Senin, 28 Desember 2015

EMA


Assalamua’alaikum, kumaha daramang Geulis.. Menak..?”

Itulah sapaan pembuka setiap aku menghubungi Ema lewat telpon, begitu khas dan tak akan pernah kudapatkan lagi, kini.  Sebenarnya, kata-kata “Geulis”, “Menak”, “Juag”, “Raja”, begitu familiar didengar sejak dahulu sebagai bentuk kasih sayang, ungkapan kerinduan, atau bahkan do’a dan pengharapan bagi kami keempat anak perempuannya.  Tidak kusadari, ungkapkan itu tertular saat aku menimang, membujuk, meredakan tangis bayi-bayi kecilku kemudian, ….. “Ooooh sayang,  … gandang, …menak, …. juag/raja,… cup, cup, cup”.
Hari Kamis, 24 September 2015.  Hari Raya Idul Adha.  Sebagai satu-satunya anak yang merantau jauh dari rumah, keluarga kecilku merencanakan berqurban di Lumbung.  Dari mulai membeli sapi, memotong hingga mendistribusikan daging qurban dikelola keluarga, dikomando Ema.  Ema nampak bersemangat, bahkan disela-sela aktivitas itu Ema sempat menunjukkan kepadaku tumpukan kayu-kayu berukuran sama tertata rapi di para-para gudang.  “..Kebetulan ada pohon cengkih di halaman karena umurnya sudah tua, Ema suruh tukang menebangnya.  Kemudian Ema dibantu Aang menggergajinya menjadi seperti ini.. Ini padung… Ema sengaja siapkan biar nanti saat perlu tidak susah mencari…” Itu penjelasan Ema sebelum aku sempat bertanya.  Aku yang mendengar agak terkesiap, sedikit.  Tapi semua kekhawatiran Aku tepis jauh-jauh.  Bukankah hal biasa, seperti nenek kakekku dulu selalu menyiapkan kain kafan dalam lemari bahkan kayu padung, jauh-jauh hari?.. Itu juga yang Ema lakukan dan sesekali diungkapkan kepadaku kalau Ema punya tabungan sejumlah uang khusus dititipkan di Teteh untuk biaya “mulasara” Ema…. toh bertahun-tahun uang itu utuh, hingga saatnya kemarin..
Hari Minggu, 11 Oktober 2015.  Aku mendapat khabar kalau Ema mendadak sakit, mengeluh pusing, lemes dan muntah-muntah.  Sebelumnya, Ema dalam keadan sehat sedang menghadiri suatu acara tetangga yang melangsungkan hajatan.  Tiba-tiba telinga Ema berdesingan, pandangan kunang-kunang dan agak kabur, ulu hati berasa ditonjok.  Ema pamit pulang sontak meninggalkan acara yang sedang berlangsung.  Susah payah Ema berjalan sampai pintu pagar kemudian dari teras merangkak sampai di paviliyun rumah, agak jauh.  Aku agak kaget mendengarnya,  karena tidak pernah Ema seperti itu.  Selain ada gangguan di penglihatan yang sudah berpuluh tahun dideritanya hingga melewati operasi katarak yang kurang berhasil, tak ada kendala berarti dalam kesehatannya.  Tekanan darah, gula darah…normal.  Secara fisik; pendengaran normal,  gigi geligi kumplit, tulang belakang agak sedikit osteo tapi berjalan masih normal, emosi stabil. Lewat pesawat telpon, Aku memantau perkembangan Ema. Menurut pemeriksaan dokter, tekanan darah Ema naik. Ema pulang dibekali obat.  Namun sehubungan dengan itu, aktivitas Ema dikurangi, pola makan agak diatur.. Besoknya Aku telpon, dari nada bicaranya Ema menunjukkan keriangannya sedang “botram” bersama anak incu di beranda dapur, katanya…”Beu, kadieu atuh masihan… mani raos Emam sareng lauk Emas nu pairing-iring di balong, ngahaja diala!”.. Menurutku itu sebagai bentuk ajakan yang tak mungkin kupenuhi  untuk sungguh-sungguh bergabung bersama saat itu, karena jarak antara Lumbung-Bekasi.  Ema ingin menunjukkan bahwa semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kejadian kemarin.  Ema ingin telingaku menangkap suaranya di pesawat telpon mewakili mataku melihat wujud fisiknya dengan kesimpulan yang sama, .. Ema baik-baik saja!. (..Walaupun jauh di hati kecilku, Ting!! Waspadalah, jika suatu saat mendapatkan khabar yang buruk tentang Ema, misalnya Ema sakit lagi bahkan harus dirawat, Aku berjaga-jaga dan mulai merubah rutinitasku dan menata hatiku dari sekarang agar fokus merawat Ema..) Pembicaraan kami tutup dengan ucapan saling mendo’akan.  Beberapa hari kemudian, belum sampai obat resep dokter habis,  meski masih belum shaum sunah Senin Kamis lagi, Ema sudah pergi taklim, ngaji seperti biasa. Aku agak mengkhawatirkannya..
***
Biasanya, aktifitas Ema sepanjang minggu setiap hari, diisi dengan pergi taklim ke berbagai mesjid/pesantren bergiliran, kegiatan bulanan di organisasi Muslimat Desa dan Kecamatan, Perkumpulan Haji, bahkan PKK Dusun dan Desa.  Selingannya ziarah ke Para Wali dari Banten sampai Madura.  Jembatan Suramadu sampai Bali sudah disambangi bersama rombongan pengajian. Tak pernah lewati takjiyah jika ada tetanggga, sahabat dan kerabat yang sakit dan meninggal dunia.  Tak sungkan mengantarkan pengantin hingga  ke seberang  ke Palembang. Tempo-tempo sambil nunggu taklim sore, paginya selepas dhuha hingga menjelang dzuhur, Ema berkeliling nyambangi kebun dekat rumah sambil pulang membawa parab lauk berupa daun singkong atau daun talas.  Atau menata pekarangan rumah dengan menganak-pinakkan bunga-bunga bougenfil berbunga ungu dan jingga ke dalam pot-pot baru.  Menjelang musim hujan,  dua petak kebun pekarangan disebelah utara, sudah siap menanti untuk ditanami kacang tanah.
Sementara rumahku, sudah lama tidak Ema kunjungi.  Sekalinya berkunjung, Ema suka enggak betah berlama-lama, alasannya karena takut banyak absen dari kegiatannya, belum lagi kalau menjelang arisan PKK, sebagai sekertaris, Ema harus dapat memastikan laporan keuangan simpan pinjam siap dipertanggung-jawabkannya dan tidak boleh diwakilkan.  Terakhir, tepatnya tanggal 3 Ramadhan 1435H, kami berdua berkesempatan umroh bareng.  Umroh di bulan ramadhan itu adalah salah satu cita-cita besar Ema yang ingin ditunaikan disisa usianya.  Kami sempat membujuk agar berangkat di bulan lain saja.  Ema menolak,  karena Ema ingin umrohnya bareng bersama Junjungan Nabi, katanya. Sebagai pendamping, aku tekadkan dalam diri bahwa harus siap melayani, menjaga, menuruti apa keinginan Ema diatas kepentinganku sendiri.  Berbekal pengalaman naik haji 19 tahun lalu,  Ema sangat siap memenuhi panggilan-Nya kali ini.  Logika berfikirku sering dipatahkan oleh semangat ghiroh ibadah Ema.  Perjalanan pesawat dengan 17 jam puasa, temperatur 50 derajat Celcius, bahaya dehidrasi, buka puasa tidak makan nasi, tarawih 23 rakaat durasi 2 jam, tidur malam 2 jam saja.
Contohnya: Hari ke-3, pagi menjelang siang perjalanan dari Madinah Ke Mekkah ditempuh selama 6 jam dengan bis.  Sepanjang perjalanan itu kulihat Ema selalu terjaga tak sekejappun memicingkan mata. Ema memilih duduk didepan samping jendela bersamaku.  Memposisikan diri sebagai penjaga dan pelayan, kuanjurkan Ema untuk istirahat biar stamina terjaga, karena perhitunganku, sesampainya nanti di Makkah waktu ashar dilanjutkan ritual umroh tanpa jeda. Sambil bertalbiyah, Ema dengan halus menolak sambil pandangannya mengintip keluar lewat tirai jendela bis yang sengaja dibiarkannya tersingkap .. “Ema ingin melihat banyak hal sepanjang perjalanan ini”, meski sejauh mata memandang hanya nampak hamparan pegunungan batu dan pasir yang menghitam diselingi gerombolan perdu khas Timur Tengah.  Sungguh membosankan!  Sekali saja bis berhenti di rest area saat masuk waktu dhuhur.  Lumayan, setidaknya bagiku, siraman air wudu ini mampu menyegarkan raga yang kehausan dan kepanasan. Sambil meregangkan sendi-sendi yang kaku setelah berjam-jam duduk dan bahkan tertidur dan terjaga di kursi bis. Setiba di Makkah, saat thowaf dan sa’i Aku tawari kursi roda, Ema menolak ..”Bukan karena uang tapi Ema masih kuat”,  itu jawabnya.  Buka puasa di Masjidil Harrom dengan air zam zam dan kurma.  Selepas sholat Magrib, kami pulang ke hotel sebentar untuk sekedar mandi dan ganti baju, tanpa ada waktu untuk mengisi perut dengan nasi.  Ema ingin segera ke Masjid untuk isya dan tarawih…” Ingat fadilahnya!”, kata Ema.  Sambil menunggu Isya, kami isi dengan tadarus diselingi  makan minum air zam-zam dan kurma atau cemilan sedekah.  Jam 9 malam sholat Isya dimulai, dilanjutkan tarawih.  Pada awal 10 rakaat kedua sholat tarawih, ada jeda waktu sedikit, biasanya ada pergantian imam sholat.  Aku tawarkan untuk sholat sambil duduk saja.  Perhitunganku rangkaian tarawih ini bisa memakan waktu dua jam, didominasi dengan lamanya berdiri karena imam sholatnya yang hafidz, bacaan  suratnya urutan juz dan dibaca dengan tartil pula.  Lagi-lagi Ema menolak.  Sehari semalaman ini waktu terasa begitu panjang namun rasanya tak sempat mendengar bisikan jiwa ragaku yang lemah yang merengek-rengek minta dimanjakan.  Di penghujung malam ini kami berangkat ke peraduan untuk istirahat dan bangun besok jam 2 dinihari untuk makan sahur dilanjutkan ke mesjid kembali.  Itulah rutinitas umroh kita, hingga sembilan hari bersama. Alhamdulillah semua berjalan lancar, begitu terasa nikmat, karena ghiroh ibadah itulah sebagai bentuk kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadikan hal-hal yang secara logika berat menjadi ringan.  Nampaknya Ema sangat berkesan.  Rasa syukur  serta bangganya itu selalu diungkapkan setelahnya, pada siapapun yang minat atas pengalamannya.  Apalagi jika orang tersebut datang berkunjung ke rumah, Ema tak sungkan memperlihatkan foto-fotonya yang sengaja kuabadikan.


***   
Hari Selasa, 17 November 2015.  Sore ini, Aku mendapatkan khabar yang seakan-akan hendak menghentikan laju detak jantungku, mendadak meriang sekujur tubuhku, melemahlunglaikan semua persendianku,  menyumbat laju aliran darahku… Telpon pertama itu Aku sangat sedikit mengerti situasinya, lewat pertanyaan spontanku mengenai kondisi Ema,  meski diujung telpon Teteh terus bilang..”Jangan panik, persiapkan segala sesuatunya, doakan yang terbaik buat Ema.  Ema masih hangat mau di bawa ke Dokter…”.Ada kekhawatiran, penyesalan… dan harapan berkecamuk timbul tenggelam menepis ketakutan akan sesuatu yang tak jelas.  Selang beberapa menit, Teteh kembali telpon…”Innalilahi wainna ilaihi rojiun… Ema parantos pupus.. sing sabar, tawakal,.. hati-hati di jalan..”  Sekarang terasa semua benar-benar berhenti…! Kecuali dzikir dan sholawat yang kulantunkan, memompa kembali aliran darahku,  mendorong kembali semangatku yang hampir terperosok ke titik nadir.  Sementara anak bungsuku  yang mendengar khabar itu bersamaku, duduk tepekur sambil membaca Yasin.  Sekali-sekali kepalanya mendongak sambil mengamati mimikku, tingkah polahku yang mondar mandir mempersiapkan semua hal yang harus kutata, kubawa, kupamiti untuk orang yang jaga di rumah, di masjid, di toko, di sekolah, tetangga… merancang rute perjalanan pulang.  Memastikan diri ini sepenuhnya siap ‘mulasara’ jasad Ema yang sudah ditinggalkan ruhnya menghadap Penciptanya.
Kusalami orang-orang yang kulewati.  Aku bergegas menuju sesosok jasad tertutup kain batik.  Kusingkapkan sedikit dibagian wajahnya.. kuelus mukanya.. kuciumi keningnya dengan semua rasa yang tertahan.. kusapa Ema sambil mengumpulkan kembali jiwaku yang berserakan…“Allahummagfirlaha warhamha wa’afiha wafuanha.. Allahumma la tahrimna ajroha wala taftina ba’daha wagfirlana walha…”  Ema.. tugasmu sebagai khalifah di muka bumi  telah berakhir.  Namun jejak-jejak lintasan pengembaraanmu begitu nampak nyata.. meski  tentu perjalanan yang tak mudah.. Merintis dan membina simpan pinjam PKK di lingkungan Dusun hingga terkumpul omset lebih dari seperempat miliyar, menghimpun anggota lebih dari 200an ibu-ibu,  membina dan  menolong orang-orang yang bermodal lemah, yang kepepet saat butuh biaya berobat dan anak sekolah, yang mendadak harus merenovasi rumah, yang kesulitan memperluas langgar yang nyaman dan jalan setapak yang layak.. sejahtera semua anggota tujuannya.. Tigapuluh enam tahun Ema abdikan untuk itu, terpampang jelas di Buku Kas PKK Hanjuang (Harapan Maju Anggota) Dusun IV Talangsari Desa Lumbung hingga bulan November 2015.  Meski dengan kelemahan indra penglihatanmu, semua tercatat rapi, setiap orang yang baca bisa mengerti… dan yang penting sudah klop.  Monumen perjuanganmu terlihat jelas di bangunan mungil permanen “Gedung Pertemuan PKK Hanjuang Dusun..”  hasil swadaya anggota.  
Ema… sahabatmu yang tak pernah kukenal, saudara jauh yang tak pernah bersua meski saat mudik lebaran sekalipun..Tak sepi hingga kepergianmu lima hari berlalu.  Seolah-olah ingin lebih afdol mendo’akanmu dari dekat, sambil menyampaikan salam takjiyah untuk keturunanmu yang kau tinggalkan… dan saling menasihati dalam sabar dan taqwa.. Kembali jejak itu kutemukan… Oh, betapa mahadayanya setiap pertemuan-pertemuanmu, taklim-taklimmu, takjiyah-takjiyahmu, ziarah-ziarahmu.. karena didasari atas niat ikhlas lillahi ta’ala sebagai media silaturrahim uquwah Islamiyah… bukan karena sosialita, ambisi politik, ambisi ekonomi atau ambisi-ambisi keduniawian lainnya.
Aku, anakmu.. tak akan pernah merasa cukup membalas semua pengorbananmu sampai kapanpun. Aku merasa seumur hidup tak akan pernah melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan ketika aku tak berdaya melakukan sendiri saat bayi sekalipun… Menyuapimu?  Membasuhmu ketika buang air?.... Aku belum sempat melakukannya dan tak akan pernah!!!   Seperti katamu…”Ema ingin seperti Bapak yang pergi 19 tahun yang lalu tanpa merepotkan”.  Padahal kutahu, Ema dan anak-anakmu dulu betapa menyesali karena tangan-tangan kita ini tak pernah diperlukan oleh Bapak… 
Setiap hari Selasa adalah jadwal libur taklim.  Kemarin masih shaum sunah,  hari ini digunakan Ema untuk menyiapkan kebun yang akan diaseuk kacang tanah.  Hujan mulai beberapa kali turun menyiram bumi setelah tujuh bulan lamanya kawasan dilanda kemarau panjang anomali musim akibat ‘El Nino’. Harapan besar tertanam di setiap jiwa orang-orang yang menyemai, menanam, merintis, berjuang, berjihad.. semoga kelak memperoleh hasil yang baik… Khusnul Khotimah.  Siang itu selepas dhuhur menjelang sore (Wallahu ‘alam).. Malaikat Izroil, Malaikat Sang Pencabut Nyawa datang menyambangi, menjemput Ema untuk segera datang menghadap Rabbnya .. Suratan takdir sudah digariskan sejak di lauh mahfuzh.  Pengembaraanmu didunia sudah sampai.. berhenti.. tutup buku.  Titik.  Aku tak sepantasnya menangisi orang yang pergi, karena sesungguhnya kematian adalah suatu kepastian bagi mahluk yang bernyawa.  Kewajibanku adalah berdo’a untuk Ema serta memohonkan ampunan atasnya disetiap akhir sholat, memuliakan sahabat Ema, menyambung tali silaturrahim, menunaikan hutang/wasiat Ema… Semoga aku menjadi anak sholehah agar menjadi amal jariyah buat Ema….


 Tulisan Istriku Enung Rima Sabariah, untuk Ibunya (Mertuaku) Alm Ema Hj. Juju Julaeha

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 29 Juni 2015

DI TANAH HARAM, DUNIA MENJADI TIDAK PENTING

Maskapai penerbangan terhebat tanah airku delayed hampir 2 jam, seharusnya boarding jam 16.25 diundur menjadi jam 18.00. Kalo menurut Arfan temenku yang punya travel, itu diundur atas permintaan dia karena ada 17 jamaahnya dari Kendari belum bisa datang karena cuaca kurang baik. Untungnya menggunakan maskapai yang sama, jadi ya terpaksa kami menunggu. Kasihan Wati yang sudah sampe bandara jam setengah sepuluh, kebayang khan nunggunya  8 jam sama dengan waktu kerja pabrik sehari.

Jam setengah dua kami baru masuk ke ruang tunggu bandara setelah selesai dapat tiket dan memasukan bagasi, dari pada diluar khan enakan nunggu di dalam cari gratisan lounge dari kartu kredit atau kartu debet prioritas. 

Sambil duduk di Lounge, setelah bosen ngambil cemilan, akhirnya kami semuanya menunduk mengotak-atik gadget. Ngemail, facebookan, browsing,  bebe-eman, whats-appan, maen games dan lain-lain. Kalau diambil hikmahnya, lumayan jadi ada kesempatan update status, ganti pic, dan pamitan serta minta maaf di beberapa group. Kalo ngomong kesemua group nanti disangka riya.

Aku sempat berpikir berulang-ulang untuk buat status baru di bbm dan wa. Aku coba cari jawaban apa yang mendorong aku pergi umrah kali ini. Apakah  karena ingin doa lebih mustajab, mengingat disana banyak tempat-tempat mustajab seperti raudah, pintu kabah, hijir ismail, makom ibrahim, dll. Ya, memang salah satunya karena itu, untuk mendoakan anak-anak, bersyukur atas limpahan karunia dan rezeki, memohon ampun, menginginkan pahala haji karena quota haji makin dibatasi maka cari pahala haji dengan umrah di bulan Ramadhan. Tapi sepertinya ada jawaban lain yang lebih tepat.

Ada panggilan jiwa, ada rindu yang menggelora, rindu akan suasana dimana kehidupan atau kesibukan seakan-akan terhenti. Pikiran dan waktu semuanya hanya dicurahkan untuk ibadah. Melakukan perubahan radikal terhadap menu kehidupan yang biasanya kegiatan ibadah sholat, ngaji, menjadi menu selingan berubah menjadi menu utama. Di tanah haram dunia menjadi tidak penting. Menu utama adalah sholat berjamaah di masjid, bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang biasanya pergi ke masjid, bahkan dilakukan pula oleh orang yang tidak tahu alamat masjid dekat rumahnya, dan dilakukan pula oleh orang yang setuju dengan statment pelarangan penggunaan pengeras suara untuk memperdengarkan pengajian sebelum subuh atau menjelang magrib.

Dunia menjadi tidak penting, akan sangat terasa ketika pulang lalu ngantor lagi, dalam sehari dua hari akan seperti anak baru, bingung harus kerja mulai dark mana, waktu pulang menjadi terasa lambat, diajak diskusi kadang gak nyambung. Apalagi pas pulang haji 40 hari, jet lag menjadi lebih panjang. Tapi kalau jet lag sudah hilang, insya Allah produktifitas meningkat pesat karena sel-sel otak memiliki kesempatan untuk rehat dan menjadikan otak menjadi fresh kembali.

Ya.....rupanya dunia menjadi tidak penting, karena di tanah Haram Engkau sangat dekat. Di rumahMu, di rumah RosulMu, semua menjadi cukup.....ya, dunia menjadi tidak penting. Aku jauh Engkau jauh, Aku dekat Engkau dekat.

di tulis di ketinggian 10.000 meter pada jarak 266 km menuju Jeddah

(salam hangat dari kang sepyan)

Selasa, 17 Maret 2015

PIDATO PENYERAHAN PENGANTIN PRIA

Hari Minggu besok tanggal 22 Maret 2015, aku diminta kakakku untuk mewakili keluarga beliau menyampaikan sambutan wakil dari keluarga pengantin laki-laki.  Draftnya aku buat dan share, mudah-mudahan bermanfaat.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Innalhamdalillah, nahmaduhu, wanasta’inuhu, wanastagfiruhu, wana’udubika minsurruri anfusina, waminsyaiati a’malina.  Mayahdillahu falamudilalah, wamayudlil falahadiyalah.  Asyhadualla illahaillalah wahdahula syarikalah, waasyhaduanna muhamaddan abduhu warosuluhu.  Allahuma sholi wasalim ala syaidina Muhammad, wa ala alihi waashabihi, wamintabi ahum bi ihsani ilaa yaumiddin.
Bapak-bapak, Ibu-ibu para pini sepuh dan hadirin yang saya hormati,
Puji dan syukur marilah kita sama-sama panjatkan ke hadirat Allah swt atas segala limpahan nikmat yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita diberikan nikmat kesehatan serta nikmat kesempatan dapat berkumpul bersilaturahmi dalam acara pernikahan anak-anak kita yaitu pernikahan Arif dan Siti.  Pernikahan merupakan sebuah proses penting bagi kelangsungan kehidupan dunia serta merupakan sunatullah untuk mempertahankan eksistensi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.  Sebagaimana kita ketahui, dalam ilmu pemuliaan kehidupan manusia dibagi dalam tiga fase yaitu fase pertama adalah manusia dilahirkan, fase kedua adalah berkeluarga sehingga memiliki keturunan untuk meneruskan kehidupan dunia ini, dan fase ketiga adalah fase kematian.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjunan kita semua nabi besar Muhammad saw, juga kepada keluarganya, sahabatnya serta kepada kita semua sebagai umatnya sampai umat akhir zaman.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan seluruh hadirin yang berbahagia.
Hari ini sungguh merupakan hari yang sangat menggembirakan dan membanggakan, khususnya bagi saya pribadi karena telah mendapatkan kepercayaan dari kakak saya keluarga H. Didi Asikin dan Ceu Hj. Yeyet Cahyati untuk mewakili keluarga beliau serta mewakili seluruh rombongan dari Cirebon untuk menyampaikan tiga hal yaitu :
Hal yang pertama adalah ingin menyampaikan salam silaturahmi, khususnya dari keluarga H. Didi Asikin dan umumnya dari seluruh rombongan keluarga dari Cirebon.  Mudah-mudahan pertemuan silaturahmi kali ini akan menjadi awal bagi pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk memperbanyak hubungan relasi maupun hubungan kekeluargaan. Karena pernikahan pada dasarnya bukan hanya pernikahan antara dua anak-anak kita, tetapi merupakan pernikahan keluarga besar yaitu keluarga besar H. Didi Asikin dan Keluarga besar Siti disini.
Hal yang kedua yang merupakan inti dari seluruh rencana, akan saya mulai dari sebuah ceritera bahwa kakak saya ini (keluarga H. Didi Asikin) memiliki 3 orang anak yaitu anak pertama perempuan, anak kedua laki-laki, dan anak ketiga perempuan, dengan kata lain ada 2 perempuan dan satu laki-laki.  Satu-satunya anak laki-laki ini merupakan andalan dan kebanggaan keluarga namanya Arif Fahrizal.  Menurut pengakuannya, dia sudah sangat bulat untuk menjadikan putri Bapak/Ibu keluarga disini yaitu “Siti” sebagai pendampingnya membentuk rumah tangga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, untuk bersama-sama mengisi kehidupan dengan berbagi suka, berbagi duka, berbagi beban, berbagi kebahagiaan, dan bersama-sama beribadah untuk mengharapkan ridho-Nya.  Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya atas nama keluarga Bapak H. Didi Asikin dengan ini menyerahkan anak saya yang bernama Arif Fahrizal untuk dapat dinikahkan dengan putri Bapak/Ibu yang bernama “Siti”.
Namun dalam penyerahan ini kami mohon maaf, bahwa rombongan keluarga kami tidak mampu membawakan apa-apa, karena kami lihat dan kami pikir di Bandung itu jauh lebih terdapat bermacam-macam barang dibandingkan di Cirebon.  Kalaupun ada beberapa bingkisan yang kami bawa, itu hanya sekedar tanda bahwa kami memiliki niat baik.  Tolong jangan dilihat dari harganya, tapi cukup dilihat dari niatnya.
Hal yang ketiga yang minta disampaikan adalah berupa sebuah pesan.  Mengingat hari ini merupakan hari terakhir Arif berstatus sebagai bujangan dan siap untuk masuk ke gerbang pernikahan, maka ini merupakan pesan yang harus dijadikan bekal bagi Arif untuk kehidupan kelak.  Pesan ini merupakan sebuah pusaka keluarga oleh karena itu perlu dihayati dan diamalkan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa raga.  Pesannya adalah “4 Sing” yaitu yang pertama “Sing hade hate” yang kedua “sing hade gawe” yang ketiga “ sing hade tata” dan yang keempat “sing hade basa”.
Sing hade hate” artinya harus memiliki hati yang baik, hati yang bening, hati yang bersih.  Ingatlah bahwa segala macam perbuatan itu tergantung dari niatnya.  Tidak ada perbuatan baik yang diawali dengan niat jahat, dan tidak ada perbuatan jahat yang dihasilkan oleh niat baik.  Apabila pada suatu waktu Arif menemukan suatu kondisi kebimbangan, berada di persimpangan jalan, maka jalan yang terbaik adalah bertanya pada hati nurani.  Oleh karena itu hati nurani harus selalu dijaga, harus selalu diasah, harus selalu dirawat, agar dia mampu menjaga seluruh langkah kita selalu berada dijalanNya dan selalu berada di jalan yang diridhoi-Nya.
Sing hade gawe” artinya harus terampil dalam bekerja, harus memiliki kompetensi, harus memiliki skill yang memadai.  Persaingan kehidupan sekarang semakin ketat, maka untuk mengimbanginya diperlukan kesungguhan dalam bekerja.  Selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap pekerjaan dan bersikap professional. 
Sing hade tata” artinya harus memiliki sikap dan perilaku yang baik.  Tahu bagaimana sikap menghormati yang lebih tua, tahu bagaimana cara menghargai atasan tanpa menjilat, tahu bagaimana cara membimbing bawahan tanpa menyepelekan, dan tahu bagaimana caranya menyayangi yang lebih muda tanpa memanjakan.  Selalu tepat membawakan diri dalam setiap situasi, tidak “kuper” tetapi juga tidak terlalu “over”.  Sehingga keberadaan Arif bisa diterima disegala kalangan.  Jaga dan pelajari sopan santun disetiap daerah.  Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
Sing hade basa” artinya adalah selalu menggunakan bahasa yang baik.  Walaupun dengan niat baik, kerja baik, dan sikap baik, tetapi bila disampaikan dengan bahasa yang kurang benar, maka bisa saja banyak orang yang akan menjadi tersakiti.  Ingatlah bahwa ujung lidah itu bisa lebih tajam dibandingkan ujung pedang.  Dari siaran-siaran Televisi akhir-akhir ini, banyak sekali contoh-contoh pejabat kita yang sudah mengabaikan pemilihan bahasa, sehingga banyak terjadi keributan yang tidak perlu karena hal tersebut.  Padahal bahasa itu tinggal memilih, semua gratis, tersedia, tidak harus membeli.
Bapak-bapak, Ibu-Ibu dan Hadirin yang saya hormati
Akhirnya tugas saya mewakili rombongan keluarga pengantin laki-laki selesai, tidak lupa saya mohon maaf apabila ada kata-kata, sikap, atau tingkah laku saya yang kurang berkenan atau kurang pada tempatnya.  Billahhi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 24 Juli 2014

LEBARAN........SELAMAT TINGGAL RAMADHAN

Dengan keterbatasan cara berfikirku waktu itu, aku suka heran kalau ada Ustad yang bilang bahwa kita harus bergembira saat  datangnya bulan Ramadhan, dan kita harus bersedih ketika bulan Ramadhan akan berakhir.  Lalu disampaikannya ayat-ayat dan hadits yang mengabarkan keutamaan bulan Ramadhan dan sang Ustad biasanya menutup dengan doa meminta agar umur kita dipanjangkan sehingga bisa sampai ke bulan Ramadhan yang akan datang.  Jelas aku ikut berdoa dengan khusuk dan meng-amin-kan sepenuh hati untuk do’a minta dipanjangkan usia tersebut.  Tapi untuk urusan bergembira menyambut Ramadhan ?  Bersedih bila Ramadhan berkahir ?

Bukankah selama bulan Ramadhan aku harus berpuasa, menahan lapar dan dahaga, mulai waktu imsyak sampai waktu maghrib.  Padahal di sisi lain aku masih tetap dituntut untuk bekerja seperti biasa ?  Bukankah selama bulan Ramadahan aku harus makan sahur, sehingga harus bangun pagi-pagi,  padahal tidur dini hari antara jam tiga sampai jam empat adalah waktu terlelap dalam tidurku, sehingga aku menjadi kehilangan waktu tidur paling tidak satu sampai dua jam jam setiap malam ?  Bukankah setiap malam aku diharuskan sholat tarawih dan sholat witir di mesjid serta mendengarkan ceramah  yang menyita waktu untuk istirahat di rumah sekitar satu sampai dua jam ? Bukankah kita harus bergembira kalau menyambut Ramadhan, karena itulah hari raya, hari kemenangan, hari dimana kita terbebas dari harus berpuasa, hari kita kembali ke fitri tidak memiliki dosa bagai bayi yang baru lahir ? Beberapa pertanyaan negative lainnya kadang terus berkecamuk di keterbatasan otakku. Memprotes tausiyah yang disampaikan pak Ustadz.

Namun syukurlah, masih ada bagian otak lainnya yang mendengarkan kata hati, bahwa tidak mungkin apa yang disampaikan dan diajarkan Qur’an dan hadist tidak mengandung makna kebenaran hakiki.  Beberapa tahun belakangan ini aku mencoba untuk ‘pura-pura’ gembira bila akan datang bulan Ramadhan dan ‘pura-pura’ sedih apabila bulan Ramadhan akan segera berakhir.  Awal-awal Ramadhan suasana kegembiraan itu dapat dibangun, terutama dengan penambahan variasi menu makanan sahur dan berbuka, serta ditunjang masih memiliki cadangan energy sehingga belum ada gangguan secara fisik. 

Tetapi menjelang tanggal belasan awal, akumulasi kekurangan tidur mulai menganggu.  Sehingga kembali lagi ke pertanyaan, apanya yang harus aku gembirai dari bulan Ramadhan ?  Semakin bertambah hari, tanggal dua puluhan, semakin bertambah keinginan untuk segera menyudahi bulan Ramadhan.  Seperti orang berlari yang telah melihat garis finish.  Seperti orang yang kehausan di padang pasir melihat oase.  Apalagi THR telah dibayar perusahaan, baju baru telah dibeli, dan kendaraan untuk mudik telah siap. 

Menjelang akhir Ramadhan, suara pak Ustadz hanya lamat-lamat terdengar dia menyeru bahwa 10 hari terakhir adalah untuk ‘meminta pembebasan dari apa neraka’, 10 hari terakhir adalah akan datang malam lailatul qodar yang lebih baik dari seribu bulan.  Namun aku, lebih sibuk mengurus izin cuti, merancang acara di hari lebaran, merancang rute perjalanan mudik, dan merancang rencana reuni dengan teman SD, teman SMP, serta teman SMA di kampung.  Tarawih di mesjid telah berganti menjadi belanja di mal.  Tadarus al Qur’an telah berganti dengan mengamati arus mudik di TV.

Ya Allah…..betapa kerasnya hati ini.  Ya Latif…...Engkau yang Maha Lembut, tolong lembutkan hati ini, karena hanya dengan kelembutan hatilah aku bisa menerima kebenaran ajaran-Mu, dan hanya dengan melaksanakan ajaran-Mu, aku bisa selamat di dunia dan di akhirat. 

Hari ini tanggal 26 Ramadhan ya Allah…Ramadhan sudah dipenghujungnya…..tapi aku belum banyak mengisinya dengan amalan-amalan yang berkualitas.  Tadarusku masih tidak tartil dan aku hanya membaca tanpa mengetahui mak’nanya.  Puasaku baru sebatas tidak makan dan minum, karena  mataku masih senang melihat keindahan dunia yang melintas, mulutku masih sering berghibah, telingaku masih tajam mendengar gossip miring, apalagi Ramadhan tahun ini berbarengan dengan Pilpres, demikian juga hatiku kadang masih berprasangka.  Tarawihku, Tahajudku, rasanya masih jauh dari sempurna.  Keinginan agar sholat lebih cepat selesai tidak bisa aku hilangkan.  Menggerutu dalam hati karena imam membaca al-Fatihah berlambat-lambat.  Zakatku masih aku hitung-hitung dengan sangat cermat.  Infak-ku masih tetap aku ingat-ingat.  Kesombonganku, masih belum terkikis dengan hikmah melakukan ibadah puasa yaitu merasakan bagaimana rasanya orang-orang dhuafa yang terpaksa harus menahan lapar karena tidak memiliki makanan.  Nafsu duniaku masih belum bisa benar-benar aku tundukkan.  Dengan pola pikir dan pola tindak seperti ini, apakah aku pantas untuk minta ridho-MU ?  Padahal hanya dengan ridho-Mu aku bisa meraih surga yang Engkau janjikan. 

Tiba-tiba penglihatanku jadi buram, area sekitar hidung dan mata terasa memanas, sehingga cairan-cairan beku  yang ada disekitar hidung dan mata meleleh.  Ya Allah…..aku menangis, aku menyesal.  Ya Allah, jangan kau akhiri Ramadhan ini.  Beri aku kesempatan untuk berbuat lebih baik, mengisi Ramadhan dengan kegiatan ibadah yang berkualitas.  Ya Allah…..dengan segenap kekurangan ibadahku, kumohon Engkau dapat menerima dan menyempurnakannya.  Ya Allah sampaikanlah aku ke Ramadahan yang akan datang.  Berilah aku petunjuk sehingga aku dapat beribadah  mengisi Ramadhan dengan lebih baik.  Ya Allah…aku hanya menginginkan ridho-Mu.  Aamiiiin.


(salam hangat dari kang sepyan)

Jumat, 11 April 2014

BETULKAH INI BUDAYA MEREKA ?

Sejak awal Februari kemaren, untuk alasan penyegaran, aku diberi wilayah kerja baru. Tapi karena ceritera ini agak berbau sara, maka memang sebaiknya aku tidak perlu katakan wilayah propinsi mana, pokoknya masih di Indonesia tercinta.

Hampir tiap bulan aku memiliki jadwal untuk berkunjung ke seluruh wilayah kerja yang telah ditetapkan tersebut, bahkan dalam keadaan tertentu bisa sebulan dua kali ke masing-masing wilayah.  Tiap naik pesawat baik mau berangkat ataupun balik khusus ke daerah ini terasa sekali perbedaannya. Rasanya pasti bising dan kesannya penuh. Rata-rata penumpang membawa kerentilan bawaan yang cukup banyak, kadang-kadang hanya dibungkus kantong keresek Matahari atau dari pasar swalayan lain. Tapi yang mebuat bising adalah suara rebutan tempat duduk. Salah mengambil pintu masuk, yaitu penumpang dengan tempat duduk didepan masuknya dari pintu belakang.  Ada lagi penumpang yang tempat duduknya di belakang masuk dari pintu depan. Aku perhatikan pramugari biasa-biasa saja melihat hal ini, bahkan ketika ada yang rebutan tempat dudukpun dia cuekin. Mungkin karena saking biasanya.....'agak' sulit diatur.

Biasanya aku berangkat dan pulang sama beberapa teman, dan biasanya juga aku masuk naik pesawat duluan, sehingga bisa segera menyimpan tas di atas kabin dan terhindar dari serobotan tempat duduk karena tempat duduk rombongan kami satu blok atau satu baris.

Namun waktu pulang hari ini, aku pulang lebih cepat dibanding temen lainnya, jadi pulang sendiri. Terus kebetulan  juga diberi titipan oleh-oleh satu kardus. Jadi biar gak repot aku masukan saja koper dan kardus tersebut ke bagasi. Sehingga aku melenggang cukup dengan membawa tas kecil berisi dompet dan alat komunikasi. Seperti biasa  malam sebelum keberangkatan aku sudah memilih tempat duduk di nomor 6 D.  Aku memang sukanya didepan karena kalau di belakang rasanya goyangannya lebih besar.  Sedangkan pemilihan kursi urutan D karena aku suka di lorong atau di gang. Paling tidak, sebelah badanku masih longgar tidak dekat sekali dengan penumpang lain. Kalau di sebelah jendela, terus terang suka agak-agak ngeri kalau melihat pesawat mau menembus awan tebal.

Terlambat 10 menit dari waktu boarding yang di jadwalkan ada pengumuman bahwa penumpang yang akan ikut penerbangan agar masuk ruang tunggu. Tapi rupanya pengumuman tersebut ditanggapi lain, bukan hanya masuk ruang tunggu, tetapi para calon penumang tampak hampir seluruhnya berdiri di pintu keberangkatan bergerombol. Males rasanya aku ikutan berdiri nggak jelas, mendingan aku terusin duduk baca koran. Sampai pengumuman di panggil masuk pesawat juga aku tetap tenang saja duduk. Toh aku gak bawa apa-apa, jadi tidak perlu ada yang diperebutkan. Setelah antrian hampir habis  baru aku masuk pesawat.

Begitu sampai ke tempat duduk, nampak nomor 6.F sudah ada yang ngisi dan di tempat duduku nomor 6.D sudah nemplok perempuan emak-emak usia 40-an dengan rambut sebahu, pake celana jin dan kaos putih bermotif bunga-bunga kecil warna hitam, serta menggunakan jaket rajutan warna merah hati dan memegang tas tangan besar warna merah cabe.

"Bu..! ibu tempat duduknya nomor berapa ?" tanyaku baik-baik.  Kemudian ibu itu merespon dengan memiringkan badang menghadap gang dan mengeluarkan kedua belah kakinya. Seolah-olah menyuruh aku masuk menempati nomor 6.E. Tempat duduk di tengah yang paling aku hindari karena terjepit kiri dan kanan.

"Bu...! Ibu tempat duduknya nomor berapa ? Karena kalau 6.D itu tempat duduk saya". Demikian kataku agak tegas.  Rupanya si ibu bukannya mengalah, malahan dia menjawab lebih keras "Sudahlah sama saja.  Lagian aku khan punya penyakit diabetes, jadi harus sering bolak-balik ke kamar mandi".

Karena aku agak kesel, aku mencoba berusaha untuk menjelaskan bahwa aku mendapat tempat duduk tersebut karena hasil usaha, malam-malam melakukan web chek in. Terus aku ngedumel tapi hanya dalam hati, aku bilang bahwa seharusnya urusan diabetes dia ngomong saat chek in, bukan nyerobot tempat orang lain.  Dan si ibu aku lihat, karena gak mau dengar, tetap keukeuh gak mau bergeser tempat duduk sambil nyerocos.

Aku melirik, tampak beberapa orang yang duduk di deretan bangku 5 dan 7 mendongakan kepala melihat ke arahku. Dari sorot matanya, aku merasa mereka semua menyalahkanku. Mungkin mereka berkata "kok gak mau ngalah banget sih ini orang, sama orang sakit ? sama perempuan lagi",  "kok yang begitu aja diributkan".  Rasanya dunia menjadi kebalik, si ibu itu dianggap benar  dan aku dianggap bersalah. Hehehe.....kena juga kejadian ini padaku, yang biasanya aku hanya melihat beberapa kali orang lain diperlakukan seperti aku saat ini.

Dari pada tambah malu, langsung saja aku masuk dan duduk di nomor 6.E. Mataku aku pejamkan, biar segera melupakan kekesalan tadi.  Sambil aku ngomong dalam hati, akan aku hitung, sampai berapa kali dia akan bolak-balik kamar mandi.  Sambil aku merenung, apakah ini karena budaya mereka ? Mudah-mudahan bukan.....ini dapat terjadi dalam perjalanan kemana saja.  Aku juga merenung, memang aku yang salah, terlalu memikirkan ego sendiri, kurang mau berbagi. Ya Allah, terima kasih, aku telah diberikan pelajaran hari ini tentang berbagi dan tentang kerendahan hati.

Terakhir......mau tahu berapa kali ibu sebelah ke kamar mandi ? Satu kali. Mudah-mudahan beliau segera diberi kesembuhan, diangkat penyakitnya. Amin.

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 07 April 2014

AKU INGIN SHOLAT

Tiap hari bolak-balik Bekasi Jakarta pada saat jam padat, kalau dipikir-pikir sungguh melelahkan.  Tapi memang bukan untuk dipikir, tetapi untuk dijalani.  Mencoba menggunakan berbagai moda transportasi mulai dari mobil sendiri.....ya...ampuuunn, berangkat teng habis sholat subuh dari rumah sekitar jam 5.15 untuk mencapai pintu tol Bekasi barat yang berjarak 2 km saja sudah hampir jam 6.00.  Praktis selama setengah jam berebutan, umpel-umpelan merayap mulai depan Giant, masuk kolong putaran, hingga bisa bayar tol.  Belum lagi di jalan tol, bukan lagi jalan bebas hambatan, karena terus merayap tanpa henti sampai Jakarta. Waktu tempuh sampai di kantor hampir 2 jam dengan tingkat stres level 9 dari skala 10.

Moda transportasi Bis Damri ataupun APTB, tetap lambat karena tetap tidak bisa menghindari jalan umum.  Yang terlanjur sangat padat.  Orang pintar sudah menghitung adanya gap antara penambahan jalan dan penambahan kendaraan.  Tetapi orang pintar juga tidak henti-hentinya memberi ijin penjualan kendaraan, memberi ijin nomor kendaraan bahkan untuk kendaraan yang telah akil balig.  Sehingga terasa sekali bedanya kepadatan lalu lintas dari tahun ke tahun. Tapi sudahlah, ini khan pertanda meningkatnya kesejahteraan.

Akhirnya pilihan yang terbaik diantara yang semuanya kurang menyenangkan, ya naik commuter line.  Sejak dipimpin pak Jonan PT. KAI memang banyak melakukan perubahan, termasuk menghilangkan kereta ekonomi, karcis berkartu, disediakan WC, dll. Sangat brilian meningkatkan pendapatan KAI, jumlah penumpang meningkat drastis dan semuanya bayar, walaupun disisi lain aku harus rela umpel-umpelan, tidak pernah dapat tempat duduk, didorong, digencet serta beradu napas......hehehe kadang-kadang bersebelahan dengan orang yang jarang mandi, jarang ganti baju, dan jarang gosok gigi.

Pulang kantor teeeeettt sih jam 16.30, tapi mana berani pulang pas jam kantor, nanti dibilang apa kata dunia, dibilang kurang dedikasi, dibilang itung-itungan, dan stigma negatif lainnya. Yang cocok itu pulang jam 17.30. Pantes deh, kita lebihin kerja satu jam itung-itung mengganti waktu kerja seharusnya yang kita pake untuk melamun, buka-buka internet, atau ngerumpi.  Kebetulan juga sekitar jam 17.40 ada kereta yang ke Mangarai dan selanjutnya di Mangarai ikut kereta yang dari Kota ke Bekasi.  Masalahnya transit di Mangarai menjadi "horor" karena berjubelnya calon penumpang tidak sebanding dengan kapasitas angkut kereta. Walaupun sudah berhimpitan kaya ikan teri dalam toples.

Sebetulnya ada kereta yang jurusan Mangarai ke Bekasi jam 18.02, namun rasanya lebin banyak dibatalkan jadwal tersebut dibanding berangkat.  Ada-ada saja alasan anak buah pak Jonan, mengalami gangguan lah, ada kerusakan lah, masuk Depo lah, dll. Jadi biasanya di Mangarai bisa nunggu sekitar setengah jam. Akibatnya sampai ke rumah pas adzan Isya. Loh....kapan sholat Magribnya ?

Beberapa kali, aku mencoba untuk sholat Magrib dahulu di kantor, jadi pulang kira-kira jam 18.30.  Tapi ampun deh, tambah malem bukannya tambah sepi orang, malah tambah penuh.  Jadinya perjalanan sangat lambat, sampai di rumah hampir jam sembilan malam.  Mandi, sholat isya  tidur, bangun lagi, sholat subuh, lalu berangkat lagi ke kantor. Benar-benar pulang cuma mau numpang tidur.  Rasanya enggak sehat hidup rutin seperti itu.  Jadi pilihan pulang jam 17.30 agak lebih manusiawi.  Masih memiliki waktu sekitar 90 menit untuk membantu anaku ngerjakan PR, mendengarkan cerita istriku, menonton acara D'terong, dll.  Tapi masalahnya, sholat magrib dimana ?

Di statsiun Mangarai memang ada Mesjid terletak di pojok dekat WC dengan ukuran sekitar 4 x 6 meter ditambah emperannya sekitar 90 centimeter.  Tapi dengan waktu Magrib yang cuma sedikit, maka tempat tersebut menjadi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang ada.  Karpet hijaunya sungguh kotor, berbau dan sudah bercampur debu.  Kalau kita sujud disana, maka akan menempel beberapa kerikil dk kening.  Biasanya pas waktu magrib akan ada dua imam  yaitu imam yang di dalam dan imam yang di emperan.  Imam yang diemperan mengimami sekitar 6 orang yang berbaris dua dua, di ubin kramik warna putih. Diluar orang yang sholat berjubel orang yang ngantri ambil air wudlu dan orang yang ngantri masuk mesjid.  Tampak orang-orang sholeh dan sholehah itu tabah menerima kenyataan yang harus dihadapi, sambil telinga waspada mendengar pengumuman kereta yang dinantikan sedang tertahan di sinyal masuk statsiun mana.

Ya Allah....aku ingin sholat.

Mudah-mudahan ajaran guru ngajiku yang menyebutkan bahwa dalam keadaan seperti itu, sholat Magribnya boleh di 'jama dengan sholat Isya setelah sampai di rumah, adalah benar.  Mudah-mudahan ada kekuatan yang menggerakan sehingga di tempat-tempat umum harus menyediaka Mesjid, sehingga aku bisa sholat tepat waktu dan berjamaah. Tidak harus nunggu pensiun.  Mudah-mudahan pak Jonan baca blogku lalu membangun mesjid yang besar di Mangarai.

Ya Allah........aku ingin sholat.

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 10 Maret 2014

SAPU LIDI

Kroessssseeekkk, srrreeeeeekkk, srrrreeeeeekkk, kroesssseeeeekkkk, aku dengar suara berirama di halaman belakang, ketika aku asik menonton TV di beranda rumah mertua sambil menikmati "sorabi haneut" dan "goreng bala-bala".  Menu wajib setiap pagi, bila kami sekeluarga pulang kampung liburan.  

Kroesssssseeeekkkk, sssrrrreeeeeeeekkkk, ssrrrrrreeeeeekkkk, kroesssssseeeeekkkk, demikian terus bunyinya tiada henti. Ibu mertuaku sedang menyapu halaman belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon cengkeh yang umurnya sudah puluhan tahun.  Setiap hari, setiap malam, daunnya berguguran. Kalau tidak di sapu maka halaman belakang rumah bisa menjadi seperti hutan.  Daun-daun yang berserakan tersebut disapu oleh sapu lidi yang digerakan ke arah tertentu, sehingga berkumpul, menggunung, lalu dimasukan ke dalam tempat sampah.  Tempat sampahnya sendiri bukan terbuat dari plastik atau drum, tetapi cukup dengan menggali lobang kira-kira satu meter persegi di area halaman. Setelah lobang tersebut penuh, lalu ditutup kembali dengan tanah dan daun tersebut akan diproses oleh mikroorganisma alamiah sehingga kembali menjadi pupuk organik yang menyuburkan tanah. Untuk sampah yang baru, tinggal dibuat lobang yang lain. Praktis, gampang, sehat, dan tidak merusak lingkungan.

Sejak merantau ke Jakarta sekitar 20 tahun terakhir ini, jarang sekali aku mendengar dan melihat orang menyapu dengan sapu lidi.  Maklum saja, rata-rata rumah orang kota hanya seuprit.  Kalaupun memiliki halaman ukurannya paling 10 sampai 20 meter persegi, itupun sebagian besar sudah ditutupi semen atau keramik karena dipakai untuk nyimpen mobil. Dan sebagian lagi telah menjadi ruang bawah tanah untuk menampung residu pencernaan pemilik rumah.

Guru saat aku sekolah dulu di SD pernah cerita, bahwa kita harus bekerja sama. Lihatlah sapu lidi, hanya terbuat dari lidi daun kelapa atau lidi daun enau yang kalau sendirian tidak memiliki kekuatan. Halus, mudah dipatahkan, mudah dibengkokan, cenderung tidak berguna. Bahkan tidak bisa dijadikan tusuk sate ataupun tusuk gigi. Tapi kalau mereka bersatu atau telah dipersatukan dengan sebuah ikatan yang kokoh.  Mereka telah dibuat sama panjang dan sama arahnya, yaitu kepala di atas dan kaki di bawah. Yang panjang dipotong sesuai standar.  Diikat pada titik yang sama. Barulah lidi tersebut berubah menjadi alat yang memiliki kekuatan untuk mengungkit, mengumpulkan, dan mendorong.

Dengan kekuatan ikatan tersebut, maka seluruh lidi akan bergerak bersama. Beberapa batang lidi yang terletak di disi depan menyentuh daun yang gugur di tanah, ditopang dengan kekuatan puluhan batang lidi yang di tengah.  Bila ternyata barisan depan lolos mendorong daun gugur tersebut, maka barisan lidi tengah ikut menyapu di topang barisan belakang. Bersatu padu, berirama, satu arah, dan satu tujuan.

Kadang-kadang, dalam melakukan tugasnya ada lidi yang tersandung sehingga patah.  Ada lidi yang rapuh juga sehingga patah. Ada orang iseng yang mematahkan beberapa batang lidi.  Sehingga lama kelamaan sapu lidi tersebut akan semakin pendek.  Tetapi, selama lidi-lidi yang patah tersebut tidak dicabut atau dibuang, maka ikatannya akan tetap kokoh.  Oleh karena itu, selama Anda masih membutuhkan sapu lidi tersebut, jangan kau coba-coba untuk mencabut lidinya. Karena kalau dicabut, maka lama kelamaan ikatannya akan mengendur, lalu bercerai berai tiada berguna.

Demikian halnya ketika Anda memimpin sebuah organisasi baik berorientasi profit maupun non profit.  Samakan persepsi anak buah Anda, lalu buatlah ikatan yang kuat, maka Anda akan mudah menggerakan mereka ke arah yang sama.  Untuk membuat karya besar.  Jangan buru-buru menghukum anak buah yang patah, karena dia patah karena bekerja, patah karena Anda benturkan, atau mungkin dipatahkan orang lain, saingan Anda misalnya. Ingatlah, mereka masih sangat berkontribusi dalam memperkokoh ikatan........kecuali kalau memang sudah keterlaluan.

Sekarang silahkan Anda renungkan. Sudahkah Anda membuat sapu lidi ? Atau Anda baru memiliki kumpulan lidi berserakan ?

Jakarta - Padang, 27 Februari 2014
Hasil perenungan oleh-oleh seminar James Bwee.

 (salam hangat dari kang sepyan)