Kamis, 27 Juni 2013

H. MA'MUN "BINTANGNYA" BEKASI SELATAN

Rambut cepak usia 35-an, seragam hijau-hijau lengan pendek pas badan, tinggi semeter tujuh puluhan, dengan kumis tipis di atas bibir.  Sekilas seperti tentara yang baru selesai pendidikan, karena badannya masih cukup langsing.  Tapi kalau diperhatikan, tanda pangkat maupun warna bajunya agak berbeda.  Di dada kiri tertulis nama H. Ma'mun  Entah apa jabatan dia di kantor kecamatan Bekasi Selatan.  Huruf H diawal apakah singkatan dari haji atau bukan juga, aku enggak tahu.  Yang jelas tugasnya adalah berdiri di depan pintu pendaftaran e-KTP.  Sekali-sekali memanggil nama penduduk yang akan di foto.  Yang sedang berjejer-jejer di kursi cheetos warna hitam.  Dan sebagian bekerumun di depan pintu.  Aku berada di antara mereka, sekitar 50-an penduduk yang ngantri untuk membuat e-KTP.

Jam sudah menunjukan pukul 11.30, ketika aku datang ke kerumunan tersebut.  Aku ingat ini adalah kali kedua aku meminta ijin ke bos-ku untuk meninggalkan kantor demi mensukseskan program pak Gamawan Fauzi.  Dengan kesibukan kantor yang cukup tinggi, sulit sekali rasanya mencari celah waktu jam kerja produktif, sehingga izin untuk foto e-KTP selalu ditunda-tunda.  Sedangkan kebijakan kantor kecamatan hanya mau melayani pada jam kerja.  Khan sabtu dan minggu kami juga perlu libur !

Dengan modal selembar foto copy Kartu Keluarga, aku coba menerobos kerumunan mendekati pak Ma'mun.  "Sudah tutup pak, besok lagi saja kami buka mulai jam 9" belum sempat aku berfikir pak Ma'mun menambahkan terornya "kemarin saja yang pendaftarannya kita tutup jam 10 pagi, baru dapat diselesaikan jam 3 sore, itupun antara jam 12 sampai jam satu kami tidak istirahat".  Dengan pertimbangan sulitnya nyari waktu lain, aku mencoba memelas "Pak, tolong saya pak, saya akan sulit mencari waktu yang lain.  Apalagi hari ini khan hari kedua terakhir sebelum penutupan dibukanya kesempatan  foto e-KTP bulan Juni". "Gak mungkin khan aku harus minta izin lagi besok ?" demikian aku menambahkan alasan.


"Kalau pendaftaran tidak saya tutup, maka kantor ini tidak akan tutup-tutup pak" demikian pukulan telak pak Makmun, serasa menohok ulu hatku.  Walaupun begitu, aku tetap ada di depan pintu, sambil mataku melihat ke sekeliling.  Bentuk ruangan yang pintunya dijaga tersebut seperti rumah si Doel yaitu ada ruangan depan, lalu ada pintu lagi dan di balik pintu ada ruangan lain yang lebih panjang.  Di ruangan depan kelihatan ada seorang petugas di hadapan komputer dan alat foto. Orangnya agak kucel, menggunakan kaos pudar ditutup batik merah tangan pendek yang tidak kalah dekil, dan rambutnya tidak tersisir rapi.  Kelihatannya dia itu petugas dari perusahaan rekanan kecamatan untuk proyek ini.  Karena dandanannya berbeda.  Di ruangan dalam ada beberapa meja yang diisi oleh pegawai kecamatan.


Aku menaruh harapan kepada ibu-ibu petugas yang duduk di ruangan dalam paling depan, karena dia nampak memperhatikan aku.  Jadi dengan sisa harapan terakhir aku memohon ke pak Ma'mun dengan suara agak keras biar kedenger sama si ibu yang di dalam "Pak, didalam foto copy Kartu Keluarga ini, ada tulisan Bapak nih 'foto gagal'.  Dulu waktu bulan April saya kesini mau di foto, tetapi kantor ini tutup juga dengan alasan jaringan rusak.  Jadi cuma di cek saja kertasnya, dan Pak Ma'mun nulis ini".   Sambil bicara, mataku sekali-kali melirik sama si ibu di dalam, dan rupanya diapun masih memperhatikan pembicaraan antara aku dan pak Ma'mun.  Pak Ma'mun tetap terdiam, bahkan matanya pura-pura tidak melihat.


Pancinganku rupanya mengenai sasaran juga.  Si ibu di dalam berkata, "ada berapa banyak orang lagi sih yang nunggu di luar ? sudah pak tumpukin saja di sana foto copy KK-nya, tapi sabar menunggu ya". Hehehe, dengan sedikit sunggingan kemenangan aku kasihkan foto copy KK ke pak Ma'mun, dan tanpa berkata sepatahpun, dia terima kartu tersebut ditumpuk di tempat teratas dari tumpukan kertas yang antri foto.  Dengan harapan, mudah-mudahan pada saatnya aku dipanggil foto juga.  Walaupun harus menunggu sampai jam tiga.  Aku tidak mau gagal, menjadi warga negara seutuhnya yang memiliki e-KTP.


Jaman awal-awal pembuatan e-KTP pertengahan tahun 2012, aku tidak sempat ikut ngantri foto, karena sekalinya datang ke kecamatan pagi-pagi orang sudah membludak.  Melihat begitu jadi males deh.  Akhirnya datang juga kesempatan di foto, ketika pak RW mengumumkan ada acara pembuatan e-KTP di kelurahan Kayuringin Jaya. Aku sempat di foto disana.  Namun sayangnya, setelah yang lain apat KTP, termasuk istriku yang di foto di kecamatan, aku tidak dapat, karena katanya "gagal".....kok bisa begitu ya ?  Jadi sebenarnya ini adalah kali ketiga aku ngurus KTP, dan tekadku harus berhasil.


Jam satu tengah hari, aku belum dipanggil juga.  Tinggal dua sebelas orang yang duduk di kursi.  Keringatku bercucuran deras, membasahi seluruh tubuh.  Muka aku pun udah basah oleh keringat....entah bagaimana nanti jadinya bentuk fotoku.  Udah sengaja menyisir dan berbedak sebelum berangkat, jadi kacau deh.  Aku sedikit was-was ketika pak Ma'mun mulai membagi-bagikan kembali foto copy KK dan member nomor urut pada sekitar 6 orang yang ada.  Tapi aku enggak di kasih.  Sekilas aku intip dia bawa-bawa copy KK aku, terlihat dari tulisan "gagal" di foto copy KK tersebut.  Tapi pak Ma'mun tidak manggil aku, rupanya dia mau "main-main" hehehe.......biarin aja deh, aku tunggu aja apa akhir permainan pak Ma'mun.  Aku jabanin aja sambil nulis, melupakan panas dan "mangkel".


Tambah siang, kok orang-orang pada nambah lagi......wah saingan makin banyak ini.....aku harus bersabar, bersabar, bersabar.  Oh.....e-KTP......andai ada alternatif lain.  Buat KTP di negeri jiran atau di negeri singa kali ???


Menjelang jam 2 tengah hari, kesabaranku makin habis.  Aku beresin ipadku, lalu aku melangkah dengan mantap mendekati pak Ma'mun.  Aku tepuk pundaknya dan menyapa agak tegas "Pak Ma'mun, saya belum dipanggil", diluar dugaan dia menjawab agak ramah "sebentar pak, nanti saya panggil".  Tidak lama kemudian dia membawa lima lembar kertas, dan aku dipanggil dengan nomor urut ketiga.  Alhamdulillah.

Tekan tangan kanan kiri, tekan dua jempol, tekan telunjuk kanan kiri, tanda tangan, lalu bergaya dengan latar belakang kain merah.  Selesai sudah perjuangan hari ini.  Konon hasilnya akan didapat tujuh bulan mendatang.

Selamat bertugas pak Ma'mun.


Jumat, 07 Juni 2013

INDEKS PAHALA

"Kang, coba deh dibiasakan setiap hari sedekah" dalam satu siang di perjalanan menuju basement untuk sholat dhuhur berjamaah, bosku yang aku anggap juga sebagai guruku menyampaikan.  "Insya Allah kita akan diberikan rezeki yang datangnya tidak diduga-duga dan selalu diberikan kemudahan atas setiap usaha yang sedang kita lakukan". Selanjutnya beliau menyampaikan contoh-contoh yang telah dialami dalam kehidupannya, dalam karir maupun bisnis di rumah. "Pokoknya usahakan setiap pagi sebelum berangkat bekerja sedekah, tidak usah besar-besar, sesuai kemampuan saja.  Tapi kalau sedekahnya kecil, ya hasilnya juga tentu akan kecil, hahaha", setengah bercanda beliau mengakhiri diskusi kecil siang tersebut.

Aku jadi teringat dalam kesempatan sebelumnya beliau pernah memberikan nasihat agar setiap malam sebaiknya melakukan sholat malam.  Juga memberikan contoh orang-orang yang kami kenal, yang aku lihat cukup disegani karena keberhasilan dalam membina rumah tangga maupun keberhasilan karir, yang katanya mereka selalu melakukan sholat malam.  "Jangan terlalu malam, tetapi menjelang pagi saja sekitar jam 4 kurang sholat malamnya, sehingga tidak perlu tidur lagi sampai subuh" demikian beliau memberi tips tambahan.

Setelah aku renungkan dan dirangkum dari berbagai pengalaman maupun sumber, ada 4 amalan penting yang sebaiknya dilakukan setiap hari sebelum mulai bekerja.  Yaitu (1) sholat malam, (2) sholat subuh berjamaah di mesjid, (3) sedekah, (4) sholat dhuha.  Insya Allah kalau keempat amalan tersebut dilakukan dengan konsisten, maka akan didapatkan ketenangan batin, kejernihan berfikir, yang pada akhirnya mengaktifkan soft kompetensi.  Dengan kompetensi tersebut akan membawa keberhasilan dunia, dan yang paling penting akan menambah catatan amal baik untuk mengimbangi kejahatan-kejahatan yang sulit sekali kita hindari.

Tapi pada kenyataannya, sangat sulit melakukan keempat amalan tersebut secara konsisten.  Apalagi di tengah kesibukan bekerja dengan jadwal yang sering berubah, serta mengharuskan banyak kegiatan bepergian ke luar kota.  Oleh karena itu aku coba mencatatnya setiap hari, yaitu kalau dilakukan masing-masing amalan tersebut mendapat skor 1, sedangkan kalau tidak dilakukan mendapat skor 0.  Misalnya seperti hari ini aku hanya mendapat skor dua yaitu hanya sholat malam dan sedekah.  Sholat duha dan subuh berjamaah tidak dapat dilakukan karena dalam perjalanan pagi-pagi berangkat jam 03.30 dari Kotacane menuju Medan ngejar pesawat.  Waktu berangkat belum masuk waktu subuh dan sepanjang perjalanan di Tanah karo tidak ada mesjid. Baru ketemu mesjid di Tiga Binanga kira-kira 3 jam perjalanan, atau sudah jam 6.30, jadinya terpaksa aku sholat subuh di mobil saja.  Sedangkan sholat duha ya tidak dilakukan juga....hehehe...ngejar pesawat....hehehe....selalu ada seribu alasan yang masuk akal untuk tidak mengerjakan.

Setiap hari nilai-nilai tersebut dikumpulkan, sampai akhir bulan.  Lalu dirata-ratakan dan anggap saja itu sebagai nilai Indeks Pahala Pagi.  Kalau nilainya di atas 3,5 sampai 4 maka predikatnya  "cum laude", kalau nilainya 3 sampai 3,5 berarti sangat memuaskan, kalau nilainya 2 sampai 3 ? ya....itu namanya pas-pasan.  Sedangkan kalau nilainya di bawah 2 berarti tidak lulus.  Harus dicari lagi kiat-kiat lain, agar dibulan depan nilainya dapat meningkat.  Sistim penilaian tersebut dalam tahap lanjutan dapat divariasikan dengan memasukan indeks kualitas.

Sholat malam, dilakukan minimal dua rakaat saja.  Kalau belum memasukan unsur kualitas maka sholat malam yang dilakukan jam 10 malam dua rakaat dengan sholat malam yang dilakukan jam 3 pagi delapan rakaat ditambah sholat witir tiga rokaat nilainya sama-sama 1.  Tapi bisa saja kita membuat indeks tambahan kualitas, yaitu melakukan grading misalnya kalau sekedar dikerjakan nilainya 0,25;  kalau waktunya sepertiga malam terakhir nilainya 0,50; kalau dilakukan 11 rakaat dengan witir nilainya 0,75; dan kalau dilakukan 11 rakaat di sepertiga malam baru nilainya bulat 1,0.

Sholat subuh berjamaah juga sama bisa dibuat grading dari yang terendah misalnya datang ke mesjid setelah qomat, sampai yang tertinggi yaitu datang ke mesjid sebelum adzan subuh ditambah sholat fajar dan berdzikir.  Siapa yang tidak tahu pahala subuh berjamaah di mesjid ? dalam suatu hadis dikatakan bahwa sholat subuh berjamaah di mesjid amalannya sama dengan sholat sepanjang malam.  Andai kita tebuka pikirannya, kalaupun datang kemesjid hanya bisa dilakukan dengan merangkak, maka kita akan merangkak ke mesjid untuk mengikuti sholat subuh berjamaah.

Berapa rupiah sih sedekah yang "pantas" kita lakukan ? Seharusnya jawabannya adalah sebesar-besarnya, karena kita pasti akan mendapatkan balasan yang berlipat-lipat.  Tapi kalau besar khan sulit mengeluarkannya ? Apalagi setiap hari ?  hati kecilku protes.  Oleh karena itu sebaiknya dibuat standar, misalnya dengan besaran yang sama dengan zakat mal yang biasa kita keluarkan.  Jadi kalau gaji kita sebesar 10 juta, maka untuk sedekah harian dicadangkan saja Rp. 250.000,- dibagi 30 atau 31 hari kira-kira sehari sedekah sebesar Rp. 10.000,- kalau hari sabtu dan minggu Rp. 5.000,- itungan amat ??? ya samakan saja setiap hari Rp. 10.000,-.  Kalau gajinya 20 juta maka sedekah perhari Rp. 20.000,-.  Kalau gajinya hanya lima juta ya cukup Rp. 5.000,- dan kalau UMR sekitar dua jutaan kira-kira sedekahnya Rp. 2.000 saja.  Insya Allah, tidak akan menjadi tambah miskin dengan sedekah dan tidak akan menjadi bertambah kaya dengan tidak mengeluarkan sedekah.  Untuk grading nilainya silahkan ditimbang-timbang dari besaran tersebut.

Sholat duha adalah sholat yang dapat dilakukan setelah terbit fajar, kalau di Jakarta umumnya dapat dilakukan mulai jam 06.30 sampai jam 10-an.  Sebaiknya tidak dilakukan dalam waktu kerja, karena akan mengganggu ritme kerja terutama yang bekerja secara team dan kerja di bidang pelayanan.  Mengganggu kenyamanan orang lain, misalnya ketika butuh kita....eh lagi sholat duha, terpaksa nunggu dulu.  Pasti mereka enggak berani menyalahkan. Siapa yang berani menyalahkan orang beribadah.  Tapi dalam hati kecilnya ngedumel.  Jadi sebaiknya lakukan sholat duha sebelum kerja.  Bila tidak mungkin sempat di rumah karena jarak rumah ke tempat kerja cukup jauh, maka usahakan datang 30 menit sebelum jam kerja.  Umumnya kantor bukan jam 7.30 atau jam 8.00, tiga puluh menit sebelumnya telah masuk waktu duha.  Untuk grading nilainya bisa berdasarkan jumlah rakaat.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula" (Al-Zalzalah - 99 ; 7 - 8).

Firman Allah tidak pernah salah, tidak pernah bohong, memiliki kebenaran yang mutlak.  Semua amalan manusia yang baik maupun yang jahat akan tercatat dalam kitab, yang akan diserahkan dan harus dipertanggung-jawabkan pada saat hari pembalasan, yang waktunya pasti akan tiba.

Jadi berapa IP anda bulan ini ?

(serial NOW OR NEVER)


(salam hangat dari kang sepyan)

Selasa, 04 Juni 2013

UMRAH PERDANA

Akhirnya waktu keberangkatan  umrah kami tujuh kakak beradikpun tiba.  Empat kakakku ceu Aam, Ceu Yeyet, Ceu Iis, dan Ceu Yayat yang semuanya perempuan dan dua adik laki-laki yaitu Ence dan Dencu, sudah berkumpul di rumah pada malam keberangkatan.  Rencananya travel akan menjemput kami pagi-pagi.  Maklum berangkat hari Senin, jadi walaupun jadwal pesawat jam 11 siang, kami harus berangkat subuh untuk mengantisipasi macetnya jalan dari Bekasi ke Cengkareng, berebutan dengan ribuan kendaraan lain yang akan berangkat kerja di Jakarta.

Selesai makan malam aku tanya sama ceu Aam dan ceu Yeyet, pada bawa bekal berapa ? Ternyata  mereka bilang bawa bekal rupiah sekitar lima ratus ribuan dan bekal riyal sekitar dua ratus lima puluh riyal.  Mereka memiliki riyal pemberian dari Jajang adikku yang tidak ikut umrah, karena kebetulan dia baru pulang haji tahun kemaren dan masih memiliki sisa riyal.
"Khan semua biaya, untuk ongkos dan makan sudah ditanggung travel, ini persediaan buat beli kurma saja ?" alasan ceu Aam.  
Dengan sedikit bercanda aku bilang "namanya juga mau berangkat ke luar negeri, masa cuma bawa uang segitu".  
"Jadi perlu bawa uang berapa ?" ceu Yeyet bertanya. 
Aku teruskan candaanku, "ya, dibawalah sekitar lima sampai sepuluh juta, pakai rupiah saja. Nanti kalau perlu belanja di sana baru ditukar sesuai kebutuhan".  
Padahal sebenernya bawa uang segitu juga menurutku udah cukup (walau minimal) asal tidak berniat membelikan oleh-oleh untuk orang sekampung.

Rupanya candaanku itu dianggap sangat serius, sehingga malam-malam mereka minta diantar ke ATM untuk membawa uang tunai tambahan masing-masing lima juta.  Bahkan salah satu adikku (aku tidak sebutkan namanya deh) membawa seluruh saldo tabungannya, walaupun tetep masih kurang dari lima juta.  Hehehe, jadi enggak enak......kirain mereka cuma bawa tambahan sekitar satu sampai dua juta saja.

Pagi-pagi buta kami sudah siap dengan seragam batik hijau yang kainnya dikasih dari travel.  Kakak-kakakku tampak saling mengamati dan membanggakan desain yang dipakainya, karena walaupun kainnya sama, ternyata hasil akhirnya berbeda. Ada yang model tangannya besar, ada yang diberi variasi kain renda, bahkan ada juga yang dikombinasikan dengan tambahan kain hijau polos.  Demikian juga atribut lainnya sudah melekat, terutama ceu Yeyet tampak paling komplit.  Tas kuning berisi paspor, dan keperluan pribadi sudah dikalungkan di leher dan diikat ke badan, terus ditambah tanda pengenal dan lain-lain, pokoknya heboh banget.  Sedangkan kami yang laki-laki tidak seheboh kakak-kakak perempuan.

Setelah sarapan, sekitar jam 5.30 kami berangkat.  Bissmillahi amantu billah, tawakaltu alallah. Labbaika allahuma labbaika. Labbaika laasyarikalaka labbaika.  Innal hamda wani'matalaka walmulka.  Laa syarikalaka.

Sampai di Cengkareng sekitar jam 7.30 pagi dan sambil menunggu jamaah lain, travel telah menyediakan sarapan dengan membooking salah satu restoran yang ada di depan pintu masuk terminal D.  Dan kamipun sarapan untuk yang kedua kalinya, yaitu tadi pagi sehabis subuh sarapan di rumah, dan sekarang sarapan lagi. Harus persiapan stamina yang kuat, jadi makan banyak bolehlah untuk kali ini.  Lupakan diet. Sekitar jam 9 kami dibagi boarding pass dan paspor, serta disuruh masuk ke ruang tunggu.

Karena orang berjubel yang masuk, kami agak terpencar-pencar dalam antrian.  Ternyata ada kejadian heboh saat masuk ke Terminal 2.D.  Salah satu kakakku (ini juga aku rahasiahkan namanya), ngotot tidak mau melepaskan tas kecilnya untuk dimasukkan ke tempat X-ray.  Kebetulan diantara kami bertujuh, ada dua orang kakakku yang belum pernah naik pesawat, jadi umrah ini merupakan pengalaman pertama naik pesawat.  Terjadi perdebatan dan saling tarik antara petugas dan kakakku.  Petugas tetap meminta seluruh barang bawaan masuk X- ray dan kakakku tetap tidak mau.  Kakakku ketakutan melepaskan tas kecilnya karena berisi seluruh barang berharga yang dia punya, termasuk perhiasan, riyal dan uang tunai lima juta yang dibawa dari ATM tadi malam.  Untung kejadian tersebut dilihat oleh kakakku yang lainnya yang sudah biasa naik pesawat.  Setelah dijelaskan, akhirnya walaupun dengan penuh kewaspadaan, tas kecil tersebut mau juga dilepas masuk lorong X-ray.  Kasihan sekali dia, mukanya sampai pucat.  Kami lupa menjelaskan hal tersebut sebelumnya, karena tadinya kami pikir itu adalah hal yang biasa saja.

Setelah selesai pemeriksaan imigrasi kami duduk di ruang tunggu, menunggu panggilan boarding.  Karena mungkin pagi-pagi sudah makan dua kali, dan berangkat subuh-subuh belum sempat "menyetor" secara tuntas, maka harus dilakukan penuntasan "setoran" ke kamar mandi bandara.  Kembali terjadi kejadian heboh didalam kamar mandi.  Kakakku teriak-teriak di dalam kamar mandi karena tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan air.  Ketika masuk, karena "mendesak" alias "kebelet" tidak melakukan orientasi lapangan dulu.  Begitu ada lobang langsung sikat, setelah selesai baru bingung membereskannya. Kembali salah satu kakakku yang lain meng"guide" cara-cara menggunakan alat kamar mandi dari luar ruangan.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kejadian-kejadian tersebut banyak di alami oleh orang-orang yang berumrah dan berhaji, terutama yang dari kampung-kampung dimana mereka belum pernah punya pengalaman menggunakan peralatan modern dan belum pernah masuk bandara.  Seperti cara naik lift, naik eskalator, penggunaan shower, bath tube, pengaturan air panas dan dingin, menyalakan dan mengatur AC, menggunakan kunci berbentuk kartu, menggunakan toilet duduk, prosedur pemeriksaan x-ray, prosedur di imigrasi, mencari tempat duduk di pesawat, memasang sabuk pengaman, dan lain-lain.  Yang bisa saja menurut pendapat orang yang biasa bepergian hal tersebut sangat biasa, tetapi menurut sebagian orang merupakan hal yang luar biasa.  Dimana setiap kegiatan tersebut dilakukan, akan selalu memacu adrenalin dan membuat detak jantung meningkat.

Manasik perlu dilakukan bukan hanya tentang bagaimana pengerjaan rangkaian ibadah umrah dan haji, tetapi juga harus termasuk bagaimana prosedur masuk hotel, masuk bandara, masuk pesawat, masuk mal, dsb.  Jadi kemajuan yang didapat, bukan hanya tambahan amal ibadah, juga tambah menjadi manusia modern.....hehehe.....seperti kakakku.


(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 23 Mei 2013

SALAM DARI NARINGGUL CITY


Pucuk pohon berwarna biru kehitaman tampak puluhan mungkin ratusan meter berada dibawah.  Disusul dengan pohon lainnya yang tumbuh bertumpuk-tumpuk di tebing. Tambah ke atas pucuk-pucuk tersebut semakin kelihatan berwarna hijau kecoklatan, bahkan ada yang berwarna merah.  Pemandangan arah kiri, ketika mobil melaju dijalanan naik berbatu dari Cidaun menuju Naringgul.

Jalanan menanjak berkelak-kelok mengikuti sisi tebing.  Bila mobil belok harus berhati-hati mengingat badan jalan yang hanya sekitar empat meter, diapit sebelah kiri jurang dan sebelah kanan tebing.  Apalagi ketika belok ke kanan yang pandangannya tertutup tebing, bila kurang waspada tiba-tiba dari arah depan muncul mobil lain, bukan tidak mungkin sopir yang kurang pengalaman bisa membanting setir ke arah kiri, yang artinya mendatangi pucuk-pucuk pohon tadi.  Sehingga setiap ada belokan, rasanya darahku terus ikut-ikutan berdesir, dan kakiku ikut menegang, ingin mengnjak rem. Sedangkan kang Parmin sopir yang membawa mobil tenang-tenang saja. "Sudah biasa pak, saya hampir dua minggu sekali melewati jalan ini" demikian dia menenangkan aku yang mungkin kelihatan gelisah duduk dipinggir dia.

Naringgul adalah salah satu kecamatan di wilayah selatan Jawa Barat dan masuk dalam wilayah kabupaten Cianjur.  Dari Cianjur ke Naringgul memerlukan waktu sekitar tujuh jam ke arah selatan melewati Cibeber, Cidadap, Sukanegara, Pagelaran, Tanggeung, Cibinong, sampai ke pantai selatan yaitu daerah Sindang Barang yang memerlukan waktu sekitar 5 jam.  Dari Sindang Barang belok ke kiri arah ke timur melewati Cidaun memerlukan waktu sekitar 1 jam.  Dari Cidaun apabila terus lurus akan sampai ke Pameungpeuk wilayah kabupaten Garut, dan bila  belok kiri ke arah utara menuju Naringgul.  Jalan dari Cidaun ke Naringgul menaiki gunung dengan jarak  29 kilometer dan waktu tempuh sekitar satu jam.  Dua jam dari Naringgul terus ke utara, akan sampai ke daerah Pangalengan, dimana disana terhampar perkebunan teh dan peternakan sapi yang telah dirintis sejak jaman Belanda.

Udara di Naringgul cukup dingin karena merupakan daerah pegunungan, umumnya masyarakat memiliki mata pencaharian dari bertani.  Ada juga yang membuat gula kelapa serta mencari kayu di hutan.  Tapi karena terisolir, maka pembangunannya sangat terbatas.  Jalanan hampir seluruhnya berlubang, bahkan banyak yang membentuk kubangan apabila hujan turun.  Menurut teman yang disana "jarang ada pejabat yang datang lebih dari sekali kesini pak, biasanya mereka kapok karena jaraknya sangat jauh dan jalannya rusak".  Aku menyebutnya Naringgul City dengan harapan dan do'a mudah-mudahan, kelak daerah ini bisa menjadi sebuah kota yang tidak tertinggal pembangunannya.

Pembangunan wilayah selatan Jawa Barat seperti Naringgul dan sekitarnya memang sangat memilukan.  Bahkan jalan propinsi yang ada di wilayah pantai yang menghubungkan pantai Pangandaran sampai pantai Pelabuhan Ratu, keadaannya rusak parah.  Terutama setelah ada proyek penggalian pasir besi.  Konon pasir yang berada di sekitar pantai selatan itu mengandung besi dan laku di ekspor ke luar negeri. Sepanjang jalan pantai selatan banyak hilir mudik truk kelebihan beban mengangkut pasir besi.  Entah diangkut kemana dan entah siapa yang diuntungkan, yang masyarakat tahu adalah jalanan menjadi rusak.  Hanya wilayah kabupaten yang dahulu dipimpin Aceng Fikri yang tidak memberikan izin penggalian pasir besi.  Yang lainnya mengikuti lagi bento "persetan orang susah karena aku, yang penting asik, sekali lagi asiiiikkk".

Padahal di wilayah selatan banyak pantai-pantai yang indah pemandangannya, banyak potensi-potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.  Namun untuk dapat mengembangkan semua itu perlu campur tangan pemerintah.  Bukan membela orde baru, tetapi jaman itu ada proyek PIR yang dicanangkan di wilayah selatan, dan sampai sekarang hasilnya masih dinikmati oleh masyarakat di sana, yaitu perkebunan kelapa. Sekarang pohonnya sudah sangat tinggi, dan setiap hari petani gula disana rajin menaikkan jerigen ukuran 10 liter ke puncak pohon, mengganti jerigen yang sudah terisi penuh nira kelapa.  Dari tetesan nira itulah, 40% warga dapat menghidupi keluarganya.

Pohon yang sudah tinggi, tentunya memerlukan peremajaan.  Namun masyarakat belum mendengar bimbingan peremajaan seperti apa yang harus dilakukan oleh mereka.  Mungkin Bapak dan Ibu pejabatnya masih sibuk menghitung fee penggalian pasir besi.  Yang warnanya hitam dengan butiran besi gemerlap bila tertimpa cahaya matahari, lebih menarik dan menjanjikan keuntungan.  Apalagi dikombinasikan dengan jumlah penduduk wilayah selatan yang relatif jarang dibandingkan wilayah tengah, sehingga kurang menarik untuk dijadikan basis pendulang suara.  Kalau tanggung-jawab harus dikalkulasi dengan keuntungan, jadinya seperti ini.

Menjelang sore,  mendekati jam 16.30, teman di Naringgul mengingatkan untuk segera turun kalau tidak akan bermalam di Naringgul.  Katanya jalanan di daerah tebing tadi, kalau malam kurang aman, sering diceritakan ada "begal" atau rampok yang berkeliaran di daerah tersebut.  Maklum di sekitar tebing tidak ada rumah penduduk. Jarak antara rumah terakhir sebelum tebing sampai rumah pertama setelah melewati tebing bisa mencapai 20 kilmeter.  Ditambah tidak ada sinyal hand phone, hmmmmm........memang cukup masuk akal.  Hari gini......keamanan pun masih menjadi barang langka.

Kalau memungkinkan.......aku berjanji, aku akan datang lagi ke Naringgul, sehingga bisa mematahkan mitos kalau ke Naringgul hanya sekali, karena kapok.  Naringgul City.......tunggu aku......mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi dengan posisi yang lebih baik.

Kepada para pembaca yang memiliki akses sama kang Aher atau Kang Dedi Mizwar, tolong sampaikan titipan salam dan pesan  dari masyarakat di Naringgul.  Minta ditengokin.


(salam hangat dari kang sepyan)

Jumat, 17 Mei 2013

MERAH HITAM BULAN BINTANG

Ketika itenarary perjalanan sudah terinci dengan rapi, tiket sudah dibeli, demikian pula mobil jemputan dan hotel disetiap kota yang akan kami singgahi sudah dikoordinasikan.  Jumat sore aku ditelepon pak Ali Akbar, kolegaku di Banda Aceh yang mengkoordinasi bisnis di regional Aceh.  "Pak, hati-hati....situasi di daerah perbatasan Sumut dengan Aceh sedang memanas".  Deg !!!  pikiran dan hatiku seolah-olah berhenti sebentar.  Pak Ali menjelaskan bahwa sehubungan dengan belum selesainya persoalan bendera Aceh, yang telah di-qanun-kan oleh pemerintah Aceh, namun belum disetujui pemerintah pusat, karena "konon" tidak sesuai dengan MoU Helsinky.  "Hari rabu kemarin, saya dan rombongan baru jalan dari Kuala Simpang menuju Banda Aceh, dan dijalanan banyak sweeping.  Kadang sweeping oleh aparat atau kadang sweeping oleh pihak lain.  Yang sweeping oleh pihak lain itulah yang berabe" demikian pak Ali memberikan gambaran.

Aku berempat dengan temen lainnya berencana untuk mengunjungi Kuala Simpang, Langsa, dan Lhokseumawe.  Perjalanan direncanakan hari Senin pagi dan pulang Kamis siang mengunjungi ketiga kota tersebut dan diperkirakan sampai di Lhokseumawe sekitar jam 8 malam.  Akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka diputuskan untuk menginap di Langsa, agar tidak melakukan perjalanan di atas jam 6 sore.  Perjalanan Langsa Lhokseumawe diteruskan keesokan harinya, karena masih memerlukan 3 sampai 3,5 jam perjalanan.  Daerah Langsa terutama Idi Rayeuk dan Peureulak memang terkenal daerah basis GAM, dan itu berada diantara perjalanan kota Langsa menuju Lhokseumawe.

Untuk memastikan serta mengatisipasi adanya sweeping atau hal lainnya, maka teman di Banda Aceh membantu kami dengan mengirimkan salah satu stafnya untuk memandu perjalanan dari Medan.  Dia berangkat melalui pesawat dari Banda Aceh dan ketemu di Medan.  Maksudnya untuk memastikan kita tidak salah sikap ketika menghadapi sweeping yang sewaktu-waktu mungkin terjadi.  Karena, salah-salah bersikap, salah-salah memilih kata dan kalimat yang tepat, atau salah-salah menebak apakah aparat atau bukan aparat, bisa berakibat fatal. Horor sekali kedengarannya.

Setelah makan siang dan sholat di warung ACC Medan, kami meneruskan perjalanan menuju Langsa.  Melewati Binjai, Stabat, sampai masuk ke perbatasan Langsa.  Alhamdulillah sampai jam 4 sore di kota  Langsa tidak terjadi apa-apa.  Kota Langsa pun aku lihat ramai seperti biasa, tidak seperti dalam kondisi bahaya.  Disepanjang jalan tengah kota dekat alun-alun Langsa, para pedagang tampak sedang bersiap-siap menata tempat dan dagangan, yang umumnya berupa makanan.  Ada nasi goreng, mie aceh, jagung bakar, manisan jambu, minuman, dan sebagainya.  Berjejer-jejer sepanjang jalan dengan roda berisi makanan dan beberapa meja yang disimpan di trotoar yang dilengkapi dengan kursi plastik.  Kehidupan malam di Langsa berlangsung seperti biasa.  Memang setelah melewati perbatasan Aceh, dipinggir jalan ada satu dua bendera merah bergaris hitam dan ditengahnya ada bulan bintang, tapi tidak banyak dan sekali-kali diselingi dengan bendera merah putih pudar.

Ketika kami sedang ngobrol dengan tuan rumah di Langsa, ada berita yang mengejutkan, yaitu di kota Lhokseumawe jam 4 sore hari itu ada penembakan terhadap mobil box, oleh pengendara sepeda motor dengan menggunakan senjata api.  Belum diketahui secara jelas apa motif dibalik itu, apakah perampokan atau motif ideologi.  Yang jelas, pengendara mobil box terkena tembakan di tangannya dan dibawa ke Rumah Sakit.  Kembali kami ketar-ketir, apalagi sebelum berangkat aku juga memdapat cerita bahwa kadang-kadang dilakukan sweeping ke kamar, dan tidak ada orang yang tahu kalau hal itu terjadi.   Aman.....aman.....aman, aku besarkan hatiku dan hati teman-temanku.  Perjalanan dalam rangka tugas, Insya Allah dilindungi oleh yang Maha Kuasa.

Alhamdulillah, aku tidur nyenyak sampai pagi.  Malahan jam setengah enam pagi, aku masih berani jalan-jalan berolah raga pagi ke jalan perkampungan di sekitar hotel.  Namun tidak bisa berlama-lama, karena agenda hari itu seharusnya pagi-pagi sudah berada di Lhokseumawe, sehingga harus berangkat sebelum jam 7 pagi, karena jarak perjalanan dari Langsa ke Lhokseumawe memerlukan waktu sekitar 3 sampai 3,5 jam.  Hampir sama dengan waktu tempuh perjalanan dari Medan ke Kuala Simpang.  Sedangkan waktu tempuh dari Kuala Simpang ke Langsa hanya sekitar 45 menit sampai satu jam.  Jadi total perjalanan Medan ke Lhokseumawe kira-kira 7,5 sampai 8 jam.

Perjalanan dari Langsa ke Lhokseumawe pagi hari, biasanya lancar.  Namun pagi itu agak tersendat karena banyak sekali mobil truk di perjalanan.  Pak Jun, sopir yang menjemput kami menyebutkan bahwa sejak ada isu bendera ini, mobil truk tersebut tidak berani lagi jalan malam.  Mereka mengatur waktu perjalanan agar ketika memasuki daerah Idi Rayeuk sudah pagi.  Sepanjang perjalanan dari Langsa ke Lhokseumawe seperti sedang masa kampanye, bendera merah bergaris hitam dan ditengahnya ada gambar bulan dan bintang, serasa meneror kami.  Menggelitik sudut  ideologi kami yang masih tersisa dan sudah memudar, yang dahulu ditanamkan oleh Bapak dan ibu Guru SD, SMP, SMA.  Yang dahulu didoktrinkan oleh Bapak-bapak yang menatar kami selama 100 jam, sebagai persyaratan agar kami dapat mengikuti pendidikan di Universitas Negeri.  Apalagi di daerah Idi Rayeuk, daerah Peureulak, demikian juga disekitar pertambangan minyak Chevron Lhokseumawe, di Lhok Sukon, banyak bendera dengan ukuran raksasa yang diikatkan dengan tiang terbuat dari pohon Jambe.  Pohon yang tinggi dan lurus sebesar tiang listrik, yang biasanya dipakai untuk pesta "rebutan", disana dengan gagahnya menopang kain merah bergaris hitam bergambar hitam bulan dan bintang.  Hatiku ingin berontak, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.  Pemerintah aja sepertinya diam dan membiarkan ?

Alhamdulillah, ternyata aku masih memiliki "rasa" Indonesia.  Tapi aku jadi kesal, karena yang diperdengarkan dan dipertontonkan oleh pemerintah di televisi hanya keragu-raguan mengambil keputusan, politik akomodatif untuk hal penting.  Serta politik "lebay" untuk hal yang menurutku remeh-temeh.  Pembicaraan "lisan" dilaporkan ke Mabes Polri karena kurang kata "oknum".  Padahal kalau berkaca ???  Semut di ujung lautan jelas kelihatan, tetapi gajah dipelupuk mata tidak tampak.

Berita penembakan kemaren, ternyata perampokan biasa.  Orang tersebut setiap sore memang biasa membawa uang sekitar 500 juta sampai satu milyar untuk disetorkan ke bank, menutup rekening giro yang telah dia keluarkan.  Jadi sudah diincar sejak lama.  Tapi ada lagi "rumor" yang menghebohkan, katanya beberapa waktu yang lalu TNI sempat menghadang 3 kapal yang menyelundupkan senjata dan amunisi, namun hanya satu kapal yang dapat digagalkan.  Dua kapal lainnya menjadi teror bagi penduduk Aceh.  Ada juga rumor yang mendengar sebuah tembakan.  Tapi benar atau tidaknya rumor tersebut, Wallahualam.

Yang jelas, sore hari Kamis ini, kami berempat telah berada di lambung pesawat menuju Jakarta dengan selamat.  Teriring do'a buat rakyat Aceh, semoga ada jalan keluar terbaik.  Politik bukan bertujuan "tok" untuk mencapai kekuasaan, tetapi yang lebih hakiki adalah untuk mensejahterakan.  Kalau pada ribut terus.......bagaimana mau sejahtera ??????


(salam hangat dari kang sepyan)

Selasa, 14 Mei 2013

PAGI CERIA DI UJUNG GENTENG

Anak tanggung usia 18-an memakai kaos tangan panjang warna biru tua yang tampak sudah memudar.  Rambutnya tebal hitam dengan ujung agak cokelat, mungkin karena sudah lama tidak bertemu shampo.  Tangan kiri menenteng ikan kira-kira 25 ekor ikan berbentuk pita dengan panjang setengah meteran dan lebar lima sampai tujuh centimeter. Tangan kanan memegang gas motor bebek, keluar dari celah-celah antar perahu menuju jalan desa yang mengarah ke tempat pelelangan ikan.  Dari arah berlawanan muncul sebuah motor bebek hampir serupa yang dikendarai dua orang bertopi usia 30-an.  Sudut mataku yang sedang jalan pagi, menangkap senyum sumringah yang tersungging dari ketiga wajah mereka ketika berpapasan, ………..menambah ceria pagi itu di Ujung Genteng.

Matahari sudah mulai muncul ke permukaan, cahayanya cukup menerangi pantai, namun belum menyengat.  Sekitar dua ratus orang termasuk ketiga orang tadi tampak ceria, hilir mudik di pantai diantara puluhan perahu-perahu penangkap ikan yang berderet-deret dipinggir pantai.  Rata-rata perahu bercat putih dengan kombinasi biru muda.  Tukang jualan makanan ringan seperti gorengan, nasi uduk, kopi, tampak sibuk melayani pembeli.  Di salah satu sudut tempat, tampak bergerombol orang memilah-milah ikan hasil tangkapan sesuai dengan jenis yang sama.  Tangannya lincah membagi-bagikan ikan kedalam tempat yang sudah dipenuhi balok es.

Pantai Ujung Genteng terletak di pantai selatan Sukabumi. Jarak dari Sukabumi kira-kira memerlukan waktu perjalanan 4 sampai 5 jam.  Jaraknya mungkin tidak terlalu jauh, tetapi dengan kombinasi jalan rusak dan berlobang menyebabkan waktu tempuh harus meningkat dua kali lipat.  Aku datang kesana bukan dari arah Sukabumi tetapi meneruskan perjalanan dari Pelabuhan Ratu. Sengaja jalan-jalan ke Pantai Selatan Jawa Barat, untuk menyambangi teman-teman pejuang yang berkantor disana......hehehe........kalau istilah politik mungkin untuk mendatangi konstituen.

Setelah makan siang di pelabuhan ratu kemaren siang, kami berangkat.  Menjelang akhir batas kota mengarah ke Cibadak yaitu di daerah Bag-bagan ada pertigaan.  Kalau lurus menuju Cibadak sedangkan kalau ambil jalan yang ke kanan itu arah ke Ujung Genteng.  Melewati daerah-daerah seperti Simpenan, Kiara Dua, Jampang Kulon, Surade, Ciracap, dan Minajaya. Jalan dari Bag-bagan menuju kiara dua (daerah kecamatan Simpenan) kecil dan menanjak serta berbelok-belok, setelah selesai belokan dan tanjakan, sampailah ke daerah perkebunan teh.  Presentase aspal yang ada dipermukaan jalan di jalan yang berbelo-belok masih kisaran 70 sampai 90 persen, namun setelah melewati perkebunan teh jalan semakin rusak, permukaan aspalnya terus berkurang .  Entah karena terpengaruh nama daerah (daerah simpenan) atau karena apa, tetapi kami seringkali melihat  wanita-wanita yang putih dan cantik, yang rasanya agak aneh berada di daerah terpencil seperti itu.  Jalan dari pelabuhan ratu sampai kiara dua ditempuh dengan waktu satu jam setengah lebih dengan jarak sekitar 30 kilometer.

Dari Kiara dua kita belok kanan menuju Jampang Kulon dan Surade, kalau belok kiri arahnya ke Sukabumi.  Setelah jalan kira-kira lima kilometer, terdapat pertigaan lagi yaitu kalau jalan menuju Jampan Kulon dan Surade terus lurus, sedangkan jalan yang menuju Ciracap belok kanan melewati Ciemas, dimana disana banyak pertambangan emas rakyat.  Kedua jalan tersebut akhirnya bertemu di daerah Minajaya.  Dari Minajaya ke pantai Ujung Genteng kira-kira memerlukan waktu tempuh 30 menit.  Tingkat kerusakan jalan semakin meningkat, seiring dengan semakin sulitnya mencari jalan yang masih tersisa aspal dipermukaannya.  Rata-rata permukaan jalan tinggal kerikil, dan sekali-kali ada kubangan membesar.  Kerusakan jalan terparah adalah di kecamatan Ciracap, rasanya aneh daerah tersebut termasuk daerah kecamatan dengan kondisi infrastruktur yang seperti itu.  Di pusat kotanya saja, mobil hanya bisa berjalan 5-10 kilometer perjam, kalau di Jakarta macet karena banyak kendaraan, tetapi kalau di Ciracap kendaraan tersendat karena harus memilih jalan yang memungkinkan roda menapak dengan sempurna.

Jauh sekali perbedaan infra struktur antaran wilayah utara dan wilayah tengah jawa barat dengah wilayah selatan jawa barat.  Padahal denger-denger banyak orang maju dan berhasil yang berasal dari daerah ini, salah satunya bupati Sukabumi juga asli Jampang Kulon.  Dari sisi denyut bisnis, terasa denyutannya cukup kencang, ditandai dengan besar dan ramenya pasar-pasar yang kami lalui.  Banyak toko besar berderet sepanjang jampang kulon dan Surade.  Wajar saja kalau ada beberapa masyarakat daerah sana yang berpikir untuk membuat pemekaran kabupaten Jampang.

Sampai ke pantai Ujung Genteng sudah jam delapan malam, maklum disamping jalannya rusak, aku juga pergi sekalian kerja.  Petugas yang menemaniku sengaja mencari jalan pintas tidak melalui jalan utama atau tidak melalui pantai yang ramai  untuk menuju hotel.  Katanya kalau lewat pantai tersebut banyak perempuan malam yang nongkrong menjajakan diri di pinggir jalan.  Dalam hati aku bilang "padahal aku juga pingin loh ngelihat kehidupan malam pinggir pantai", tapi aku gak berani mengutarakannya, pura-pua alim saja.  Diambil hikmahnya saja, Alhamdulillah terhindar dari pikiran ngeres dan zinnah mata.

Hotelku terletak di ujung barat pantai ujung genteng, sengaja dipilihkan disana agar kalau tidak cape banget sekitar jam satu malam bisa pergi ke tempat penyu bertelur.  Jaraknya kira-kira lima kilometer dari hotel tersebut  menuju arah barat menyusuri pantai.  Setelah mandi dan ganti baju, aku coba jalan ke lobi hotel deket pantai, ada beberapa orang disana.  Ketika aku tanya tentang tempat penangkaran penyu, dia bilang tadi siang dia sudah pergi kesana, tetapi tidak jadi karena lobangnya besar-besar sehingga Avanza dia tidak bisa menembus jalan tersebut.  Kebetulan deh, aku bisa tidur nyenyak semalaman dan melupakan agenda nonton penyu bertelor.

Pagi-pagi setelah sholat subuh aku berganti pakaian olah raga dan sepatu kets untuk berolah raga pagi menikmati udara pantai.  Aku coba jalan ke sebelah kanan mengarah ke tempat penangkaran penyu.  Tapi belum sampai 500 meter, aku lihat jalanan sepi sekali.  Dari pada takut, mendingan aku balik kanan menuju pantai utama.  Satu kilometer dari hotel tampak bekas-bekas pesta semalam di cafe-cafe yang ada di pinggir pantai.  Selanjutnya 300 meter dari sana berderet-deret perahu nelayan dan bila terus ke ujung sekitar 300 meter lagi, ada tempat pelelangan ikan yang cukup besar dan ramai.

Jalan antara tempat mangkal perahu dan tempat pelelangan ikan cukup ramai sebagaimana aku gambarkan di awal tulisan ini.  Dan yang lebih menyenangkan adalah rona muka mereka tampak bahagia.  Mungkin sedang musim ikan.  Atau mungkin itu sebagai bukti ketulusan dan keikhlasan serta rasa syukur atas rezeki yang diterimanya.  Matahari semakin tinggi.....udara hangat mulai menerpa kulitku.  Dan senyuman mereka juga telah menghangatkan hatiku.  Bukan besar penghasilan yang menyebabkan kita bahagia, tetapi besar rasa syukur yang menjadikan kita bahagia.  Dan pagi ini……..dengan senyuman mereka, aku ikut damai didalamnya.

(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 09 Mei 2013

NEGERI PREMAN

Libur karena merayakan apa, menjadi tidak penting.  Yang penting hari ini hari kamis  9 Mei tanggalan di kalender berwarna merah, artinya besok harpitnas atau hari kejepit nasional.  Penerjemahan sekarang setelah tempat kerja pindah ke Jakarta dan bisa  berkumpul keluarga, artinya liburan gak boleh keluar kota, macetnya jalan tol Jakarta ke Bandung minta ampun.  Artinya hari ini bolehlah berleha-leha, bangun siang, menikmati selimut lebih lama dari biasanya.  Artinya bisa memiliki waktu yang cukup untuk sholat berjamaah di mesjid dan berinteraksi dengan tetangga-tetangga jamaah mesjid.

Selesai shalat dzuhur, aku berkumpul di bagian dalam mesjid dengan ustadz Syatibi ketua DKM, Haji Sudiat Bendahara DKM, dan Haji Mulyono yang dipercaya menjadi seksi pembangunan mesjid,  maklummesjid kami masih dalam tahap pembangunan terus, sudah hampir delapan tahun membangun, masih belum selesai jadi masih ada seksi pembangunan mesjid (baca ; kang sepyan ngawadul dengan judul Mesjidkuuuu).  Sambil menengadah ke atas menikmati kubah mesjid yang baru dipasang sebagian, yaitu melihat besi-besi kokoh warna hijau tua membentuk kubah dan ditutupi oleh sejenis plastik tebal warna putih.  Konon katanya diatas plastik tersebut akan dipasang bahan dari enamail yang berwarna-warni sebagai bagian luar kubah, dan dibawah plastik tersebut akan dipasang sejenis gypsum bergambar langit.  Ustadz Syatibi bilang, entah sengaja menginformasikan ke aku atau mungkin cuma ngomong sendiri  "alhamdulillah sudah dibayar 95%  kubah ini".  "Tapi sebagian dibiayai dari hutang" pak Sudiat langsung menimpali.   

Kubah menjadi hal yang sangat kami idam-idamkan tetapi sulit sekali mewujudkannya, karena dana yang masuk tidak begitu banyak padahal biaya kubah sangat mahal.  Tawaran yang datang mulai dari Rp 450 juta sampai Rp. 650 juta.  Dana yang ada tidak pernah bisa terkumpul sebanyak itu karena pembangunan fisik yang lain pun seperti menyelesaikan tingkat dua, menyelesaikan pagar, menyelesaikan kamar mandi dan tempat wudu, dan lain-lain, sama-sama mendesak untuk segera diselesaikan.  Akhirnya setahun terakhir kami bertekad untuk "puasa" membangun, uang semuanya dikumpulin sampai terkumpul Rp. 150 juta.  Lalu dilakukan lelang lagi dalam rapat mesjid dan terkumpul tambahan 80 jutaan.  Dengan modal nekad, akhirnya panitia memesan kubah dengan harga Rp. 325 juta yang sekarang terpasang dan Alhamdulillah sudah terbayar 95% walaupun terpasangnya mungkin baru 50%.  Selalu ada keajaiban ketika kita membangun mesjid.  Utang yang dimaksud pak Sudiat-pun bukan utang ke pihak ketiga, tetapi utang ke kas mesjid serta utang ke dana cadangan pembelian wakaf tanah untuk rencana perluasan halaman mesjid.

Akhirnya kami terlibat obrolan tentang sumber dana pembangunan mesjid.  Ada sumber dana yang sampai saat ini belum bisa cair yaitu sesuai janji pak Walikota.  walikota Mohtar Muhamad dalam tahun 2011 sudah menjanjikan akan menyumbang Rp. 25 juta, dan kemaren ketika dalam peringatan maulid nabi kami undang walikota yang baru (sebelumnya wakil walikota dan diangkat menjadi walikota karena walikota lama ditangkap kpk), walikota pengganti menyatakan kita anulir saja janji yang Rp. 25 juta dan kita ganti dengan janji baru yaitu dana Rp. 100 juta.  Apalagi waktu itu kedatangan pak Walikota mendekati masa pemilihan walikota, dan dia mencalonkan, kami sangat antusias dan semangat menyambut janjit tersebut.  Hehehe......sampai sekarang, setelah pak Walikota berhasil memenangkan pemilu kada,  kita tidak tahu harus kemana menagihnya.  Biasa deh itu janji politik saja, kataku dalam hati.  Mudah-mudahan dugaanku salah, masa masalah mau nyumbang mesjid saja harus dipolitisasi.....kasihan, nanti tidak barokah.

Sumber lain yang sebenarnya menjanjikan adalah usaha menyewakan tempat penitipan motor.  Tapi pak Sudiat melaporkan hanya mendapat Rp. 300 ribu saja untuk setoran dua bulan kemarin Januari dan Februari 2013.  Ada jalan yang buntu dengan lebar sekitar 6 meter dan panjang 30 meteran.  Lalu DKM beserta RW dan ada warga yang polisi sebut saja oknum polisi membangun tempat penitipan motor.  DKM mengeluarkan biaya Rp. 12 jutaan untuk membuat atap dan membeli pagar, dan disana dipasang spanduk bahwa dananya untuk panitia pembangunan mesjid.  Kalau aku lihat motor yang dititipkan cukup banyak bisa berjumlah 150 motor.   Dengan asumsi sekali nitip seharian Rp. 3.000,- artinya penghasilan sehari bisa mencapai Rp. 450.000,-  Aduh......jadi susah deh ngitungnya berapa penghasilan sebulan kalau hanya setor Rp. 150.000,-  Setelah aku tanya, kenapa setornya cuma sedikit sekali ?  Jawabannya adalah, karena "oknum polisi" tadi.  Bahkan sang oknum menambah tempat cucian motor dan mobil di tempat tersebut, yang airnya selalu menggenangi jalan.  Pak RT, Pak RW, Pak ketua DKM, yang semuanya sudah cukup sepuh di lingkungan, tidak bisa berbuat apa-apa.  

Padahal sang oknum polisi itu tidak menjalankan usaha, baik nungguin parkir ataupun cucian mobil, tetapi ada orang lain yang menjalankan.  Padahal di lingkungan kami ada mantan Kapolda.  Mau bertanya, takut menyinggung dan nanti ribut, begitu kata ustad Syatibi.  Tapi apakah benar oknum polisi itu yang "main", atau mungkin kita hanya diperalat saja oleh orang suruhannya, yang sekarang menguasai dan menjalankan tempat usaha tersebut.  Harus kemana kami bertanya ???  Padahal dana tersebut sangat kami butuhkan dan menyangkut impian seluruh warga.  Tapi tetap kami tidak berani bertanya atau bertindak apa-apa.Wajar sekali apabila di Tangerang, penduduk yang mengetahui ada oknum aparat yang membeking perusahaan pembuat kuali, tidak berani melaporkan.  Mau lapor kemana ?  Mau apa yang dilaporkan ? Lebih baik kita pura-pura tidak tahu.  Karena negara ini telah dikuasai oleh preman.  

Bayangkan saja, setelah beritanya ramai di televisi pun, petinggi tertinggi aparat pengayom masyarakat menyebutkan bahwa oknum aparat tersebut hanya sebagai tukang kayu yang menjual kayu.  Hubungannya cuma hubungan bisnis biasa.  Bayangkan juga ketika komandan tertinggi dengan gagah berani menyebutkan "saya bangga" "saya hormat", kepada oknum bawahannya yang telah melakukan main hakim sendiri dalam kasus cebongan.  Kami tidak punya tempat mengadu.

Kayanya sudah banyak orang yang kebelinger........taubatan nasuha.......taubatan nasuha........taubatan nasuha.........lebih baik sedikit tetapi barokah, dari pada hidup mewah dengan tidak diridhoi oleh tetanggamu.

(salam hangat dari kang sepyan)