Kamis, 16 Januari 2014

MANUSIA BUMI

Mobil-mobil tiada henti berseliweran di ujung jalan Sudirman.  Jalur lambat kelihatan sangat padat, demikian pula jalur cepat.  Beberapa gerombolan orang yang ada di trotoar, bercampur antara pedagang kaki lima, calon penumpang, calo atau bahasa keren-nya timer, tukang ojeg, dan lain-lain.  Detilnya tidak terlihat jelas dari tempat aku duduk.  Mobil hanya sebesar kotak korek api.  Merk mobil jelas tidak kelihatan, paling yang bisa di tebak adalah bis, metromini, atau sedan.  Terlihat dari besar dan panjangnya atap mobil.  Demikian juga kepala manusia hanya sebesar pentul korek api. Tidak bisa membedakan kelaminnya apakah perempuan, lelaki, atau banci.  Tidak bisa membedakan profesinya apakah dia sopir, pegawai, pengamen, pengemis, atau pengusaha.  Tidak bisa melihat raut mukanya apakah sedang sedih, galau, atau gembira.  Tidak bisa melihat apakah mereka sedang kekenyangan atau kelaparan.

Aku berada di lantai 16 atau kira-kira di ketinggian 80 meter.  Dinding kananku yang seluruhnya terbuat dari kaca menyuguhkan pemandangan jalan Jendral Sudirman, sehingga aku dengan sangat leluasa memandang hiruk pikuk jalan tersebut sepanjang hari.  Udara yang nyaman cenderung dingin, membuatku sering mengenakan jaket.  Harum ruangan selalu terjaga dengan  dipasangnya alat otomatis yang saban lima menit menyemprotkan cairan harum di setiap sudut.    Sangat kontras dengan keadaan di bawah sana.  Cahaya matahari terik membakar kulit, mengeluarkan bau 'lanus' kulit dan meningkatkan produksi keringat di ketek.  Dicampur dengan debu asap metromini, komplit sudah panas dan bau jalanan menyatu.  Membuat pikiran buntu dan hati membatu.  Kata film tahun 60-an, kejamnya ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri.

*****
Tumpukan map berisi dokumen-dokumen, foto, denah, narasi hasi analisa dan laporan bertumpuk memenuhi seluruh sisi meja.  Diatas map ada dokumen yang berisi ekskutive resume, untuk memudahkan dia membaca keseluruhan berkas tebal.  Cukup dengan membaca eksekutive resume yang sekitar 2 - 3 lembar yang telah dibuat oleh staf yang sekolahannya lebih tinggi, maka dia 'merasa' sudah dapat menguasai berkas tersebut.  Lalu dia lirik beberapa alternatif usulan keputusan yang juga telah dibuat oleh staf, lalu coret-coret dikit dan tanda-tangan.  Tanda-tangan yang bukan tidak mungkin akan mengubah pola hidup orang, anak-anak, keluarga, atau kerabat dekat dari yang namanya tercantum dalam berkas.  Yang bahkan dia tidak sempat membukanya.

Begitulah cara eksekutive bekerja mengambil keputusan, efisien dan cepat.  Demikian juga para pejabat, baik korporasi maupun pemerintahan.  Semakin tinggi jabatan, harus bisa melihat secara global, tidak perlu mengurusi urusan detail dan jelimet.  Manajemen modern mengajarkan seperti itu.  Pengalaman urusan detail dan jelimet, sudah cukup dialami waktu dahulu meniti karir.  Artinya pengalaman masa lalu tersebut, akan menjadi referensi yang dapat diandalkan dalam membuat keputusan saat ini.  Hal yang paling penting dalam membuat keputusan adalah harus sesuai aturan serta memiliki dasar logika yang jelas.

*****
Dari lantai 16 aku bisa dengan jelas melihat kepadatan jalan Sudirman.  Aku mencoba berimajinasi, apakah mungkin aku bisa mengendalikan sebuah mobil remote sebesar mobil beneran yang sengaja aku simpan di jalan sudirman, tanpa menyenggol mobil yang lain.  Apakah mungkin aku dapat memerintah dengan tepat kepada bawahanku yang sedang ikut bergerombol di trotoar, kapan saat yang tepat untuk menyebrang ?  Rasanya, kalaupun mungkin atau bisa dengan menggunakan kalkulasi statistik dan probabilitas, hasilnya tidak akan sempurna.  Keputusan atau perintah yang sempurna, seharusnya dilakukan melalu pertimbangan logika dan perasaan.  Pertimbangan perasaan hanya akan didapat kalau kita ikut terjun ke lokasi, melihat dengan mata sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, merasakan panas, angin, apek dengan anggota badan sendiri.

Makanya memang amat sangat pantas kalau kita sebagai objek hasil keputusan, merasakan ada beberapa keputusan yang dirasa janggal dan aneh.  Naik turunnya harga gas, dapat dijadikan sebagai salah satu contoh keputusan yang benar secara logika, tetapi kurang pas secara rasa.  Kisruh pedagang kaki lima yang tak kunjung selesai, bertambahnya rakyat miskin, kesenjangan pembangunan desa dan kota, impor daging dan kedelai yang terus menerus.  Kenapa tidak selesai-selesai ? Mungkin salah satunya, karena keputusan-keputusan yang dibuat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, banyak dilakukan di dalam ruangan yang nyaman.  Mungkin si staf yang membuat eksekutive summary memiliki sudut pandang yang kurang pas, sehingga informasi yang dibaca pengambil keputusan juga menjadi bias.

Sangat masuk akal apabila sekarang banyak orang yang berharap pada sosok pejabat yang merakyat.  Yang kerjanya lebih banyak di lapangan dari pada di ruangan.  Sosok seperti pak Jokowi dan bu Tri Rismaharini Walikota Surabaya di pemerintahan.  Sosok seperti pak Jonan PT. KAI dan pak Ismed PT. RNI di korporasi.  Hasil kerja mereka terlihat dan terasa.  Ciri-ciri mereka hampir sama, berpakaian sederhana, bergaya hidup sederhana, tidak banyak sesumbar, mengerjakan apa yang dia katakan, serta walaupun banyak orang yang 'menggangu'  mereka tetap saja fokus mengerjakan pekerjaan utamanya.  Sambil bercanda istriku pernah bilang "nanti kalau milih pemimpin jangan cari yang kelimis, karena kerjanya hanya akan memoles-moles biar kelihatan cantik".  Kebetulan orang-orang yang aku sebutkan tadi, kayanya tidak pernah masuk ke salon.

Kita adalah manusia bumi.  Oleh karena itu kita harus merayap diatas bumi agar kita dapat merasakan, menjaga, dan menguasai bumi.  Terlalu banyak di atas awan dan di udara, membuat kita tercerabut dari kehidupan bumi.


(Terinspirasi dari salah satu puisi Kang Miswan Nawawi ketika beliau di Hongkong)


(salam hangat dari kang sepyan)

Minggu, 12 Januari 2014

AYO KITA KE BALI !!!

Ini adalah kali kelima aku jalan lagi ke Denpasar, setelah delapan tahun lalu, yaitu jamannya bom Bali kedua, aku sempat bekerja di Denpasar hampir 15 bulan.  Rasanya telah habis seluruh tempat wisata di Bali aku jelajahi.  Setiap jengkal pasir pantai seperti kuta, legian, jimbaran, nusa dua, dream land, peti tenget, tanah lot, sampai lovina telah aku akrabi.  Demikian pula wisata gunung dan wisata daerah keramat seperti besakih, trunyam, bedugul, kintamani, ubud, tirta empul, sangeh, sampai ke daerah Negara maupun Karang Asem, telah aku datangi.  Jadi setiap datang ke Bali, tidak pernah terpikir olehku untuk membuat agenda wisata lagi. Berangkat, kerja, langsung balik.

Dalam kedatangan kali ini, ada hal yang sangat berbeda.  Dari atas pesawat terihat jembatan panjang berliku-liku di atas laut.  Rupanya Bali tengah berbenah membuat jalan Tol  di atas laut yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Benoa, Nusa Dua, serta Denpasar.  Bandara juga sedang dirombak total, besar-besaran menjadi bandara modern.  Sayang masih dalam masa pembangunan, jadi kami terpaksa harus muter-muter melewati gang-gang untuk dapat masuk atau keluar Bandara.   

Keluar bandara Ngurah Rai, aku melihat beberapa perubahan selain pembangunan jalan tol.  Rupanya sekarang Denpasar telah memiliki under pass di sekitar patung Dewa Rucci atau yang dahulu di sebut Simpang Siur.  Alamat simpang siur bisa hilang kalau begini, karena persimpangan tersebut menjadi tidak siur lagi.  Saking berubahnya kondisi di sana, sampai aku kebingungan mencari jalan sunset road.  Melewati jalan tol, tadinya aku berharap akan melihat ombak dari atas jembatan.  Ternyata entah karena air laut sedang surut atau karena ada perubahan lingkungan.  Yang terlihat adalah lumpur warna hitam dibawah jalan tol.  Mudah-mudahan bukan karena dibangun jalan tol yang menyebabkan perubahan ekosistem pantai Bali.

*****

Waktu masih menunjukkan pukul 04.45 pagi wib, tapi nampak di luar sudah mulai terang.  Karena perbedaan waktu satu jam antara Jakarta dan Denpasar, berarti sudah hampir jam enam pagi di Bali.  Aku memang sengaja tidak mengubah jarum jam tangan.  Segera aku ganti baju dengan baju olah raga dan jogging ke pantai Kuta.  Banyak perubahan di sekitar pantai.  Akses yang dahulu tertutup dari garis pantai yang sejajar dengan jalan pantai kuta ke kiri, sekarang telah dibuka, bahkan diberi jogging track.  Tampak beberapa bule sedang jogging, dari mulai pinggir hotel Ina di Kuta bisa sampai ke depannya Centro bahkan terus sampai ke pantai depannya hotel kartika plaza.  Coca Cola bekerjasama dengan desa Adat Kuta, telah membuka akses tersebut, terlihat dari prasasti yang ditandatangani kedua belah pihak.

Demikian juga ketika sore hari tiba, pantai yang dipenuhi oleh bule berpakaian minimalis, bukan hanya di kuta.  Tetapi menyebar tanpa terputus sampai ke legian, terus nyambung ke seminyak.  Tempat yang dahulu hanya terbatas sekitar satu kilometer sekarang telah berkembang menjadi hampir lima kilometer.  Sebuah kemajuan yang luar biasa yang tentunya sangat menunjang perekonomian masyarakat bali, karena akan menambah jumlah guide, sewa mobil, sewa motor, hotel, tukang pijat, pedagang makanan, pedagang oleh-oleh, pengrajin, tukang tatto, dan lain-lain.

Semakin penasaran dengan kemajuan daerah wisata Bali, maka ketika ada waktu break sore hari, aku minta sopir untuk mengantar ke Garuda Wisnu Kencana, Dreamland, Uluwatu, dan lain-lain.  Banyak sekali perubahan.  GWK yang dahulu sangat sepi, sekarang telah semakin ramai.  Pada sore hari ada pertunjukkan tari kecak dan legong.  Sayang waktu luangku tidak terlalu banyak, jadi aku gak sempat menonton tari kecak yang asli dimainkan orang bali.  Kalau aku nonton tari sekitar 2 jam, berarti tidak bisa mengunjungi tempat lain.  Perbedaan lain di GWK, yang dahulu gratis sekaramg harus bayar tiket masuk, kalau gak salah tarifnya Rp. 50.000,- per orang.

Dreamland yang dahulu hampir 100% berisi bule amat sangat minimalis nongkrong, sekarang bule yang ada hanya satu dua saja.  Selebihnya turis domestik, dan kesannya menjadi agak kotor.  Untuk sampai ke lokasi pantai, kita diangkut dengan mobil khusus dari pelataran parkir ke bibir jalan menuju pantai.  Sebagai imbalannya parkir mobil dikenakan tarif Rp. 15.000,- sekali parkir.

Waktu mau naik ke Uluwatu, sopir memberikan alternatif  "Pak, sekarang ada pantai baru yang sangat bagus, namanya pantai Pandawa.  Kalau kita ke Uluwatu, maka kita tidak bisa ke Pandawa karena akan terlalu malam".  Memang sopir-sopir di Bali, biasa seperti itu merangkap seperti guide.  Akhirnya aku setuju untuk mencoba mengunjungi pantai Pandawa yang letaknya balik arah menuju arah nusa dua.  Pertimbangan lain selain ingin lihat wisata baru juga biar pulangnya lebih dekat ke Jimbaran.  Makan malam di Cafe Menega Jimbaran sambil melihat pesawat landing dan take off, diiringi nyanyian meksikoan dari 6 pengamen dengan alat musik komplit, sudah langsung kebayang lagi.  Sejenak melupakan bahwa di Cafe itulah, bom bali dua diledakan.

Jalan mulus beraspal hotmix, selalu begitu di setiap ruas jalan di Bali.  Mungkin karena tektur tanah dalamnya berkapur, sehingga tempelan aspal cederung lebih tahan lama.  Atau mungkin margin pemborong tidak terlalu banyak dipotong jadi kualitas aspal bisa lebih bagus.  Rupanya pantai pandawa adalah pantai yang berada di bawah tebing, dan desa adat disana telah membuka tebing tersebut sehingga mobil bisa memiliki akses masuk ke pantai.  Dikiri kanan tampak tebing batu karas hitam berundak-undak dan berkelok-kelok.  Nun di depan sana, hamparan laut biru bersih terbentang.  Ya Allah.....betapa indahnya ciptaan-Mu.  Setengah jam aku menikmati saat-saat matahari terbenam.  Memandang laut yang dipenuhi perahu kano.  Ombaknya tenang dan dibawahnya batu karang putih bercampur pasir putih.  Seperti bermain perahu di kolam renang super besar.

Aku puas-puasin foto-foto, dari berbagai sudut dan berbagai arah.  Dan aku setuju kata Wiwit yang ikut seperjalanan denganku, bahwa pemandangan itu tidak bisa dibungkus dibawa pulang.  Tetapi harus dinikmati di tempat.  Jadi.......ayo kita ke Bali.

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 16 Desember 2013

SILENT MARKETING

Lomba agustusan di kampungku sangat meriah.  Berbagai ajang perlombaan diadakan, mulai dari lomba yang serius seperti sepak bola dan bola voly, sampai lomba yang kurang serius seperti balap karung, lomba makan kerupuk, dan lain-lain.  Untuk lomba yang serius dua minggu menjelang pertandingan telah dilakukan teknical meeting untuk mengundi dan menyepakati aturan permainan.  Sedangkan untuk lomba yang main-main, aturan biasanya baru dibacakan oleh panitia menjelang pertandingan.  Tapi pada dasarnya sama saja, bahwa para peserta lomba harus mengetahui dengan jelas aturan-aturan, bagaimana agar dia dapat memenangkan lomba dan mendapatkan hadiah.

Domba jantan dengan tanduk melengkung sebagaI hadiah untuk klub sepakbola yang jadi juara, dipertontonkan dipinggir lapangan.  Menambah semangat peserta lomba.  Demikian juga deretan piala berwarna emas serta tumpukan buku yang telah dibungkus kertas warna coklat, menjadi penyemangat lomba anak-anak seperti balap karung, kelereng dan makan kerupuk.  Jadi agar perlombaan banyak peminatnya, maka panitia akan berusaha mensosialisasikan dan menunjukkan hadiah-hadiah tersebut pada peserta lomba.  Sesuai dengan jenis perlombaannya.

Menurut Kang Gani, panitia agustusan di kampungku, kunci sukses penyelenggaraan agustusan yaitu memberitahukan kepada seluruh warga tentang diselenggarakannya acara agustusan yang menyediakan hadiah menarik.  Hadiah itu sebisa mungkin telah ditunjukkan sebelum pertandingan dimulai, jadi warga akan sudi menyisihkan waktu saat hari H perlombaan.  Kunci sukses kedua adalah memberitahukan kepada warga tentang aturan perlombaan, agar warga dapat memilih di perlombaan mana dia paling cocok ikut berpartisipasi.  Sesuai dengan kemampuannya.

Dalam upaya menggaet customer, rupanya para marketer melihat bahwa perlombaan dapat dijadikan sebagai salah satu ajang marketing.  Tentu saja perlombaannya akan dikaitkan dengan pembelian produk.  Misalnya dengan harus mengisi bungkus kemasan, lalu mengirimkan bekas bungkus kemasan yang telah diisi nama dan alamat ke produsen produk.  Kemudian dilakukan pengundian terhadap bekas bungkus kemasan produk tersebut untuk menentukan pemenang.  Tujuannya adalah agar customer membeli produk sebanyak-banyaknya, sehingga dapat mengirimkan bungkus produk sebanyak-banyaknya, untuk mendapatkan peluang hadiah sebesar-besarnya.

Upaya lain dilakukan oleh perusahaan minuman yang mencantumkan hadiah dalam tutup botol minuman.  Tentu saja untuk mendapatkan hadiah itu, customer harus membeli produk minumannya sehingga boleh membuka tutup botol.  Ada juga perusahaan sabun batangan yang menyelipkan koin emas dalam sabun.  Jadi sambil menggosokkan sabun, customer harap-harap cemas tergosok oleh emas.

Pemberian hadiah di perusahaan perbankan lebih meriah lagi.  Hadiahnya sangat bevariasi dan cukup 'wah', seperti ribuan umroh, emas batangan, alat elektronik, ribuan motor, mobil.  Jenis mobilnyapun menggunakan mobil termewah.  Membuat calon customer ngiler.  Walaupun mereka sadar bahwa peluang mendapatkan hadiah tersebut sungguhlah kecil.  Apalagi yang diundi secara nasional oleh sebuah bank besar.  Bayangkan saja, sebuah bank besar memiliki puluhan juta nasabah.  Sedangkan yang menang hanya beberapa orang saja.  Belum lagi kupon hadiah dikaitkan dengan besarnya simpanan.  Ya tentu saja yang peluangnya lebih besar adalah yang memiliki simpanan milyaran bahkan triliunan.  Tapi......siapa tahu nasib awak lagi mujur.....hehehe.....berharap keajaiban.

Terus terang saking banyaknya jenis hadiah, sampai-sampai aku sebagai customer tidak tahu lagi, bagaimana cara mendapatkan hadiah itu.  Nampaknya perusahaan perbankan hanya gencar menyampaikan jenis hadiah.  Lalu melakukan siaran langsung pengundian hadiah.  Dihadiri banyak artis, pejabat bank, kadang-kadang ada pejabat pemerintah.  Mungkin mereka lupa akan teori kunci sukses kang Gani, bahwa harus menyampaikan aturan perlombaan kepada seluruh peserta lomba sebelum pertandingan dimulai.  Sehingga aturan perlombaan untuk mendapatkan hadiah, kurang disosialisasikan.  Misalnya berapa rupiah harus menabung untuk dapat satu kupon.  Apakah kupon dilihat dari penambahan dana atau dari pengendapan dana, atau mungkin dari jumlah transaksi.  Kapan periode mulai dan kapan berakhirnya lomba.

Aku melihat bahwa pada akhirnya jenis lomba, aturan lomba, dan periode lomba menjadi hal yang dianggap tidak penting.  Para pemberi hadiah menganggap bahwa hadiah yang mereka berikan hanyalah sebuah bonus keajaiban untuk para customernya.  Mereka seperti lupa bahwa tujuan mereka memberikan hadiah adalah agar customer mau berlomba menabung atau menggunakan jasa perbankannya.  Mereka lupa bahwa pada dasarnya para customer itu mereka jadikan peserta lomba.  Mereka lupa bahwa peserta lomba 'menurut kang Gani' haruslah diberitahukan aturan secara jelas sebelum perlombaan.

Sayang sekali memang.  Hadiah yang milyaran yang tentu saja akan meningkatkan biaya dana bank tersebut, menjadi kurang efektif meningkatkan kemampuan bank menghimpun dana, hanya karena kurang komunikasi tentang cara mendapatkan hadiah.  Seperti orang yang melakukan pemasaran secara diam-diam.  Silent Marketing.  Pokoknya nih ada hadiah, silahkan customer menabung.  Nanti kita akan undi.  Tinggal aku dengan pertanyaan besar....kapan diundi ? bagaimana caranya ? kapan mulai dan kapan berakhir ?  Atau memang aku sebagai customer hanya dianggap seperti penjudi.  Berharap nasib baik.

Jakarta - Denpasar, 04 Desember 2013


(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 09 Desember 2013

BARSENA VS KEKE

Tahun 80-an, aku dibuat tercengang-cengang oleh tayangan pertelevisian swasta yang sangat menghibur, sangat variatif, dan kelihatan elegan serta gaul.  Tidak seperti tayangan TVRI sebagai satu-satunya siaran televisi yang ada pada waktu itu.  RCTI dan SCTV membawaku ke alam lain, musiknya hebat, jauh lebih hebat dan sering dibandingkan dengan aneka ria safari besutan Eddy Sud yang biasanya hadir di TVRI.  Iklannya pun bagus-bagus, ada tayangan dari luar negeri, ada film yang relatif baru, sinetron berseri baik buatan dalam negeri maupun produksi luar negeri yang telah di ganti audionya.  Si Doel anak sekolahan, Tersanjung, dan banyak judul-judul sinetron lainnya, yang selalu aku tunggu-tunggu jam tayangnya.  Menggantikan dongeng dari radio yang sebelumnya biasa aku tunggu.

Akhir 90-an, aku kembali dibuat tercengang dengan hadirnya televisi swasta yang siaran utamanya adalah berita.  Betapa kami terkaget-kaget melihat siaran langsung baik perang ataupun bencana.  Kami merasakan desingan peluru pak polisi waktu mahasiswa-mahasiswa dilibas di Semanggi, dan kami serasa menjadi aktifis ketika melihat tayangan mahasiswa menduduki gedung MPR DPR senayan.  Kami dirumah ikut memberikan semangat kepada pak Amien Rais, bu Megawati, dan Gus Dur, mendengarkan langsung pidatonya.  Kami merasakan kemasygulan pak Harto ketika sedang menyerahkan kekuasaan kepada pak Habibie.  Kami merasakan besarnya air bah akibat tsunami yang terjadi di Banda Aceh, bahkan rasanya bau bangkai ribuan korban jiwa-pun hadir ke beranda rumah.


Rupanya manusia itu makhluk yang disatu sisi sangat senang status quo, tidak mau berubah.  Tetapi di sisi lain merupakan makhluk yang cepat bosan, senang mengkiritk keadaan saat ini, dan tidak ada puasnya.  Tapi rupanya, kedua sisi itulah yang membuat peradaban manusia semakin maju.


Akhir-akhir ini, mulai banyak gugatan pada siaran televisi yang katanya tidak mendidik, membodohi, menyuguhkan kekerasan, ngawur, cuma cari untung, memihak, alat propaganda, dan lain-lain stigma buruk.  Siaran televisi sudah menjadi "teror" kehidupan. Ada gerakan yang meminta seluruh warga tidak boleh nonton TV mulai magrib sampai isya.  Walaupun aku gak yakin apakah gerakan ini ada pengikutnya ? apakah gerakan ini keberlangusungannya terus menerus ? atau hanya sesaat ?  Namun ada juga beberapa temen yang sudah sangat muak dengan siaran TV saat ini, memutuskan untuk memasukan TV pada kotaknya, dan memilih hidup tanpa memiliki TV.  Namun entah sampai kapan mereka bisa bertahan.


Aku termasuk di golongan orang yang biasa-biasa saja.  Tidak terlalu ekstrim.  Memang kadang-kadang aku juga sepakat dengan orang yang memberi 'stigma' negatif.  Tetapi menurutku tidak negatif-negatif amat, diantaranya masih ada yang positif.  Bahkan masih ada acara yang aku tunggu-tunggu yaitu Nez-Academy yang diasuh oleh Agnes Mo, tayangan Net TV.  Sebuah statsiun TV baru, yang menurutku formatnya agak berbeda dengan statsiun TV lainnya.  Mungkin karena baru jadi masih segar, belum membosankan seperti yang lainnya.


Nez-Academy adalah sebuah ajang pencarian bakat, hampir sama seperti Indonesia Idol, X factor, Akademi Fantasi, dan lain-lain.  Cuma beda sedikit-sedikit, di poles-poles.  Misalnya tidak seluruhnya hanya bakat nyanyi, tetapi juga ada yang bakat tari bahkan ada yang bakatnya menirukan suara-suara musik.  Ada tokoh sentral juri atau Kepala Sekolah yaitu Agnes Mo, yang sekaligus menjadi nama acara (Nez), sehingga dia lah yang berhak men 'drop out' peserta.  Memang karena namanya Academy, maka dibuat seperti sekolahan, ada guru-guru, ada pelajaran, dan akhirnya membuat pertunjukan yang ditayangkan (yang biasanya aku tunggu-tungu) dianggap sebagai ujian ('exam').  

Pemberian nilai dari penonton atau pemiarsa dilakukan bukan dengan cara 'kuno' seperti sms dan telepon, tetapi menggunakan twitter dan google plus.  Dan yang paling banyak mendapatkan komentar di twitter, maka dia dapat previllage.  Misalnya jaminan tidak di drop out untuk minggu depan, atau mendapat previllage memilihkan lagu buat temannya.


Barsena adalah salah satu kandidat dari Bandung dengan talenta luar biasa, suaranya bagus, musikalitasnya hebat, serta pandai maen piano.  Dua minggu lalu dia mendapat previllage untuk memilihkan lagu buat temannya.  Dan dia memilih salah satu temannya yaitu Keke kandidat dari Bali sebagai saingan terberatnya yang dipilihkan lagu.  Lagunya dicari lagu yang cukup sulit, baik lirik maupun nadanya.  Aku pikir, memang sangat wajar.  Dalam sebuah persaingan, ketika kita diberikan kesempatan untuk 'membunuh' saingan, maka kesempatan itu harus digunakan sebaik-baiknya.  Agar jalan kedepan bisa lebih leluasa.  


Namun sayang Barsena......ternyata Keke mampu menjawab tantangan itu.  Penampilan Keke dengan memgusung tema teaterical, bergerak dan bernyanyi seperti boneka, mampu memukau seluruh juri dan penonton, termasuk aku.  Bahkan setelah lagu berakhir, Agnes Mo sang kepala sekolah memberikan 'standing applaus' yang menunjukkan dia puas dengan penampilan anak didiknya.  Sebuah ancaman, dihadapi dengan serius oleh Keke, sehingga bisa berubah menjadi sebuah kesempatan.  Begitulah memang dunia.  Apalagi ini adalah arena perlombaan.


*******
Entah dalam acara apa, keesokan harinya ada sebuah berita, tapi berita ringan saja membahas tentang tayangan Nez-Academy malam sebelumnya.  Diberitakan ada dua orang yang di drop out dan ada wawancara dengan Keke membahas persiapan penampilannya.  Dalam kesempatan tersebut Keke mengucapkan terima kasih pada Bersena.  Setelah Bersena memberikan tantangan, dia selalu memeberikan support pada Keke, melakukan diskusi dan memberikan masukan agar menghasilkan penampilan yang baik.  Bahkan setelah malam-malam menjelang pagi selesai latihan, Bersena masih mau menambah melatih Keke di rumah dengan bermain piano menemani Keke latihan. Betapa indah persaingan yang mereka pertontonkan.  Terus terang, berita itu membuatku terperangah.


Kembali aku teringat tulisan tahun lalu (bulan Mei tahun 2012) tentang 'blue ocean strategy'......tidak semua orang bersaing dengan menghalalkan segala cara......jadi, marilah kita belajar dari mereka.....termasuk belajar dari anak-anak muda seperti Bersena dan Keke.

Terminal 3 Soeta, 4 Desember 2013



(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 25 November 2013

NASIB DAGING QURBAN

Qurban adalah sebuah moment yang ditunggu-tunggu, oleh tetangga kami terutama yang tinggal di daerah gang tembok.  Yaitu sekitar seratusan kepala keluarga yang mendirikan bangunan liar di atas tanah kavling yang belum dibangun oleh pemilik kavlingnya.  Benar sekali apa yang disampaikan para ustadz, bahwa tidak semua orang memiliki rezeki yang cukup bahkan melimpah sehingga dapat memilih makan daging kapan saja.  Tetapi bagi Surni, Umi, Keri, Eha, dan lain-lain, qurban artinya mereka bisa mencicipi makan enak, bisa masak dan menghidangkan daging hangat ke tengah-tengah keluarganya.

Menjelang datangnya hari raya Idul Adha, mereka melakukan investigasi di tempat mana saja dilakukan pemotongan hewan qurban, berapa jumlah hewan qurban yang telah terkumpul, jam berapa motongnya, bagaimana sistim pembagian dagingnya, kemana mencari kupon, bagaimana agar bisa melakukan trik bolak-balik ngantri.  Mereka analisa dan diskusikan dengan membandingkan cara-cara yang telah ditempuh panitia qurban sebelumnya untuk mencari celah agar bisa mendapatkan daging qurban sebanyak-banyaknya.  Strategi dipasang, anak-anak dan suami disebar sehingga  bisa antri di beberapa tempat sekaligus.........makanya kami sebagai panitia qurban selalu kewalahan, karena rupanya ada perlombaan trik antara panitia qurban dan pihak penerima qurban.

Sore setelah selesai hari raya, masing-masing anggota keluarga membawa satu, dua, bahkan lima plastik bagian qurban yang umumnya berkisar antara 200 gram sampai satu kilogram.  Bercampur ada daging, tulang, lemak, jeroan, kaki, dll.  Jeroan dan tulang segera dimasak, sedangkan dagingnya dikumpulkan agar bisa dikonsumsi di hari-hari mendatang.  Jaman ibuku dulu diawetkan dengan cara dijemur yaitu dibuat dendeng, tetapi sekarang lebih banyak yang mengawetkan dengan cara yang praktis yaitu disimpan di freezer dibuat daging beku.  Masalahnya adalah, mereka tidak memiliki kulkas ???

Aku tahu hal tersebut karena mendadak dalam kulkasku pada bagian atas untuk membuat es batu, kok jadi ada plastik daging.  Istriku bilang itu adalah titipan daging tetangga yang suka bantu-bantu ngebersihin rumah dan mencuci.  Rupanya mereka memanfaatkan freezer tetangga kenalan atau majikannya untuk mengawetkan daging qurban.  Bukan ditempat aku saja, tetapi di sebar di beberapa tempat lainnya.  Umumnya tetanggaku yang tinggal di gang tembok merangkap menjadi buruh cuci di dua atau tiga majikan sekaligus.

Kejadian menggelikan sekaligus mengharukan adalah ketika ada diantara daging mereka yang hilang.  Kebetulan dititipkan di salah satu majikan yang memiliki isteri dua.  Rupanya suaminya tidak tahu bahwa daging yang di kulkas rumahnya bukan miliknya, tetapi hanya daging titipan tukang cucinya  Malam-malam dia ambil daging tersebut untuk dimasak di rumahnya yang lain.......ini hanya dugaan, karena kejadian sebenarnya tidak pernah terungkap. Yang jelas, ketika pagi harinya si empunya daging memeriksa kulkas, betapa terkejutnya dia karena dagingnya hilang.  Ditanya sama ibu yang punya rumah dia jawab enggak tahu......mau nanya sama suaminya, takut bertambah ribut.........jadi akhirnya terpaksalah dia terima nasib.  Nasib untuk tahun ini cukup menikmati sop tulang dan jeroan.

Dengan nada masygul dia ceritera kejadian tersebut ke istriku "untung aja bu, si bocah kemaren maksa pingin makan sate.  jadi sebelum daging dititipkan kami ambil sedikit untuk dibuat sate.......jadi kami bisa mencicipi dagingnya, bukan hanya makan 'balung' tok".........."namanya belum rezeki" kata istriku sambil menyelipkan lembaran kertas warna biru untuk dibelikan daging ke warung sekedar penghibur untuk mengganti sebagian daging yang hilang untuk anaknya.


Jadi jangan anggap daging qurban kita sia-sia.  Jangan anggap tidak ada orang yang menantikan sedekah qurban kita.  Jangan karena merasa tahun lalu sudah qurban jadi tahun ini tidak perlu qurban, karena ada kepentingan lain yang menurut sudut pandang kita mendesak.  Tapi ingatlah di setiap rezeki yang kita dapatkan ada haknya orang miskin.  Telah diperintahkan kepada orang yang mampu untuk melakukan qurban, maka laksanakanlah.......jangan ditunda-tunda.  Jangan sampai menyesal ketika akhirnya kita tidak diberikan keluasan rezeki karena tidak amanah.........hehehehe.......koq jadi menasehati......jadi gak enak........maaf.....maaf......maaf.

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 18 November 2013

PELAJARAN DAMRI BANDARA

Sudah beberapa hari ini rasanya ngantuuuk terus, mungkin kurang tidur pikirku.  Sehingga dalam rencana perjalanan ke Banda Aceh kali ini, sudah dijadwalkan untuk nambah waktu tidur di bus Damri dari Bekasi ke Soekarno Hatta.  Kebayang khan macet, kayanya lumayan bisa dapat waktu tidur bersih sekitar 90 menit.  Setelah beli karcis di counter, segera aku cari tempat dipertengahan bus sekitar jajaran ke 6 dari depan pinggir jendela, dengan pertimbangan lebih sedikit orang lewat yang dapat mengganggu rencanaku.  Lalu mataku aku merem-meremkan.

Aku terbangun ketika kondektur bus memeriksa karcis di daerah pintu tol bekasi barat.  "Hoaaaaaaaaaamm" terpaksa deh aku break tidurku yang baru berjalan sekitar 15 menit.  Disebelah telah terisi penumpang Bapak-Bapak yang kutaksir usianya sekitar 60-an, tinggi diatas 170 cm, dan penampilannya tampak rapi dengan celana jeans serta kaos berkerah.  Dari logatnya serta tujuannya ketika dia menjawab pertanyaan kondektur, aku dapat memastikan bahwa Bapak tersebut berasal dari Tapanuli Utara.  Ketika giliranku di tanya sang kondektur, aku jawab mau ke Sumatera jadi turun di 1B......hehehe ketahuan deh cari maskapai penerbangan yang murah......., aku dahuluin tugas kondektur yang setelah penumpang menjawab tujuan biasanya dia akan menyebutkan terminal tempat kita berhenti.  

Mungkin si Bapak sebelah agak aneh dengan caraku menjawab, kok enggak bilang mau ke kota mana ? Setelah kondektur berlalu dan aku bersiap merem, dia bertanya "ke Sumateranya mau kemana pak ?"
"Mau ke Banda Aceh pak" jawabku pendek, maksudnya sih mau neruskan jadwal tidur jadi menghindari keterusan ngobrol. 
Eeeeeh.....rupanya si Bapak melihat bahwa ada kemungkinan satu pesawat, jadi dia terus tanya lagi "berarti transit di Kualanamu ya ?"
Aku jawab pendek juga "enggak pak, pesawatnya langsung tidak transit".
"Waktu dulu saya masih bertugas, tidak ada pesawat yang langsung ke Aceh.......bla....bla....bla...." si Bapak rupanya belum tahu daftar "Jadwalku"  jadi terus saja asyk ngajak ngobrol. Sampai akhirnya aku tahu rupanya kita pernah tetanggaan, rupanya belaiu lah orangnya yang terkenal menjadi tuan tanah di komplek perumahanku, sampai punya 12 kavling.  Ya sudah, kepalang tanggung aku 'cancel' deh jadwal tidurnya.

Dia ceritera bahwa ketika dahulu keluar SMA, Bapaknya bilang "karena kau anak pertama, jadi harus segera bekerja agar ketujuh adikmu bisa terurus" maksudnya tidak ada biaya untuk meneruskan kuliah.  Dititipkannyalah pada om-nya yang menjadi Kasatserse di daerah Langsa untuk dicarikan pekerjaan yaitu bekerja di pertambangan minyak di hutan pedalaman Aceh.  Selama dua tahun si Bapak bekerja mencari bekal hidup.  "Karena saya tidak merokok dan juga karena tidak ada yang bisa di beli, maka lumayan irit saya hidup disana, sehingga hampir seluruh gajinya di tabung" demikian dia ceritera masa mudanya.  Dari hasil tabungan itulah dia bisa meneruskan kuliah dan akhirnya pergi ke Jakarta dan menjadi pejabat pemda DKI.

Memiliki empat anak dua laki-laki dan dua perempuan, dan semuanya cukup sukses.  "Walaupun keadaan saya lebih baik di banding orang tua saya dulu, tapi saya tetap mengajarkan pada anak-anak saya, agar bisa mandiri sebagaimana saya waktu muda" demikin dia menyampaikan prinsip dalam mendidik anak.  Sehingga rata-rata anak saya sekolahnya mendapatkan beasiswa.  Dua anak perempuannya sekolah ke luar negeri dengan beasiswa penuh, dan mendapatkan suami bule.  Yang satu tinggal di Amerika bersuami orang Amerika dan yang satu lagi tinggal di Kanada bersuamikan imigran asal Prancis.  Sedangkan kedua anak laki-lakinya ada yang alumni STAN dan sekarang berkarir di Departemen Keuangan, dan satu lagi alumni UI yang kerjanya pindah-pindah, sudah delapan perusahaan, terakhir di Axa Mandiri.

Termasuk orang tua yang sangat berhasil pikirku, apalagi ketika dia juga ceritera tentang bisnis tanahnya yang selalu untung berlipat-lipat, baik di daerah Bekasi dari beli harga Rp.15.000 per meter sekarang sudah mencapai Rp. 3 juta.  Demikian pula dengan investasi di tempat lain seperti daerah Cikarang - Cibarusah maupun dekat bandara Kualanamu. Bikin ngiler saja.

Namun, ketika berbicara tentang anaknya yang hidup di luar negeri, ada nada kepedihan yang kutangkap.  "Menantu saya itu tidak percaya agama ?" katanya.  Demikian pula dalam hal menghormati orang tua, ketika sudah jauh-jauh kami yang tua ini datang dari Indonesia ke Amerika, menantunya cuma jabat tangan mengucapkan selamat datang, lalu balik masuk kamar lagi meneruskan maen game.  Mungkin karena perbedaan budaya, sepertinya tidak ada kemesraan hubungan antara orang tua dan anak.  

Pernah suatu saat di ajak ke tempat orang tuanya (besan), harus membuat jadwal dulu.  Setelah jauh-jauh datang, mereka langsung ngajak makan di restorant, lalu setelah makan salaman dan pulang.  Seperti hubungan bisnis saja. "Saya pikir, karena waktu berkunjungnya harus janjian dulu, mereka akan masak menyiapkan makanan untuk kami....hehehe" kata si Bapak terkekeh. 

Lebih jauh si Bapak berceritera bahwa berdasarkan pengamatannya, rasa individual menantunya termasuk juga anaknya sekarang menjadi semakin menonjol.  Dalam hal pengelolaan keuanganpun, walau mereka suami isteri, mereka melakukan pengelolaan keuangan yang terpisah. Ketika pergi ke mal dan membeli suatu barang, maka mereka masing-masing akan membayar masing-masing sesuai yang mereka ambil.  Makanan di rumahpun masing-masing telah memiliki jatah.  "Jadi kalau di kulkas ada makanan jatah menantu saya misalnya roti, maka saya tidak boleh mengambilnya" demikian si Bapak memberikan tambahan ilustrasi.



Diakhir perjalanan menjelang sampai Bandara, dengan mata seorang kakek yang rindu akan cucunya, dia berceritera dan menirukan bahwa cucunya sekarang sedang belajar nyanyi......."chi cha chi cha dididing......habbbp lalu ditangkap" lagu anak-anak Indonesia.......sebelum turun si Bapak sempat berpesan "kalau bisa....usahakan dapat menantu orang Indonesia saja".......sebuah pesan yang sangat dalam, yang disampaikan dari sebuah pengalaman yang sangat muahhhaaalllll.

(salam hangat dari kang sepyan)

Jumat, 08 November 2013

BUBUR AYAM LANDMARK

Hari ini adalah untuk ketiga kalinya aku ngantri bubur ayam yang mangkal di depan gedung kantor, setelah 10 bulan lalu kantorku pindah ke daerah Dukuh Atas yaitu di gedung Landmark tower B.  Entah sekarang berapa menit waktu tunggu yang dibutuhkan untuk dapat menikmati semangkuk bubur ayam panas.  Kali pertama aku ngantri bubur ayam, waktu tunggu sekitar 10 menit.  Begitu aku kelihatan bengong-bengong melihat orang berjubel, tiba-tiba ada seorang asisten tukang bubur yang bertanya mau pesan apa dan mempersilahkan aku duduk di salah satu bangku plastik hijau yang kebetulan kosong. 10 menit kemudian sang asisten tadi menyodorkan semangkuk penuh bubur.......yum...yum..yummy.

Kali kedua dengan 'pede' aku mencari bangku yang kosong, dan setelah dapat tempat duduk aku panggil sang asisten tukang bubur yang sekali-sekali lewat untuk mengambil mangkuk-mangkuk kosong.  Namun kali ini sang asisten berbeda orangnya dengan asisten yang terdahulu.  Aku tunggu-tungu sampai lebih 15 menit bahkan 20 menit, bubur tak kunjung datang dan sang asisten gak muncul-muncul.  Karena tidak sabar dan tidak jelas, terpaksa aku ikut merangsek ke kerumunan orang-orang yang mengelilingi tukang bubur.  Ketika tukang bubur sedikit melirik, segera kumanfaatkan situasi itu dengan memesan menggunakan intonasi nada protes karena sudah lama menunggu dan belum dilayani.  Total waktu tungguku meningkat menjadi 30 menit lebih. Untung aku datang pagi, jadi waktunya masih longgar walaupun harus terpotong sekitar 45 menit untuk ngantri dan makan bubur.

Untuk kunjungan ketiga ini, aku gak mau kejadian lalu terulang.  Datang ke lokasi, segera aku menyelinap ke bagian belakang roda atau ke belakang punggungnya tukang bubur.  Rupanya daerah ini yang agak longgar sehingga memudahkan akses untuk pesan langsung ke tukang bubur. Setelah pesan diterima sang tukang bubur, baru aku mencari tempat duduk yang kosong.  Waktu tunggu yang dibutuhkan kira-kira 15 menit. Cukup kenyang, Alhamdulillah.

"Bubur Ayam Landmark" kang Dadan Pramadi karib kuliahku dulu men'share' photo semangkuk bubur dalam group BBM. Aku lihat gambar mangkuk yang di alasi kertas coklat, didalamnya terlihat penuh berisi accesories bubur seperti kerupuk warna oranye, emping, taburan suir ayam, potongan cakue, taburan goreng bawang kering, semprotan kecap, dan sedikit sambal kacang.  Bubur ayam khas Cirebon, memang tidak kelihatan warna buburnya, tetapi lebih dominan accesoriesnya. Rupanya bubur ayam yang di depan Landmark tersebut merupakan salah satu tempat pavorit untuk sarapan pagi di Jakarta dengan harga murah meriah.  Satu mangkok Rp. 9.000 sedangkan bila setengah mangkok Rp. 7.000, hehehe agak susah memang kalau dimasukan dalam rumus matematika.

Dibawah jembatan menuju halteu busway Dukuh Atas, atau bersebelahan dengan awal Jalan Jendral Sudirman ada jalan putaran menurun untuk berbalik menuju arah pejompongan ataupun menuju kuningan.  Kelihatannya putaran jalan tersebut salah design, karena walaupun daerah tersebut cukup padat dengan antrian bus way, tetapi tepat di sisi tebing bersisian dengan jalan Sudirman (bersebelahan tetapi berbeda ketinggian sekitar 3 sampai empat meter, sehingga membentuk tebing), terdapat jalan aspal yang jarang terjamah kendaraan.  Dan, enterpreneur mikro, dengan jeli memanfaatkan lokasi tersebut untuk mencari nafkah, apalagi pasar di depan mereka terdapat dua tower gedung Landmark dengan masing-masing 30 lantai.

Berjejer roda-roda penjual makanan, berturut-turut mulai tukang gorengan seperti cireng, bakwan, tempe, tahu, dan molen, terus roda tukang mie ayam, lalu roda tukang ketoprak, disebelahnya lagi soto lamongan, lalu ada roda yang menjual nasi uduk, lontong sayur, dan ketupat, setelah itu baru roda tukang bubur Cirebon.  Disamping tukang bubur ayam tersebut masih ada roda tukang bubur kacang ijo, dan sebuah kios semi permanen yang berjualan rokok dan sejenisnya.  Terakhir ditutup dengan deretan tukang ojeg.  Di depan roda-roda mereka masih tersisa lahan untuk parkir sekitar 5 buah mobil, dan sekitar 20 buah bangku plastik warna hijau, tanpa sandaran.

"DEKENE WONK CIREBON" terpampang tulisan warna kuning terbuat dari kertas yang bisa ditempel, yaitu ditempel per huruf tepat diatas kayu bingkai jendela roda.  Sedangkan pada kacanya sendiri ditulis BUBUR AYAM dengan huruf warna putih dengan pinggiran merah.  Dua orang berbadan cukup besar berdiri dengan tangan lincah tiada henti membuat bubur pesanan.  Roda bubur yang berukuran sekitar satu sampai satu setengah meter,  tampak sesak tertutup kedua orang tersebut.  Didepan roda berjubel orang ngantri, dan satu orang pengantri rata-rata beli lebih dari 3 porsi bubur untuk di bawa ke kantor.  Bahkan ada yang beli sampai 10 porsi......nambah antrian aja.

Di antara deretan pedagang yang ada, tukang buburlah yang paling rame.  

Bila bukan orang yang berkantor di landmark banyak yang datang bawa mobil, ternyata bisa berkolburasi dengan tukang parkir. Tukang parkirlah yang membantu memesan dan membawakan mangkok bubur, sehingga bisa menikmati bubur di mobil sambil dengerin berita macet jalanan.  Tentunya dengan tips tambahan ke tukang parkir. Namanya itu simbiosis mutualisma........jadi........silahkan mencoba.........yam.......yam.....yummy.


(salam hangat dari kang sepyan)