Senin, 10 Februari 2014

ULANG TAHUN PERNIKAHAN KE 20

Tidak terasa ternyata aku sudan 20 tahun menikah.  Namun malam ulang tahun pernikahan kemaren rasanya lewat begitu saja.  Tidak ada kiriman bunga, candle light dinner, liburan berdua saja, kado pakaian dalam, atau hal-hal romantis lainnya.  Bukan tidak ingat,  aku ingat dan istriku juga "kayanya" inget.  Tapi kami semua terlanjur tenggelam dalam derasnya kehidupan dunia. Lebih tepatnya dunia masing-masing.  

Aku tenggelam dalam kesibukan melaksanakan "tugas negara" yang tiba-tiba semakin deras membanjir berkejaran dengan musim hujan di Jakarta, menerabas tanggul jam kerja, bahkan sampai warna merah kalender luntur menjadi hitam semua. Istriku juga sibuk disamping masih menjadi aktifis majlis taklim dan koperasi RW, dalam 3 bulan terakhir menambah kesibukan membuka usaha baru.  Farin sulungku yang sekarang sekolah ditempat aku dan istriku dulu belajar (menjadi adik angkatanku), walaupun sedang libur semester tetapi tetap tidak dirumah karena ikut kegiatan ekstrakulikuler, belajar menjadi aktifis.  Viki anakku yg kedua sekolah boarding maksudnya sekolah berasrama, hanya bisa pulang dua minggu sekali, itupun waktunya dibatasi hanya 9 jam yaitu hari minggu mulai jam 6 pagi dan harus masuk lagi jam 3 sore.  Tidak boleh telat semenitpun, atau kena sangsi dua minggu yang akan datang tidak mendapat jatah keluar asrama. Tinggal Rafi anak yang bontot, karena masih SD relatif tidak memiliki kegiatan yang berarti.

Akhirnya aku berembuk sama istriku bahwa hari minggu besok, kebetulan jadwal Viki boleh pulang, kita semua harus bisa kumpul di rumah.  Minimal kita bisa makan siang bareng hari H +10 yaitu Minggu tanggal 9 Februari sekeluarga komplit.  Tempatnya ditentukan di Raja Sunda, kebetulan ada rumah makan baru buka dan tempatnya cuma sekitar 100 meter dari rumahku.  Praktis dan tidak perlu memakan waktu lama perjalanan.  Farin udah berjanji akan pulang kalau tidak hari Sabtu sore, mungkin minggu pagi.  Viki juga sama mau pulang sendiri tanpa dijemput naik kereta api, jam 6 pagi berangkat dari Serpong.  Istriku yang kebetulan harus jaga toko karena pegawai satu-satunya sedang pulang kampung 4 hari, berjanji juga mau menutup tokonya mulai jam 11 sampai jam 2.  Tinggal aku....yang walaupun seharusnya hari Minggu pasti libur, tetapi akhir-akhir ini selalu ada "tugas negara" yang harus diselesaikan hari Minggu.

Ternyata memang benar......rencana pengaturan jadwal kerja yang sudah kami susun dengan teman-teman, harus berubah.   Tiba-tiba Sabtu pagi jam 8 ketika handphone aku tinggal jogging ke stadion, sudah ada enam buah sms berderet, intinya adalah meminta pekerjaan yang sudah dijadwalkan minggu depan harus sudah selesai sebelum hari Senin.  Alamat kacau semua rencana, keluarga protes demikian juga temen-temen di kantor.  Padahal sebenernya tanpa tambahan tugas itupun sudah ada jadwal yang harus dikerjakan Sabtu dan Minggu...oooooo......aaaaaaa.....waduh.

Bagaimanapun show must go on. Tanpa kehadiran anak pertamaku karena pagi-pagi terhalang hujan deras di Jatinangor, kami berempat bisa makan bersama.  Sedikit terburu-buru karena Viki harus makan sambil nengokin jam terus, maklum waktunya mepet padahal jarak Bekasi ke Serpong cukup jauh.  Aku juga makan gak tenang, maklum pikiran inget terus sama "anak-anaku" dikantor yang sedang melakukan "tugas negara" tanpa aku temenin, bisa selesai atau enggak menyedot banjir yang sudah meluber.  Seperti siaga 1 melubernya banjir Jakarta yang sudah hampir sampai pintu istana.

Maafkan aku....mudah-mudahan suatu saat nanti musim segera berganti.  Kita bisa merayakan kembali sambil menikmati indah dan harumnya bunga di musim semi, dimana aku telah lulus "ujian" dan kembali menjadi manusia seutuhnya.  Sekali lagi.....buat semuanya....maafkan aku.  Aku cinta kalian.
(salam hangat dari kang sepyan)

Minggu, 02 Februari 2014

WISUDA

Ketika lagi nyari-nyari dokumen di tumpukan lemari, tiba-tiba aku menemukan 4 lembar teks pidato lama.  Awal tahun 2000 saat aku ditunjuk oleh Prof Eko Rektor UNDIP waktu itu, untuk menjadi wakil wisudawan menyampaikan sambutan.  Sengaja aku share, mudah-mudahan berguna bagi siapa saja yang kebetulan mengalami nasib sepertiku yang tiba-tiba ditunjuk.   Paling tidak bisa dijadikan sebagai salah satu bahan referensi.

Assalau'alaikum wr.wb.

Yang terhormat,
- Bapak Rektor / Ketua Senat Universitas Diponegoro
- Para Pembantu Rektor Universitas Diponegoro
- Para Guru Besar dan Anggota Senat Universitas Diponegoro
- Para Dekan di Lingkungan Universitas Diponegoro
- Para Pembantu Dekan, Ketua Jurusan, Dosen dan Karyawan di lingkungan Universitas Diponegoro
- Para Bapak dan Ibu Orang Tua, Suami, dan Isteri Wisudawan/Wisudawati beserta tamu undangan, serta hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dalam suasana yang penuh kebahagiaan, pada upacara wisuda pertama tahun 2000 Universitas Diponegoro hari ini.  Sungguh suatu kehormatan bagi saya, mewakili teman-teman wisudawan dan wisudawati untuk menyampaikan sambutan di hadapan hadirin sekalian.

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan hadirin yang saya hormati,
Acara wisuda merupakan kebanggaan bagi para mahasiswa, dan acara wisuda kali ini merupakan saat yang bersejarah bagi kami, karena kami telah mampu menunjukkan suatu keberhasilan, yaitu berhasil menempuh satu tahapan akademis.  Namun kami menyadari bahwa ini bukan merupakan akhir perjuangan, karena legalitas dan pengakuan akademis yang telah kami raih tersebut barulah pada tingkat awal teoritis, sedangkan kemampuan yang sebenarnya masih harus banyak belajar dan belajar terus dari dinamika kehidupan masyarakat.  Tapi kami yakin dengan bekal akademis yang telah kami miliki, kami akan mampu memasuki babak baru dalam menjalani kehidupan bermasyarakat secara lebih baik.

Saudaraku, Wisudawan dan Wisudawati yang berbahagia,
Kita mulai memasuki piramida tingkat atas dalam piramida jenjang pendidikan masyarakat Indonesia, marilah kita sama-sama berupaya untuk mampu menjawab tantangan dan tuntutan bangsa, dengan memberikan kontribusi maksimal sesuai dengan kapasitas kita sebagai insan intelektual dan insan pengabdi masyarakat.  Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah penyandang predikat mahasiswa dalam era reformasi, kita bukan hanya bisa berdemonstrasi menuntut reformasi, tetapi kita mampu melakukan reformasi dalam dunia nyata, sehingga cita-cita bangsa dan masyarakat Indonesia dapat terwujud.

Hadirin yang saya hormati,
Memasuki era milenium ketiga ini, bangsa Indonesia sedang memasuki tahap pemulihan dalam mengatasi krisis ekonomi yang berkepanjangan.  Kita telah membayar mahal akibat "salah urus" pemerintahan di masa lampau, yaitu dengan penjualan aset-aset BUMN, pembengkakan utang luar negeri, penurunan daya beli dan tingkat kesejahteraan masyarakat, bahkan kita telah mulai didikte oleh konsultan-konsultan asing dalam melakukan langkah demi langkah, dan ironisnya konsultan asing tersebut tetap harus kita bayar dengan utang yang kita dapat dari pihak mereka.  Guna mencegah terulangnya kembali sejarah orde baru pembangunan kroni di masa lampau, marilah kita sama-sama bertekad untuk menyumbangkan pemikiran dan tenaga.  Marilah kita tunjukkan pada almamater, marilah kita tunjukkan pada bangsa, marilah kita tunjukkan pada dunia, bahwa alumni Universitas Diponegoro mampu berkiprah memperbaiki dan membangun bangsa serta mampu merencanakan dan mengisi masa depan secara lebih baik.

Hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami mewakili wisudawan dan wisudawati mengucapkan terima kasih kepada segenap sivitas akademika Universitas Diponegoro, yang telah membimbing dan membina kami sehingga kami memiliki bekal dan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan kehidupan.  Permohonan maaf kami sampaikan kepada Bapak Rektor, dosen dan seluruh staf pengajar, apabila selama kami menuntut ilmu di Universitas yang kita cintai ini, telah melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, dan juga kami mohon jangan sampai upacara wisuda ini, menyebabkan kami dianggap sebagai "bekas murid" dan Insya Allah kami berjanji tidak akan menganggap Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu staf pengajar sebagai "bekas guru". Bapak dan Ibu tetap guru kami dan Universitas Diponegoro tetap almamater kami.

Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu undangan yang berbahagia,
Dalam kesempatan ini pula, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak, Ibu, Suami, Isteri, dan anak-anak tercinta, yang tidak pernah bosan memberikan dorongan semangat dan do'a, sehingga kami mampu menyelesaikan studi ini.

Demikian sambutan kami, atas segala kekurangan kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya.

Wassalamu'alaikum wr. wb.
Semarang, 29 Januari 2000
atas nama Wisudawan/wisudawati

Ir. Sepyan Uhyandi, MM


(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 16 Januari 2014

MANUSIA BUMI

Mobil-mobil tiada henti berseliweran di ujung jalan Sudirman.  Jalur lambat kelihatan sangat padat, demikian pula jalur cepat.  Beberapa gerombolan orang yang ada di trotoar, bercampur antara pedagang kaki lima, calon penumpang, calo atau bahasa keren-nya timer, tukang ojeg, dan lain-lain.  Detilnya tidak terlihat jelas dari tempat aku duduk.  Mobil hanya sebesar kotak korek api.  Merk mobil jelas tidak kelihatan, paling yang bisa di tebak adalah bis, metromini, atau sedan.  Terlihat dari besar dan panjangnya atap mobil.  Demikian juga kepala manusia hanya sebesar pentul korek api. Tidak bisa membedakan kelaminnya apakah perempuan, lelaki, atau banci.  Tidak bisa membedakan profesinya apakah dia sopir, pegawai, pengamen, pengemis, atau pengusaha.  Tidak bisa melihat raut mukanya apakah sedang sedih, galau, atau gembira.  Tidak bisa melihat apakah mereka sedang kekenyangan atau kelaparan.

Aku berada di lantai 16 atau kira-kira di ketinggian 80 meter.  Dinding kananku yang seluruhnya terbuat dari kaca menyuguhkan pemandangan jalan Jendral Sudirman, sehingga aku dengan sangat leluasa memandang hiruk pikuk jalan tersebut sepanjang hari.  Udara yang nyaman cenderung dingin, membuatku sering mengenakan jaket.  Harum ruangan selalu terjaga dengan  dipasangnya alat otomatis yang saban lima menit menyemprotkan cairan harum di setiap sudut.    Sangat kontras dengan keadaan di bawah sana.  Cahaya matahari terik membakar kulit, mengeluarkan bau 'lanus' kulit dan meningkatkan produksi keringat di ketek.  Dicampur dengan debu asap metromini, komplit sudah panas dan bau jalanan menyatu.  Membuat pikiran buntu dan hati membatu.  Kata film tahun 60-an, kejamnya ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri.

*****
Tumpukan map berisi dokumen-dokumen, foto, denah, narasi hasi analisa dan laporan bertumpuk memenuhi seluruh sisi meja.  Diatas map ada dokumen yang berisi ekskutive resume, untuk memudahkan dia membaca keseluruhan berkas tebal.  Cukup dengan membaca eksekutive resume yang sekitar 2 - 3 lembar yang telah dibuat oleh staf yang sekolahannya lebih tinggi, maka dia 'merasa' sudah dapat menguasai berkas tersebut.  Lalu dia lirik beberapa alternatif usulan keputusan yang juga telah dibuat oleh staf, lalu coret-coret dikit dan tanda-tangan.  Tanda-tangan yang bukan tidak mungkin akan mengubah pola hidup orang, anak-anak, keluarga, atau kerabat dekat dari yang namanya tercantum dalam berkas.  Yang bahkan dia tidak sempat membukanya.

Begitulah cara eksekutive bekerja mengambil keputusan, efisien dan cepat.  Demikian juga para pejabat, baik korporasi maupun pemerintahan.  Semakin tinggi jabatan, harus bisa melihat secara global, tidak perlu mengurusi urusan detail dan jelimet.  Manajemen modern mengajarkan seperti itu.  Pengalaman urusan detail dan jelimet, sudah cukup dialami waktu dahulu meniti karir.  Artinya pengalaman masa lalu tersebut, akan menjadi referensi yang dapat diandalkan dalam membuat keputusan saat ini.  Hal yang paling penting dalam membuat keputusan adalah harus sesuai aturan serta memiliki dasar logika yang jelas.

*****
Dari lantai 16 aku bisa dengan jelas melihat kepadatan jalan Sudirman.  Aku mencoba berimajinasi, apakah mungkin aku bisa mengendalikan sebuah mobil remote sebesar mobil beneran yang sengaja aku simpan di jalan sudirman, tanpa menyenggol mobil yang lain.  Apakah mungkin aku dapat memerintah dengan tepat kepada bawahanku yang sedang ikut bergerombol di trotoar, kapan saat yang tepat untuk menyebrang ?  Rasanya, kalaupun mungkin atau bisa dengan menggunakan kalkulasi statistik dan probabilitas, hasilnya tidak akan sempurna.  Keputusan atau perintah yang sempurna, seharusnya dilakukan melalu pertimbangan logika dan perasaan.  Pertimbangan perasaan hanya akan didapat kalau kita ikut terjun ke lokasi, melihat dengan mata sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, merasakan panas, angin, apek dengan anggota badan sendiri.

Makanya memang amat sangat pantas kalau kita sebagai objek hasil keputusan, merasakan ada beberapa keputusan yang dirasa janggal dan aneh.  Naik turunnya harga gas, dapat dijadikan sebagai salah satu contoh keputusan yang benar secara logika, tetapi kurang pas secara rasa.  Kisruh pedagang kaki lima yang tak kunjung selesai, bertambahnya rakyat miskin, kesenjangan pembangunan desa dan kota, impor daging dan kedelai yang terus menerus.  Kenapa tidak selesai-selesai ? Mungkin salah satunya, karena keputusan-keputusan yang dibuat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, banyak dilakukan di dalam ruangan yang nyaman.  Mungkin si staf yang membuat eksekutive summary memiliki sudut pandang yang kurang pas, sehingga informasi yang dibaca pengambil keputusan juga menjadi bias.

Sangat masuk akal apabila sekarang banyak orang yang berharap pada sosok pejabat yang merakyat.  Yang kerjanya lebih banyak di lapangan dari pada di ruangan.  Sosok seperti pak Jokowi dan bu Tri Rismaharini Walikota Surabaya di pemerintahan.  Sosok seperti pak Jonan PT. KAI dan pak Ismed PT. RNI di korporasi.  Hasil kerja mereka terlihat dan terasa.  Ciri-ciri mereka hampir sama, berpakaian sederhana, bergaya hidup sederhana, tidak banyak sesumbar, mengerjakan apa yang dia katakan, serta walaupun banyak orang yang 'menggangu'  mereka tetap saja fokus mengerjakan pekerjaan utamanya.  Sambil bercanda istriku pernah bilang "nanti kalau milih pemimpin jangan cari yang kelimis, karena kerjanya hanya akan memoles-moles biar kelihatan cantik".  Kebetulan orang-orang yang aku sebutkan tadi, kayanya tidak pernah masuk ke salon.

Kita adalah manusia bumi.  Oleh karena itu kita harus merayap diatas bumi agar kita dapat merasakan, menjaga, dan menguasai bumi.  Terlalu banyak di atas awan dan di udara, membuat kita tercerabut dari kehidupan bumi.


(Terinspirasi dari salah satu puisi Kang Miswan Nawawi ketika beliau di Hongkong)


(salam hangat dari kang sepyan)

Minggu, 12 Januari 2014

AYO KITA KE BALI !!!

Ini adalah kali kelima aku jalan lagi ke Denpasar, setelah delapan tahun lalu, yaitu jamannya bom Bali kedua, aku sempat bekerja di Denpasar hampir 15 bulan.  Rasanya telah habis seluruh tempat wisata di Bali aku jelajahi.  Setiap jengkal pasir pantai seperti kuta, legian, jimbaran, nusa dua, dream land, peti tenget, tanah lot, sampai lovina telah aku akrabi.  Demikian pula wisata gunung dan wisata daerah keramat seperti besakih, trunyam, bedugul, kintamani, ubud, tirta empul, sangeh, sampai ke daerah Negara maupun Karang Asem, telah aku datangi.  Jadi setiap datang ke Bali, tidak pernah terpikir olehku untuk membuat agenda wisata lagi. Berangkat, kerja, langsung balik.

Dalam kedatangan kali ini, ada hal yang sangat berbeda.  Dari atas pesawat terihat jembatan panjang berliku-liku di atas laut.  Rupanya Bali tengah berbenah membuat jalan Tol  di atas laut yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Benoa, Nusa Dua, serta Denpasar.  Bandara juga sedang dirombak total, besar-besaran menjadi bandara modern.  Sayang masih dalam masa pembangunan, jadi kami terpaksa harus muter-muter melewati gang-gang untuk dapat masuk atau keluar Bandara.   

Keluar bandara Ngurah Rai, aku melihat beberapa perubahan selain pembangunan jalan tol.  Rupanya sekarang Denpasar telah memiliki under pass di sekitar patung Dewa Rucci atau yang dahulu di sebut Simpang Siur.  Alamat simpang siur bisa hilang kalau begini, karena persimpangan tersebut menjadi tidak siur lagi.  Saking berubahnya kondisi di sana, sampai aku kebingungan mencari jalan sunset road.  Melewati jalan tol, tadinya aku berharap akan melihat ombak dari atas jembatan.  Ternyata entah karena air laut sedang surut atau karena ada perubahan lingkungan.  Yang terlihat adalah lumpur warna hitam dibawah jalan tol.  Mudah-mudahan bukan karena dibangun jalan tol yang menyebabkan perubahan ekosistem pantai Bali.

*****

Waktu masih menunjukkan pukul 04.45 pagi wib, tapi nampak di luar sudah mulai terang.  Karena perbedaan waktu satu jam antara Jakarta dan Denpasar, berarti sudah hampir jam enam pagi di Bali.  Aku memang sengaja tidak mengubah jarum jam tangan.  Segera aku ganti baju dengan baju olah raga dan jogging ke pantai Kuta.  Banyak perubahan di sekitar pantai.  Akses yang dahulu tertutup dari garis pantai yang sejajar dengan jalan pantai kuta ke kiri, sekarang telah dibuka, bahkan diberi jogging track.  Tampak beberapa bule sedang jogging, dari mulai pinggir hotel Ina di Kuta bisa sampai ke depannya Centro bahkan terus sampai ke pantai depannya hotel kartika plaza.  Coca Cola bekerjasama dengan desa Adat Kuta, telah membuka akses tersebut, terlihat dari prasasti yang ditandatangani kedua belah pihak.

Demikian juga ketika sore hari tiba, pantai yang dipenuhi oleh bule berpakaian minimalis, bukan hanya di kuta.  Tetapi menyebar tanpa terputus sampai ke legian, terus nyambung ke seminyak.  Tempat yang dahulu hanya terbatas sekitar satu kilometer sekarang telah berkembang menjadi hampir lima kilometer.  Sebuah kemajuan yang luar biasa yang tentunya sangat menunjang perekonomian masyarakat bali, karena akan menambah jumlah guide, sewa mobil, sewa motor, hotel, tukang pijat, pedagang makanan, pedagang oleh-oleh, pengrajin, tukang tatto, dan lain-lain.

Semakin penasaran dengan kemajuan daerah wisata Bali, maka ketika ada waktu break sore hari, aku minta sopir untuk mengantar ke Garuda Wisnu Kencana, Dreamland, Uluwatu, dan lain-lain.  Banyak sekali perubahan.  GWK yang dahulu sangat sepi, sekarang telah semakin ramai.  Pada sore hari ada pertunjukkan tari kecak dan legong.  Sayang waktu luangku tidak terlalu banyak, jadi aku gak sempat menonton tari kecak yang asli dimainkan orang bali.  Kalau aku nonton tari sekitar 2 jam, berarti tidak bisa mengunjungi tempat lain.  Perbedaan lain di GWK, yang dahulu gratis sekaramg harus bayar tiket masuk, kalau gak salah tarifnya Rp. 50.000,- per orang.

Dreamland yang dahulu hampir 100% berisi bule amat sangat minimalis nongkrong, sekarang bule yang ada hanya satu dua saja.  Selebihnya turis domestik, dan kesannya menjadi agak kotor.  Untuk sampai ke lokasi pantai, kita diangkut dengan mobil khusus dari pelataran parkir ke bibir jalan menuju pantai.  Sebagai imbalannya parkir mobil dikenakan tarif Rp. 15.000,- sekali parkir.

Waktu mau naik ke Uluwatu, sopir memberikan alternatif  "Pak, sekarang ada pantai baru yang sangat bagus, namanya pantai Pandawa.  Kalau kita ke Uluwatu, maka kita tidak bisa ke Pandawa karena akan terlalu malam".  Memang sopir-sopir di Bali, biasa seperti itu merangkap seperti guide.  Akhirnya aku setuju untuk mencoba mengunjungi pantai Pandawa yang letaknya balik arah menuju arah nusa dua.  Pertimbangan lain selain ingin lihat wisata baru juga biar pulangnya lebih dekat ke Jimbaran.  Makan malam di Cafe Menega Jimbaran sambil melihat pesawat landing dan take off, diiringi nyanyian meksikoan dari 6 pengamen dengan alat musik komplit, sudah langsung kebayang lagi.  Sejenak melupakan bahwa di Cafe itulah, bom bali dua diledakan.

Jalan mulus beraspal hotmix, selalu begitu di setiap ruas jalan di Bali.  Mungkin karena tektur tanah dalamnya berkapur, sehingga tempelan aspal cederung lebih tahan lama.  Atau mungkin margin pemborong tidak terlalu banyak dipotong jadi kualitas aspal bisa lebih bagus.  Rupanya pantai pandawa adalah pantai yang berada di bawah tebing, dan desa adat disana telah membuka tebing tersebut sehingga mobil bisa memiliki akses masuk ke pantai.  Dikiri kanan tampak tebing batu karas hitam berundak-undak dan berkelok-kelok.  Nun di depan sana, hamparan laut biru bersih terbentang.  Ya Allah.....betapa indahnya ciptaan-Mu.  Setengah jam aku menikmati saat-saat matahari terbenam.  Memandang laut yang dipenuhi perahu kano.  Ombaknya tenang dan dibawahnya batu karang putih bercampur pasir putih.  Seperti bermain perahu di kolam renang super besar.

Aku puas-puasin foto-foto, dari berbagai sudut dan berbagai arah.  Dan aku setuju kata Wiwit yang ikut seperjalanan denganku, bahwa pemandangan itu tidak bisa dibungkus dibawa pulang.  Tetapi harus dinikmati di tempat.  Jadi.......ayo kita ke Bali.

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 16 Desember 2013

SILENT MARKETING

Lomba agustusan di kampungku sangat meriah.  Berbagai ajang perlombaan diadakan, mulai dari lomba yang serius seperti sepak bola dan bola voly, sampai lomba yang kurang serius seperti balap karung, lomba makan kerupuk, dan lain-lain.  Untuk lomba yang serius dua minggu menjelang pertandingan telah dilakukan teknical meeting untuk mengundi dan menyepakati aturan permainan.  Sedangkan untuk lomba yang main-main, aturan biasanya baru dibacakan oleh panitia menjelang pertandingan.  Tapi pada dasarnya sama saja, bahwa para peserta lomba harus mengetahui dengan jelas aturan-aturan, bagaimana agar dia dapat memenangkan lomba dan mendapatkan hadiah.

Domba jantan dengan tanduk melengkung sebagaI hadiah untuk klub sepakbola yang jadi juara, dipertontonkan dipinggir lapangan.  Menambah semangat peserta lomba.  Demikian juga deretan piala berwarna emas serta tumpukan buku yang telah dibungkus kertas warna coklat, menjadi penyemangat lomba anak-anak seperti balap karung, kelereng dan makan kerupuk.  Jadi agar perlombaan banyak peminatnya, maka panitia akan berusaha mensosialisasikan dan menunjukkan hadiah-hadiah tersebut pada peserta lomba.  Sesuai dengan jenis perlombaannya.

Menurut Kang Gani, panitia agustusan di kampungku, kunci sukses penyelenggaraan agustusan yaitu memberitahukan kepada seluruh warga tentang diselenggarakannya acara agustusan yang menyediakan hadiah menarik.  Hadiah itu sebisa mungkin telah ditunjukkan sebelum pertandingan dimulai, jadi warga akan sudi menyisihkan waktu saat hari H perlombaan.  Kunci sukses kedua adalah memberitahukan kepada warga tentang aturan perlombaan, agar warga dapat memilih di perlombaan mana dia paling cocok ikut berpartisipasi.  Sesuai dengan kemampuannya.

Dalam upaya menggaet customer, rupanya para marketer melihat bahwa perlombaan dapat dijadikan sebagai salah satu ajang marketing.  Tentu saja perlombaannya akan dikaitkan dengan pembelian produk.  Misalnya dengan harus mengisi bungkus kemasan, lalu mengirimkan bekas bungkus kemasan yang telah diisi nama dan alamat ke produsen produk.  Kemudian dilakukan pengundian terhadap bekas bungkus kemasan produk tersebut untuk menentukan pemenang.  Tujuannya adalah agar customer membeli produk sebanyak-banyaknya, sehingga dapat mengirimkan bungkus produk sebanyak-banyaknya, untuk mendapatkan peluang hadiah sebesar-besarnya.

Upaya lain dilakukan oleh perusahaan minuman yang mencantumkan hadiah dalam tutup botol minuman.  Tentu saja untuk mendapatkan hadiah itu, customer harus membeli produk minumannya sehingga boleh membuka tutup botol.  Ada juga perusahaan sabun batangan yang menyelipkan koin emas dalam sabun.  Jadi sambil menggosokkan sabun, customer harap-harap cemas tergosok oleh emas.

Pemberian hadiah di perusahaan perbankan lebih meriah lagi.  Hadiahnya sangat bevariasi dan cukup 'wah', seperti ribuan umroh, emas batangan, alat elektronik, ribuan motor, mobil.  Jenis mobilnyapun menggunakan mobil termewah.  Membuat calon customer ngiler.  Walaupun mereka sadar bahwa peluang mendapatkan hadiah tersebut sungguhlah kecil.  Apalagi yang diundi secara nasional oleh sebuah bank besar.  Bayangkan saja, sebuah bank besar memiliki puluhan juta nasabah.  Sedangkan yang menang hanya beberapa orang saja.  Belum lagi kupon hadiah dikaitkan dengan besarnya simpanan.  Ya tentu saja yang peluangnya lebih besar adalah yang memiliki simpanan milyaran bahkan triliunan.  Tapi......siapa tahu nasib awak lagi mujur.....hehehe.....berharap keajaiban.

Terus terang saking banyaknya jenis hadiah, sampai-sampai aku sebagai customer tidak tahu lagi, bagaimana cara mendapatkan hadiah itu.  Nampaknya perusahaan perbankan hanya gencar menyampaikan jenis hadiah.  Lalu melakukan siaran langsung pengundian hadiah.  Dihadiri banyak artis, pejabat bank, kadang-kadang ada pejabat pemerintah.  Mungkin mereka lupa akan teori kunci sukses kang Gani, bahwa harus menyampaikan aturan perlombaan kepada seluruh peserta lomba sebelum pertandingan dimulai.  Sehingga aturan perlombaan untuk mendapatkan hadiah, kurang disosialisasikan.  Misalnya berapa rupiah harus menabung untuk dapat satu kupon.  Apakah kupon dilihat dari penambahan dana atau dari pengendapan dana, atau mungkin dari jumlah transaksi.  Kapan periode mulai dan kapan berakhirnya lomba.

Aku melihat bahwa pada akhirnya jenis lomba, aturan lomba, dan periode lomba menjadi hal yang dianggap tidak penting.  Para pemberi hadiah menganggap bahwa hadiah yang mereka berikan hanyalah sebuah bonus keajaiban untuk para customernya.  Mereka seperti lupa bahwa tujuan mereka memberikan hadiah adalah agar customer mau berlomba menabung atau menggunakan jasa perbankannya.  Mereka lupa bahwa pada dasarnya para customer itu mereka jadikan peserta lomba.  Mereka lupa bahwa peserta lomba 'menurut kang Gani' haruslah diberitahukan aturan secara jelas sebelum perlombaan.

Sayang sekali memang.  Hadiah yang milyaran yang tentu saja akan meningkatkan biaya dana bank tersebut, menjadi kurang efektif meningkatkan kemampuan bank menghimpun dana, hanya karena kurang komunikasi tentang cara mendapatkan hadiah.  Seperti orang yang melakukan pemasaran secara diam-diam.  Silent Marketing.  Pokoknya nih ada hadiah, silahkan customer menabung.  Nanti kita akan undi.  Tinggal aku dengan pertanyaan besar....kapan diundi ? bagaimana caranya ? kapan mulai dan kapan berakhir ?  Atau memang aku sebagai customer hanya dianggap seperti penjudi.  Berharap nasib baik.

Jakarta - Denpasar, 04 Desember 2013


(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 09 Desember 2013

BARSENA VS KEKE

Tahun 80-an, aku dibuat tercengang-cengang oleh tayangan pertelevisian swasta yang sangat menghibur, sangat variatif, dan kelihatan elegan serta gaul.  Tidak seperti tayangan TVRI sebagai satu-satunya siaran televisi yang ada pada waktu itu.  RCTI dan SCTV membawaku ke alam lain, musiknya hebat, jauh lebih hebat dan sering dibandingkan dengan aneka ria safari besutan Eddy Sud yang biasanya hadir di TVRI.  Iklannya pun bagus-bagus, ada tayangan dari luar negeri, ada film yang relatif baru, sinetron berseri baik buatan dalam negeri maupun produksi luar negeri yang telah di ganti audionya.  Si Doel anak sekolahan, Tersanjung, dan banyak judul-judul sinetron lainnya, yang selalu aku tunggu-tunggu jam tayangnya.  Menggantikan dongeng dari radio yang sebelumnya biasa aku tunggu.

Akhir 90-an, aku kembali dibuat tercengang dengan hadirnya televisi swasta yang siaran utamanya adalah berita.  Betapa kami terkaget-kaget melihat siaran langsung baik perang ataupun bencana.  Kami merasakan desingan peluru pak polisi waktu mahasiswa-mahasiswa dilibas di Semanggi, dan kami serasa menjadi aktifis ketika melihat tayangan mahasiswa menduduki gedung MPR DPR senayan.  Kami dirumah ikut memberikan semangat kepada pak Amien Rais, bu Megawati, dan Gus Dur, mendengarkan langsung pidatonya.  Kami merasakan kemasygulan pak Harto ketika sedang menyerahkan kekuasaan kepada pak Habibie.  Kami merasakan besarnya air bah akibat tsunami yang terjadi di Banda Aceh, bahkan rasanya bau bangkai ribuan korban jiwa-pun hadir ke beranda rumah.


Rupanya manusia itu makhluk yang disatu sisi sangat senang status quo, tidak mau berubah.  Tetapi di sisi lain merupakan makhluk yang cepat bosan, senang mengkiritk keadaan saat ini, dan tidak ada puasnya.  Tapi rupanya, kedua sisi itulah yang membuat peradaban manusia semakin maju.


Akhir-akhir ini, mulai banyak gugatan pada siaran televisi yang katanya tidak mendidik, membodohi, menyuguhkan kekerasan, ngawur, cuma cari untung, memihak, alat propaganda, dan lain-lain stigma buruk.  Siaran televisi sudah menjadi "teror" kehidupan. Ada gerakan yang meminta seluruh warga tidak boleh nonton TV mulai magrib sampai isya.  Walaupun aku gak yakin apakah gerakan ini ada pengikutnya ? apakah gerakan ini keberlangusungannya terus menerus ? atau hanya sesaat ?  Namun ada juga beberapa temen yang sudah sangat muak dengan siaran TV saat ini, memutuskan untuk memasukan TV pada kotaknya, dan memilih hidup tanpa memiliki TV.  Namun entah sampai kapan mereka bisa bertahan.


Aku termasuk di golongan orang yang biasa-biasa saja.  Tidak terlalu ekstrim.  Memang kadang-kadang aku juga sepakat dengan orang yang memberi 'stigma' negatif.  Tetapi menurutku tidak negatif-negatif amat, diantaranya masih ada yang positif.  Bahkan masih ada acara yang aku tunggu-tunggu yaitu Nez-Academy yang diasuh oleh Agnes Mo, tayangan Net TV.  Sebuah statsiun TV baru, yang menurutku formatnya agak berbeda dengan statsiun TV lainnya.  Mungkin karena baru jadi masih segar, belum membosankan seperti yang lainnya.


Nez-Academy adalah sebuah ajang pencarian bakat, hampir sama seperti Indonesia Idol, X factor, Akademi Fantasi, dan lain-lain.  Cuma beda sedikit-sedikit, di poles-poles.  Misalnya tidak seluruhnya hanya bakat nyanyi, tetapi juga ada yang bakat tari bahkan ada yang bakatnya menirukan suara-suara musik.  Ada tokoh sentral juri atau Kepala Sekolah yaitu Agnes Mo, yang sekaligus menjadi nama acara (Nez), sehingga dia lah yang berhak men 'drop out' peserta.  Memang karena namanya Academy, maka dibuat seperti sekolahan, ada guru-guru, ada pelajaran, dan akhirnya membuat pertunjukan yang ditayangkan (yang biasanya aku tunggu-tungu) dianggap sebagai ujian ('exam').  

Pemberian nilai dari penonton atau pemiarsa dilakukan bukan dengan cara 'kuno' seperti sms dan telepon, tetapi menggunakan twitter dan google plus.  Dan yang paling banyak mendapatkan komentar di twitter, maka dia dapat previllage.  Misalnya jaminan tidak di drop out untuk minggu depan, atau mendapat previllage memilihkan lagu buat temannya.


Barsena adalah salah satu kandidat dari Bandung dengan talenta luar biasa, suaranya bagus, musikalitasnya hebat, serta pandai maen piano.  Dua minggu lalu dia mendapat previllage untuk memilihkan lagu buat temannya.  Dan dia memilih salah satu temannya yaitu Keke kandidat dari Bali sebagai saingan terberatnya yang dipilihkan lagu.  Lagunya dicari lagu yang cukup sulit, baik lirik maupun nadanya.  Aku pikir, memang sangat wajar.  Dalam sebuah persaingan, ketika kita diberikan kesempatan untuk 'membunuh' saingan, maka kesempatan itu harus digunakan sebaik-baiknya.  Agar jalan kedepan bisa lebih leluasa.  


Namun sayang Barsena......ternyata Keke mampu menjawab tantangan itu.  Penampilan Keke dengan memgusung tema teaterical, bergerak dan bernyanyi seperti boneka, mampu memukau seluruh juri dan penonton, termasuk aku.  Bahkan setelah lagu berakhir, Agnes Mo sang kepala sekolah memberikan 'standing applaus' yang menunjukkan dia puas dengan penampilan anak didiknya.  Sebuah ancaman, dihadapi dengan serius oleh Keke, sehingga bisa berubah menjadi sebuah kesempatan.  Begitulah memang dunia.  Apalagi ini adalah arena perlombaan.


*******
Entah dalam acara apa, keesokan harinya ada sebuah berita, tapi berita ringan saja membahas tentang tayangan Nez-Academy malam sebelumnya.  Diberitakan ada dua orang yang di drop out dan ada wawancara dengan Keke membahas persiapan penampilannya.  Dalam kesempatan tersebut Keke mengucapkan terima kasih pada Bersena.  Setelah Bersena memberikan tantangan, dia selalu memeberikan support pada Keke, melakukan diskusi dan memberikan masukan agar menghasilkan penampilan yang baik.  Bahkan setelah malam-malam menjelang pagi selesai latihan, Bersena masih mau menambah melatih Keke di rumah dengan bermain piano menemani Keke latihan. Betapa indah persaingan yang mereka pertontonkan.  Terus terang, berita itu membuatku terperangah.


Kembali aku teringat tulisan tahun lalu (bulan Mei tahun 2012) tentang 'blue ocean strategy'......tidak semua orang bersaing dengan menghalalkan segala cara......jadi, marilah kita belajar dari mereka.....termasuk belajar dari anak-anak muda seperti Bersena dan Keke.

Terminal 3 Soeta, 4 Desember 2013



(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 25 November 2013

NASIB DAGING QURBAN

Qurban adalah sebuah moment yang ditunggu-tunggu, oleh tetangga kami terutama yang tinggal di daerah gang tembok.  Yaitu sekitar seratusan kepala keluarga yang mendirikan bangunan liar di atas tanah kavling yang belum dibangun oleh pemilik kavlingnya.  Benar sekali apa yang disampaikan para ustadz, bahwa tidak semua orang memiliki rezeki yang cukup bahkan melimpah sehingga dapat memilih makan daging kapan saja.  Tetapi bagi Surni, Umi, Keri, Eha, dan lain-lain, qurban artinya mereka bisa mencicipi makan enak, bisa masak dan menghidangkan daging hangat ke tengah-tengah keluarganya.

Menjelang datangnya hari raya Idul Adha, mereka melakukan investigasi di tempat mana saja dilakukan pemotongan hewan qurban, berapa jumlah hewan qurban yang telah terkumpul, jam berapa motongnya, bagaimana sistim pembagian dagingnya, kemana mencari kupon, bagaimana agar bisa melakukan trik bolak-balik ngantri.  Mereka analisa dan diskusikan dengan membandingkan cara-cara yang telah ditempuh panitia qurban sebelumnya untuk mencari celah agar bisa mendapatkan daging qurban sebanyak-banyaknya.  Strategi dipasang, anak-anak dan suami disebar sehingga  bisa antri di beberapa tempat sekaligus.........makanya kami sebagai panitia qurban selalu kewalahan, karena rupanya ada perlombaan trik antara panitia qurban dan pihak penerima qurban.

Sore setelah selesai hari raya, masing-masing anggota keluarga membawa satu, dua, bahkan lima plastik bagian qurban yang umumnya berkisar antara 200 gram sampai satu kilogram.  Bercampur ada daging, tulang, lemak, jeroan, kaki, dll.  Jeroan dan tulang segera dimasak, sedangkan dagingnya dikumpulkan agar bisa dikonsumsi di hari-hari mendatang.  Jaman ibuku dulu diawetkan dengan cara dijemur yaitu dibuat dendeng, tetapi sekarang lebih banyak yang mengawetkan dengan cara yang praktis yaitu disimpan di freezer dibuat daging beku.  Masalahnya adalah, mereka tidak memiliki kulkas ???

Aku tahu hal tersebut karena mendadak dalam kulkasku pada bagian atas untuk membuat es batu, kok jadi ada plastik daging.  Istriku bilang itu adalah titipan daging tetangga yang suka bantu-bantu ngebersihin rumah dan mencuci.  Rupanya mereka memanfaatkan freezer tetangga kenalan atau majikannya untuk mengawetkan daging qurban.  Bukan ditempat aku saja, tetapi di sebar di beberapa tempat lainnya.  Umumnya tetanggaku yang tinggal di gang tembok merangkap menjadi buruh cuci di dua atau tiga majikan sekaligus.

Kejadian menggelikan sekaligus mengharukan adalah ketika ada diantara daging mereka yang hilang.  Kebetulan dititipkan di salah satu majikan yang memiliki isteri dua.  Rupanya suaminya tidak tahu bahwa daging yang di kulkas rumahnya bukan miliknya, tetapi hanya daging titipan tukang cucinya  Malam-malam dia ambil daging tersebut untuk dimasak di rumahnya yang lain.......ini hanya dugaan, karena kejadian sebenarnya tidak pernah terungkap. Yang jelas, ketika pagi harinya si empunya daging memeriksa kulkas, betapa terkejutnya dia karena dagingnya hilang.  Ditanya sama ibu yang punya rumah dia jawab enggak tahu......mau nanya sama suaminya, takut bertambah ribut.........jadi akhirnya terpaksalah dia terima nasib.  Nasib untuk tahun ini cukup menikmati sop tulang dan jeroan.

Dengan nada masygul dia ceritera kejadian tersebut ke istriku "untung aja bu, si bocah kemaren maksa pingin makan sate.  jadi sebelum daging dititipkan kami ambil sedikit untuk dibuat sate.......jadi kami bisa mencicipi dagingnya, bukan hanya makan 'balung' tok".........."namanya belum rezeki" kata istriku sambil menyelipkan lembaran kertas warna biru untuk dibelikan daging ke warung sekedar penghibur untuk mengganti sebagian daging yang hilang untuk anaknya.


Jadi jangan anggap daging qurban kita sia-sia.  Jangan anggap tidak ada orang yang menantikan sedekah qurban kita.  Jangan karena merasa tahun lalu sudah qurban jadi tahun ini tidak perlu qurban, karena ada kepentingan lain yang menurut sudut pandang kita mendesak.  Tapi ingatlah di setiap rezeki yang kita dapatkan ada haknya orang miskin.  Telah diperintahkan kepada orang yang mampu untuk melakukan qurban, maka laksanakanlah.......jangan ditunda-tunda.  Jangan sampai menyesal ketika akhirnya kita tidak diberikan keluasan rezeki karena tidak amanah.........hehehehe.......koq jadi menasehati......jadi gak enak........maaf.....maaf......maaf.

(salam hangat dari kang sepyan)