Senin, 29 Juni 2015

DI TANAH HARAM, DUNIA MENJADI TIDAK PENTING

Maskapai penerbangan terhebat tanah airku delayed hampir 2 jam, seharusnya boarding jam 16.25 diundur menjadi jam 18.00. Kalo menurut Arfan temenku yang punya travel, itu diundur atas permintaan dia karena ada 17 jamaahnya dari Kendari belum bisa datang karena cuaca kurang baik. Untungnya menggunakan maskapai yang sama, jadi ya terpaksa kami menunggu. Kasihan Wati yang sudah sampe bandara jam setengah sepuluh, kebayang khan nunggunya  8 jam sama dengan waktu kerja pabrik sehari.

Jam setengah dua kami baru masuk ke ruang tunggu bandara setelah selesai dapat tiket dan memasukan bagasi, dari pada diluar khan enakan nunggu di dalam cari gratisan lounge dari kartu kredit atau kartu debet prioritas. 

Sambil duduk di Lounge, setelah bosen ngambil cemilan, akhirnya kami semuanya menunduk mengotak-atik gadget. Ngemail, facebookan, browsing,  bebe-eman, whats-appan, maen games dan lain-lain. Kalau diambil hikmahnya, lumayan jadi ada kesempatan update status, ganti pic, dan pamitan serta minta maaf di beberapa group. Kalo ngomong kesemua group nanti disangka riya.

Aku sempat berpikir berulang-ulang untuk buat status baru di bbm dan wa. Aku coba cari jawaban apa yang mendorong aku pergi umrah kali ini. Apakah  karena ingin doa lebih mustajab, mengingat disana banyak tempat-tempat mustajab seperti raudah, pintu kabah, hijir ismail, makom ibrahim, dll. Ya, memang salah satunya karena itu, untuk mendoakan anak-anak, bersyukur atas limpahan karunia dan rezeki, memohon ampun, menginginkan pahala haji karena quota haji makin dibatasi maka cari pahala haji dengan umrah di bulan Ramadhan. Tapi sepertinya ada jawaban lain yang lebih tepat.

Ada panggilan jiwa, ada rindu yang menggelora, rindu akan suasana dimana kehidupan atau kesibukan seakan-akan terhenti. Pikiran dan waktu semuanya hanya dicurahkan untuk ibadah. Melakukan perubahan radikal terhadap menu kehidupan yang biasanya kegiatan ibadah sholat, ngaji, menjadi menu selingan berubah menjadi menu utama. Di tanah haram dunia menjadi tidak penting. Menu utama adalah sholat berjamaah di masjid, bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang biasanya pergi ke masjid, bahkan dilakukan pula oleh orang yang tidak tahu alamat masjid dekat rumahnya, dan dilakukan pula oleh orang yang setuju dengan statment pelarangan penggunaan pengeras suara untuk memperdengarkan pengajian sebelum subuh atau menjelang magrib.

Dunia menjadi tidak penting, akan sangat terasa ketika pulang lalu ngantor lagi, dalam sehari dua hari akan seperti anak baru, bingung harus kerja mulai dark mana, waktu pulang menjadi terasa lambat, diajak diskusi kadang gak nyambung. Apalagi pas pulang haji 40 hari, jet lag menjadi lebih panjang. Tapi kalau jet lag sudah hilang, insya Allah produktifitas meningkat pesat karena sel-sel otak memiliki kesempatan untuk rehat dan menjadikan otak menjadi fresh kembali.

Ya.....rupanya dunia menjadi tidak penting, karena di tanah Haram Engkau sangat dekat. Di rumahMu, di rumah RosulMu, semua menjadi cukup.....ya, dunia menjadi tidak penting. Aku jauh Engkau jauh, Aku dekat Engkau dekat.

di tulis di ketinggian 10.000 meter pada jarak 266 km menuju Jeddah

(salam hangat dari kang sepyan)

Selasa, 17 Maret 2015

PIDATO PENYERAHAN PENGANTIN PRIA

Hari Minggu besok tanggal 22 Maret 2015, aku diminta kakakku untuk mewakili keluarga beliau menyampaikan sambutan wakil dari keluarga pengantin laki-laki.  Draftnya aku buat dan share, mudah-mudahan bermanfaat.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Innalhamdalillah, nahmaduhu, wanasta’inuhu, wanastagfiruhu, wana’udubika minsurruri anfusina, waminsyaiati a’malina.  Mayahdillahu falamudilalah, wamayudlil falahadiyalah.  Asyhadualla illahaillalah wahdahula syarikalah, waasyhaduanna muhamaddan abduhu warosuluhu.  Allahuma sholi wasalim ala syaidina Muhammad, wa ala alihi waashabihi, wamintabi ahum bi ihsani ilaa yaumiddin.
Bapak-bapak, Ibu-ibu para pini sepuh dan hadirin yang saya hormati,
Puji dan syukur marilah kita sama-sama panjatkan ke hadirat Allah swt atas segala limpahan nikmat yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita diberikan nikmat kesehatan serta nikmat kesempatan dapat berkumpul bersilaturahmi dalam acara pernikahan anak-anak kita yaitu pernikahan Arif dan Siti.  Pernikahan merupakan sebuah proses penting bagi kelangsungan kehidupan dunia serta merupakan sunatullah untuk mempertahankan eksistensi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.  Sebagaimana kita ketahui, dalam ilmu pemuliaan kehidupan manusia dibagi dalam tiga fase yaitu fase pertama adalah manusia dilahirkan, fase kedua adalah berkeluarga sehingga memiliki keturunan untuk meneruskan kehidupan dunia ini, dan fase ketiga adalah fase kematian.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjunan kita semua nabi besar Muhammad saw, juga kepada keluarganya, sahabatnya serta kepada kita semua sebagai umatnya sampai umat akhir zaman.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan seluruh hadirin yang berbahagia.
Hari ini sungguh merupakan hari yang sangat menggembirakan dan membanggakan, khususnya bagi saya pribadi karena telah mendapatkan kepercayaan dari kakak saya keluarga H. Didi Asikin dan Ceu Hj. Yeyet Cahyati untuk mewakili keluarga beliau serta mewakili seluruh rombongan dari Cirebon untuk menyampaikan tiga hal yaitu :
Hal yang pertama adalah ingin menyampaikan salam silaturahmi, khususnya dari keluarga H. Didi Asikin dan umumnya dari seluruh rombongan keluarga dari Cirebon.  Mudah-mudahan pertemuan silaturahmi kali ini akan menjadi awal bagi pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk memperbanyak hubungan relasi maupun hubungan kekeluargaan. Karena pernikahan pada dasarnya bukan hanya pernikahan antara dua anak-anak kita, tetapi merupakan pernikahan keluarga besar yaitu keluarga besar H. Didi Asikin dan Keluarga besar Siti disini.
Hal yang kedua yang merupakan inti dari seluruh rencana, akan saya mulai dari sebuah ceritera bahwa kakak saya ini (keluarga H. Didi Asikin) memiliki 3 orang anak yaitu anak pertama perempuan, anak kedua laki-laki, dan anak ketiga perempuan, dengan kata lain ada 2 perempuan dan satu laki-laki.  Satu-satunya anak laki-laki ini merupakan andalan dan kebanggaan keluarga namanya Arif Fahrizal.  Menurut pengakuannya, dia sudah sangat bulat untuk menjadikan putri Bapak/Ibu keluarga disini yaitu “Siti” sebagai pendampingnya membentuk rumah tangga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, untuk bersama-sama mengisi kehidupan dengan berbagi suka, berbagi duka, berbagi beban, berbagi kebahagiaan, dan bersama-sama beribadah untuk mengharapkan ridho-Nya.  Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya atas nama keluarga Bapak H. Didi Asikin dengan ini menyerahkan anak saya yang bernama Arif Fahrizal untuk dapat dinikahkan dengan putri Bapak/Ibu yang bernama “Siti”.
Namun dalam penyerahan ini kami mohon maaf, bahwa rombongan keluarga kami tidak mampu membawakan apa-apa, karena kami lihat dan kami pikir di Bandung itu jauh lebih terdapat bermacam-macam barang dibandingkan di Cirebon.  Kalaupun ada beberapa bingkisan yang kami bawa, itu hanya sekedar tanda bahwa kami memiliki niat baik.  Tolong jangan dilihat dari harganya, tapi cukup dilihat dari niatnya.
Hal yang ketiga yang minta disampaikan adalah berupa sebuah pesan.  Mengingat hari ini merupakan hari terakhir Arif berstatus sebagai bujangan dan siap untuk masuk ke gerbang pernikahan, maka ini merupakan pesan yang harus dijadikan bekal bagi Arif untuk kehidupan kelak.  Pesan ini merupakan sebuah pusaka keluarga oleh karena itu perlu dihayati dan diamalkan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa raga.  Pesannya adalah “4 Sing” yaitu yang pertama “Sing hade hate” yang kedua “sing hade gawe” yang ketiga “ sing hade tata” dan yang keempat “sing hade basa”.
“Sing hade hate” artinya harus memiliki hati yang baik, hati yang bening, hati yang bersih.  Ingatlah bahwa segala macam perbuatan itu tergantung dari niatnya.  Tidak ada perbuatan baik yang diawali dengan niat jahat, dan tidak ada perbuatan jahat yang dihasilkan oleh niat baik.  Apabila pada suatu waktu Arif menemukan suatu kondisi kebimbangan, berada di persimpangan jalan, maka jalan yang terbaik adalah bertanya pada hati nurani.  Oleh karena itu hati nurani harus selalu dijaga, harus selalu diasah, harus selalu dirawat, agar dia mampu menjaga seluruh langkah kita selalu berada dijalanNya dan selalu berada di jalan yang diridhoi-Nya.
“Sing hade gawe” artinya harus terampil dalam bekerja, harus memiliki kompetensi, harus memiliki skill yang memadai.  Persaingan kehidupan sekarang semakin ketat, maka untuk mengimbanginya diperlukan kesungguhan dalam bekerja.  Selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap pekerjaan dan bersikap professional. 
“Sing hade tata” artinya harus memiliki sikap dan perilaku yang baik.  Tahu bagaimana sikap menghormati yang lebih tua, tahu bagaimana cara menghargai atasan tanpa menjilat, tahu bagaimana cara membimbing bawahan tanpa menyepelekan, dan tahu bagaimana caranya menyayangi yang lebih muda tanpa memanjakan.  Selalu tepat membawakan diri dalam setiap situasi, tidak “kuper” tetapi juga tidak terlalu “over”.  Sehingga keberadaan Arif bisa diterima disegala kalangan.  Jaga dan pelajari sopan santun disetiap daerah.  Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
“Sing hade basa” artinya adalah selalu menggunakan bahasa yang baik.  Walaupun dengan niat baik, kerja baik, dan sikap baik, tetapi bila disampaikan dengan bahasa yang kurang benar, maka bisa saja banyak orang yang akan menjadi tersakiti.  Ingatlah bahwa ujung lidah itu bisa lebih tajam dibandingkan ujung pedang.  Dari siaran-siaran Televisi akhir-akhir ini, banyak sekali contoh-contoh pejabat kita yang sudah mengabaikan pemilihan bahasa, sehingga banyak terjadi keributan yang tidak perlu karena hal tersebut.  Padahal bahasa itu tinggal memilih, semua gratis, tersedia, tidak harus membeli.
Bapak-bapak, Ibu-Ibu dan Hadirin yang saya hormati
Akhirnya tugas saya mewakili rombongan keluarga pengantin laki-laki selesai, tidak lupa saya mohon maaf apabila ada kata-kata, sikap, atau tingkah laku saya yang kurang berkenan atau kurang pada tempatnya.  Billahhi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
(salam hangat dari kang sepyan)

Kamis, 24 Juli 2014

LEBARAN........SELAMAT TINGGAL RAMADHAN

Dengan keterbatasan cara berfikirku waktu itu, aku suka heran kalau ada Ustad yang bilang bahwa kita harus bergembira saat  datangnya bulan Ramadhan, dan kita harus bersedih ketika bulan Ramadhan akan berakhir.  Lalu disampaikannya ayat-ayat dan hadits yang mengabarkan keutamaan bulan Ramadhan dan sang Ustad biasanya menutup dengan doa meminta agar umur kita dipanjangkan sehingga bisa sampai ke bulan Ramadhan yang akan datang.  Jelas aku ikut berdoa dengan khusuk dan meng-amin-kan sepenuh hati untuk do’a minta dipanjangkan usia tersebut.  Tapi untuk urusan bergembira menyambut Ramadhan ?  Bersedih bila Ramadhan berkahir ?

Bukankah selama bulan Ramadhan aku harus berpuasa, menahan lapar dan dahaga, mulai waktu imsyak sampai waktu maghrib.  Padahal di sisi lain aku masih tetap dituntut untuk bekerja seperti biasa ?  Bukankah selama bulan Ramadahan aku harus makan sahur, sehingga harus bangun pagi-pagi,  padahal tidur dini hari antara jam tiga sampai jam empat adalah waktu terlelap dalam tidurku, sehingga aku menjadi kehilangan waktu tidur paling tidak satu sampai dua jam jam setiap malam ?  Bukankah setiap malam aku diharuskan sholat tarawih dan sholat witir di mesjid serta mendengarkan ceramah  yang menyita waktu untuk istirahat di rumah sekitar satu sampai dua jam ? Bukankah kita harus bergembira kalau menyambut Ramadhan, karena itulah hari raya, hari kemenangan, hari dimana kita terbebas dari harus berpuasa, hari kita kembali ke fitri tidak memiliki dosa bagai bayi yang baru lahir ? Beberapa pertanyaan negative lainnya kadang terus berkecamuk di keterbatasan otakku. Memprotes tausiyah yang disampaikan pak Ustadz.

Namun syukurlah, masih ada bagian otak lainnya yang mendengarkan kata hati, bahwa tidak mungkin apa yang disampaikan dan diajarkan Qur’an dan hadist tidak mengandung makna kebenaran hakiki.  Beberapa tahun belakangan ini aku mencoba untuk ‘pura-pura’ gembira bila akan datang bulan Ramadhan dan ‘pura-pura’ sedih apabila bulan Ramadhan akan segera berakhir.  Awal-awal Ramadhan suasana kegembiraan itu dapat dibangun, terutama dengan penambahan variasi menu makanan sahur dan berbuka, serta ditunjang masih memiliki cadangan energy sehingga belum ada gangguan secara fisik. 

Tetapi menjelang tanggal belasan awal, akumulasi kekurangan tidur mulai menganggu.  Sehingga kembali lagi ke pertanyaan, apanya yang harus aku gembirai dari bulan Ramadhan ?  Semakin bertambah hari, tanggal dua puluhan, semakin bertambah keinginan untuk segera menyudahi bulan Ramadhan.  Seperti orang berlari yang telah melihat garis finish.  Seperti orang yang kehausan di padang pasir melihat oase.  Apalagi THR telah dibayar perusahaan, baju baru telah dibeli, dan kendaraan untuk mudik telah siap. 

Menjelang akhir Ramadhan, suara pak Ustadz hanya lamat-lamat terdengar dia menyeru bahwa 10 hari terakhir adalah untuk ‘meminta pembebasan dari apa neraka’, 10 hari terakhir adalah akan datang malam lailatul qodar yang lebih baik dari seribu bulan.  Namun aku, lebih sibuk mengurus izin cuti, merancang acara di hari lebaran, merancang rute perjalanan mudik, dan merancang rencana reuni dengan teman SD, teman SMP, serta teman SMA di kampung.  Tarawih di mesjid telah berganti menjadi belanja di mal.  Tadarus al Qur’an telah berganti dengan mengamati arus mudik di TV.

Ya Allah…..betapa kerasnya hati ini.  Ya Latif…...Engkau yang Maha Lembut, tolong lembutkan hati ini, karena hanya dengan kelembutan hatilah aku bisa menerima kebenaran ajaran-Mu, dan hanya dengan melaksanakan ajaran-Mu, aku bisa selamat di dunia dan di akhirat. 

Hari ini tanggal 26 Ramadhan ya Allah…Ramadhan sudah dipenghujungnya…..tapi aku belum banyak mengisinya dengan amalan-amalan yang berkualitas.  Tadarusku masih tidak tartil dan aku hanya membaca tanpa mengetahui mak’nanya.  Puasaku baru sebatas tidak makan dan minum, karena  mataku masih senang melihat keindahan dunia yang melintas, mulutku masih sering berghibah, telingaku masih tajam mendengar gossip miring, apalagi Ramadhan tahun ini berbarengan dengan Pilpres, demikian juga hatiku kadang masih berprasangka.  Tarawihku, Tahajudku, rasanya masih jauh dari sempurna.  Keinginan agar sholat lebih cepat selesai tidak bisa aku hilangkan.  Menggerutu dalam hati karena imam membaca al-Fatihah berlambat-lambat.  Zakatku masih aku hitung-hitung dengan sangat cermat.  Infak-ku masih tetap aku ingat-ingat.  Kesombonganku, masih belum terkikis dengan hikmah melakukan ibadah puasa yaitu merasakan bagaimana rasanya orang-orang dhuafa yang terpaksa harus menahan lapar karena tidak memiliki makanan.  Nafsu duniaku masih belum bisa benar-benar aku tundukkan.  Dengan pola pikir dan pola tindak seperti ini, apakah aku pantas untuk minta ridho-MU ?  Padahal hanya dengan ridho-Mu aku bisa meraih surga yang Engkau janjikan. 

Tiba-tiba penglihatanku jadi buram, area sekitar hidung dan mata terasa memanas, sehingga cairan-cairan beku  yang ada disekitar hidung dan mata meleleh.  Ya Allah…..aku menangis, aku menyesal.  Ya Allah, jangan kau akhiri Ramadhan ini.  Beri aku kesempatan untuk berbuat lebih baik, mengisi Ramadhan dengan kegiatan ibadah yang berkualitas.  Ya Allah…..dengan segenap kekurangan ibadahku, kumohon Engkau dapat menerima dan menyempurnakannya.  Ya Allah sampaikanlah aku ke Ramadahan yang akan datang.  Berilah aku petunjuk sehingga aku dapat beribadah  mengisi Ramadhan dengan lebih baik.  Ya Allah…aku hanya menginginkan ridho-Mu.  Aamiiiin.


(salam hangat dari kang sepyan)

Jumat, 11 April 2014

BETULKAH INI BUDAYA MEREKA ?

Sejak awal Februari kemaren, untuk alasan penyegaran, aku diberi wilayah kerja baru. Tapi karena ceritera ini agak berbau sara, maka memang sebaiknya aku tidak perlu katakan wilayah propinsi mana, pokoknya masih di Indonesia tercinta.

Hampir tiap bulan aku memiliki jadwal untuk berkunjung ke seluruh wilayah kerja yang telah ditetapkan tersebut, bahkan dalam keadaan tertentu bisa sebulan dua kali ke masing-masing wilayah.  Tiap naik pesawat baik mau berangkat ataupun balik khusus ke daerah ini terasa sekali perbedaannya. Rasanya pasti bising dan kesannya penuh. Rata-rata penumpang membawa kerentilan bawaan yang cukup banyak, kadang-kadang hanya dibungkus kantong keresek Matahari atau dari pasar swalayan lain. Tapi yang mebuat bising adalah suara rebutan tempat duduk. Salah mengambil pintu masuk, yaitu penumpang dengan tempat duduk didepan masuknya dari pintu belakang.  Ada lagi penumpang yang tempat duduknya di belakang masuk dari pintu depan. Aku perhatikan pramugari biasa-biasa saja melihat hal ini, bahkan ketika ada yang rebutan tempat dudukpun dia cuekin. Mungkin karena saking biasanya.....'agak' sulit diatur.

Biasanya aku berangkat dan pulang sama beberapa teman, dan biasanya juga aku masuk naik pesawat duluan, sehingga bisa segera menyimpan tas di atas kabin dan terhindar dari serobotan tempat duduk karena tempat duduk rombongan kami satu blok atau satu baris.

Namun waktu pulang hari ini, aku pulang lebih cepat dibanding temen lainnya, jadi pulang sendiri. Terus kebetulan  juga diberi titipan oleh-oleh satu kardus. Jadi biar gak repot aku masukan saja koper dan kardus tersebut ke bagasi. Sehingga aku melenggang cukup dengan membawa tas kecil berisi dompet dan alat komunikasi. Seperti biasa  malam sebelum keberangkatan aku sudah memilih tempat duduk di nomor 6 D.  Aku memang sukanya didepan karena kalau di belakang rasanya goyangannya lebih besar.  Sedangkan pemilihan kursi urutan D karena aku suka di lorong atau di gang. Paling tidak, sebelah badanku masih longgar tidak dekat sekali dengan penumpang lain. Kalau di sebelah jendela, terus terang suka agak-agak ngeri kalau melihat pesawat mau menembus awan tebal.

Terlambat 10 menit dari waktu boarding yang di jadwalkan ada pengumuman bahwa penumpang yang akan ikut penerbangan agar masuk ruang tunggu. Tapi rupanya pengumuman tersebut ditanggapi lain, bukan hanya masuk ruang tunggu, tetapi para calon penumang tampak hampir seluruhnya berdiri di pintu keberangkatan bergerombol. Males rasanya aku ikutan berdiri nggak jelas, mendingan aku terusin duduk baca koran. Sampai pengumuman di panggil masuk pesawat juga aku tetap tenang saja duduk. Toh aku gak bawa apa-apa, jadi tidak perlu ada yang diperebutkan. Setelah antrian hampir habis  baru aku masuk pesawat.

Begitu sampai ke tempat duduk, nampak nomor 6.F sudah ada yang ngisi dan di tempat duduku nomor 6.D sudah nemplok perempuan emak-emak usia 40-an dengan rambut sebahu, pake celana jin dan kaos putih bermotif bunga-bunga kecil warna hitam, serta menggunakan jaket rajutan warna merah hati dan memegang tas tangan besar warna merah cabe.

"Bu..! ibu tempat duduknya nomor berapa ?" tanyaku baik-baik.  Kemudian ibu itu merespon dengan memiringkan badang menghadap gang dan mengeluarkan kedua belah kakinya. Seolah-olah menyuruh aku masuk menempati nomor 6.E. Tempat duduk di tengah yang paling aku hindari karena terjepit kiri dan kanan.

"Bu...! Ibu tempat duduknya nomor berapa ? Karena kalau 6.D itu tempat duduk saya". Demikian kataku agak tegas.  Rupanya si ibu bukannya mengalah, malahan dia menjawab lebih keras "Sudahlah sama saja.  Lagian aku khan punya penyakit diabetes, jadi harus sering bolak-balik ke kamar mandi".

Karena aku agak kesel, aku mencoba berusaha untuk menjelaskan bahwa aku mendapat tempat duduk tersebut karena hasil usaha, malam-malam melakukan web chek in. Terus aku ngedumel tapi hanya dalam hati, aku bilang bahwa seharusnya urusan diabetes dia ngomong saat chek in, bukan nyerobot tempat orang lain.  Dan si ibu aku lihat, karena gak mau dengar, tetap keukeuh gak mau bergeser tempat duduk sambil nyerocos.

Aku melirik, tampak beberapa orang yang duduk di deretan bangku 5 dan 7 mendongakan kepala melihat ke arahku. Dari sorot matanya, aku merasa mereka semua menyalahkanku. Mungkin mereka berkata "kok gak mau ngalah banget sih ini orang, sama orang sakit ? sama perempuan lagi",  "kok yang begitu aja diributkan".  Rasanya dunia menjadi kebalik, si ibu itu dianggap benar  dan aku dianggap bersalah. Hehehe.....kena juga kejadian ini padaku, yang biasanya aku hanya melihat beberapa kali orang lain diperlakukan seperti aku saat ini.

Dari pada tambah malu, langsung saja aku masuk dan duduk di nomor 6.E. Mataku aku pejamkan, biar segera melupakan kekesalan tadi.  Sambil aku ngomong dalam hati, akan aku hitung, sampai berapa kali dia akan bolak-balik kamar mandi.  Sambil aku merenung, apakah ini karena budaya mereka ? Mudah-mudahan bukan.....ini dapat terjadi dalam perjalanan kemana saja.  Aku juga merenung, memang aku yang salah, terlalu memikirkan ego sendiri, kurang mau berbagi. Ya Allah, terima kasih, aku telah diberikan pelajaran hari ini tentang berbagi dan tentang kerendahan hati.

Terakhir......mau tahu berapa kali ibu sebelah ke kamar mandi ? Satu kali. Mudah-mudahan beliau segera diberi kesembuhan, diangkat penyakitnya. Amin.

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 07 April 2014

AKU INGIN SHOLAT

Tiap hari bolak-balik Bekasi Jakarta pada saat jam padat, kalau dipikir-pikir sungguh melelahkan.  Tapi memang bukan untuk dipikir, tetapi untuk dijalani.  Mencoba menggunakan berbagai moda transportasi mulai dari mobil sendiri.....ya...ampuuunn, berangkat teng habis sholat subuh dari rumah sekitar jam 5.15 untuk mencapai pintu tol Bekasi barat yang berjarak 2 km saja sudah hampir jam 6.00.  Praktis selama setengah jam berebutan, umpel-umpelan merayap mulai depan Giant, masuk kolong putaran, hingga bisa bayar tol.  Belum lagi di jalan tol, bukan lagi jalan bebas hambatan, karena terus merayap tanpa henti sampai Jakarta. Waktu tempuh sampai di kantor hampir 2 jam dengan tingkat stres level 9 dari skala 10.

Moda transportasi Bis Damri ataupun APTB, tetap lambat karena tetap tidak bisa menghindari jalan umum.  Yang terlanjur sangat padat.  Orang pintar sudah menghitung adanya gap antara penambahan jalan dan penambahan kendaraan.  Tetapi orang pintar juga tidak henti-hentinya memberi ijin penjualan kendaraan, memberi ijin nomor kendaraan bahkan untuk kendaraan yang telah akil balig.  Sehingga terasa sekali bedanya kepadatan lalu lintas dari tahun ke tahun. Tapi sudahlah, ini khan pertanda meningkatnya kesejahteraan.

Akhirnya pilihan yang terbaik diantara yang semuanya kurang menyenangkan, ya naik commuter line.  Sejak dipimpin pak Jonan PT. KAI memang banyak melakukan perubahan, termasuk menghilangkan kereta ekonomi, karcis berkartu, disediakan WC, dll. Sangat brilian meningkatkan pendapatan KAI, jumlah penumpang meningkat drastis dan semuanya bayar, walaupun disisi lain aku harus rela umpel-umpelan, tidak pernah dapat tempat duduk, didorong, digencet serta beradu napas......hehehe kadang-kadang bersebelahan dengan orang yang jarang mandi, jarang ganti baju, dan jarang gosok gigi.

Pulang kantor teeeeettt sih jam 16.30, tapi mana berani pulang pas jam kantor, nanti dibilang apa kata dunia, dibilang kurang dedikasi, dibilang itung-itungan, dan stigma negatif lainnya. Yang cocok itu pulang jam 17.30. Pantes deh, kita lebihin kerja satu jam itung-itung mengganti waktu kerja seharusnya yang kita pake untuk melamun, buka-buka internet, atau ngerumpi.  Kebetulan juga sekitar jam 17.40 ada kereta yang ke Mangarai dan selanjutnya di Mangarai ikut kereta yang dari Kota ke Bekasi.  Masalahnya transit di Mangarai menjadi "horor" karena berjubelnya calon penumpang tidak sebanding dengan kapasitas angkut kereta. Walaupun sudah berhimpitan kaya ikan teri dalam toples.

Sebetulnya ada kereta yang jurusan Mangarai ke Bekasi jam 18.02, namun rasanya lebin banyak dibatalkan jadwal tersebut dibanding berangkat.  Ada-ada saja alasan anak buah pak Jonan, mengalami gangguan lah, ada kerusakan lah, masuk Depo lah, dll. Jadi biasanya di Mangarai bisa nunggu sekitar setengah jam. Akibatnya sampai ke rumah pas adzan Isya. Loh....kapan sholat Magribnya ?

Beberapa kali, aku mencoba untuk sholat Magrib dahulu di kantor, jadi pulang kira-kira jam 18.30.  Tapi ampun deh, tambah malem bukannya tambah sepi orang, malah tambah penuh.  Jadinya perjalanan sangat lambat, sampai di rumah hampir jam sembilan malam.  Mandi, sholat isya  tidur, bangun lagi, sholat subuh, lalu berangkat lagi ke kantor. Benar-benar pulang cuma mau numpang tidur.  Rasanya enggak sehat hidup rutin seperti itu.  Jadi pilihan pulang jam 17.30 agak lebih manusiawi.  Masih memiliki waktu sekitar 90 menit untuk membantu anaku ngerjakan PR, mendengarkan cerita istriku, menonton acara D'terong, dll.  Tapi masalahnya, sholat magrib dimana ?

Di statsiun Mangarai memang ada Mesjid terletak di pojok dekat WC dengan ukuran sekitar 4 x 6 meter ditambah emperannya sekitar 90 centimeter.  Tapi dengan waktu Magrib yang cuma sedikit, maka tempat tersebut menjadi sangat kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang ada.  Karpet hijaunya sungguh kotor, berbau dan sudah bercampur debu.  Kalau kita sujud disana, maka akan menempel beberapa kerikil dk kening.  Biasanya pas waktu magrib akan ada dua imam  yaitu imam yang di dalam dan imam yang di emperan.  Imam yang diemperan mengimami sekitar 6 orang yang berbaris dua dua, di ubin kramik warna putih. Diluar orang yang sholat berjubel orang yang ngantri ambil air wudlu dan orang yang ngantri masuk mesjid.  Tampak orang-orang sholeh dan sholehah itu tabah menerima kenyataan yang harus dihadapi, sambil telinga waspada mendengar pengumuman kereta yang dinantikan sedang tertahan di sinyal masuk statsiun mana.

Ya Allah....aku ingin sholat.

Mudah-mudahan ajaran guru ngajiku yang menyebutkan bahwa dalam keadaan seperti itu, sholat Magribnya boleh di 'jama dengan sholat Isya setelah sampai di rumah, adalah benar.  Mudah-mudahan ada kekuatan yang menggerakan sehingga di tempat-tempat umum harus menyediaka Mesjid, sehingga aku bisa sholat tepat waktu dan berjamaah. Tidak harus nunggu pensiun.  Mudah-mudahan pak Jonan baca blogku lalu membangun mesjid yang besar di Mangarai.

Ya Allah........aku ingin sholat.

(salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 10 Maret 2014

SAPU LIDI

Kroessssseeekkk, srrreeeeeekkk, srrrreeeeeekkk, kroesssseeeeekkkk, aku dengar suara berirama di halaman belakang, ketika aku asik menonton TV di beranda rumah mertua sambil menikmati "sorabi haneut" dan "goreng bala-bala".  Menu wajib setiap pagi, bila kami sekeluarga pulang kampung liburan.  

Kroesssssseeeekkkk, sssrrrreeeeeeeekkkk, ssrrrrrreeeeeekkkk, kroesssssseeeeekkkk, demikian terus bunyinya tiada henti. Ibu mertuaku sedang menyapu halaman belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon cengkeh yang umurnya sudah puluhan tahun.  Setiap hari, setiap malam, daunnya berguguran. Kalau tidak di sapu maka halaman belakang rumah bisa menjadi seperti hutan.  Daun-daun yang berserakan tersebut disapu oleh sapu lidi yang digerakan ke arah tertentu, sehingga berkumpul, menggunung, lalu dimasukan ke dalam tempat sampah.  Tempat sampahnya sendiri bukan terbuat dari plastik atau drum, tetapi cukup dengan menggali lobang kira-kira satu meter persegi di area halaman. Setelah lobang tersebut penuh, lalu ditutup kembali dengan tanah dan daun tersebut akan diproses oleh mikroorganisma alamiah sehingga kembali menjadi pupuk organik yang menyuburkan tanah. Untuk sampah yang baru, tinggal dibuat lobang yang lain. Praktis, gampang, sehat, dan tidak merusak lingkungan.

Sejak merantau ke Jakarta sekitar 20 tahun terakhir ini, jarang sekali aku mendengar dan melihat orang menyapu dengan sapu lidi.  Maklum saja, rata-rata rumah orang kota hanya seuprit.  Kalaupun memiliki halaman ukurannya paling 10 sampai 20 meter persegi, itupun sebagian besar sudah ditutupi semen atau keramik karena dipakai untuk nyimpen mobil. Dan sebagian lagi telah menjadi ruang bawah tanah untuk menampung residu pencernaan pemilik rumah.

Guru saat aku sekolah dulu di SD pernah cerita, bahwa kita harus bekerja sama. Lihatlah sapu lidi, hanya terbuat dari lidi daun kelapa atau lidi daun enau yang kalau sendirian tidak memiliki kekuatan. Halus, mudah dipatahkan, mudah dibengkokan, cenderung tidak berguna. Bahkan tidak bisa dijadikan tusuk sate ataupun tusuk gigi. Tapi kalau mereka bersatu atau telah dipersatukan dengan sebuah ikatan yang kokoh.  Mereka telah dibuat sama panjang dan sama arahnya, yaitu kepala di atas dan kaki di bawah. Yang panjang dipotong sesuai standar.  Diikat pada titik yang sama. Barulah lidi tersebut berubah menjadi alat yang memiliki kekuatan untuk mengungkit, mengumpulkan, dan mendorong.

Dengan kekuatan ikatan tersebut, maka seluruh lidi akan bergerak bersama. Beberapa batang lidi yang terletak di disi depan menyentuh daun yang gugur di tanah, ditopang dengan kekuatan puluhan batang lidi yang di tengah.  Bila ternyata barisan depan lolos mendorong daun gugur tersebut, maka barisan lidi tengah ikut menyapu di topang barisan belakang. Bersatu padu, berirama, satu arah, dan satu tujuan.

Kadang-kadang, dalam melakukan tugasnya ada lidi yang tersandung sehingga patah.  Ada lidi yang rapuh juga sehingga patah. Ada orang iseng yang mematahkan beberapa batang lidi.  Sehingga lama kelamaan sapu lidi tersebut akan semakin pendek.  Tetapi, selama lidi-lidi yang patah tersebut tidak dicabut atau dibuang, maka ikatannya akan tetap kokoh.  Oleh karena itu, selama Anda masih membutuhkan sapu lidi tersebut, jangan kau coba-coba untuk mencabut lidinya. Karena kalau dicabut, maka lama kelamaan ikatannya akan mengendur, lalu bercerai berai tiada berguna.

Demikian halnya ketika Anda memimpin sebuah organisasi baik berorientasi profit maupun non profit.  Samakan persepsi anak buah Anda, lalu buatlah ikatan yang kuat, maka Anda akan mudah menggerakan mereka ke arah yang sama.  Untuk membuat karya besar.  Jangan buru-buru menghukum anak buah yang patah, karena dia patah karena bekerja, patah karena Anda benturkan, atau mungkin dipatahkan orang lain, saingan Anda misalnya. Ingatlah, mereka masih sangat berkontribusi dalam memperkokoh ikatan........kecuali kalau memang sudah keterlaluan.

Sekarang silahkan Anda renungkan. Sudahkah Anda membuat sapu lidi ? Atau Anda baru memiliki kumpulan lidi berserakan ?

Jakarta - Padang, 27 Februari 2014
Hasil perenungan oleh-oleh seminar James Bwee.

 (salam hangat dari kang sepyan)

Senin, 10 Februari 2014

ULANG TAHUN PERNIKAHAN KE 20

Tidak terasa ternyata aku sudan 20 tahun menikah.  Namun malam ulang tahun pernikahan kemaren rasanya lewat begitu saja.  Tidak ada kiriman bunga, candle light dinner, liburan berdua saja, kado pakaian dalam, atau hal-hal romantis lainnya.  Bukan tidak ingat,  aku ingat dan istriku juga "kayanya" inget.  Tapi kami semua terlanjur tenggelam dalam derasnya kehidupan dunia. Lebih tepatnya dunia masing-masing.  

Aku tenggelam dalam kesibukan melaksanakan "tugas negara" yang tiba-tiba semakin deras membanjir berkejaran dengan musim hujan di Jakarta, menerabas tanggul jam kerja, bahkan sampai warna merah kalender luntur menjadi hitam semua. Istriku juga sibuk disamping masih menjadi aktifis majlis taklim dan koperasi RW, dalam 3 bulan terakhir menambah kesibukan membuka usaha baru.  Farin sulungku yang sekarang sekolah ditempat aku dan istriku dulu belajar (menjadi adik angkatanku), walaupun sedang libur semester tetapi tetap tidak dirumah karena ikut kegiatan ekstrakulikuler, belajar menjadi aktifis.  Viki anakku yg kedua sekolah boarding maksudnya sekolah berasrama, hanya bisa pulang dua minggu sekali, itupun waktunya dibatasi hanya 9 jam yaitu hari minggu mulai jam 6 pagi dan harus masuk lagi jam 3 sore.  Tidak boleh telat semenitpun, atau kena sangsi dua minggu yang akan datang tidak mendapat jatah keluar asrama. Tinggal Rafi anak yang bontot, karena masih SD relatif tidak memiliki kegiatan yang berarti.

Akhirnya aku berembuk sama istriku bahwa hari minggu besok, kebetulan jadwal Viki boleh pulang, kita semua harus bisa kumpul di rumah.  Minimal kita bisa makan siang bareng hari H +10 yaitu Minggu tanggal 9 Februari sekeluarga komplit.  Tempatnya ditentukan di Raja Sunda, kebetulan ada rumah makan baru buka dan tempatnya cuma sekitar 100 meter dari rumahku.  Praktis dan tidak perlu memakan waktu lama perjalanan.  Farin udah berjanji akan pulang kalau tidak hari Sabtu sore, mungkin minggu pagi.  Viki juga sama mau pulang sendiri tanpa dijemput naik kereta api, jam 6 pagi berangkat dari Serpong.  Istriku yang kebetulan harus jaga toko karena pegawai satu-satunya sedang pulang kampung 4 hari, berjanji juga mau menutup tokonya mulai jam 11 sampai jam 2.  Tinggal aku....yang walaupun seharusnya hari Minggu pasti libur, tetapi akhir-akhir ini selalu ada "tugas negara" yang harus diselesaikan hari Minggu.

Ternyata memang benar......rencana pengaturan jadwal kerja yang sudah kami susun dengan teman-teman, harus berubah.   Tiba-tiba Sabtu pagi jam 8 ketika handphone aku tinggal jogging ke stadion, sudah ada enam buah sms berderet, intinya adalah meminta pekerjaan yang sudah dijadwalkan minggu depan harus sudah selesai sebelum hari Senin.  Alamat kacau semua rencana, keluarga protes demikian juga temen-temen di kantor.  Padahal sebenernya tanpa tambahan tugas itupun sudah ada jadwal yang harus dikerjakan Sabtu dan Minggu...oooooo......aaaaaaa.....waduh.

Bagaimanapun show must go on. Tanpa kehadiran anak pertamaku karena pagi-pagi terhalang hujan deras di Jatinangor, kami berempat bisa makan bersama.  Sedikit terburu-buru karena Viki harus makan sambil nengokin jam terus, maklum waktunya mepet padahal jarak Bekasi ke Serpong cukup jauh.  Aku juga makan gak tenang, maklum pikiran inget terus sama "anak-anaku" dikantor yang sedang melakukan "tugas negara" tanpa aku temenin, bisa selesai atau enggak menyedot banjir yang sudah meluber.  Seperti siaga 1 melubernya banjir Jakarta yang sudah hampir sampai pintu istana.

Maafkan aku....mudah-mudahan suatu saat nanti musim segera berganti.  Kita bisa merayakan kembali sambil menikmati indah dan harumnya bunga di musim semi, dimana aku telah lulus "ujian" dan kembali menjadi manusia seutuhnya.  Sekali lagi.....buat semuanya....maafkan aku.  Aku cinta kalian.
(salam hangat dari kang sepyan)