Minggu ini acara padaaat banget. Berangkat Jum'at sore dari rumah dan baru balik lagi Jum'at berikutnya, keliling-keliling seputaran Ciamis, Cirebon, Majalengka, Ciamis lagi, Banjar, Kuningan, dan Cirebon lagi sekalian pulang. Tidur terus-terusan dari hotel ke hotel seperti sopir dan sales Canvaser. Bedanya aku gak bawa mobil, cuma mengandalkan kebaikan teman-teman di tempat yang aku datangi untuk mengantarkan dari satu kota ke kota lainnya.
Aston adalah pilihan pertama waktu nginap di Cirebon, hotel baru yang terletak di jalur bypass, cukup megah berlantai 11, kayanya paling tinggi di Cirebon untuk ukuran saat ini. Letaknya menjorok ke dalam dengan tempat parkir luas, walau terasa gersang. Hari Minggu waktu aku nginep disana, berbarengan sama acara pembekalan caleg PDI Perjuangan Jawa Barat, yang dihadiri oleh bu Megawati, sehingga Aston menjadi merah. Bahkan sempet aku ketemu muka-muka familiar berbaju merah seperti Ryke Diah Pitaloka dan Niko Siahaan.
Lingkungan dalam hotel Aston dibuat sangat asri dengan kolam renang berbentuk oval dan menyatu dengan ruang makan pagi. Dibagian belakang disediakan jogging track sekitar 400 meter dengan batu-batu kecil sekalian soft refleksi. Demikian juga kamarnya sangat nyaman, dilengkapi dengan tempat tidur dan sofa baru, TV flat dengan saluran komplit serta WiFi ngacir. Namun sayang tempatnya jauh dari perkampungan, jauh dari mesjid. Sehingga dua malam disana aku gak bisa ikut sholat subuh berjamaah. Sayang sekali memang.
Malam Jumat menjelang kepulangan setelah keliling beberapa kota, aku minta pada temen di Cirebon untuk mencarikan hotel yang agak di kota. Dan dipilihkan hotel Santika yang terletak di jalan Dr. Wahidin. Hotel lama dengan lantai tertinggi hanya sampai lantai 5, tapi menurutku sangat familiar, seperti rumah sendiri. Halamannya menjadi tempat parkir, cukup rimbun dengan pepohonan. Ketika aku sampai ke hotel sekitar jam 8-an malam, tampak beberapa tamu ngobrol di lobby yang diisi beberapa sofa besar. Di bagian belakang ada taman yang juga dipenuhi pepohonan, yang terletak antara restoran dan kolam renang. Beberapa tamu sedang menikmati barbequ sambil menonton dan mendengarkan suaru merdu penyanyi cantik yang bernyanyi diiringi organ tunggal.
Setelah mandi aku jalan-jalan keluar melihat situasi sekeliling hotel. Aku tanya ke Satpam yang jaga di pintu gerbang dimana letak mesjid yang deket. Dia bilang ke sebelah kanan pak di Rajawali sekitar 200 meter. oh, mungkin setelah belok kanan ada jalan Rajawali pikirku.
Di sepanjang jalan Dr. Wahidin banyak gedung perkantoran, jadi yang kelewat itu rata-rata kantor, tidak ketemu jalan Rajawali. Setelah jalan sekitar 200 meter aku lihat di balik tenda tukang nasi goreng ada plang mesjid Baiturahman Choir. Baik tenda nasi goreng maupun plang tersebut terletak di trotoar jalan Wahidin depannya kantor Badan Pertanahan Nasioanl (BPN). Tapi kok mesjidnya enggak ada ?
Aku terus berjalan sesuai petunjuk pak Satpam, dan rupanya setelah kantor BPN adalah kantor pabrik gula Rajawali II, dimana diujungnya terletak mesjid. Cukup besar ukura kira-kira 15 x 15 meter dengan karpet hijau bersih. Tampak ada beberapa remaja putri yang duduk di depan mesjid, dan lampu mesjidnya walaupun sudah malam masih menyala. Alhamdulillah mudah-mudahan besok pagi aku bisa ngejar sholat subuh berjamaah disini.
Waktu kembali ke hotel, aku coba jalan ke arah sebelah kanan hotel. Persis di sebelah kanan hotel ada kantor asuransi Jasaraharja, dan disebelahnya lagi ada kantor pajak. Aku lihat didalam komplek kantor pajak juga terdapat mesjid cukup besar. Kalo besok pagi aku dengar adzan subuh dari mesjid kantor pajak, khan mendingan ke mesjid yang lebih dekat saja, pikirku.
Jam 04.20 aku denger suara adzan, dan ketika aku keluar kamar suara adzan terdengar dimana-mana bersahut-sahutan dari berbagai penjuru. Ini adalah salah satu suara pagi yang aku sukai. Bergegas aku turun ke lobby lalu menuju jalan, tapi sayangnya tidak terdengar adzan dari arah kiri atau dari mesjid yang di kejaksaan. Jadi aku mantapkan sambil berlari kecil menuju arah kanan hotel.
Sampai di depan Kantor PG Rajawali, aku lihat mesjid besar yang tadi malem di survei masih gelap dan sepi. Aku berdiri sejenak dengan sedikit mangkel. Kepalaku aku miring-miringkan mendengar arah suara adzan, tetapi rupanya seluruh mesjid telah selesai mengumandangkan adzan.
Diseberang jalan aku lihat ada orang berkopiah haji berjalan. Aku panggil-panggil dia, dan ketika dia berhenti aku segera menyebrangi jalan dan bertanya kenapa mesjid Rajawali kok belum buka. Ternyata Bapak yang saya panggil adalah merebot mesjid tersebut. Dia bilang "biasanya saya yang adzan pagi, tetapi tadi saya kesana pintu gerbangnya masih di kunci, karena satpamnya ketiduran". Hehehe ada-ada aja pikirku.
Ketika aku tanya dimana mesjid lain yang lebih dekat, dia bilang "bapak terus saja jalan kedepan, nanti setelah Rumah Sakit Bersalin Muhamadiyah, ada jalan. Dibelakang Rumah Sakit itu ada mesjid.
Untung tidak telalu jauh, kira-kira 100 meter aku ketemu RS Muhamadiyah, terus masuk ke jalan di sebelahnya. Tampak dipinggir jalan berderet 3 warung, dan disalah satu warung berkumpul sekitar 7 orang dengan mata menuju ke satu titik yaitu TV yang sedang menyiarkan pertandingan sepak bola.
Diseberang ujung warung ada gerbang masuk mesjid, dan begitu aku menginjak karpet dalam mesjid, begitu muadzin mengumandangkan iqomah. Walau lewat sholat fajar atau sholat qobliyah, Alhamdulillah masih bisa berada di jajaran shaf terdepan. Harap mak'lum karena hampir di semua mesjid, agak sulit mengisi shaf kedua apalagi ketiga. Kecuali kalau sholat jum'at dan taraweh awal Ramadhan.
Rasanya aku menjadi orang termuda di dalam mesjid, disebelah kiriku aku taksir sekitar 70 tahunan dan disebelah kananku walau mungkin belum 70, tetapi gerakannya sudah sangat lambat. Kelihatannya Bapak tersebut waktu mudanya bekerja terlalu keras. Anak-anak mudanya masih sibuk menonton bola, sebagaimana aku lihat waktu pulang dari mesjid. Ketujuh orang tersebut masih belum beranjak, tetap dengan mata melotot dan mulut ternganga, diperbudak ilusi. Astagfirullah.
Padahal hampir 15 abad yang lalu, nabi kita pernah menyampaikan "andai kalian tahu betapa besanya pahala sholat subuh berjamaah.......pasti akan kalian kejar walaupun harus merangkak". Mudah-mudahan kita selalu dijadikan orang yang pandai menentukan prioritas. Jangan menunggu kalau sudah tua, karena malaikat izroil mendatangi manusia bukan berdasarkan urutan jumlah usia.
(salam hangat dari kang sepyan)
Jumat, 27 September 2013
Sabtu, 24 Agustus 2013
PERSPEKTIF ETIKA
Aura statsiun commuter line emang berbeda. Menjelang 100 meter dari pintu gerbang statsiun, gerakan orang 50% lebih cepat dari gerakan ditempat lain. Dan setelah melewati pintu gerbang, ada lagi penambahan gerakan. Apalagi kalau ditimpali dengan suara khas peluit masinis, ning nong ning nong statsiun, dan suara pengumuman petugas yang menyebutkan di jalur mana kereta akan melintas, tujuan, pemberangkatan, dan lain-lain yang campur baur, semakin menambah energi kinetik terhadap gerakan orang untuk dapat segera melihat apa yang terjadi di jalur statsiun.
Gerombolan orang di peron Bekasi jalur 3 telah mulai penuh, walaupun suasana menjelang jam enam pagi masih remang-remang. Sebagian ada yang saling kenal sehingga berkelompok bercanda 3-4 orang, tapi kebanyakan lainnya walaupun tiap hari bareng, tampak tidak ada komunikasi. Mereka adalah rombongan pegawai, pekerja, mulai buruh sampai manajer yang bekerja di Jakarta namun domisili rumahnya di daerah Bekasi. Semua berada dalam alur pikirannya masing-masing. Berjejer menghadap rel kereta dua sampai tiga lapis. Bahkan pada titik-titik tertentu sampai lima atau enam lapis. Mungkin titik tersebut diperkirakan tempat pintu kereta berhenti.
Ada sebagian yang tampak santai, duduk di bangku peron yang terbuat dari kursi plastik seperti kursi bis kota jaman dahulu. Sebagian lagi duduk di bangku yang terbuat dari dua buah rel bekas yang dijejerkan dan disangga tiga buah tiang beton. Agar kelihatan bersih rel bekas tersebut di pernish, hehehe bersih sih tapi kueras banget menekan pantat. Namun sesantai-santainya orang di statsiun, sambil baca koran ataupun buka-buka gadget, telinga tetap harus tajam mendengarkan pengumuman kedatangan kereta. Karena begitu ada pengumuman kereta sesuai jurusan yang akan tiba, maka semua melompat merapat agar berada di dalam barisan siap-siap menyerbu.
Begitu kereta berhenti dan pintu terbuka, maka semua orang berdesakan menuju pintu tersebut, walaupun harus dengan jurus sedikit sikut, dorong, dan desak. Lalu berlari kencang sambil mata jelalatan mencari bangku yang kosong. Bila dirasa ketemu ada bangku kosong, maka pantat akan dibuat mendahului badan untuk dapat menyentuh permukaan bangku tersebut. Semua melakukan hal serupa, seperti pelari sprint yang mendorong kepalanya agar dianggap lebih dahulu mencapai garis finish. Bedanya disini yang didorong adalah pantat. Jadi kalau yang tidak terbiasa, jangan heran apabila dalam perebutan bangku, orang yang berjarak satu langkah bisa kalah dengan orang yang berjarak lima langkah.
Betapa berat perjuangan pagi hari untuk memperebutkan bangku. Karena apabila kita mendapat bangku, artinya selama 30 menit kedepan kita bisa meneruskan tidur yang kepotong tadi pagi, terus kita juga akan terhindar dari desakan-desakan dan himpitan-himpitan penumpang lain yang akan merangsek masuk, naik pada statsiun-statsiun berikutnya. Maklum commuter line di kita tidak mengenal batas maksimal penumpang. Satu gerbong kereta dengan kapasitas 48 tempat duduk dan untuk orang berdiri 20 orang, bisa diisi sampai 400 orang. Selagi masih bisa masuk dengan cara didorong-dorong, terus masuk. Sampai semua orang didalam tidak bisa lagi bergerak, walaupun hanya untuk menggaruk. Seperti orang memasukan beras ke karung, digoyang-goyang dan dicucuk-cucuk pake bambu agar isinya padat, sehingga bisa masuk beras yang baru di lapisan atas.
Didalam kereta disediakan di masing-masing ujung gerbong 8 tempat duduk atau totalnya 16 tempat duduk per gerbong yang dikhususkan untuk penyandang cacat, ibu hamil, orang lanjut usia, dan ibu yang membawa balita. Ada tulisan himbauan dari perusahaan ; "mohon partisipasi pelanggan untuk mengingatkan kepada yang tidak berhak atas tempat duduk prioritas ini". Tapi pada kenyataannya, dengan sesaknya jalan menuju ke bangku tersebut, maka mereka tidak bisa sampai ke bangku prioritas. Jadi sasarannya adalah kami para laki-laki muda atau laki-laki setengah tua yang mendapat jatah tempat duduk yang memang diperuntukan untuk penumpang sehat (bukan tempat duduk prioritas). Harus mengalah dong ? masa tega membiarkan anak kecil berdiri terhimpit ? masa tega membiarkan orang tua berdiri ? apakah kamu tidak memiliki rasa hormat sama orang tua ? masa tega membiarkan perempuan didepanmu berdiri sedangkan kamu enak-enakan duduk ?
Kadang-kadang, bila aku berada pada posisi itu, dengan tulus aku berikan kursi yang dengan sepenuh hati beberapa menit lalu aku perjuangkan. Tapi kadang-kadang, aku berpikir emangnya gue pikirin ! Aku khan udah berjuang bangun lebih pagi. Aku khan sudah berjuang berdiri menunggu kereta tiba sehingga dapat lapisan paling depan. Aku khan sudah mendapatkan untung berdiri pas didepan pintu kereta. Aku khan sudah berhasil mengalahkan puluhan saingan untuk mencapai bangku lebih cepat. Maka pura-pura tidur adalah jalan yang menurutku paling aman. Duduk langsung mata dimeremkan walaupun tidak ngantuk, biar tidak melihat perkembangan penumpang di sekeliling kita. Apalagi bila mendengar suara anak menangis, maka mata atas aku katupkan erat-erat, biar tidak sempat melihat,dan telinga disumpal dengan speaker yang dihubungkan dengan handphone di saku. Sekedar untuk mengurangi rasa bersalah.
Kerasnya kehidupan ibu kota memang bisa merubah perspektif etika. Aku berpikir kenapa kok suaminya tega membiarkan istrinya bekerja sehingga harus berdiri terhimpit di kereta ? kenapa kok anaknya tega membiarkan orang tuanya berjalan sendirian di kereta ? mengapa kok orang pergi mengajak anak-anak naek kereta pada jam sibuk ? kenapa tidak tunggu jam 9- an saat kereta sudah agak sepi ? Jadi siapa yang tidak punya etika ?
Tergantung dari sudut mana peresfektif etika kita lihat......bukan begitu ??? Atau....jangan-jangan......hanya untuk menutupi rasa bersalah.
(salam hangat dari kang sepyan)
Gerombolan orang di peron Bekasi jalur 3 telah mulai penuh, walaupun suasana menjelang jam enam pagi masih remang-remang. Sebagian ada yang saling kenal sehingga berkelompok bercanda 3-4 orang, tapi kebanyakan lainnya walaupun tiap hari bareng, tampak tidak ada komunikasi. Mereka adalah rombongan pegawai, pekerja, mulai buruh sampai manajer yang bekerja di Jakarta namun domisili rumahnya di daerah Bekasi. Semua berada dalam alur pikirannya masing-masing. Berjejer menghadap rel kereta dua sampai tiga lapis. Bahkan pada titik-titik tertentu sampai lima atau enam lapis. Mungkin titik tersebut diperkirakan tempat pintu kereta berhenti.
Ada sebagian yang tampak santai, duduk di bangku peron yang terbuat dari kursi plastik seperti kursi bis kota jaman dahulu. Sebagian lagi duduk di bangku yang terbuat dari dua buah rel bekas yang dijejerkan dan disangga tiga buah tiang beton. Agar kelihatan bersih rel bekas tersebut di pernish, hehehe bersih sih tapi kueras banget menekan pantat. Namun sesantai-santainya orang di statsiun, sambil baca koran ataupun buka-buka gadget, telinga tetap harus tajam mendengarkan pengumuman kedatangan kereta. Karena begitu ada pengumuman kereta sesuai jurusan yang akan tiba, maka semua melompat merapat agar berada di dalam barisan siap-siap menyerbu.
Begitu kereta berhenti dan pintu terbuka, maka semua orang berdesakan menuju pintu tersebut, walaupun harus dengan jurus sedikit sikut, dorong, dan desak. Lalu berlari kencang sambil mata jelalatan mencari bangku yang kosong. Bila dirasa ketemu ada bangku kosong, maka pantat akan dibuat mendahului badan untuk dapat menyentuh permukaan bangku tersebut. Semua melakukan hal serupa, seperti pelari sprint yang mendorong kepalanya agar dianggap lebih dahulu mencapai garis finish. Bedanya disini yang didorong adalah pantat. Jadi kalau yang tidak terbiasa, jangan heran apabila dalam perebutan bangku, orang yang berjarak satu langkah bisa kalah dengan orang yang berjarak lima langkah.
Betapa berat perjuangan pagi hari untuk memperebutkan bangku. Karena apabila kita mendapat bangku, artinya selama 30 menit kedepan kita bisa meneruskan tidur yang kepotong tadi pagi, terus kita juga akan terhindar dari desakan-desakan dan himpitan-himpitan penumpang lain yang akan merangsek masuk, naik pada statsiun-statsiun berikutnya. Maklum commuter line di kita tidak mengenal batas maksimal penumpang. Satu gerbong kereta dengan kapasitas 48 tempat duduk dan untuk orang berdiri 20 orang, bisa diisi sampai 400 orang. Selagi masih bisa masuk dengan cara didorong-dorong, terus masuk. Sampai semua orang didalam tidak bisa lagi bergerak, walaupun hanya untuk menggaruk. Seperti orang memasukan beras ke karung, digoyang-goyang dan dicucuk-cucuk pake bambu agar isinya padat, sehingga bisa masuk beras yang baru di lapisan atas.
Didalam kereta disediakan di masing-masing ujung gerbong 8 tempat duduk atau totalnya 16 tempat duduk per gerbong yang dikhususkan untuk penyandang cacat, ibu hamil, orang lanjut usia, dan ibu yang membawa balita. Ada tulisan himbauan dari perusahaan ; "mohon partisipasi pelanggan untuk mengingatkan kepada yang tidak berhak atas tempat duduk prioritas ini". Tapi pada kenyataannya, dengan sesaknya jalan menuju ke bangku tersebut, maka mereka tidak bisa sampai ke bangku prioritas. Jadi sasarannya adalah kami para laki-laki muda atau laki-laki setengah tua yang mendapat jatah tempat duduk yang memang diperuntukan untuk penumpang sehat (bukan tempat duduk prioritas). Harus mengalah dong ? masa tega membiarkan anak kecil berdiri terhimpit ? masa tega membiarkan orang tua berdiri ? apakah kamu tidak memiliki rasa hormat sama orang tua ? masa tega membiarkan perempuan didepanmu berdiri sedangkan kamu enak-enakan duduk ?
Kadang-kadang, bila aku berada pada posisi itu, dengan tulus aku berikan kursi yang dengan sepenuh hati beberapa menit lalu aku perjuangkan. Tapi kadang-kadang, aku berpikir emangnya gue pikirin ! Aku khan udah berjuang bangun lebih pagi. Aku khan sudah berjuang berdiri menunggu kereta tiba sehingga dapat lapisan paling depan. Aku khan sudah mendapatkan untung berdiri pas didepan pintu kereta. Aku khan sudah berhasil mengalahkan puluhan saingan untuk mencapai bangku lebih cepat. Maka pura-pura tidur adalah jalan yang menurutku paling aman. Duduk langsung mata dimeremkan walaupun tidak ngantuk, biar tidak melihat perkembangan penumpang di sekeliling kita. Apalagi bila mendengar suara anak menangis, maka mata atas aku katupkan erat-erat, biar tidak sempat melihat,dan telinga disumpal dengan speaker yang dihubungkan dengan handphone di saku. Sekedar untuk mengurangi rasa bersalah.
Kerasnya kehidupan ibu kota memang bisa merubah perspektif etika. Aku berpikir kenapa kok suaminya tega membiarkan istrinya bekerja sehingga harus berdiri terhimpit di kereta ? kenapa kok anaknya tega membiarkan orang tuanya berjalan sendirian di kereta ? mengapa kok orang pergi mengajak anak-anak naek kereta pada jam sibuk ? kenapa tidak tunggu jam 9- an saat kereta sudah agak sepi ? Jadi siapa yang tidak punya etika ?
Tergantung dari sudut mana peresfektif etika kita lihat......bukan begitu ??? Atau....jangan-jangan......hanya untuk menutupi rasa bersalah.
(salam hangat dari kang sepyan)
Kamis, 22 Agustus 2013
GONJING
Jarak dari rumahku ke SMP tidak terlalu jauh, namun waktu itu belum ada jalan yang bisa dilalui kendaraan, jadi harus ditempuh dengan jalan kaki. Memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan, melewati gunung Genter dan gunung Picung. Kedua gunung itulah yang menghalangi akses untuk menuju Desaku, karena di kedua gunung itu jalan yang tersedia hanya berupa jalan setapak yang kadang berundak-undak melewati batu-batu besar. Menyebabkan desaku tampak seperti daerah terisolir. Tahun tujuhpuluhan, lebih dari setengah penduduk desa belum pernah melakukan perjalanan ke "kota" yang jaraknya hanya 7,5 km. Sehingga beberapa di antara mereka sampai akhir hayatnya belum pernah melihat pasar, sekolah menengah, jalan aspal, mobil, motor, dan tentunya pak Camat.
Alhamdulillah, aku dilahirkan dari orang tua yang memiliki pola pikir diluar orang kebanyakan penduduk desa. Walaupun didesaku hanya ada sekolah sampai tingkat sekolah dasar, namun kami anak-anaknya harus sekolah tinggi. Kalau perlu sekolah sampai ke Bandung, seperti lagu "nelengnengkung" yang selalu dinyanyikan ibuku waktu aku masih kecil.
Nelengnengkung-nelengnengkung
Geura gede, geura jangkung
Geura sakola ka Bandung
Sing bisa nyenangkeun indung
Ketika usiaku 10 tahun 8 bulan, aku pergi ke "kota" untuk meneruskan sekolah ke SMP. Aku harus berpisah dari orang tua, mencoba mandiri. Walaupun sebenernya gak mandiri-mandiri banget karena aku tinggal bersama keluarga kakaku yang paling besar yang sudah menjadi guru di "kota". Pelajaran mandiri yang harus aku lakukan adalah cuci baju dan mengelola uang jajan bulanan. Untuk cuci baju tidak susah-susah amat, karena kadang-kadang di rumah juga aku sudah pernah belajar, dan kadang-kadang aku titipin juga sama si bibi. Tapi untuk urusan mengelola uang jajan, ini adalah pelajaran yang sangat baru.
Jaman sekarang mungkin aneh kedengarannya, ada anak usia hampir 11 tahun gak bisa jajan. Tetapi di desaku memang tidak ada tukang jualan di sekolah, kalaupun ada tukang jajanan hanya terjadi saat ada pesta dimana yang punya pesta menyediakan hiburan seperti wayang golek, kuda renggong, atau lais (sejenis debus dimana ada orang yang bisa beraktifitas di sebuah tambang yang direntangkan diatas dua bambu setinggi 15-20 meter). Biasanya bila ada acara seperti itu aku jajan rujak kucur dan goreng tempe gembus bareng kakakku. Pengalaman belanja sendiri yang aku pernah lakukan hanyalah kalau disuruh beli "lotek" di bi Nunu dan "kerecek daging" di warung wa Rum'ah, bila ibuku tidak masak. Dan itu sangat jarang terjadi.
Dengan pengalaman seminim itulah, saat aku diberi uang jajan Seribu rupiah, aku kebingungan. Bapakku tidak menyebutkan itu untuk jatah seminggu, sebulan atau setahun, tapi silahkan dipakai untuk keperluan. Kalau sudah habis boleh minta lagi, tapi harus dicatat dalam buku dan dilaporkan kalau meminta tambahan dana. Mungkin Bapak mendidik agar aku terbiasa membuat laporan pertanggung-jawaban.
Saat bel istirahat sekolah semua anak meninggalkan kelas, menuju ke kantin belakang. Ibu penjaga kantin sibuk melayani pembelian yang hanya berlangsung sekitar 15 menit. Hampir semua jajanan ada disana, ada bala-bala, comro, buras, kerupuk, tahu, dll. Seluruh sisi warung yaitu kiri, kanan, dan depan penuh dengan anak-anak yang akan jajan. Aku bingung bagaimana cara masuk ke celah-celah orang yang mengerumuni menutup sisi warung. Sedangkan mereka tampak santai menyuap jajanan, sambil bercanda. Padahal kalaupun aku bisa masuk ke sisi warung, aku masih bingung bagaimana cara merangkai kata ijab kabul jual beli jajanan, sebagaimana yang selalu diajarkan guru ngajiku.
Akhirnya aku putuskan untuk ke luar pagar sekolah, disana juga banyak tukang jajanan seperti cilok, baso tahu, es goyobod, es mambo, gorengan aci, dll. Hampir seluruhnya penuh dikerubuti anak-anak. Aku lihat rata-rata orang yang berjejal jajan adalah orang-orang kota, sedangkan kami orang-orang desa cuma bisa bersender di pinggir pagar yang agak jauh dari tukang jajanan sambil menikmati matahari. Maklum sinar matahari khan gratis, serta tidak harus pake ijab kabul. Mereka menjauh dari tukang jualan entah karena pada enggak punya duit, atau mungkin seperti aku yang kebingungan cara bertransaksi di tengah kerumunan.
Minggu kedua hari ketiga, baru aku berani melakukan transaksi pertama. Diantara tukang jajanan yang jualan di luar pagar sekolah, ada pedagang yang peminatnya hanya sedikit. Bahkan cenderung sepi pembeli. Yaitu tukang Gonjing. Gonjing terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan kelapa parut, air, dan sedikit garam. Lalu dimasukan ke dalam cetakan berbentuk setengah lingkaran dengan tebal sekitar 2 cm dan diameter 12 cm. Cetakan setengah lingkaran tersebut berjejer 6 lobang, dan tukang gonjing memiliki 4 cetakan, sehingga satu kali nyetak bisa menghasilkan 24 gonjing atau 12 pasang gonjing. Cetakan terbuat dari aluminium, dan dibakar diatas kompor. Hasilnya adalah sebuah penganan yang gurih, berkulit renyah, panas, namun dalamnya lembek. Menurutku enak, mungkin menurut orang kota jajanan seperti itu kurang bonafid, sehingga sepi peminat. Harganya untuk tiap sepasang gonjing lima rupiah saja.
Setelah aku melihat kota-kota lainnya, tenyata ada juga penganan yang hampir sama dengan gonjing namun disebutnya adalah banros. Banros biasanya disajikan dengan ditaburi gula pasir dipermukaannya. Penganan lainnya yang serupa gonjing adalah kue pukis, perbedaannya adalah bahan adonannya terbuat dari terigu dan gula serta telur seperti bahan bolu.
Sebelum jajan gonjing aku sudah tanya dulu kiri-kanan berapa harganya, dan berapa minimum pembelian. Sehingga aku juga sudah siapkan uang pas untuk membelinya. Dan pada siang hari pulang sekolah, mulailah aku mencatat pengeluaran pertamaku dan merupakan pengeluaran pertama dan terakhir yang aku tulis dalam buku tulis letjes warna biru isi 18 lembar. Karena setelah itu, aku lancar jajan waktu istirahat sekolah, tapi jadi males menulis. Apalagi Bapaku juga tetep memberikan tambahan uang jajan, tanpa harus memberikan laporan pertanggung-jawaban.
Tiga puluh lima tahun kemudian, saat liburan kemarin kami seluruh keluarga besar nginep di Ciater. Pagi-pagi telah mangkal tukang gonjing didepan bungalow. Harganya sudah naik 400 kali lipat, yaitu sepasang yang semula Rp. 5,- menjadi Rp. 2.000,-. Entah harga sebenarnya atau karena harga lebaran. Tapi penampilan tukang gonjing masih tetap, berbadan kurus, bertopi lusuh, membawa dagangan dengan cara di pikul, yaitu pikulan yang satu bersisi adonan dan bangku kayu kecil, adapun pikulan satu lagi tempat cetakan dan kompor. Bila sedang membuat gonjing dia duduk dibangku kecil tersebut, menunggu sekitar 15 menit sampai adonan matang.
Aku dan kakak-kakaku membeli beberapa loyang gonjing untuk dimakan bersama. Aku amati, bahwa kami para orang tua menikmati kerenyahan, kegurihan, dan kehangatan gonjing di pagi hari, mungkin sambil pikiran menerawang ke masa lalu. Sedangkan ketika anak-anak ditawari, mereka cuma melihat dan mencoba sedikit, tanpa minat. Perbedaan generasi......generasi gonjing dan generasi sosis...hehehe.
(salam hangat dari kang sepyan)
Jumat, 16 Agustus 2013
TEBOY
Kebiasaanku selama bulan puasa ini adalah sahur menjelang akhir.
Kira-kira jam 3.45 bangun, lalu menyiapkan makanan dan jam 4.10 menit
kami mulai makan sahur sampai jam 4.30. Kata pak ustadz kita disunahkan
mengakhirkan makan sahur. Sunnah yang menurut aku sangat bermanfaat
karena jangka waktu dari makan sahur ke buka puasa menjadi semakin
pendek, jadi akan mengurangi rasa lapar. Terus jangka waktu ke sholat
subuh tinggal 10 menit pas banget untuk persiapan bersuci dan pergi ke
mesjid. Waktu tidur malam juga bisa cukup panjang, cukup untuk
istirahat untuk mengerjakan tugas rutin esok hari.
Tapi malam kemaren aku dibangunkan oleh suara hp istriku yang terus berbunyi sekitar jam 2 malam. Lagi enak-enaknya kami terlelap, rupanya ada teman istriku tetangga RT yang mebangunkan kami. Katanya ketika mau persiapan makan sahur, dia keluar sebentar dan melihat didepan rumahnya ada kucing angora warna putih. Dia mengabarkan mungkin kucing itu adalah kucing kami yang hilang. Sambil merem-merem terpaksa deh aku ngeluarin motor jalan ke rumahnya . Dan sampai disana, kucingnya sudah tidak ada di tempat yang tadi.
Sudah dua minggu ini si Teboy, begitu kami memanggil kucing kami, hilang. Awalnya adalah ketika sedang mempersiapkan makan sahur, orang yang bantu-bantu di rumah membuka pintu keluar, mungkin ingin cari angin atau mau buang sampah. Setelah itu pintu dibiarkan terbuka, dan si Teboy memanfaatkan kesempatan tersebut untuk jalan-jalan keluar. Entah tersesat, entah ada orang yang ngambil, atau entah karena apa karena sejak saat itu dia gak pernah pulang ke rumah.
Istriku cenderung menganggap si Teboy tersesat, sehingga setiap pagi dia keliling perumahan yang hampir meliputi dua RW. Memperhatikan selokan, halaman rumah orang, tempat-tempat sampah, yang diperkirakan bisa dijadikan persembunyian si Teboy. Sehingga hampir seluruh tetangga tahu akan kehilangan si Teboy, ciri-cirinya adalah kucing angora besar, hidungnya pesek, berbulu putih dengan sedikit abu-abu di kepala dan buntutnya. Akibatnya, begitu mereka melihat ada kucing warna putih, sering telepon ke rumah. Walaupun sampai sekarang yang mereka lihat ternyata kucing kampung biasa, bukan Teboy kami.
Sedangkan kalau aku lebih cenderung menduga si Teboy ada yang ngambil. Karena akhir-akhir ini, kalau setiap pagi aku mau berangkat subuh ke mesjid, kok banyak sekali tukang "pulung" dengan ciri khas membawa besi panjang yang ujungnya dibengkokan dan membawa karung plastik besar. Demikian pula kalau sore-sore jalan-jalan ke sekitar mesjid Al-Ahar komplek Jaka Permai, di sepanjang jalan berderet orang-orang duduk di trotoar. Ibu-ibu muda membawa anak kecil, dan di depannya ada gerobak sampah. Kesannya adalah mereka para pemulung.
Aku kadang berpikir, apakah mereka benar-benar pemulung atau sekedar menyamar menjadi pemulung ? Memanfaatkan moment bulan puasa, bulan penuh barokah, dimana Allah melipat-gandakan pahala. Sehingga banyak sekali orang ingin berbuat baik, membantu sesama untuk bersyukur atas karuna yang diberikan, diantaranya dengan cara bersedekah.
Entah ini pikiran aku saja atau mungkin sama dengan pikiran yang lain, kalau misalnya mau bersedekah maka aku lebih senang memberikan pada pemulung dibandingkan kepada peminta-minta, dengan catatan kedua-duanya sama-sama secara fisik sehat. Apalagi pemulung perempuan yang bawa anak kecil. Kesannya mereka adalah pejuang tangguh, yang mau berusaha keras namun masih miskin. Rasanya sangat layak diberi sedekah, rasana tidak sia-sia memberi sedekah pada mereka. Syukur-syukur bisa dijadikan tambahan modal sehingga kehidupannya yang semula jadi tukang pulung berubah menjadi pengepul, selanjutnya menjadi pengusaha. amin.
Tapi apakah benar-benar mereka pemulung ??? Nah itulah yang sekarang meragukan, dengan semakin bertambahnya komunitas mereka. Jangan-jangan, modus seperti ini pun telah diorganisir sebagaimana pengemis ?? Jangan-jangan, mereka memiliki Bos yang telah mempelajari psikologi orang sedekah ? Ini megapolitan....semua bisa terjadi.
Seperti tayangan hitam putih di Trans TV, ternyata menjadi peminta-minta walaupun bukan sebagai cita-cita tetapi telah menjadi mata pencaharian, bahkan menjadi profesi. Dengan penghasilan setara penghasilan sarjana baru lulus yang kerja di sektor keuangan, bahkan mungkin lebih besar. Serta ada koordinatornya atau mungkin semacam "mucikari" atau semacam "manajer" yang akan membantu dalam hal mencarikan tempat mangkal dan berurusan dengan pihak berwajib. mmmmmmmhhhhhhh.......
(salam hangat dari kang sepyan)
Tapi malam kemaren aku dibangunkan oleh suara hp istriku yang terus berbunyi sekitar jam 2 malam. Lagi enak-enaknya kami terlelap, rupanya ada teman istriku tetangga RT yang mebangunkan kami. Katanya ketika mau persiapan makan sahur, dia keluar sebentar dan melihat didepan rumahnya ada kucing angora warna putih. Dia mengabarkan mungkin kucing itu adalah kucing kami yang hilang. Sambil merem-merem terpaksa deh aku ngeluarin motor jalan ke rumahnya . Dan sampai disana, kucingnya sudah tidak ada di tempat yang tadi.
Sudah dua minggu ini si Teboy, begitu kami memanggil kucing kami, hilang. Awalnya adalah ketika sedang mempersiapkan makan sahur, orang yang bantu-bantu di rumah membuka pintu keluar, mungkin ingin cari angin atau mau buang sampah. Setelah itu pintu dibiarkan terbuka, dan si Teboy memanfaatkan kesempatan tersebut untuk jalan-jalan keluar. Entah tersesat, entah ada orang yang ngambil, atau entah karena apa karena sejak saat itu dia gak pernah pulang ke rumah.
Istriku cenderung menganggap si Teboy tersesat, sehingga setiap pagi dia keliling perumahan yang hampir meliputi dua RW. Memperhatikan selokan, halaman rumah orang, tempat-tempat sampah, yang diperkirakan bisa dijadikan persembunyian si Teboy. Sehingga hampir seluruh tetangga tahu akan kehilangan si Teboy, ciri-cirinya adalah kucing angora besar, hidungnya pesek, berbulu putih dengan sedikit abu-abu di kepala dan buntutnya. Akibatnya, begitu mereka melihat ada kucing warna putih, sering telepon ke rumah. Walaupun sampai sekarang yang mereka lihat ternyata kucing kampung biasa, bukan Teboy kami.
Sedangkan kalau aku lebih cenderung menduga si Teboy ada yang ngambil. Karena akhir-akhir ini, kalau setiap pagi aku mau berangkat subuh ke mesjid, kok banyak sekali tukang "pulung" dengan ciri khas membawa besi panjang yang ujungnya dibengkokan dan membawa karung plastik besar. Demikian pula kalau sore-sore jalan-jalan ke sekitar mesjid Al-Ahar komplek Jaka Permai, di sepanjang jalan berderet orang-orang duduk di trotoar. Ibu-ibu muda membawa anak kecil, dan di depannya ada gerobak sampah. Kesannya adalah mereka para pemulung.
Aku kadang berpikir, apakah mereka benar-benar pemulung atau sekedar menyamar menjadi pemulung ? Memanfaatkan moment bulan puasa, bulan penuh barokah, dimana Allah melipat-gandakan pahala. Sehingga banyak sekali orang ingin berbuat baik, membantu sesama untuk bersyukur atas karuna yang diberikan, diantaranya dengan cara bersedekah.
Entah ini pikiran aku saja atau mungkin sama dengan pikiran yang lain, kalau misalnya mau bersedekah maka aku lebih senang memberikan pada pemulung dibandingkan kepada peminta-minta, dengan catatan kedua-duanya sama-sama secara fisik sehat. Apalagi pemulung perempuan yang bawa anak kecil. Kesannya mereka adalah pejuang tangguh, yang mau berusaha keras namun masih miskin. Rasanya sangat layak diberi sedekah, rasana tidak sia-sia memberi sedekah pada mereka. Syukur-syukur bisa dijadikan tambahan modal sehingga kehidupannya yang semula jadi tukang pulung berubah menjadi pengepul, selanjutnya menjadi pengusaha. amin.
Tapi apakah benar-benar mereka pemulung ??? Nah itulah yang sekarang meragukan, dengan semakin bertambahnya komunitas mereka. Jangan-jangan, modus seperti ini pun telah diorganisir sebagaimana pengemis ?? Jangan-jangan, mereka memiliki Bos yang telah mempelajari psikologi orang sedekah ? Ini megapolitan....semua bisa terjadi.
Seperti tayangan hitam putih di Trans TV, ternyata menjadi peminta-minta walaupun bukan sebagai cita-cita tetapi telah menjadi mata pencaharian, bahkan menjadi profesi. Dengan penghasilan setara penghasilan sarjana baru lulus yang kerja di sektor keuangan, bahkan mungkin lebih besar. Serta ada koordinatornya atau mungkin semacam "mucikari" atau semacam "manajer" yang akan membantu dalam hal mencarikan tempat mangkal dan berurusan dengan pihak berwajib. mmmmmmmhhhhhhh.......
(salam hangat dari kang sepyan)
Selasa, 13 Agustus 2013
BAJU LEBARAN
Malam ini setelah sholat isya kami tidak taraweh lagi, tapi kami ganti
dengan takbiran. Orang-orang tua kami jaman dulu tidak perlu menunggu
sidang istbat selesai untuk menetapkan hari lebaran. Bukan karena tidak
mengikuti ketentuan pemerintah, tetapi karena waktu itu belum ada
siaran TV ke kampungku. Jadi cukup dengan melihat warna merah di
kalender ditambah dengan rembugan orang-orang sedesa, yang telah
diputuskan seminggu sebelum lebaran. Nampak Bapaku, kakekku dan
bapak-bapak lainnya yang biasanya duduk di shaf paling depan menghadap
ke kiblat, sekarang berbalik jadi menghadap ruangan langgar, bersender
pada kayu-kayu berwarna coklat kelabu yang menjadi tiang penyangga
dinding langgar. Dindingnya sendiri terbuat dari bilah anyaman bambu.
Kayu-kayu tersebut tampak berwarna coklat ke abu-abuan, bukan karena di
pernis, tetapi warna asli kayu yang telah terkombinasi dengan udara,
debu, panas, dan gosokan punggung-punggung baju waktu orang bersender.
Waktu tadi berangkat isya, ayahku sengaja membawa lampu petromak yang ada di rumah. Sehingga langgarku malam ini terasa lebih semarak dengan sinar lampu petromak menerangi ruangan langgar ukuran 6 x 10 meter. Kalo lagi tarawih malam-malam sebelumnya, mushola kami cukup diterangi dengan dua lampu templok. Satu lampu templok digantungkan di paku yang di pasang di tiang kayu penyangga mimbar. Dan satu lagi dipasang disalah satu kayu tiang penyangga tengah mushola. Kalau kita melakukan tadarusan sehabis sholat taraweh, maka salah satu lampu diturunkan, dan orang-orang yang tadarusan akan duduk mengelilingi lampu. Memicingkan mata menyesuikan besarnya iris mata dengan keremangan sinar yang tersedia, untuk memastikan tidak ada titik ataupun tasjid yang kelewat.
Aku bersama Kodir anaknya mang Asbul imam mushola dan Sahlan anaknya mang Alasan, berkumpul bertiga di tengah ruang mushola. Kadang-kadang ikut takbir yang dipimpin mang Asbul, tapi kadang-kadang enggak karena sibuk ngobrol sambil ketawa-ketiwi. Bila kami lupa diri saking asyknya ngobrol, Embah panggilan untuk kakekku akan melotot dan mengangkat tangan dengan ibu jari dan telunjuk dibuat bentuk O, maksudnya isyarat mengancam, kalau ribut terus mau di sentil. Biasanya kami segera pura-pura khusuk ikut takbir. Tapi lima menit kemudian, kembali kami ribut. Topik obrolan yang membuat kami lupa diri adalah tentang baju lebaran. Kami saling menceritakan pengalaman masing-masing sampai mendapat baju lebaran, misalnya bagaimana proses meminta, pilihan baju, bagimana proses membeli di pasar, dll. Selalu menarik kalau sudah membicarakan topik tersebut, kalau istilah sekarang di dunia maya mungkin trending topik. Ada yang cerita bahwa waktu meminta baju lebaran sampai harus pura-pura kabur dulu, untuk meluluhkan hati orang tuanya agar mau menjual beberapa ekor ayam. Ada yang membeli baju lebaran berupa baju pramuka yaitu celananya coklat tua dan bajunya coklat muda, agar bisa sekalian dipakai untuk seragam pramuka sekolah. Dan mata kami pun, menerawang membayangkan bagaimana rupa kami besok waktu mengenakan baju lebaran.
Moment lebaran memang merupakan salah satu, bahkan untuk kebanyakan kami warga kampung merupakan satu-satunya moment yang memperbolehkan kami, anak-anak, meminta baju baru. Sehingga kalau lebaran tahun ini tidak membeli baju baru, artinya baru lebaran tahun depan ada kemungkinan dibelikan baju baru lagi.
Zaman telah berubah, dan generasi pun telah berubah. Generasi lampu templok mushola telah berubah menjadi generasi listrik dan gadget. Terjadi perubahan yang sangat drastis antara generasi aku sebagai anak-anak dibandingkan generasi sekarang, yaitu generasi aku sebagai orang tua. Sampai menjelang lebaran, tidak ada satupun anaku yang meminta baju lebaran. Bahkan kamilah orang tuanya yang memaksa-maksa mereka ke mal untuk membelikan baju lebaran. Setelah datang ke mal pun, disuruh memilih bahkan tanpa dibatasi budget, tetap saja mereka kelihaan ogah-ogahan. Dunia rasanya menjadi kebalik-balik. Aku merasa memiliki kewajiban untuk membelikan semua anak-anak baju lebaran, mungkin sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi atau sekedar sebagai upaya untuk balas dendam. Sedangkan anak-anak merasa bahwa lebaran tidak perlu baju baru. Toh beli baju baru bisa kapan saja.
Aku jadi teringat sama ibuku, ketika aku sudah mulai bekerja dan ibuku melihat lemari pakaian, beliau bilang "jangan terlalu banyak membeli sampah, mendingan dipakai menabung atau dibelikan saja uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna". Tumpukan bajuku di lemari dianggap ibuku sebagai tumpukan sampah. Padahal jaman sekarang khan harus ada pakaian olah raga, pakaian tidur, pakaian kerja sehari-hari, pakaian resmi, pakaian santai, belum lagi semuanya harus matching dengan sepatu, ikat pinggang, jam tangan, dan lain-lain. Kalau berbeda-beda warna bisa diketawain teman-teman, nanti dibilangnya kampungan tidak mengikuti mode, tidak pantes jadi eksekutif muda. Bahkan untuk pakaian olah raga saja harus banyak karena berbeda jebis olah raga perlu berbeda juga bentuk baju maupun sepatunya, untuk lari, senam, tenis, golf, renang, dll. Jadi memang pakaian harus banyak. Setidaknya menurut versi-ku.
Kalau ada mode yang baru harus beli lagi, walaupun telah bertumpuk pakaian di rumah. Baju lama juga tida bisa langsung dibuang atau diberikan sama orang lain, karena disamping masih bagus, juga untuk jaga-jaga siapa tahu suatu saat baju tersebut masih diperlukan untuk di matching-matchingkan sesuai tema pertemuan. Padahal pada kenyataannya banyak diantara baju-baju tersebut yang sudah sangat lama tidak pernah dipakai. Karena toh walaupun bajunya banyak, tetap saja yang dipakai baju setiap kali hanya satu stel. Banyak diantara baju-baju tersebut yang hanya diakai sekali atau dua kali saja, setelah itu tidak pernah disentuh sama sekali karena telah kehilangan moment.
Padahal kawan......kata guru ngajiku dulu, baju-baju tersebut kelak akan menghisab kita. Mengapa rezeki yang telah Allah berikan tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kenapa baju tersebut dibeli tetapi tidak dipakai. Kenapa baju-baju yang sudah jarang dipakai tidak segera diberikan pada orang lain yang membutuhkan. Dan kenapa-kenapa lainnya.
Jadi......masih mau beli baju baru ???
(salam hangat dari kang sepyan)
Waktu tadi berangkat isya, ayahku sengaja membawa lampu petromak yang ada di rumah. Sehingga langgarku malam ini terasa lebih semarak dengan sinar lampu petromak menerangi ruangan langgar ukuran 6 x 10 meter. Kalo lagi tarawih malam-malam sebelumnya, mushola kami cukup diterangi dengan dua lampu templok. Satu lampu templok digantungkan di paku yang di pasang di tiang kayu penyangga mimbar. Dan satu lagi dipasang disalah satu kayu tiang penyangga tengah mushola. Kalau kita melakukan tadarusan sehabis sholat taraweh, maka salah satu lampu diturunkan, dan orang-orang yang tadarusan akan duduk mengelilingi lampu. Memicingkan mata menyesuikan besarnya iris mata dengan keremangan sinar yang tersedia, untuk memastikan tidak ada titik ataupun tasjid yang kelewat.
Aku bersama Kodir anaknya mang Asbul imam mushola dan Sahlan anaknya mang Alasan, berkumpul bertiga di tengah ruang mushola. Kadang-kadang ikut takbir yang dipimpin mang Asbul, tapi kadang-kadang enggak karena sibuk ngobrol sambil ketawa-ketiwi. Bila kami lupa diri saking asyknya ngobrol, Embah panggilan untuk kakekku akan melotot dan mengangkat tangan dengan ibu jari dan telunjuk dibuat bentuk O, maksudnya isyarat mengancam, kalau ribut terus mau di sentil. Biasanya kami segera pura-pura khusuk ikut takbir. Tapi lima menit kemudian, kembali kami ribut. Topik obrolan yang membuat kami lupa diri adalah tentang baju lebaran. Kami saling menceritakan pengalaman masing-masing sampai mendapat baju lebaran, misalnya bagaimana proses meminta, pilihan baju, bagimana proses membeli di pasar, dll. Selalu menarik kalau sudah membicarakan topik tersebut, kalau istilah sekarang di dunia maya mungkin trending topik. Ada yang cerita bahwa waktu meminta baju lebaran sampai harus pura-pura kabur dulu, untuk meluluhkan hati orang tuanya agar mau menjual beberapa ekor ayam. Ada yang membeli baju lebaran berupa baju pramuka yaitu celananya coklat tua dan bajunya coklat muda, agar bisa sekalian dipakai untuk seragam pramuka sekolah. Dan mata kami pun, menerawang membayangkan bagaimana rupa kami besok waktu mengenakan baju lebaran.
Moment lebaran memang merupakan salah satu, bahkan untuk kebanyakan kami warga kampung merupakan satu-satunya moment yang memperbolehkan kami, anak-anak, meminta baju baru. Sehingga kalau lebaran tahun ini tidak membeli baju baru, artinya baru lebaran tahun depan ada kemungkinan dibelikan baju baru lagi.
Zaman telah berubah, dan generasi pun telah berubah. Generasi lampu templok mushola telah berubah menjadi generasi listrik dan gadget. Terjadi perubahan yang sangat drastis antara generasi aku sebagai anak-anak dibandingkan generasi sekarang, yaitu generasi aku sebagai orang tua. Sampai menjelang lebaran, tidak ada satupun anaku yang meminta baju lebaran. Bahkan kamilah orang tuanya yang memaksa-maksa mereka ke mal untuk membelikan baju lebaran. Setelah datang ke mal pun, disuruh memilih bahkan tanpa dibatasi budget, tetap saja mereka kelihaan ogah-ogahan. Dunia rasanya menjadi kebalik-balik. Aku merasa memiliki kewajiban untuk membelikan semua anak-anak baju lebaran, mungkin sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi atau sekedar sebagai upaya untuk balas dendam. Sedangkan anak-anak merasa bahwa lebaran tidak perlu baju baru. Toh beli baju baru bisa kapan saja.
Aku jadi teringat sama ibuku, ketika aku sudah mulai bekerja dan ibuku melihat lemari pakaian, beliau bilang "jangan terlalu banyak membeli sampah, mendingan dipakai menabung atau dibelikan saja uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna". Tumpukan bajuku di lemari dianggap ibuku sebagai tumpukan sampah. Padahal jaman sekarang khan harus ada pakaian olah raga, pakaian tidur, pakaian kerja sehari-hari, pakaian resmi, pakaian santai, belum lagi semuanya harus matching dengan sepatu, ikat pinggang, jam tangan, dan lain-lain. Kalau berbeda-beda warna bisa diketawain teman-teman, nanti dibilangnya kampungan tidak mengikuti mode, tidak pantes jadi eksekutif muda. Bahkan untuk pakaian olah raga saja harus banyak karena berbeda jebis olah raga perlu berbeda juga bentuk baju maupun sepatunya, untuk lari, senam, tenis, golf, renang, dll. Jadi memang pakaian harus banyak. Setidaknya menurut versi-ku.
Kalau ada mode yang baru harus beli lagi, walaupun telah bertumpuk pakaian di rumah. Baju lama juga tida bisa langsung dibuang atau diberikan sama orang lain, karena disamping masih bagus, juga untuk jaga-jaga siapa tahu suatu saat baju tersebut masih diperlukan untuk di matching-matchingkan sesuai tema pertemuan. Padahal pada kenyataannya banyak diantara baju-baju tersebut yang sudah sangat lama tidak pernah dipakai. Karena toh walaupun bajunya banyak, tetap saja yang dipakai baju setiap kali hanya satu stel. Banyak diantara baju-baju tersebut yang hanya diakai sekali atau dua kali saja, setelah itu tidak pernah disentuh sama sekali karena telah kehilangan moment.
Padahal kawan......kata guru ngajiku dulu, baju-baju tersebut kelak akan menghisab kita. Mengapa rezeki yang telah Allah berikan tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kenapa baju tersebut dibeli tetapi tidak dipakai. Kenapa baju-baju yang sudah jarang dipakai tidak segera diberikan pada orang lain yang membutuhkan. Dan kenapa-kenapa lainnya.
Jadi......masih mau beli baju baru ???
(salam hangat dari kang sepyan)
Selasa, 23 Juli 2013
GEMPA GAYO
Tiba-tiba aku terbangun, karena terasa laju mobil seperti melayang di udara. Otomatis kumenengok kebelakang, dan terlihat jalan yang baru saja kami lalui seperti ada gunungan kecil, yang membuat mobil dengan kecepatan tinggi akan seperti melayang. Lalu pandangan kualihkan kedepan, terlihat jalan walaupun aspalnya mulus, tetapi permukaannya seperti bergelombang. Rupanya bukan aku saja yang terbangun karena kondisi jalan seperti itu, tetapi Rudi dan Rahmat yang duduk jok tengahpun ikut terbangun. Aku melirik ke pak Yamin, sopir yang duduk di sebelahku sambil berguman "jalannya gak rata ya, pelan-pelan aja". "Iya pak !" jawab pak Yamin sigap.
Hari itu kami berempat sedang mengadakan perjalanan dari Banda Aceh menuju Sigli. Aku berangkat naik pesawat pagi dari Jakarta, lalu mampir sebentar untuk makan Ayam Peragawati. Kami menyebutnya ayam peragawati, karena kaki ayamnya panjang-panjang, dan warnanya kuning mulus. Dijual di rumah makan dekat bandara kira-kira jaraknya 500 meter dari pintu keluar bandara Sultan Iskandar Muda. Menu khasnya yaitu gulai kambing serta goreng ayam.
Jam satu siang setelah selesai makan, kami berangkat ke Sigli untuk mengikuti acara yang dijadwalkan jam tiga sore. Perjalanan dari Banda Aceh ke Sigli sekitar 110 km memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Waktu terbangun tadi, kiranya kami sudah melewati setengah perjalanan, bahkan sudah hampir masuk wilayah Sigli. Jalan di kiri kanan masih seperti hutan, di kaki perbukitan Seulawah. Sejurus kemudian, Rudi berteriak "pak ada gempa !". "kata siapa ?" tanyaku. "ini pak, status teman yang di Aceh, dirubah menjadi GEMPA", jawab Rudi. Rupanya yang aku lihat tadi seperti jalan bergelombang adalah karena ada gerakan gempa. Sehingga mobil juga terasa melayang.
Aku langsung teringat kejadian bulan Januari lalu nginap di hote Hermes, kebetulan dapat kamar di lantai 5. Setelah sholat malam, aku lihat sudah hampir tiba waktu subuh, paling seperempat jam lagi. Jadi aku tidak tidur dulu, hanya leyeh-leyeh sambil mempermainkan remote TV. Tiba-tiba ranjangku terasa bergerak. Otomatis aku bangun, sambil lihat sekeliling. Selanjutnya timbul bunyi berderak-derak, bersumber dari atap bangunan. Ada gempa pikirku. Tanpa pikir panjang, segera aku keluar kamar masih mengenakan kain sarung, berlari dilorong hotel mencari tangga darurat.
Bentuk lantai 5 Hotel Hermes seperti huruf L, dengan jumlah sekitar 40 kamar berderet berhadap-hadapan sepanjang lorong yang membentuk huruf L tersebut. Aku menempati kamar yang letaknya di sebelah kiri lift, berjarak satu kamar dari lift tersebut. Disebelah kiri kamarku masih ada 5 kamar lagi sampai ke ujung bangunan. jarak dari lift ke ujung sebelah kiri hampir sama dengan ke ujung sebelah kanan. Namun kalau di ujung sebelah kanan tidak mentok tembok, tetapi ada lorong lain sehingga membentuk huruf L.
Aku berlari mencari tangga darurat, biasanya ada di ujung bangunan gedung. Aku berlari ke arah ujung terdekat yaitu ke sebelah kiri.
Tetapi rupanya di ujung tersebut tidak ada tangga darurat, maka bergegas aku balik arah. Ada dua tamu lain yang juga aku lihat keluar kamar, yang satu masih mengenakan celana kolor pendek berkaos singlet dan membawa bantal di atas kepalanya, sedangkan satu lagi mengenakan piyama. Kami bertiga jadinya berlarian mencari tangga darurat ke ujung yang satu lagi. Mungkin karena panik, jadi kami tidak menemukan tangga darurat tersebut. Bunyi alarm dan derakan gedung yag kadang-kadang bercericit semakin menambah kepanikan. Mau belok ke gang yang membentuk huruf L aku lihat jauh sekali ujungnya. Takutnya di ujung yang satu lagi juga tidak ada tangga darurat. Kenapa tadi malam enggak lihat-lihat dulu denah kamar, yang biasanya dicantumkan didinding pintu sebelah dalam ? Kenapa tadi malam tidak orientasi dulu keadaan melihat dimana terletak tangga darurat ? Nyesel deh. Mau masuk kamar lagi gak bisa, karena pintu sudah terkunci otomatis.
Selagi kami bertiga kebungungan, tiba-tiba ada bule perempuan berkaos merah tanpa kerah dan celana panjang batik keluar dari salah satu kamar. Usianya kira-kira 60-an, dengan rambut pirang di atas bahu. Tidak seperti bule pada umumnya yang badannya tinggi, dia paling sekitar 165 cm, sepantaran sama aku. Dia berjalan dan langsung membuka pintu yang ada di sebelah kanan lift. Rupanya itu adalah tangga darurat yang kami cari-cari dari tadi. Bule itu berjalan menuruni tangga dengan santai. Entah santai atau mungkin juga dia tidak bisa jalan cepat. Kami bertiga ikut mengekor dibelakangnya yaitu aku, orang berbantal yang terus setia menyimpan bantal diatas kepalanya, dan orang ber piyama, jalan santai juga. Maklum tangga daruratnya hanya sekitar 1 meter kurang, jadi enggak bisa mendahului. Padahal hati ini rasanya ingin berlari secepat-cepatnya.
Gempa bulan Januari lalu menyebabkan beberapa kerusakan di Sigli, bahkan ada korban jiwa. Gempa ini ternyata lebih dahsyat dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah didaerah Gayo, juga korban jiwa yang lebih banyak. Dalam perjalanan pulang setelah selesai pertemuan di Sigli, aku coba tanyakan kondisinya ke pak Elmi yang menjadi bos di wilayah Gayo, beliau melaporkan bahwa ada beberapa kantor yang rusak dan tidak bisa operasi, terus ada beberapa korban jiwa salah satunya di daerah blang mancung karena ada mesjid yang roboh dan di dalam mesjid itu terdapat anak-anak yang sedang belajar ngaji. Innalillahi-wainna illaihi rojiun. Semoga mereka syahid.
Carilah dunia seolah-olah engkau akan hidup selamanya. Dan carilah akhirat seolah-olah engkau akan mati besok.
(salam hangat dari kang sepyan)
Hari itu kami berempat sedang mengadakan perjalanan dari Banda Aceh menuju Sigli. Aku berangkat naik pesawat pagi dari Jakarta, lalu mampir sebentar untuk makan Ayam Peragawati. Kami menyebutnya ayam peragawati, karena kaki ayamnya panjang-panjang, dan warnanya kuning mulus. Dijual di rumah makan dekat bandara kira-kira jaraknya 500 meter dari pintu keluar bandara Sultan Iskandar Muda. Menu khasnya yaitu gulai kambing serta goreng ayam.
Jam satu siang setelah selesai makan, kami berangkat ke Sigli untuk mengikuti acara yang dijadwalkan jam tiga sore. Perjalanan dari Banda Aceh ke Sigli sekitar 110 km memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Waktu terbangun tadi, kiranya kami sudah melewati setengah perjalanan, bahkan sudah hampir masuk wilayah Sigli. Jalan di kiri kanan masih seperti hutan, di kaki perbukitan Seulawah. Sejurus kemudian, Rudi berteriak "pak ada gempa !". "kata siapa ?" tanyaku. "ini pak, status teman yang di Aceh, dirubah menjadi GEMPA", jawab Rudi. Rupanya yang aku lihat tadi seperti jalan bergelombang adalah karena ada gerakan gempa. Sehingga mobil juga terasa melayang.
Aku langsung teringat kejadian bulan Januari lalu nginap di hote Hermes, kebetulan dapat kamar di lantai 5. Setelah sholat malam, aku lihat sudah hampir tiba waktu subuh, paling seperempat jam lagi. Jadi aku tidak tidur dulu, hanya leyeh-leyeh sambil mempermainkan remote TV. Tiba-tiba ranjangku terasa bergerak. Otomatis aku bangun, sambil lihat sekeliling. Selanjutnya timbul bunyi berderak-derak, bersumber dari atap bangunan. Ada gempa pikirku. Tanpa pikir panjang, segera aku keluar kamar masih mengenakan kain sarung, berlari dilorong hotel mencari tangga darurat.
Bentuk lantai 5 Hotel Hermes seperti huruf L, dengan jumlah sekitar 40 kamar berderet berhadap-hadapan sepanjang lorong yang membentuk huruf L tersebut. Aku menempati kamar yang letaknya di sebelah kiri lift, berjarak satu kamar dari lift tersebut. Disebelah kiri kamarku masih ada 5 kamar lagi sampai ke ujung bangunan. jarak dari lift ke ujung sebelah kiri hampir sama dengan ke ujung sebelah kanan. Namun kalau di ujung sebelah kanan tidak mentok tembok, tetapi ada lorong lain sehingga membentuk huruf L.
Aku berlari mencari tangga darurat, biasanya ada di ujung bangunan gedung. Aku berlari ke arah ujung terdekat yaitu ke sebelah kiri.
Tetapi rupanya di ujung tersebut tidak ada tangga darurat, maka bergegas aku balik arah. Ada dua tamu lain yang juga aku lihat keluar kamar, yang satu masih mengenakan celana kolor pendek berkaos singlet dan membawa bantal di atas kepalanya, sedangkan satu lagi mengenakan piyama. Kami bertiga jadinya berlarian mencari tangga darurat ke ujung yang satu lagi. Mungkin karena panik, jadi kami tidak menemukan tangga darurat tersebut. Bunyi alarm dan derakan gedung yag kadang-kadang bercericit semakin menambah kepanikan. Mau belok ke gang yang membentuk huruf L aku lihat jauh sekali ujungnya. Takutnya di ujung yang satu lagi juga tidak ada tangga darurat. Kenapa tadi malam enggak lihat-lihat dulu denah kamar, yang biasanya dicantumkan didinding pintu sebelah dalam ? Kenapa tadi malam tidak orientasi dulu keadaan melihat dimana terletak tangga darurat ? Nyesel deh. Mau masuk kamar lagi gak bisa, karena pintu sudah terkunci otomatis.
Selagi kami bertiga kebungungan, tiba-tiba ada bule perempuan berkaos merah tanpa kerah dan celana panjang batik keluar dari salah satu kamar. Usianya kira-kira 60-an, dengan rambut pirang di atas bahu. Tidak seperti bule pada umumnya yang badannya tinggi, dia paling sekitar 165 cm, sepantaran sama aku. Dia berjalan dan langsung membuka pintu yang ada di sebelah kanan lift. Rupanya itu adalah tangga darurat yang kami cari-cari dari tadi. Bule itu berjalan menuruni tangga dengan santai. Entah santai atau mungkin juga dia tidak bisa jalan cepat. Kami bertiga ikut mengekor dibelakangnya yaitu aku, orang berbantal yang terus setia menyimpan bantal diatas kepalanya, dan orang ber piyama, jalan santai juga. Maklum tangga daruratnya hanya sekitar 1 meter kurang, jadi enggak bisa mendahului. Padahal hati ini rasanya ingin berlari secepat-cepatnya.
Gempa bulan Januari lalu menyebabkan beberapa kerusakan di Sigli, bahkan ada korban jiwa. Gempa ini ternyata lebih dahsyat dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah didaerah Gayo, juga korban jiwa yang lebih banyak. Dalam perjalanan pulang setelah selesai pertemuan di Sigli, aku coba tanyakan kondisinya ke pak Elmi yang menjadi bos di wilayah Gayo, beliau melaporkan bahwa ada beberapa kantor yang rusak dan tidak bisa operasi, terus ada beberapa korban jiwa salah satunya di daerah blang mancung karena ada mesjid yang roboh dan di dalam mesjid itu terdapat anak-anak yang sedang belajar ngaji. Innalillahi-wainna illaihi rojiun. Semoga mereka syahid.
Carilah dunia seolah-olah engkau akan hidup selamanya. Dan carilah akhirat seolah-olah engkau akan mati besok.
(salam hangat dari kang sepyan)
Senin, 15 Juli 2013
SENGGOLAN ENUR
Karena perjalanan dinas, maka aku tidak bisa memilih dengan leluasa hotel. Panitia dari Bandung memilihkan hotel Panghegar yang ada di ujung jalan Merdeka. Sepengetahuanku letak hotel tersebut agak jauh dari mesjid. Mesjid terdekat yang aku tahu adalah mesjid Agung Bandung daerah alun-alun, mesjid Persis dekat "viaduct" dan mesjid Pemda di seberang Balaikota. Kesemuanya menurutku cukup jauh untuk ditempuh perjalanan jalan kaki. Aku coba orientasi mushola di dalam hotel, disediakan di lantai 3 bersebelahan dengan lapangan tenis dan kolam renang. Tapi tempatnya kecil, aku gak yakin ada jamaah sholat subuh di mushola tersebut.
Dengan berbekal tekad harus mendapatkan indeks pahala pagi yang tinggi (ngawadul ; indeks pahala), sepuluh menit sebelum waktu shubuh aku sudah keluar hotel. Tujuanku ke mesjid Agung, atau ke mesjid lain yang mungkin ada di perjalanan, karena aku lihat padat rumah penduduk disekitar itu. Setelah melewati kantor Telkom yang letaknya bersebelahan dengan berada hotel Panghegar, aku nyebrang menyusuri depan musium. Di ujung musium ada jalan kecil yaitu jalan Markoni, aku masuk kesana karena kelihatannya jalan tersebut merupakan jalan memotong menuju Jalan Asia Afrika. Adzan sudah berkumandang, namun tampaknya masjid agung masih agak jauh.
Di depan sebuah rumah ada Bapak-bapak baru keluar rumah, "mungkin dia mau ke mesjid" pikirku. Lalu aku tunggu sebentar, sampai si Bapak tersebut membuka pintu pagar. "Assalamu'alaikum pak, maaf mau tanya, kemanakah letak mesjid yang paling dekat ?" aku mendahului bertanya. "ke mesjid agung ? tapi jauh de" jawab si Bapak. "yang paling dekat, coba balik arah saja, nanti nyebrang jalan, disana ada jalan kecil yang di ujungnya ada mesjid". Aku lalu mengikuti petunjuk arah dari Bapak tersebut, berjalan sendirian. Rupanya si Bapak keluar untuk keperluan lain, sehingga mengambil arah yang berbeda.
Ternyata jalan yang dimaksud berada di ujung kantor Telkom namanya jalan Enur, tapi ditutup dengan pintu pagar dan disana digantungkan triplek bertuliskan cat warna hitam "dibuka jam 6 sampai 22, kalo mau masuk lewat jalan Tera". Dipinggir pintu paga ada pos penjagaan, namun tidak ada penghuinya. Jarak antara tiang pintu agar dengan pos kira-kira satu meter, namun ditengahnya dipasang tiang beton dengan lebar sekitar 15 cm. Aku masuk melalu celah tersebut, dengan badan dimiringkan. Masuk jalanan yang gelap dan becek, di kiri kanan jalan banyak kios yang tutup. Dari bentuk kios, meja, dan kursiya kelihatannya ini adalah kios penjual makanan untuk karyawan Telkom. Istilah kami di Jakarta adalah Amigos atau Kentaki (agak minggir got sedikit atau kentara kaki hehehe).
Kira-kira jakan 100 meter kelihatan ada menara kecil. "Nah, itu pasti mesjid yang dimaksud si Bapak" pikirku. Tapi kok tidak ada tanda-tanda kehidupan ? Masih gelap dan tidak ada orang, padahal sudah memasuki waktu shubuh 5 sampai 10 menit lalu. Jalan Enur rupanya jaan buntu, karena ujungnya tertutup. Setengah badan jalan tertutup oleh pintu gerbang masuk kantor Telkom bagian belakang, dan setengah badan jalan sebelah kiri tertutup oleh bangunan mesjid. Hanya menyisakan jalan kecil sekitar 60 cm untuk akses orang masuk ke perumahan yang ada di balik mesjid. Sedangkan untuk akses orang ke sebelah kanan jalan, harus melalui lorong pekarangan mesjid dengan lebar sekitar satu meter.
Aku berdiri termangu di lorong tersebut, keadaan gelap gulita, hanya mengandalkan sedikit cahaya dari bola lampu 20 watt yang diletakan dalam puncak menara mesjid yang tingginya kira-kira sepuluh meter. Hingga akhirnya ada ibu-ibu dan Bapak-Bapak yang datang membawa kunci dan menyalakan lampu. "Maaf pak, kami kesiangan. Silahkan kalau mau adzan" kata si Bapak sambil agak mengucek-ngucek matanya. Mesjid itu bernama Al-Barokah, Bangunannya dua tingkat dengan luas 5 kali 10 meter termasuk kamar mandi dan tempat wudlu. Cukup asri dan bersih dengan karpet seragam berwarna hijau bergambar masjidil haram dilihat dari atas.
Selesai shalat shubuh, aku hitung ada sepuluh jamaah laki-laki termasuk imam dan ada lima jamaah perempuan. Alhamdulillah. Memang biasanya hanya sejumlah itulah orang-orang yang mau datang ke mesjid. Mesjid kecil itupun rasanya mash longgar. Sembilan orang berdiri sholat, pas untuk ukuran lebar mesjid lima meter. Hanya satu shaf. "Andai mereka tahu betapa besarnya pahala sholat shubuh berjamaah di mesjid ? yaitu lebih besar dari dunia dan seluruh isinya ?, maka andai dia hanya bisa datang dengan merangkak, mereka akan merangkak untuk mendapatkan keistimewaan tersebut". Demikian para kiai menyeru di atas mimbar.
Anjing menggonggong, khafilah berlalu.......bagaimana dengan Anda ?
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan-kebaikan (amal saleh), mereka itulah sebaik-baik mahluk" (QS Al-Bayyinah ; 7).
(salam hangat dari kang sepyan)
Dengan berbekal tekad harus mendapatkan indeks pahala pagi yang tinggi (ngawadul ; indeks pahala), sepuluh menit sebelum waktu shubuh aku sudah keluar hotel. Tujuanku ke mesjid Agung, atau ke mesjid lain yang mungkin ada di perjalanan, karena aku lihat padat rumah penduduk disekitar itu. Setelah melewati kantor Telkom yang letaknya bersebelahan dengan berada hotel Panghegar, aku nyebrang menyusuri depan musium. Di ujung musium ada jalan kecil yaitu jalan Markoni, aku masuk kesana karena kelihatannya jalan tersebut merupakan jalan memotong menuju Jalan Asia Afrika. Adzan sudah berkumandang, namun tampaknya masjid agung masih agak jauh.
Di depan sebuah rumah ada Bapak-bapak baru keluar rumah, "mungkin dia mau ke mesjid" pikirku. Lalu aku tunggu sebentar, sampai si Bapak tersebut membuka pintu pagar. "Assalamu'alaikum pak, maaf mau tanya, kemanakah letak mesjid yang paling dekat ?" aku mendahului bertanya. "ke mesjid agung ? tapi jauh de" jawab si Bapak. "yang paling dekat, coba balik arah saja, nanti nyebrang jalan, disana ada jalan kecil yang di ujungnya ada mesjid". Aku lalu mengikuti petunjuk arah dari Bapak tersebut, berjalan sendirian. Rupanya si Bapak keluar untuk keperluan lain, sehingga mengambil arah yang berbeda.
Ternyata jalan yang dimaksud berada di ujung kantor Telkom namanya jalan Enur, tapi ditutup dengan pintu pagar dan disana digantungkan triplek bertuliskan cat warna hitam "dibuka jam 6 sampai 22, kalo mau masuk lewat jalan Tera". Dipinggir pintu paga ada pos penjagaan, namun tidak ada penghuinya. Jarak antara tiang pintu agar dengan pos kira-kira satu meter, namun ditengahnya dipasang tiang beton dengan lebar sekitar 15 cm. Aku masuk melalu celah tersebut, dengan badan dimiringkan. Masuk jalanan yang gelap dan becek, di kiri kanan jalan banyak kios yang tutup. Dari bentuk kios, meja, dan kursiya kelihatannya ini adalah kios penjual makanan untuk karyawan Telkom. Istilah kami di Jakarta adalah Amigos atau Kentaki (agak minggir got sedikit atau kentara kaki hehehe).
Kira-kira jakan 100 meter kelihatan ada menara kecil. "Nah, itu pasti mesjid yang dimaksud si Bapak" pikirku. Tapi kok tidak ada tanda-tanda kehidupan ? Masih gelap dan tidak ada orang, padahal sudah memasuki waktu shubuh 5 sampai 10 menit lalu. Jalan Enur rupanya jaan buntu, karena ujungnya tertutup. Setengah badan jalan tertutup oleh pintu gerbang masuk kantor Telkom bagian belakang, dan setengah badan jalan sebelah kiri tertutup oleh bangunan mesjid. Hanya menyisakan jalan kecil sekitar 60 cm untuk akses orang masuk ke perumahan yang ada di balik mesjid. Sedangkan untuk akses orang ke sebelah kanan jalan, harus melalui lorong pekarangan mesjid dengan lebar sekitar satu meter.
Aku berdiri termangu di lorong tersebut, keadaan gelap gulita, hanya mengandalkan sedikit cahaya dari bola lampu 20 watt yang diletakan dalam puncak menara mesjid yang tingginya kira-kira sepuluh meter. Hingga akhirnya ada ibu-ibu dan Bapak-Bapak yang datang membawa kunci dan menyalakan lampu. "Maaf pak, kami kesiangan. Silahkan kalau mau adzan" kata si Bapak sambil agak mengucek-ngucek matanya. Mesjid itu bernama Al-Barokah, Bangunannya dua tingkat dengan luas 5 kali 10 meter termasuk kamar mandi dan tempat wudlu. Cukup asri dan bersih dengan karpet seragam berwarna hijau bergambar masjidil haram dilihat dari atas.
Selesai shalat shubuh, aku hitung ada sepuluh jamaah laki-laki termasuk imam dan ada lima jamaah perempuan. Alhamdulillah. Memang biasanya hanya sejumlah itulah orang-orang yang mau datang ke mesjid. Mesjid kecil itupun rasanya mash longgar. Sembilan orang berdiri sholat, pas untuk ukuran lebar mesjid lima meter. Hanya satu shaf. "Andai mereka tahu betapa besarnya pahala sholat shubuh berjamaah di mesjid ? yaitu lebih besar dari dunia dan seluruh isinya ?, maka andai dia hanya bisa datang dengan merangkak, mereka akan merangkak untuk mendapatkan keistimewaan tersebut". Demikian para kiai menyeru di atas mimbar.
Anjing menggonggong, khafilah berlalu.......bagaimana dengan Anda ?
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan-kebaikan (amal saleh), mereka itulah sebaik-baik mahluk" (QS Al-Bayyinah ; 7).
(salam hangat dari kang sepyan)
Langganan:
Postingan (Atom)