Sabtu, 12 Mei 2012

MANAGEMENT TREADMILL


Perusahaan tempatku bekerja memiliki peraturan bahwa seluruh pegawai dengan pangkat serta usia tertentu diberi kesempatan untuk melakukan GMCU (general medical cheek up), ramai-ramailah pada hari yang ditentukan kami mendatangi Rumah Sakit yang ditunjuk dan telah bekerjasama dengan perusahaan. Beberapa hari kemudian kami mendapatkan "rapport" kesehatan masing-masing dalam bentuk buku warna hijau disertai map coklat besar berisi gambar dada bagian dalam.

Ternyata aku mendapatkan banyak nilai merah, dan mau tidak mau, serta suka tidak suka harus memperhatikan serta menjalankan apa yang direkomemdasikan dalam buku hijau diantaranya adalah harus menurunkan berat badan dan harus melakukan olah raga sekitar 150 sampai 200 menit seminggu. Inilah balasan bagi orang yang malas berolah raga, malas memelihara diri sendiri, malas menjaga organ-organ badan yang begitu berharga yang telah diberikan secara cuma-cuma dari pencipta.

Aku mulai putar otak mengutak-ngatik waktu yang mungkin luang untuk melakukan olah raga secara rutin. Kalau pagi-pagi rasanya enggak mungkin karena habis subuh sekitar jam 5.15 atau paling lambat jam 5.30 harus sudah berangkat keluar rumah. Terlambat sedikit perjalanan ke kantor bisa memakan waktu 1,5 jam bahkan bisa 2 jam, dan hampir bisa dipastikan sepanjang ruas jalan tol 25 kilometer tersebut seluruh badan jalan selebar 15 meter plus bahu jalan padat dengan mobil-mobil merayap dan berebut salip menyalip, membuat pagi yang cerah menjadi sumpek.

Karena waktu pagi tidak mungkin maka aku coba lihat hari libur, sepertinya memungkinkan, hari Sabtu sembilan puluh menit dan hari Minggu sembilan puluh menit sisanya. Namun ada dua kendala, pertama seharusnya olah raga tersebut dibagi dalam minimal empat kali seminggu serta kendala yang kedua apa mungkin setiap hari libur tersebut tidak ada kegiatan keluarga lain ?

Akhirnya waktu yang paling memungkinkan adalah malam hari, rasanya itu lebih masuk akal. Apabila ternyata banyak pekerjaan sehingga target waktu olah raga kurang, masih bisa ditambah dengan hari Sabtu atau Minggu. Tapi olah raga apa yang dapat dilakukan malam-malam sendirian ? Kalau olah raga lari malam-malam, jangan-jangan bukannya sehat malahan babak belur ditangkap orang sekampung disangka maling.

Berdasarkan referensi kiri-kanan, aku membeli sebuah alat olah raga yang dapat digunakan dirumah untuk berjalan atau berlari-lari kecil, aku menyebutnya "Treadmill" karena mirip alat yang ada di Rumah Sakit untuk melihat kesehatan jantung sewaktu GMCU kemarin.  Treadmill yang aku beli memiliki kecepatan yang bisa diatur sampai dengan maksimal 12 km per jam serta kemiringannya bisa sampai 15 derajat, serta ada program-program otomatis untuk kesehatan jantung, membakar lemak, dll. Alhamdlillah dengan kedisiplinan yang tinggi, dengan bantuan alat tersebut disertai pengurangan jumlah asupan makanan, lemak dan air yang berlebihan di badan dapat diturunkan sekitar 10 kg setelah berjalan 3 bulan.

Ada hal rutin yang selalu aku rasakan waktu melakukan treadmill, rasanya diawal-awal dengan kecepatan rendah saja misalnya dimulai dari kecepatan 3 terus dinaikkan ke 5 terasa sudah berjalan sangat cepat dan mulai ngos-ngosan. Rasanya kecepatan 5 tersebut sudah merupakan kecepatan maksimal dan menyiksa badan. Namun minggu-minggu berikutnya kecepatan mulai berani dinaikkan sampai 6 bahkan sampai 7 dan sekali-kali dicoba dengan kecepatan 8 atau 9 km perjam walaupun dengan waktu yang sangat terbatas tidak lebih dari lima menit. Selebihnya berada stabil di kecepatan antara 5 sampai 7 dengan melakukan variasi bersama derajat kemiringan.

Setiap kali melakukan treadmill rasa berat ketika kecepatan dinaikkan dari 3 sampai 7 selalu terasa, namun ketika kecepatan diturunkan dari 9 ke 7 maka rasanya dengan kecepatan yang sama yaitu 7 km perjam menjadi ringan dan tanpa beban. Apalagi ketika kecepatan diturunkan menjadi 5 km per jam terasa seperti sedang berdiam diri, karena badan kita telah tebiasa dengan kecepatan lebih tinggi dan kaki kita juga sudah otomatis bergerak, semuanya terasa ringan. Kalau tidak melakukan pendinginan dengan menurunkan kecepatan secara berangsur-angsur, langsung menstop alat treadmill pada kecepatan 5 ataupun 3, maka badan akan limbung karena kaki tidak mau berhenti harus terus melangkah, sedangkan tempat pijakan treadmill sudah berhenti.

Tubuh manusia diciptakan Tuhan untuk selalu dilatih bergerak, baik untuk berolah-raga maupun untuk bekerja. Maka aku coba berteori bahwa dalam bekerja di kantor atau di pabrik sekalipun "manajemen treadmill" dapat diterapkan. Karyawan harus dibiasakan untuk selalu berada dalam kecepatan yang ditentukan sehingga menghasilkan produktifitas yang optimal. Misalnya untuk tenaga pemasar harus dibuat target bahwa setiap hari setiap karyawan harus dapat menghubungi atau menelpon 15 calon customer dan harus bertatap muka atau presentasi minimal dengan 5 customer. Kalau target  minimal tersebut belum dicapai maka karyawan tersebut tidak boleh pulang atau boleh pulang tetapi sisanya menjadi tambahan target di hari berikutnya.

Pada awal-awal melakukan tentu target tersebut akan dirasakan berat oleh karyawan, tetapi harus dipaksakan dan dibimbing serta diyakinkan kalau mereka bisa, dan akan lebih baik lagi kalau diberi contoh bagaimana cara melakukannya. Kalau sudah terbiasa, maka cara kerja seperti itu akan dirasakan ringan oleh karyawan. Bahkan mungkin sekali-sekali dengan program-program tertentu target bisa dinaikkan, sehingga ketika program sudah selesai kembali ke "kecepatan" standar karyawan kita akan bekerja dengan ringan namun tetap menghasilkan produktifitas yang optimal. Manajemen treadmill ini dapat juga kita terapkan pada diri sendiri misalnya kebiasaan sholat malam, kebiasaan jam berapa bangun dan jam berapa mandi pagi, kebiasaan berolah raga, kebiasaan waktu berangkat kerja, dan lain-lain. Sepatutnya diri kita juga harus dipacu untuk membuat target dengan berapa orang kita harus bertemu untuk menambah jaringan, berapa buku yang harus dibaca dalam seminggu untuk menambah wawasan, berapa tulisan harus dibuat, dll.
Manajemen treadmill ini walaupun sampai saat ini sepengetahuanku belum ada orang yang menyebutnya, telah diterapkan oleh orang-orang besar seperti Donald Trump ataupun oleh gadis muda Indonesia yang menjadi inspirasi banyak orang Merry Riana.

Dalam bukunya Merry bercerita bagaimana perjuangan dia saat menjadi tenaga pemasar produk keuangan di Singapura. Gadis manis korban peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta tersebut, akhirnya harus memilih sekolah di NTU Singapura dengan modal pinjaman dan harus bisa bertahan hidup di Asrama dengan uang SGD 10 per bulan. Uang tersebut merupakan selisih uang yang diterima dari pinjaman dibandingkan dengan biaya kuliah dan biaya Asrama tanpa diberi makanan. Mungkin besar uang tersebut ada hanya karena faktor pembulatan saat bank menghitung besar pinjaman, namun uang tersebut sangat berarti bagi Merry karena berarti perutnya akan terisi satu slice roti pagi hari dan terisi satu bungkus mie instan malam hari.

Dengan tempaan yang berbeda dari teman-temannya membuat cara berfikir dan cara pandang dia agak berbeda. Disaat yang lain lulus kuliah segera masuk untuk bekerja di pabrik elektronik yang memang dengan sangat mudah menerima lulusan NTU, Merry melihat bahwa pekerjaan tersebut tidak dapat menghasilkan uang yang banyak. Besar pendapatannya sudah bisa ditebak mulai dari belasan juta pertama kali masuk, kemudian dengan grafik lambat akan meningkat seiring jabatan, tetapi tetap saja ada batasnya dan akan terus begitu sampai tua. Merry mencari tantangan lain dengan menjadi pemasar jasa keuangan mulai dari bawah dengan menyebarkan brosur dijalanan, dengan perhitungan walaupun pada awalnya penghasilan dia akan jauh lebih kecil dibanding bekerja jadi Staf pabrik, tetapi dia yakin pada akhirnya dengan kerja keras akan bisa mempunyai penghasilan yang tidak terbatas.

Merry menetapkan target harus melakukan presentasi minimal 20 kali dalam sehari, dia menghitung berarti harus menyebarkan atau memberikan brosur kepada 400 orang setiap hari, karena berdasarkan pengalaman dan pengamatannya hanya satu orang dari 20 orang yang dibagi brosur mau mendengarkan presentasi, serta hanya satu orang dari 20 orang yang diberi presentasi akhirnya mau membeli produk keuangan yang ditawarkan. Dia menceritakan bahwa pada suatu hari sampai jam 12 malam masih kurang 2 presentasi lagi, dengan kekuatan hati dan menahan lapar tetap dilanjutkan sampai jam 2 pagi, padahal keesokan harinya dia harus sudah "ngantor" lagi di halte tersebut.

Hasil akhirnya, dalam usia 26 tahun sudah memiliki penghasilan diatas satu milyar perbulan, tanpa harus bekerja lagi penghasilan tersebut akan tetap mengalir lewat organisasinya. Suatu penghasilan yang jauh lebih besar dibanding teman-temannya yang masih berkutat dan berdesak-desakan mengambil hati atasan agar dapat diangkat menjadi Supervisor.

Kita tidak boleh melihat hanya dari ujungnya, tetapi harus dilihat dari bagaimana dia ditempa alam sehingga seluruh otot, otak, maupun nalurinya terbiasa bergerak lebih dari rata-rata. Diawal-awal Merry juga menyampaikan bahwa hal tersebut terasa berat, tetapi lama-lama tubuh, otak, dan nalurinya menjadi terbiasa. Persis seperti anggota badan kita waktu  treadmill.

Mau kah Anda melakukan manajemen treadmill ???


NAD - Jakarta, 09 Mei 201
(salam hangat dari kang sepyan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar