aku ganti baju dengan
baju olah raga dan jogging ke pantai Kuta. Banyak perubahan di sekitar
pantai. Akses yang dahulu tertutup dari garis pantai yang sejajar
dengan jalan pantai kuta ke kiri, sekarang telah dibuka, bahkan diberi
jogging track. Tampak beberapa bule sedang jogging, dari mulai pinggir
hotel Ina di Kuta bisa sampai ke depannya Centro bahkan terus sampai ke
pantai depannya hotel kartika plaza. Coca Cola bekerjasama dengan desa
Adat Kuta, telah membuka akses tersebut, terlihat dari prasasti yang
ditandatangani kedua belah pihak.
Demikian juga ketika sore hari tiba, pantai yang dipenuhi oleh bule
berpakaian minimalis, bukan hanya di kuta. Tetapi menyebar tanpa
terputus sampai ke legian, terus nyambung ke seminyak. Tempat yang
dahulu hanya terbatas sekitar satu kilometer sekarang telah berkembang
menjadi hampir lima kilometer. Sebuah kemajuan yang luar biasa yang
tentunya sangat menunjang perekonomian masyarakat bali, karena akan
menambah jumlah guide, sewa mobil, sewa motor, hotel, tukang pijat,
pedagang makanan, pedagang oleh-oleh, pengrajin, tukang tatto, dan
lain-lain.
Semakin penasaran
dengan kemajuan daerah wisata Bali, maka ketika ada waktu break sore
hari, aku minta sopir untuk mengantar ke Garuda Wisnu Kencana,
Dreamland, Uluwatu, dan lain-lain. Banyak sekali perubahan. GWK yang
dahulu sangat sepi, sekarang telah semakin ramai. Pada sore hari ada
pertunjukkan tari kecak dan legong. Sayang waktu luangku tidak terlalu
banyak, jadi aku gak sempat menonton tari kecak yang asli dimainkan
orang bali. Kalau aku nonton tari sekitar 2 jam, berarti tidak bisa
mengunjungi tempat lain. Perbedaan lain di GWK, yang dahulu gratis
sekaramg harus bayar tiket masuk, kalau gak salah tarifnya Rp. 50.000,-
per orang.
Dreamland yang
dahulu hampir 100% berisi bule amat sangat minimalis nongkrong, sekarang
bule yang ada hanya satu dua saja. Selebihnya turis domestik, dan
kesannya menjadi agak kotor. Untuk sampai ke lokasi pantai, kita
diangkut dengan mobil khusus dari pelataran parkir ke bibir jalan menuju
pantai. Sebagai imbalannya parkir mobil dikenakan tarif Rp. 15.000,-
sekali parkir.
Waktu mau naik
ke Uluwatu, sopir memberikan alternatif "Pak, sekarang ada pantai baru
yang sangat bagus, namanya pantai Pandawa. Kalau kita ke Uluwatu, maka
kita tidak bisa ke Pandawa karena akan terlalu malam". Memang
sopir-sopir di Bali, biasa seperti itu merangkap seperti guide.
Akhirnya aku setuju untuk mencoba mengunjungi pantai Pandawa yang
letaknya balik arah menuju arah nusa dua. Pertimbangan lain selain
ingin lihat wisata baru juga biar pulangnya lebih dekat ke Jimbaran.
Makan malam di Cafe Menega Jimbaran sambil melihat pesawat landing dan
take off, diiringi nyanyian meksikoan dari 6 pengamen dengan alat musik
komplit, sudah langsung kebayang lagi. Sejenak melupakan bahwa di Cafe
itulah, bom bali dua diledakan.
Jalan mulus beraspal hotmix, selalu begitu di setiap ruas jalan di
Bali. Mungkin karena tektur tanah dalamnya berkapur, sehingga tempelan
aspal cederung lebih tahan lama. Atau mungkin margin pemborong tidak
terlalu banyak dipotong jadi kualitas aspal bisa lebih bagus. Rupanya
pantai pandawa adalah pantai yang berada di bawah tebing, dan desa adat
disana telah membuka tebing tersebut sehingga mobil bisa memiliki akses
masuk ke pantai. Dikiri kanan tampak tebing batu karas hitam
berundak-undak dan berkelok-kelok. Nun di depan sana, hamparan laut
biru bersih terbentang. Ya Allah.....betapa indahnya ciptaan-Mu.
Setengah jam aku menikmati saat-saat matahari terbenam. Memandang laut
yang dipenuhi perahu kano. Ombaknya tenang dan dibawahnya batu karang
putih bercampur pasir putih. Seperti bermain perahu di kolam renang
super besar.
Aku puas-puasin
foto-foto, dari berbagai sudut dan berbagai arah. Dan aku setuju kata
Wiwit yang ikut seperjalanan denganku, bahwa pemandangan itu tidak bisa
dibungkus dibawa pulang. Tetapi harus dinikmati di tempat.
Jadi.......ayo kita ke Bali.
(salam hangat dari kang sepyan)
Minggu, 12 Januari 2014
Senin, 16 Desember 2013
SILENT MARKETING
Lomba agustusan di kampungku sangat meriah. Berbagai ajang perlombaan diadakan, mulai dari lomba yang serius seperti sepak bola dan bola voly, sampai lomba yang kurang serius seperti balap karung, lomba makan kerupuk, dan lain-lain. Untuk lomba yang serius dua minggu menjelang pertandingan telah dilakukan teknical meeting untuk mengundi dan menyepakati aturan permainan. Sedangkan untuk lomba yang main-main, aturan biasanya baru dibacakan oleh panitia menjelang pertandingan. Tapi pada dasarnya sama saja, bahwa para peserta lomba harus mengetahui dengan jelas aturan-aturan, bagaimana agar dia dapat memenangkan lomba dan mendapatkan hadiah.
Domba jantan dengan tanduk melengkung sebagaI hadiah untuk klub sepakbola yang jadi juara, dipertontonkan dipinggir lapangan. Menambah semangat peserta lomba. Demikian juga deretan piala berwarna emas serta tumpukan buku yang telah dibungkus kertas warna coklat, menjadi penyemangat lomba anak-anak seperti balap karung, kelereng dan makan kerupuk. Jadi agar perlombaan banyak peminatnya, maka panitia akan berusaha mensosialisasikan dan menunjukkan hadiah-hadiah tersebut pada peserta lomba. Sesuai dengan jenis perlombaannya.
Menurut Kang Gani, panitia agustusan di kampungku, kunci sukses penyelenggaraan agustusan yaitu memberitahukan kepada seluruh warga tentang diselenggarakannya acara agustusan yang menyediakan hadiah menarik. Hadiah itu sebisa mungkin telah ditunjukkan sebelum pertandingan dimulai, jadi warga akan sudi menyisihkan waktu saat hari H perlombaan. Kunci sukses kedua adalah memberitahukan kepada warga tentang aturan perlombaan, agar warga dapat memilih di perlombaan mana dia paling cocok ikut berpartisipasi. Sesuai dengan kemampuannya.
Dalam upaya menggaet customer, rupanya para marketer melihat bahwa perlombaan dapat dijadikan sebagai salah satu ajang marketing. Tentu saja perlombaannya akan dikaitkan dengan pembelian produk. Misalnya dengan harus mengisi bungkus kemasan, lalu mengirimkan bekas bungkus kemasan yang telah diisi nama dan alamat ke produsen produk. Kemudian dilakukan pengundian terhadap bekas bungkus kemasan produk tersebut untuk menentukan pemenang. Tujuannya adalah agar customer membeli produk sebanyak-banyaknya, sehingga dapat mengirimkan bungkus produk sebanyak-banyaknya, untuk mendapatkan peluang hadiah sebesar-besarnya.
Upaya lain dilakukan oleh perusahaan minuman yang mencantumkan hadiah dalam tutup botol minuman. Tentu saja untuk mendapatkan hadiah itu, customer harus membeli produk minumannya sehingga boleh membuka tutup botol. Ada juga perusahaan sabun batangan yang menyelipkan koin emas dalam sabun. Jadi sambil menggosokkan sabun, customer harap-harap cemas tergosok oleh emas.
Pemberian hadiah di perusahaan perbankan lebih meriah lagi. Hadiahnya sangat bevariasi dan cukup 'wah', seperti ribuan umroh, emas batangan, alat elektronik, ribuan motor, mobil. Jenis mobilnyapun menggunakan mobil termewah. Membuat calon customer ngiler. Walaupun mereka sadar bahwa peluang mendapatkan hadiah tersebut sungguhlah kecil. Apalagi yang diundi secara nasional oleh sebuah bank besar. Bayangkan saja, sebuah bank besar memiliki puluhan juta nasabah. Sedangkan yang menang hanya beberapa orang saja. Belum lagi kupon hadiah dikaitkan dengan besarnya simpanan. Ya tentu saja yang peluangnya lebih besar adalah yang memiliki simpanan milyaran bahkan triliunan. Tapi......siapa tahu nasib awak lagi mujur.....hehehe.....berharap keajaiban.
Terus terang saking banyaknya jenis hadiah, sampai-sampai aku sebagai customer tidak tahu lagi, bagaimana cara mendapatkan hadiah itu. Nampaknya perusahaan perbankan hanya gencar menyampaikan jenis hadiah. Lalu melakukan siaran langsung pengundian hadiah. Dihadiri banyak artis, pejabat bank, kadang-kadang ada pejabat pemerintah. Mungkin mereka lupa akan teori kunci sukses kang Gani, bahwa harus menyampaikan aturan perlombaan kepada seluruh peserta lomba sebelum pertandingan dimulai. Sehingga aturan perlombaan untuk mendapatkan hadiah, kurang disosialisasikan. Misalnya berapa rupiah harus menabung untuk dapat satu kupon. Apakah kupon dilihat dari penambahan dana atau dari pengendapan dana, atau mungkin dari jumlah transaksi. Kapan periode mulai dan kapan berakhirnya lomba.
Aku melihat bahwa pada akhirnya jenis lomba, aturan lomba, dan periode lomba menjadi hal yang dianggap tidak penting. Para pemberi hadiah menganggap bahwa hadiah yang mereka berikan hanyalah sebuah bonus keajaiban untuk para customernya. Mereka seperti lupa bahwa tujuan mereka memberikan hadiah adalah agar customer mau berlomba menabung atau menggunakan jasa perbankannya. Mereka lupa bahwa pada dasarnya para customer itu mereka jadikan peserta lomba. Mereka lupa bahwa peserta lomba 'menurut kang Gani' haruslah diberitahukan aturan secara jelas sebelum perlombaan.
Sayang sekali memang. Hadiah yang milyaran yang tentu saja akan meningkatkan biaya dana bank tersebut, menjadi kurang efektif meningkatkan kemampuan bank menghimpun dana, hanya karena kurang komunikasi tentang cara mendapatkan hadiah. Seperti orang yang melakukan pemasaran secara diam-diam. Silent Marketing. Pokoknya nih ada hadiah, silahkan customer menabung. Nanti kita akan undi. Tinggal aku dengan pertanyaan besar....kapan diundi ? bagaimana caranya ? kapan mulai dan kapan berakhir ? Atau memang aku sebagai customer hanya dianggap seperti penjudi. Berharap nasib baik.
Jakarta - Denpasar, 04 Desember 2013
(salam hangat dari kang sepyan)
Domba jantan dengan tanduk melengkung sebagaI hadiah untuk klub sepakbola yang jadi juara, dipertontonkan dipinggir lapangan. Menambah semangat peserta lomba. Demikian juga deretan piala berwarna emas serta tumpukan buku yang telah dibungkus kertas warna coklat, menjadi penyemangat lomba anak-anak seperti balap karung, kelereng dan makan kerupuk. Jadi agar perlombaan banyak peminatnya, maka panitia akan berusaha mensosialisasikan dan menunjukkan hadiah-hadiah tersebut pada peserta lomba. Sesuai dengan jenis perlombaannya.
Menurut Kang Gani, panitia agustusan di kampungku, kunci sukses penyelenggaraan agustusan yaitu memberitahukan kepada seluruh warga tentang diselenggarakannya acara agustusan yang menyediakan hadiah menarik. Hadiah itu sebisa mungkin telah ditunjukkan sebelum pertandingan dimulai, jadi warga akan sudi menyisihkan waktu saat hari H perlombaan. Kunci sukses kedua adalah memberitahukan kepada warga tentang aturan perlombaan, agar warga dapat memilih di perlombaan mana dia paling cocok ikut berpartisipasi. Sesuai dengan kemampuannya.
Dalam upaya menggaet customer, rupanya para marketer melihat bahwa perlombaan dapat dijadikan sebagai salah satu ajang marketing. Tentu saja perlombaannya akan dikaitkan dengan pembelian produk. Misalnya dengan harus mengisi bungkus kemasan, lalu mengirimkan bekas bungkus kemasan yang telah diisi nama dan alamat ke produsen produk. Kemudian dilakukan pengundian terhadap bekas bungkus kemasan produk tersebut untuk menentukan pemenang. Tujuannya adalah agar customer membeli produk sebanyak-banyaknya, sehingga dapat mengirimkan bungkus produk sebanyak-banyaknya, untuk mendapatkan peluang hadiah sebesar-besarnya.
Upaya lain dilakukan oleh perusahaan minuman yang mencantumkan hadiah dalam tutup botol minuman. Tentu saja untuk mendapatkan hadiah itu, customer harus membeli produk minumannya sehingga boleh membuka tutup botol. Ada juga perusahaan sabun batangan yang menyelipkan koin emas dalam sabun. Jadi sambil menggosokkan sabun, customer harap-harap cemas tergosok oleh emas.
Pemberian hadiah di perusahaan perbankan lebih meriah lagi. Hadiahnya sangat bevariasi dan cukup 'wah', seperti ribuan umroh, emas batangan, alat elektronik, ribuan motor, mobil. Jenis mobilnyapun menggunakan mobil termewah. Membuat calon customer ngiler. Walaupun mereka sadar bahwa peluang mendapatkan hadiah tersebut sungguhlah kecil. Apalagi yang diundi secara nasional oleh sebuah bank besar. Bayangkan saja, sebuah bank besar memiliki puluhan juta nasabah. Sedangkan yang menang hanya beberapa orang saja. Belum lagi kupon hadiah dikaitkan dengan besarnya simpanan. Ya tentu saja yang peluangnya lebih besar adalah yang memiliki simpanan milyaran bahkan triliunan. Tapi......siapa tahu nasib awak lagi mujur.....hehehe.....berharap keajaiban.
Terus terang saking banyaknya jenis hadiah, sampai-sampai aku sebagai customer tidak tahu lagi, bagaimana cara mendapatkan hadiah itu. Nampaknya perusahaan perbankan hanya gencar menyampaikan jenis hadiah. Lalu melakukan siaran langsung pengundian hadiah. Dihadiri banyak artis, pejabat bank, kadang-kadang ada pejabat pemerintah. Mungkin mereka lupa akan teori kunci sukses kang Gani, bahwa harus menyampaikan aturan perlombaan kepada seluruh peserta lomba sebelum pertandingan dimulai. Sehingga aturan perlombaan untuk mendapatkan hadiah, kurang disosialisasikan. Misalnya berapa rupiah harus menabung untuk dapat satu kupon. Apakah kupon dilihat dari penambahan dana atau dari pengendapan dana, atau mungkin dari jumlah transaksi. Kapan periode mulai dan kapan berakhirnya lomba.
Aku melihat bahwa pada akhirnya jenis lomba, aturan lomba, dan periode lomba menjadi hal yang dianggap tidak penting. Para pemberi hadiah menganggap bahwa hadiah yang mereka berikan hanyalah sebuah bonus keajaiban untuk para customernya. Mereka seperti lupa bahwa tujuan mereka memberikan hadiah adalah agar customer mau berlomba menabung atau menggunakan jasa perbankannya. Mereka lupa bahwa pada dasarnya para customer itu mereka jadikan peserta lomba. Mereka lupa bahwa peserta lomba 'menurut kang Gani' haruslah diberitahukan aturan secara jelas sebelum perlombaan.
Sayang sekali memang. Hadiah yang milyaran yang tentu saja akan meningkatkan biaya dana bank tersebut, menjadi kurang efektif meningkatkan kemampuan bank menghimpun dana, hanya karena kurang komunikasi tentang cara mendapatkan hadiah. Seperti orang yang melakukan pemasaran secara diam-diam. Silent Marketing. Pokoknya nih ada hadiah, silahkan customer menabung. Nanti kita akan undi. Tinggal aku dengan pertanyaan besar....kapan diundi ? bagaimana caranya ? kapan mulai dan kapan berakhir ? Atau memang aku sebagai customer hanya dianggap seperti penjudi. Berharap nasib baik.
Jakarta - Denpasar, 04 Desember 2013
(salam hangat dari kang sepyan)
Senin, 09 Desember 2013
BARSENA VS KEKE
Tahun 80-an, aku dibuat tercengang-cengang oleh tayangan pertelevisian swasta yang sangat menghibur, sangat variatif, dan kelihatan elegan serta gaul. Tidak seperti tayangan TVRI sebagai satu-satunya siaran televisi yang ada pada waktu itu. RCTI dan SCTV membawaku ke alam lain, musiknya hebat, jauh lebih hebat dan sering dibandingkan dengan aneka ria safari besutan Eddy Sud yang biasanya hadir di TVRI. Iklannya pun bagus-bagus, ada tayangan dari luar negeri, ada film yang relatif baru, sinetron berseri baik buatan dalam negeri maupun produksi luar negeri yang telah di ganti audionya. Si Doel anak sekolahan, Tersanjung, dan banyak judul-judul sinetron lainnya, yang selalu aku tunggu-tunggu jam tayangnya. Menggantikan dongeng dari radio yang sebelumnya biasa aku tunggu.
Akhir 90-an, aku kembali dibuat tercengang dengan hadirnya televisi swasta yang siaran utamanya adalah berita. Betapa kami terkaget-kaget melihat siaran langsung baik perang ataupun bencana. Kami merasakan desingan peluru pak polisi waktu mahasiswa-mahasiswa dilibas di Semanggi, dan kami serasa menjadi aktifis ketika melihat tayangan mahasiswa menduduki gedung MPR DPR senayan. Kami dirumah ikut memberikan semangat kepada pak Amien Rais, bu Megawati, dan Gus Dur, mendengarkan langsung pidatonya. Kami merasakan kemasygulan pak Harto ketika sedang menyerahkan kekuasaan kepada pak Habibie. Kami merasakan besarnya air bah akibat tsunami yang terjadi di Banda Aceh, bahkan rasanya bau bangkai ribuan korban jiwa-pun hadir ke beranda rumah.
Rupanya manusia itu makhluk yang disatu sisi sangat senang status quo, tidak mau berubah. Tetapi di sisi lain merupakan makhluk yang cepat bosan, senang mengkiritk keadaan saat ini, dan tidak ada puasnya. Tapi rupanya, kedua sisi itulah yang membuat peradaban manusia semakin maju.
Akhir-akhir ini, mulai banyak gugatan pada siaran televisi yang katanya tidak mendidik, membodohi, menyuguhkan kekerasan, ngawur, cuma cari untung, memihak, alat propaganda, dan lain-lain stigma buruk. Siaran televisi sudah menjadi "teror" kehidupan. Ada gerakan yang meminta seluruh warga tidak boleh nonton TV mulai magrib sampai isya. Walaupun aku gak yakin apakah gerakan ini ada pengikutnya ? apakah gerakan ini keberlangusungannya terus menerus ? atau hanya sesaat ? Namun ada juga beberapa temen yang sudah sangat muak dengan siaran TV saat ini, memutuskan untuk memasukan TV pada kotaknya, dan memilih hidup tanpa memiliki TV. Namun entah sampai kapan mereka bisa bertahan.
Aku termasuk di golongan orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu ekstrim. Memang kadang-kadang aku juga sepakat dengan orang yang memberi 'stigma' negatif. Tetapi menurutku tidak negatif-negatif amat, diantaranya masih ada yang positif. Bahkan masih ada acara yang aku tunggu-tunggu yaitu Nez-Academy yang diasuh oleh Agnes Mo, tayangan Net TV. Sebuah statsiun TV baru, yang menurutku formatnya agak berbeda dengan statsiun TV lainnya. Mungkin karena baru jadi masih segar, belum membosankan seperti yang lainnya.
Nez-Academy adalah sebuah ajang pencarian bakat, hampir sama seperti Indonesia Idol, X factor, Akademi Fantasi, dan lain-lain. Cuma beda sedikit-sedikit, di poles-poles. Misalnya tidak seluruhnya hanya bakat nyanyi, tetapi juga ada yang bakat tari bahkan ada yang bakatnya menirukan suara-suara musik. Ada tokoh sentral juri atau Kepala Sekolah yaitu Agnes Mo, yang sekaligus menjadi nama acara (Nez), sehingga dia lah yang berhak men 'drop out' peserta. Memang karena namanya Academy, maka dibuat seperti sekolahan, ada guru-guru, ada pelajaran, dan akhirnya membuat pertunjukan yang ditayangkan (yang biasanya aku tunggu-tungu) dianggap sebagai ujian ('exam').
Pemberian nilai dari penonton atau pemiarsa dilakukan bukan dengan cara 'kuno' seperti sms dan telepon, tetapi menggunakan twitter dan google plus. Dan yang paling banyak mendapatkan komentar di twitter, maka dia dapat previllage. Misalnya jaminan tidak di drop out untuk minggu depan, atau mendapat previllage memilihkan lagu buat temannya.
Barsena adalah salah satu kandidat dari Bandung dengan talenta luar biasa, suaranya bagus, musikalitasnya hebat, serta pandai maen piano. Dua minggu lalu dia mendapat previllage untuk memilihkan lagu buat temannya. Dan dia memilih salah satu temannya yaitu Keke kandidat dari Bali sebagai saingan terberatnya yang dipilihkan lagu. Lagunya dicari lagu yang cukup sulit, baik lirik maupun nadanya. Aku pikir, memang sangat wajar. Dalam sebuah persaingan, ketika kita diberikan kesempatan untuk 'membunuh' saingan, maka kesempatan itu harus digunakan sebaik-baiknya. Agar jalan kedepan bisa lebih leluasa.
Namun sayang Barsena......ternyata Keke mampu menjawab tantangan itu. Penampilan Keke dengan memgusung tema teaterical, bergerak dan bernyanyi seperti boneka, mampu memukau seluruh juri dan penonton, termasuk aku. Bahkan setelah lagu berakhir, Agnes Mo sang kepala sekolah memberikan 'standing applaus' yang menunjukkan dia puas dengan penampilan anak didiknya. Sebuah ancaman, dihadapi dengan serius oleh Keke, sehingga bisa berubah menjadi sebuah kesempatan. Begitulah memang dunia. Apalagi ini adalah arena perlombaan.
*******
Entah dalam acara apa, keesokan harinya ada sebuah berita, tapi berita ringan saja membahas tentang tayangan Nez-Academy malam sebelumnya. Diberitakan ada dua orang yang di drop out dan ada wawancara dengan Keke membahas persiapan penampilannya. Dalam kesempatan tersebut Keke mengucapkan terima kasih pada Bersena. Setelah Bersena memberikan tantangan, dia selalu memeberikan support pada Keke, melakukan diskusi dan memberikan masukan agar menghasilkan penampilan yang baik. Bahkan setelah malam-malam menjelang pagi selesai latihan, Bersena masih mau menambah melatih Keke di rumah dengan bermain piano menemani Keke latihan. Betapa indah persaingan yang mereka pertontonkan. Terus terang, berita itu membuatku terperangah.
Kembali aku teringat tulisan tahun lalu (bulan Mei tahun 2012) tentang 'blue ocean strategy'......tidak semua orang bersaing dengan menghalalkan segala cara......jadi, marilah kita belajar dari mereka.....termasuk belajar dari anak-anak muda seperti Bersena dan Keke.
Terminal 3 Soeta, 4 Desember 2013
(salam hangat dari kang sepyan)
Akhir 90-an, aku kembali dibuat tercengang dengan hadirnya televisi swasta yang siaran utamanya adalah berita. Betapa kami terkaget-kaget melihat siaran langsung baik perang ataupun bencana. Kami merasakan desingan peluru pak polisi waktu mahasiswa-mahasiswa dilibas di Semanggi, dan kami serasa menjadi aktifis ketika melihat tayangan mahasiswa menduduki gedung MPR DPR senayan. Kami dirumah ikut memberikan semangat kepada pak Amien Rais, bu Megawati, dan Gus Dur, mendengarkan langsung pidatonya. Kami merasakan kemasygulan pak Harto ketika sedang menyerahkan kekuasaan kepada pak Habibie. Kami merasakan besarnya air bah akibat tsunami yang terjadi di Banda Aceh, bahkan rasanya bau bangkai ribuan korban jiwa-pun hadir ke beranda rumah.
Rupanya manusia itu makhluk yang disatu sisi sangat senang status quo, tidak mau berubah. Tetapi di sisi lain merupakan makhluk yang cepat bosan, senang mengkiritk keadaan saat ini, dan tidak ada puasnya. Tapi rupanya, kedua sisi itulah yang membuat peradaban manusia semakin maju.
Akhir-akhir ini, mulai banyak gugatan pada siaran televisi yang katanya tidak mendidik, membodohi, menyuguhkan kekerasan, ngawur, cuma cari untung, memihak, alat propaganda, dan lain-lain stigma buruk. Siaran televisi sudah menjadi "teror" kehidupan. Ada gerakan yang meminta seluruh warga tidak boleh nonton TV mulai magrib sampai isya. Walaupun aku gak yakin apakah gerakan ini ada pengikutnya ? apakah gerakan ini keberlangusungannya terus menerus ? atau hanya sesaat ? Namun ada juga beberapa temen yang sudah sangat muak dengan siaran TV saat ini, memutuskan untuk memasukan TV pada kotaknya, dan memilih hidup tanpa memiliki TV. Namun entah sampai kapan mereka bisa bertahan.
Aku termasuk di golongan orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu ekstrim. Memang kadang-kadang aku juga sepakat dengan orang yang memberi 'stigma' negatif. Tetapi menurutku tidak negatif-negatif amat, diantaranya masih ada yang positif. Bahkan masih ada acara yang aku tunggu-tunggu yaitu Nez-Academy yang diasuh oleh Agnes Mo, tayangan Net TV. Sebuah statsiun TV baru, yang menurutku formatnya agak berbeda dengan statsiun TV lainnya. Mungkin karena baru jadi masih segar, belum membosankan seperti yang lainnya.
Nez-Academy adalah sebuah ajang pencarian bakat, hampir sama seperti Indonesia Idol, X factor, Akademi Fantasi, dan lain-lain. Cuma beda sedikit-sedikit, di poles-poles. Misalnya tidak seluruhnya hanya bakat nyanyi, tetapi juga ada yang bakat tari bahkan ada yang bakatnya menirukan suara-suara musik. Ada tokoh sentral juri atau Kepala Sekolah yaitu Agnes Mo, yang sekaligus menjadi nama acara (Nez), sehingga dia lah yang berhak men 'drop out' peserta. Memang karena namanya Academy, maka dibuat seperti sekolahan, ada guru-guru, ada pelajaran, dan akhirnya membuat pertunjukan yang ditayangkan (yang biasanya aku tunggu-tungu) dianggap sebagai ujian ('exam').
Pemberian nilai dari penonton atau pemiarsa dilakukan bukan dengan cara 'kuno' seperti sms dan telepon, tetapi menggunakan twitter dan google plus. Dan yang paling banyak mendapatkan komentar di twitter, maka dia dapat previllage. Misalnya jaminan tidak di drop out untuk minggu depan, atau mendapat previllage memilihkan lagu buat temannya.
Barsena adalah salah satu kandidat dari Bandung dengan talenta luar biasa, suaranya bagus, musikalitasnya hebat, serta pandai maen piano. Dua minggu lalu dia mendapat previllage untuk memilihkan lagu buat temannya. Dan dia memilih salah satu temannya yaitu Keke kandidat dari Bali sebagai saingan terberatnya yang dipilihkan lagu. Lagunya dicari lagu yang cukup sulit, baik lirik maupun nadanya. Aku pikir, memang sangat wajar. Dalam sebuah persaingan, ketika kita diberikan kesempatan untuk 'membunuh' saingan, maka kesempatan itu harus digunakan sebaik-baiknya. Agar jalan kedepan bisa lebih leluasa.
Namun sayang Barsena......ternyata Keke mampu menjawab tantangan itu. Penampilan Keke dengan memgusung tema teaterical, bergerak dan bernyanyi seperti boneka, mampu memukau seluruh juri dan penonton, termasuk aku. Bahkan setelah lagu berakhir, Agnes Mo sang kepala sekolah memberikan 'standing applaus' yang menunjukkan dia puas dengan penampilan anak didiknya. Sebuah ancaman, dihadapi dengan serius oleh Keke, sehingga bisa berubah menjadi sebuah kesempatan. Begitulah memang dunia. Apalagi ini adalah arena perlombaan.
*******
Entah dalam acara apa, keesokan harinya ada sebuah berita, tapi berita ringan saja membahas tentang tayangan Nez-Academy malam sebelumnya. Diberitakan ada dua orang yang di drop out dan ada wawancara dengan Keke membahas persiapan penampilannya. Dalam kesempatan tersebut Keke mengucapkan terima kasih pada Bersena. Setelah Bersena memberikan tantangan, dia selalu memeberikan support pada Keke, melakukan diskusi dan memberikan masukan agar menghasilkan penampilan yang baik. Bahkan setelah malam-malam menjelang pagi selesai latihan, Bersena masih mau menambah melatih Keke di rumah dengan bermain piano menemani Keke latihan. Betapa indah persaingan yang mereka pertontonkan. Terus terang, berita itu membuatku terperangah.
Kembali aku teringat tulisan tahun lalu (bulan Mei tahun 2012) tentang 'blue ocean strategy'......tidak semua orang bersaing dengan menghalalkan segala cara......jadi, marilah kita belajar dari mereka.....termasuk belajar dari anak-anak muda seperti Bersena dan Keke.
Terminal 3 Soeta, 4 Desember 2013
(salam hangat dari kang sepyan)
Senin, 25 November 2013
NASIB DAGING QURBAN
Qurban adalah sebuah moment yang
ditunggu-tunggu, oleh tetangga kami terutama yang tinggal di daerah gang
tembok. Yaitu sekitar seratusan kepala
keluarga yang mendirikan bangunan liar di atas tanah kavling yang belum
dibangun oleh pemilik kavlingnya. Benar
sekali apa yang disampaikan para ustadz, bahwa tidak semua orang memiliki rezeki
yang cukup bahkan melimpah sehingga dapat memilih makan daging kapan saja. Tetapi bagi Surni, Umi, Keri, Eha, dan
lain-lain, qurban artinya mereka bisa mencicipi makan enak, bisa masak dan
menghidangkan daging hangat ke tengah-tengah keluarganya.
Menjelang datangnya hari raya Idul Adha, mereka melakukan investigasi di tempat mana
saja dilakukan pemotongan hewan qurban, berapa jumlah hewan qurban yang telah
terkumpul, jam berapa motongnya, bagaimana sistim pembagian dagingnya, kemana
mencari kupon, bagaimana agar bisa melakukan trik bolak-balik ngantri. Mereka analisa dan diskusikan dengan
membandingkan cara-cara yang telah ditempuh panitia qurban sebelumnya untuk
mencari celah agar bisa mendapatkan daging qurban sebanyak-banyaknya. Strategi dipasang, anak-anak dan suami
disebar sehingga bisa antri di beberapa
tempat sekaligus.........makanya kami sebagai panitia qurban selalu kewalahan,
karena rupanya ada perlombaan trik antara panitia qurban dan pihak penerima
qurban.
Sore setelah selesai hari raya,
masing-masing anggota keluarga membawa satu, dua, bahkan lima plastik bagian
qurban yang umumnya berkisar antara 200 gram sampai satu kilogram. Bercampur ada daging, tulang, lemak, jeroan,
kaki, dll. Jeroan dan tulang segera
dimasak, sedangkan dagingnya dikumpulkan agar bisa dikonsumsi di hari-hari
mendatang. Jaman ibuku dulu diawetkan
dengan cara dijemur yaitu dibuat dendeng, tetapi sekarang lebih banyak yang
mengawetkan dengan cara yang praktis yaitu disimpan di freezer dibuat daging
beku. Masalahnya adalah, mereka tidak
memiliki kulkas ???
Aku tahu hal tersebut karena mendadak dalam
kulkasku pada bagian atas untuk membuat es batu, kok jadi ada plastik
daging. Istriku bilang itu adalah
titipan daging tetangga yang suka bantu-bantu ngebersihin rumah dan
mencuci. Rupanya mereka memanfaatkan
freezer tetangga kenalan atau majikannya untuk mengawetkan daging qurban. Bukan ditempat aku saja, tetapi di sebar di
beberapa tempat lainnya.
Umumnya tetanggaku yang tinggal di gang tembok merangkap menjadi buruh cuci di dua atau tiga majikan
sekaligus.
Kejadian menggelikan sekaligus mengharukan
adalah ketika ada diantara daging mereka yang hilang. Kebetulan dititipkan di salah satu majikan
yang memiliki isteri dua. Rupanya
suaminya tidak tahu bahwa daging yang di kulkas rumahnya bukan miliknya, tetapi
hanya daging titipan tukang cucinya Malam-malam dia
ambil daging tersebut untuk dimasak di rumahnya yang lain.......ini hanya
dugaan, karena kejadian sebenarnya tidak pernah terungkap. Yang jelas, ketika
pagi harinya si empunya daging memeriksa kulkas, betapa terkejutnya dia karena
dagingnya hilang. Ditanya sama ibu yang
punya rumah dia jawab enggak tahu......mau nanya sama suaminya, takut bertambah
ribut.........jadi akhirnya terpaksalah dia terima nasib. Nasib untuk tahun ini cukup menikmati sop
tulang dan jeroan.
Dengan nada masygul dia ceritera kejadian
tersebut ke istriku "untung aja bu, si bocah kemaren maksa pingin makan
sate. jadi sebelum daging dititipkan
kami ambil sedikit untuk dibuat sate.......jadi kami bisa mencicipi dagingnya,
bukan hanya makan 'balung' tok".........."namanya belum rezeki"
kata istriku sambil menyelipkan lembaran kertas warna biru untuk dibelikan daging
ke warung sekedar penghibur untuk mengganti sebagian daging yang hilang untuk
anaknya.
Jadi jangan anggap daging qurban kita
sia-sia. Jangan anggap tidak ada orang
yang menantikan sedekah qurban kita.
Jangan karena merasa tahun lalu sudah qurban jadi tahun ini tidak perlu
qurban, karena ada kepentingan lain yang menurut sudut pandang kita
mendesak. Tapi ingatlah di setiap rezeki
yang kita dapatkan ada haknya orang miskin.
Telah diperintahkan kepada orang yang mampu untuk melakukan qurban, maka
laksanakanlah.......jangan ditunda-tunda.
Jangan sampai menyesal ketika akhirnya kita tidak diberikan keluasan
rezeki karena tidak amanah.........hehehehe.......koq jadi menasehati......jadi
gak enak........maaf.....maaf......maaf.
(salam hangat dari kang sepyan)
Senin, 18 November 2013
PELAJARAN DAMRI BANDARA
Sudah
beberapa hari ini rasanya ngantuuuk terus, mungkin kurang tidur pikirku. Sehingga dalam rencana perjalanan ke Banda
Aceh kali ini, sudah dijadwalkan untuk nambah waktu tidur di bus Damri dari
Bekasi ke Soekarno Hatta. Kebayang khan macet, kayanya lumayan
bisa dapat waktu tidur bersih sekitar 90 menit.
Setelah beli karcis di counter, segera aku cari tempat dipertengahan bus
sekitar jajaran ke 6 dari depan pinggir jendela, dengan pertimbangan lebih
sedikit orang lewat yang dapat mengganggu rencanaku. Lalu mataku aku merem-meremkan.
Aku
terbangun ketika kondektur bus memeriksa karcis di daerah pintu tol bekasi
barat. "Hoaaaaaaaaaamm"
terpaksa deh aku break tidurku yang baru berjalan sekitar 15 menit. Disebelah telah terisi penumpang Bapak-Bapak
yang kutaksir usianya sekitar 60-an, tinggi diatas 170 cm, dan penampilannya
tampak rapi dengan celana jeans serta kaos berkerah. Dari logatnya serta tujuannya ketika dia
menjawab pertanyaan kondektur, aku dapat memastikan bahwa Bapak tersebut
berasal dari Tapanuli Utara. Ketika
giliranku di tanya sang kondektur, aku jawab mau ke Sumatera jadi turun di
1B......hehehe ketahuan deh cari maskapai penerbangan yang murah......., aku dahuluin
tugas kondektur yang setelah penumpang menjawab tujuan biasanya dia akan menyebutkan terminal tempat kita
berhenti.
Mungkin si Bapak sebelah agak
aneh dengan caraku menjawab, kok enggak bilang mau ke kota mana ? Setelah
kondektur berlalu dan aku bersiap merem, dia bertanya "ke Sumateranya mau
kemana pak ?"
"Mau
ke Banda Aceh pak" jawabku pendek, maksudnya sih mau neruskan jadwal tidur
jadi menghindari keterusan ngobrol.
Eeeeeh.....rupanya
si Bapak melihat bahwa ada kemungkinan satu pesawat, jadi dia terus tanya lagi
"berarti transit di Kualanamu ya ?"
Aku
jawab pendek juga "enggak pak, pesawatnya langsung tidak transit".
"Waktu
dulu saya masih bertugas, tidak ada pesawat yang langsung ke
Aceh.......bla....bla....bla...." si Bapak rupanya belum tahu daftar
"Jadwalku" jadi terus saja
asyk ngajak ngobrol. Sampai akhirnya aku tahu rupanya kita pernah tetanggaan,
rupanya belaiu lah orangnya yang terkenal menjadi tuan tanah di komplek
perumahanku, sampai punya 12 kavling. Ya
sudah, kepalang tanggung aku 'cancel' deh jadwal tidurnya.
Dia
ceritera bahwa ketika dahulu keluar SMA, Bapaknya bilang "karena kau anak
pertama, jadi harus segera bekerja agar ketujuh adikmu bisa terurus"
maksudnya tidak ada biaya untuk meneruskan kuliah. Dititipkannyalah pada om-nya yang menjadi
Kasatserse di daerah Langsa untuk dicarikan pekerjaan yaitu bekerja di
pertambangan minyak di hutan pedalaman Aceh.
Selama dua tahun si Bapak bekerja mencari bekal hidup. "Karena saya tidak merokok dan juga
karena tidak ada yang bisa di beli, maka lumayan irit saya hidup disana,
sehingga hampir seluruh gajinya di tabung" demikian dia ceritera masa
mudanya. Dari hasil tabungan itulah dia
bisa meneruskan kuliah dan akhirnya pergi ke Jakarta dan menjadi pejabat pemda
DKI.
Memiliki
empat anak dua laki-laki dan dua perempuan, dan semuanya cukup sukses. "Walaupun keadaan saya lebih baik di
banding orang tua saya dulu, tapi saya tetap mengajarkan pada anak-anak saya,
agar bisa mandiri sebagaimana saya waktu muda" demikin dia menyampaikan
prinsip dalam mendidik anak. Sehingga
rata-rata anak saya sekolahnya mendapatkan beasiswa. Dua anak perempuannya sekolah ke luar negeri
dengan beasiswa penuh, dan mendapatkan suami bule. Yang satu tinggal di Amerika bersuami orang Amerika dan yang satu
lagi tinggal di Kanada bersuamikan imigran asal Prancis. Sedangkan kedua anak laki-lakinya ada yang
alumni STAN dan sekarang berkarir di Departemen Keuangan, dan satu lagi alumni
UI yang kerjanya pindah-pindah, sudah delapan perusahaan, terakhir di Axa
Mandiri.
Termasuk
orang tua yang sangat berhasil pikirku, apalagi ketika dia juga ceritera
tentang bisnis tanahnya yang selalu untung berlipat-lipat, baik di daerah
Bekasi dari beli harga Rp.15.000 per meter sekarang sudah mencapai Rp. 3
juta. Demikian pula dengan investasi di
tempat lain seperti daerah Cikarang - Cibarusah maupun dekat bandara Kualanamu.
Bikin ngiler saja.
Namun,
ketika berbicara tentang anaknya yang hidup di luar negeri, ada nada kepedihan
yang kutangkap. "Menantu saya itu
tidak percaya agama ?" katanya.
Demikian pula dalam hal menghormati orang tua, ketika sudah jauh-jauh kami yang tua ini datang dari Indonesia ke Amerika, menantunya cuma jabat tangan mengucapkan
selamat datang, lalu balik masuk kamar lagi meneruskan maen game. Mungkin karena perbedaan budaya, sepertinya
tidak ada kemesraan hubungan antara orang tua dan anak.
Pernah suatu saat di ajak ke tempat orang tuanya (besan), harus membuat jadwal dulu. Setelah jauh-jauh datang, mereka langsung ngajak makan di restorant, lalu setelah makan salaman dan pulang. Seperti hubungan bisnis saja. "Saya pikir, karena waktu berkunjungnya harus janjian dulu, mereka akan masak menyiapkan makanan untuk kami....hehehe" kata si Bapak terkekeh.
Lebih jauh si Bapak berceritera bahwa berdasarkan pengamatannya, rasa individual menantunya termasuk juga anaknya sekarang menjadi semakin menonjol. Dalam hal pengelolaan keuanganpun, walau mereka suami isteri, mereka melakukan pengelolaan keuangan yang terpisah. Ketika pergi ke mal dan membeli suatu barang, maka mereka masing-masing akan membayar masing-masing sesuai yang mereka ambil. Makanan di rumahpun masing-masing telah memiliki jatah. "Jadi kalau di kulkas ada makanan jatah menantu saya misalnya roti, maka saya tidak boleh mengambilnya" demikian si Bapak memberikan tambahan ilustrasi.
Pernah suatu saat di ajak ke tempat orang tuanya (besan), harus membuat jadwal dulu. Setelah jauh-jauh datang, mereka langsung ngajak makan di restorant, lalu setelah makan salaman dan pulang. Seperti hubungan bisnis saja. "Saya pikir, karena waktu berkunjungnya harus janjian dulu, mereka akan masak menyiapkan makanan untuk kami....hehehe" kata si Bapak terkekeh.
Lebih jauh si Bapak berceritera bahwa berdasarkan pengamatannya, rasa individual menantunya termasuk juga anaknya sekarang menjadi semakin menonjol. Dalam hal pengelolaan keuanganpun, walau mereka suami isteri, mereka melakukan pengelolaan keuangan yang terpisah. Ketika pergi ke mal dan membeli suatu barang, maka mereka masing-masing akan membayar masing-masing sesuai yang mereka ambil. Makanan di rumahpun masing-masing telah memiliki jatah. "Jadi kalau di kulkas ada makanan jatah menantu saya misalnya roti, maka saya tidak boleh mengambilnya" demikian si Bapak memberikan tambahan ilustrasi.
Diakhir perjalanan menjelang sampai Bandara, dengan
mata seorang kakek yang rindu akan cucunya, dia berceritera dan menirukan bahwa
cucunya sekarang sedang belajar nyanyi......."chi cha chi cha
dididing......habbbp lalu ditangkap" lagu anak-anak Indonesia.......sebelum turun si Bapak sempat berpesan "kalau bisa....usahakan dapat menantu orang
Indonesia saja".......sebuah pesan yang sangat dalam, yang disampaikan dari
sebuah pengalaman yang sangat muahhhaaalllll.
(salam hangat dari kang sepyan)
Jumat, 08 November 2013
BUBUR AYAM LANDMARK
Hari ini adalah untuk ketiga kalinya aku ngantri
bubur ayam yang mangkal di depan gedung kantor, setelah 10 bulan lalu kantorku
pindah ke daerah Dukuh Atas yaitu di gedung Landmark tower B. Entah sekarang berapa menit waktu tunggu yang
dibutuhkan untuk dapat menikmati semangkuk bubur ayam panas. Kali pertama aku ngantri bubur ayam, waktu
tunggu sekitar 10 menit. Begitu aku
kelihatan bengong-bengong melihat orang berjubel, tiba-tiba ada seorang asisten
tukang bubur yang bertanya mau pesan apa dan mempersilahkan aku duduk di salah
satu bangku plastik hijau yang kebetulan kosong. 10 menit kemudian sang asisten
tadi menyodorkan semangkuk penuh bubur.......yum...yum..yummy.
Kali kedua dengan 'pede' aku mencari bangku yang
kosong, dan setelah dapat tempat duduk aku panggil sang asisten tukang bubur
yang sekali-sekali lewat untuk mengambil mangkuk-mangkuk kosong. Namun kali ini sang asisten berbeda orangnya
dengan asisten yang terdahulu. Aku
tunggu-tungu sampai lebih 15 menit bahkan 20 menit, bubur tak kunjung datang
dan sang asisten gak muncul-muncul.
Karena tidak sabar dan tidak jelas, terpaksa aku ikut merangsek ke
kerumunan orang-orang yang mengelilingi tukang bubur. Ketika tukang bubur sedikit melirik, segera
kumanfaatkan situasi itu dengan memesan menggunakan intonasi nada protes karena
sudah lama menunggu dan belum dilayani.
Total waktu tungguku meningkat menjadi 30 menit lebih. Untung aku datang
pagi, jadi waktunya masih longgar walaupun harus terpotong sekitar 45 menit
untuk ngantri dan makan bubur.
Untuk kunjungan ketiga ini, aku gak mau kejadian
lalu terulang. Datang ke lokasi, segera
aku menyelinap ke bagian belakang roda atau ke belakang punggungnya tukang
bubur. Rupanya daerah ini yang agak
longgar sehingga memudahkan akses untuk pesan langsung ke tukang bubur. Setelah
pesan diterima sang tukang bubur, baru aku mencari tempat duduk yang
kosong. Waktu tunggu yang dibutuhkan
kira-kira 15 menit. Cukup kenyang, Alhamdulillah.
"Bubur Ayam Landmark" kang Dadan Pramadi
karib kuliahku dulu men'share' photo semangkuk bubur dalam group BBM. Aku lihat
gambar mangkuk yang di alasi kertas coklat, didalamnya terlihat penuh berisi
accesories bubur seperti kerupuk warna oranye, emping, taburan suir ayam,
potongan cakue, taburan goreng bawang kering, semprotan kecap, dan sedikit
sambal kacang. Bubur ayam khas Cirebon,
memang tidak kelihatan warna buburnya, tetapi lebih dominan accesoriesnya.
Rupanya bubur ayam yang di depan Landmark tersebut merupakan salah satu tempat
pavorit untuk sarapan pagi di Jakarta dengan harga murah meriah. Satu mangkok Rp. 9.000 sedangkan bila
setengah mangkok Rp. 7.000, hehehe agak susah memang kalau dimasukan dalam
rumus matematika.
Dibawah jembatan menuju halteu busway Dukuh Atas,
atau bersebelahan dengan awal Jalan Jendral Sudirman ada jalan putaran menurun
untuk berbalik menuju arah pejompongan ataupun menuju kuningan. Kelihatannya putaran jalan tersebut salah
design, karena walaupun daerah tersebut cukup padat dengan antrian bus way,
tetapi tepat di sisi tebing bersisian dengan jalan Sudirman (bersebelahan
tetapi berbeda ketinggian sekitar 3 sampai empat meter, sehingga membentuk
tebing), terdapat jalan aspal yang jarang terjamah kendaraan. Dan, enterpreneur mikro, dengan jeli
memanfaatkan lokasi tersebut untuk mencari nafkah, apalagi pasar di depan
mereka terdapat dua tower gedung Landmark dengan masing-masing 30 lantai.
Berjejer roda-roda penjual makanan, berturut-turut
mulai tukang gorengan seperti cireng, bakwan, tempe, tahu, dan molen, terus
roda tukang mie ayam, lalu roda tukang ketoprak, disebelahnya lagi soto
lamongan, lalu ada roda yang menjual nasi uduk, lontong sayur, dan ketupat,
setelah itu baru roda tukang bubur Cirebon.
Disamping tukang bubur ayam tersebut masih ada roda tukang bubur kacang
ijo, dan sebuah kios semi permanen yang berjualan rokok dan sejenisnya. Terakhir ditutup dengan deretan tukang
ojeg. Di depan roda-roda mereka masih
tersisa lahan untuk parkir sekitar 5 buah mobil, dan sekitar 20 buah bangku
plastik warna hijau, tanpa sandaran.
"DEKENE WONK CIREBON" terpampang tulisan
warna kuning terbuat dari kertas yang bisa ditempel, yaitu ditempel per huruf
tepat diatas kayu bingkai jendela roda.
Sedangkan pada kacanya sendiri ditulis BUBUR AYAM dengan huruf warna
putih dengan pinggiran merah. Dua orang
berbadan cukup besar berdiri dengan tangan lincah tiada henti membuat bubur
pesanan. Roda bubur yang berukuran sekitar
satu sampai satu setengah meter, tampak
sesak tertutup kedua orang tersebut.
Didepan roda berjubel orang ngantri, dan satu orang pengantri rata-rata
beli lebih dari 3 porsi bubur untuk di bawa ke kantor. Bahkan ada yang beli sampai 10
porsi......nambah antrian aja.
Di antara deretan pedagang yang ada, tukang
buburlah yang paling rame.
Bila bukan orang yang berkantor di landmark banyak yang datang bawa mobil, ternyata bisa berkolburasi dengan tukang parkir. Tukang parkirlah yang membantu memesan dan membawakan mangkok bubur, sehingga bisa menikmati bubur di mobil sambil dengerin berita macet jalanan. Tentunya dengan tips tambahan ke tukang parkir. Namanya itu simbiosis mutualisma........jadi........silahkan mencoba.........yam.......yam.....yummy.
Bila bukan orang yang berkantor di landmark banyak yang datang bawa mobil, ternyata bisa berkolburasi dengan tukang parkir. Tukang parkirlah yang membantu memesan dan membawakan mangkok bubur, sehingga bisa menikmati bubur di mobil sambil dengerin berita macet jalanan. Tentunya dengan tips tambahan ke tukang parkir. Namanya itu simbiosis mutualisma........jadi........silahkan mencoba.........yam.......yam.....yummy.
Selasa, 29 Oktober 2013
PULAU AYER
Rasa dingin yang menggigit permukaan kulit
membuatku terbangun, kucoba memicingkan mata mengintip
sekeliling. Nampak bilah-bilah papan
kayu bercat coklat tua selebar 20 centi tersusun rapi, disangga dengan balok
kayu berukuran 15 x 15 dengan warna cat yang sama. Diluar terdengar bunyi air
bergemuruh.....otakku langsung mengolah kedua informasi tersebut yaitu udara
dingin dan bunyi air, pasti diluar hujan besar.
Perlahan kusingkirkan selimut dan aku bangun
untuk memastikan keadaan di luar, mengintip lewat jendela kaca yang berada
disebelah kanan tempat tidur.
Kusingkapkan gordeng warna kuning, diluar sudah gelap dan ketika aku
lihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 18.57.
Aku baru teringat bahwa seharusnya jam 19.00 malam kami kumpul untuk
makan malam, berarti aku tinggal punya waktu 3 menit untuk sampai ke
restoran. Padahal letak restoran cukup
jauh dari kamarku, mungkin sekitar 400 meter.
"sebentar lagi masuk waktu isya" pikirku. Udah tanggung kemalaman deh, mendingan nunggu
isya dulu di jama' sama magrib, biar nanti tenang. "tapi......, gak enak kalau telat
terlalu lama" pikiran lain mencoba mempengaruhi. Sejenak aku terombang-ambing, tapi akhirnya
aku putuskan untuk segera bergabung dengan teman-teman, sholatnya nanti saja
malam kalau sudah selesai acara. Tanpa
mandi, aku pake jaket dan syal untuk menahan udara dingin. Aku ambil juga payung yang telah disiapkan
hotel, lalu membuka kunci pintu keluar.
Begitu pintu dibuka, udara hangat cenderung
panas langsung menghampiri tubuhku.
Rupanya diluar tidak hujan, udara dingin mungkin dikarenakan dua buah ac
yang terpasang di bungalauku belum sempat aku stel tingkat kedinginannya, masih
dipasang dengan kedinginan maksimal.
Sedangkan suara air bergemuruh adalah suara ombak bercampur dengan deru
compressor ac dan cipratan ombak yang mengenai tiang-tiang kayu penyangga
bungalau,
Pulau Ayer adalah salah satu pulau yang
terletak di derah kepulauan seribu, memerlukan waktu 30 menit perjalanan dari
pantai Marina Ancol. Tidak ada penduduk asli di pulau, sehingga orang yang
berada di pulau tersebut kalau bukan wisatawan berarti pegawai hotel. Di kepulauan seribu memang ada beberapa macam
pulau, yaitu ada pulau yang berisi penduduk saja, ada pulau yang berisi
penduduk dan ada hotelnya, ada pulau yang tidak berpenghuni, dan ada pulau yang
sebelumnya tidak berpenghuni namun dibangun cottage-cottage sehingga akhirnya
berpenghuni namun hanya khusus wisatawan dan karyawan hotel, seperti halnya pulau
Ayer ini.
Cottage atau bungalau yang dibangun di pulau
Ayer secara garis besar terdiri dari dua macam, yaitu bungalau yang dibangun di
atas laut, dan bungalau yang dibangun di daratan. Ada 30 lebih floating cottage
atau bungalau yang didirikan di atas laut, dan ada lebih dari 20 bunglau
termasuk kamar hotel yang terletak di daratan atau disebut land cottage. Fasilitas lain yang ada seperti jogging track
sekitar 1,2 kilometer mengelilingi pulau, lapangan basket, lapangan volley
pantai, beberapa tempat outbond, kolam renang, restaurant, penyewaan sepeda,
ruangan karaoke, serta beberala fasilitas olah raga air seperti jet sky, banana
boat, dll.
Kalau mau datang ke Ayer sebaiknya bersama
keluarga, sehingga dapat menikmati suasana lain untuk penyegaran. Jangan seperti aku, walaupun berangkat sama
rombongan, namun karena cottagenya masing-masing dan saling berjauhan, rasanya
cuma pindah tidur doang.......hehehe bahkan cederung sereeeem. Pemandangan malam hari dari teras cottage memandang ke laut, belum habis tatapan mata
telah terlihat lampu-lampu di pantai Jakarta.
Tidak ada pemandangan lautan lepas.
Mungkin karena cottageku yang berhadapan dengan Jakarta, serta jarak pulau yang tidak begitu jauh dari pantai Marina Ancol.
Yang sangat merasa kehilangan adalah ketiga
pagi-pagi terbangun, tidak terdengar suara merbot memanggil saat tahrim atau
beberapa menit sebelum waktu sholat subuh tiba. Biasanya marbot di mesjid deket rumahku sudah mulai
membangunkan warga jam 04.00 pagi. Demikian pula ketika
datang waktu subuh, tidak terdengar suara adzan...dari mesjid Nurul Iman, yaitu
mesjid berukuran 6 x 10 meter yang berkarpet hijau, cukup terawat, terletak
dekat pintu mess karyawan. Kata pegawai
disana, memang adzan di pulau Ayer tidak pakai speaker......takut mengganggu ????? Astagfirullah.
Menemani kami lari pagi di jogging track,
sekitar 25 sampai 30 pegawai, baik laki-laki maupun perempuan kompak
menyapu seluruh daratan pulau dengan sapu lidi panjang. Sebagian ada yang membawa roda mengangkut
sampah-sampah yang dominan adalah berupa guguran daun tua. Tampaknya hampir
seluruh karyawan, diharuskan mulai kerja pagi-pagi sambil berolah raga dengan
menyapu mulai jam 5.30 sampai jam 6.30.
Pembersihan pulau bukan hanya harus dilakukan di daratan, rupanya juga
harus dilakukan di lautan yaitu di pantai yang menghadap ke Jakarta. Pantai yang kemaren sore aku amati cukup
bersih sehingga dasar pantai berwarna kuning terkena cahaya matahari jelas
terlihat, pagi ini berubah menjadi penuh sampah plastik berbagai jenis dan
berbagai warna. Bukti penduduk Jakarta masih suka buang sampah sembarangan......huh.
(salam hangat dari kang sepyan)
Langganan:
Postingan (Atom)