Senin, 10 Maret 2014

SAPU LIDI

Kroessssseeekkk, srrreeeeeekkk, srrrreeeeeekkk, kroesssseeeeekkkk, aku dengar suara berirama di halaman belakang, ketika aku asik menonton TV di beranda rumah mertua sambil menikmati "sorabi haneut" dan "goreng bala-bala".  Menu wajib setiap pagi, bila kami sekeluarga pulang kampung liburan.  

Kroesssssseeeekkkk, sssrrrreeeeeeeekkkk, ssrrrrrreeeeeekkkk, kroesssssseeeeekkkk, demikian terus bunyinya tiada henti. Ibu mertuaku sedang menyapu halaman belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon cengkeh yang umurnya sudah puluhan tahun.  Setiap hari, setiap malam, daunnya berguguran. Kalau tidak di sapu maka halaman belakang rumah bisa menjadi seperti hutan.  Daun-daun yang berserakan tersebut disapu oleh sapu lidi yang digerakan ke arah tertentu, sehingga berkumpul, menggunung, lalu dimasukan ke dalam tempat sampah.  Tempat sampahnya sendiri bukan terbuat dari plastik atau drum, tetapi cukup dengan menggali lobang kira-kira satu meter persegi di area halaman. Setelah lobang tersebut penuh, lalu ditutup kembali dengan tanah dan daun tersebut akan diproses oleh mikroorganisma alamiah sehingga kembali menjadi pupuk organik yang menyuburkan tanah. Untuk sampah yang baru, tinggal dibuat lobang yang lain. Praktis, gampang, sehat, dan tidak merusak lingkungan.

Sejak merantau ke Jakarta sekitar 20 tahun terakhir ini, jarang sekali aku mendengar dan melihat orang menyapu dengan sapu lidi.  Maklum saja, rata-rata rumah orang kota hanya seuprit.  Kalaupun memiliki halaman ukurannya paling 10 sampai 20 meter persegi, itupun sebagian besar sudah ditutupi semen atau keramik karena dipakai untuk nyimpen mobil. Dan sebagian lagi telah menjadi ruang bawah tanah untuk menampung residu pencernaan pemilik rumah.

Guru saat aku sekolah dulu di SD pernah cerita, bahwa kita harus bekerja sama. Lihatlah sapu lidi, hanya terbuat dari lidi daun kelapa atau lidi daun enau yang kalau sendirian tidak memiliki kekuatan. Halus, mudah dipatahkan, mudah dibengkokan, cenderung tidak berguna. Bahkan tidak bisa dijadikan tusuk sate ataupun tusuk gigi. Tapi kalau mereka bersatu atau telah dipersatukan dengan sebuah ikatan yang kokoh.  Mereka telah dibuat sama panjang dan sama arahnya, yaitu kepala di atas dan kaki di bawah. Yang panjang dipotong sesuai standar.  Diikat pada titik yang sama. Barulah lidi tersebut berubah menjadi alat yang memiliki kekuatan untuk mengungkit, mengumpulkan, dan mendorong.

Dengan kekuatan ikatan tersebut, maka seluruh lidi akan bergerak bersama. Beberapa batang lidi yang terletak di disi depan menyentuh daun yang gugur di tanah, ditopang dengan kekuatan puluhan batang lidi yang di tengah.  Bila ternyata barisan depan lolos mendorong daun gugur tersebut, maka barisan lidi tengah ikut menyapu di topang barisan belakang. Bersatu padu, berirama, satu arah, dan satu tujuan.

Kadang-kadang, dalam melakukan tugasnya ada lidi yang tersandung sehingga patah.  Ada lidi yang rapuh juga sehingga patah. Ada orang iseng yang mematahkan beberapa batang lidi.  Sehingga lama kelamaan sapu lidi tersebut akan semakin pendek.  Tetapi, selama lidi-lidi yang patah tersebut tidak dicabut atau dibuang, maka ikatannya akan tetap kokoh.  Oleh karena itu, selama Anda masih membutuhkan sapu lidi tersebut, jangan kau coba-coba untuk mencabut lidinya. Karena kalau dicabut, maka lama kelamaan ikatannya akan mengendur, lalu bercerai berai tiada berguna.

Demikian halnya ketika Anda memimpin sebuah organisasi baik berorientasi profit maupun non profit.  Samakan persepsi anak buah Anda, lalu buatlah ikatan yang kuat, maka Anda akan mudah menggerakan mereka ke arah yang sama.  Untuk membuat karya besar.  Jangan buru-buru menghukum anak buah yang patah, karena dia patah karena bekerja, patah karena Anda benturkan, atau mungkin dipatahkan orang lain, saingan Anda misalnya. Ingatlah, mereka masih sangat berkontribusi dalam memperkokoh ikatan........kecuali kalau memang sudah keterlaluan.

Sekarang silahkan Anda renungkan. Sudahkah Anda membuat sapu lidi ? Atau Anda baru memiliki kumpulan lidi berserakan ?

Jakarta - Padang, 27 Februari 2014
Hasil perenungan oleh-oleh seminar James Bwee.

 (salam hangat dari kang sepyan)

1 komentar:

  1. Sama dengan opini Kang Sepyan Dalam berorganisasi kadang yang dilupakan ketika organisasi itu sudah besar yaitu :
    1 Tidak bisa mengorangkan orang, sehingga dengan sewenang wenang memberikan tugas diluar batas normal berbanding lurus antara gaji dan beban tanggung jawab pekerjaanya,atau kata lain explorasi anggota jadi anggota dianggap sebagai mesin lagi, bukan bahagian dari system yang paling sensitif sekaligus dominan.
    2. Tidak bisa adil dengan apa - apa yang diperoleh perusahaan/organisasi tersebut, sehingga kesenjangan terlihat jelas antara anggota perusahaan/organisasi yang ada didalamnya sendiri atau dibandingkan dengan perusahaan/organisasi lain atau hasil dari perusahaan itu sendiri.
    3. Ber-etiket atau bertingkah laku dan bertindak lanjut , banyak sekali para petinggi organisasi yang ada baik politik atau perusahaan merasa penting dan tidak mau berbaur dengan yang dia anggap arus bawah, alias jaim karena takut kewibawaanya bisa terkontaminasi..
    4. Nilai Agama yang ada dari agama manapun sudah tidak sebagai pengimbang ketimpanganyang ada dilingkungan organisasi lagi tapi sebagai sofware untuk mendogma grass root lagi dengan perkataan, sabar , tawakal, cobaan dlll

    Maka pilosopi sapu lidi ini saya kira sudah tidak bisa relevan lagi jika pengikatnya (simpaynya) tidak bisa membuang yang 4 point saya yang disebutkan tadi. ya Sapu nyere pegat simpay patepung patepang deui @ yaumul hisab, sesuai kiprah kita sebagai kholofah dimika bumi ini.....

    BalasHapus